Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Sarapan dalam Keheningan
Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui celah-celah tirai beludru berat yang menutupi jendela kamar utama. Berkas cahaya itu jatuh tepat di wajah Nala, memaksanya mengerjapkan mata dan terbangun dari tidur yang tidak nyenyak.
Selama beberapa detik pertama, Nala merasa bingung. Langit-langit di atasnya terlalu tinggi, dihiasi dengan moulding gipsum yang rumit dan sebuah lampu gantung kristal hitam yang tampak mengancam. Tidak ada noda air di plafon, tidak ada cat yang mengelupas, dan tidak ada suara bising kendaraan dari jalan raya.
Hanya ada keheningan. Keheningan yang begitu absolut hingga telinga Nala berdenging.
Ingatan tentang kejadian semalam menghantamnya seperti ombak pasang. Pernikahan. Hujan badai. Topeng perak. Dan pria itu... Raga Adhitama.
Nala tersentak bangun, langsung duduk tegak. Tubuhnya terasa kaku dan nyeri di beberapa bagian. Tidur di sofa Chesterfield yang melengkung indah itu ternyata tidak senyaman kelihatannya. Lehernya sakit karena bantal sofa yang terlalu tinggi.
Matanya dengan waspada menyapu seisi ruangan yang luas itu.
Tempat tidur king size di tengah ruangan sudah kosong. Seprainya sedikit berantakan di satu sisi, menandakan penghuninya sudah bangun. Selimut tebal berwarna abu-abu tua tersingkap, namun Raga tidak ada di sana.
Nala melirik jam dinding antik di atas perapian. Pukul 06.00 pagi.
Di rumah keluarga Aristha, jam segini Nala biasanya sudah sibuk di dapur membantu pelayan menyiapkan sarapan untuk Bella dan orang tuanya, bukan karena dia ingin, tapi karena Nyonya Siska akan memarahinya jika dia bangun terlambat.
Nala menurunkan kakinya ke karpet tebal. Ia masih mengenakan gaun pengantin semalam, karena ia tidak berani membuka koper atau meminta baju ganti. Gaun itu kini kusut di bagian bawah, membuatnya terlihat menyedihkan.
"Tuan?" panggil Nala pelan, suaranya serak khas bangun tidur.
Tidak ada jawaban.
Pintu kamar mandi yang semalam ia gunakan terbuka sedikit. Nala memberanikan diri mengintip. Kosong. Handuk basah tergeletak rapi di keranjang, aroma sabun musk dan mint yang maskulin masih tertinggal di udara, tapi Raga tidak ada di sana.
Nala menghela napas lega. Setidaknya, ia punya waktu untuk bernapas tanpa merasa diawasi oleh tatapan tajam pria itu.
Ia bergegas membuka koper kecilnya yang diletakkan sembarangan di dekat pintu oleh pelayan kemarin. Isinya menyedihkan. Hanya beberapa potong kemeja lusuh, celana jins yang warnanya sudah pudar, dan alat-alat lukisnya yang paling berharga. Ia tidak punya gaun tidur sutra atau lingerie mahal seperti yang mungkin diharapkan oleh suami kaya raya.
Nala memilih kemeja katun berwarna biru muda dan celana kain hitam, pakaian paling "rapi" yang ia miliki. Setelah mandi kilat di kamar mandi yang luasnya hampir sama dengan kamar tidurnya dulu, Nala merasa sedikit lebih manusiawi.
Ia berdiri di depan cermin wastafel, mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda yang praktis. Wajahnya di cermin tampak pucat dan lelah, ada lingkaran hitam samar di bawah matanya.
"Kau bisa melakukan ini, Nala," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. "Kau sudah bertahan di rumah Ayah selama 21 tahun. Kau pasti bisa bertahan di sini."
Namun, saat ia keluar dari kamar mandi, ia menyadari satu hal.
Pintu utama kamar itu tidak terkunci.
Nala memutar gagang pintu emas itu dengan ragu. Pintu terbuka mulus tanpa suara. Di depannya terbentang lorong kastil yang panjang dan sunyi.
Apakah dia boleh keluar? Raga bilang semalam dia adalah "miliknya", tapi tidak ada instruksi spesifik apa yang harus dia lakukan pagi ini. Apakah dia harus menunggu di kamar? Atau turun mencari makan?
Perutnya berbunyi nyaring, menjawab pertanyaan itu. Ia belum makan apa pun sejak nasi sisa kemarin sore. Rasa lapar mengalahkan rasa takutnya.
Dengan langkah mengendap-endap, Nala menyusuri lorong itu. Rumah ini benar-benar besar dan membingungkan. Koridornya dipenuhi lukisan-lukisan pemandangan alam yang suram, hutan berkabut, laut yang badai, gunung yang tertutup salju. Tidak ada satu pun lukisan yang menggambarkan matahari cerah atau bunga bermekaran. Selera seni pemilik rumah ini jelas mencerminkan jiwanya.
Nala menuruni tangga utama yang melingkar megah. Di lantai dasar, ia bertemu dengan Pak Hadi, kepala pelayan yang semalam mengantarnya. Pria tua itu sedang menginstruksikan dua pelayan muda yang sedang membersihkan debu di pegangan tangga.
"Selamat pagi, Nyonya Muda," sapa Pak Hadi. Suaranya sopan, namun wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
Kedua pelayan muda itu langsung berhenti bekerja. Mereka menunduk hormat, tapi Nala sempat menangkap lirikan mata mereka yang penasaran. Mereka pasti bertanya-tanya, kenapa "Bella Aristha" yang terkenal glamor kini memakai baju lusuh seperti itu.
"Se-selamat pagi, Pak Hadi," jawab Nala canggung. "Maaf saya lancang turun. Saya... saya tidak tahu harus ke mana."
"Tuan Muda sudah menunggu Anda di ruang makan," kata Pak Hadi sambil memberi isyarat tangan. "Mari, saya antar."
Jantung Nala berdegup kencang lagi. Menunggu? Raga menunggunya?
Nala mengikuti Pak Hadi melewati ruang tamu yang luas, menuju sebuah ruangan dengan pintu ganda yang terbuka lebar. Aroma kopi segar dan roti panggang langsung menyergap indra penciumannya, membuat air liurnya hampir menetes.
Ruang makan itu didominasi oleh sebuah meja panjang dari kayu mahoni gelap yang bisa memuat dua puluh orang. Di atas meja, tergantung lampu chandelier kristal yang tidak dinyalakan karena cahaya pagi dari jendela-jendela tinggi sudah cukup menerangi ruangan.
Di ujung meja yang paling jauh, duduklah Raga Adhitama.
Pria itu sudah berpakaian rapi. Ia mengenakan kemeja putih yang digulung sampai siku dan rompi abu-abu pas badan. Topeng peraknya sudah kembali terpasang, menutupi separuh wajah kirinya, menyembunyikan "medan perang" yang semalam sempat Nala lihat.
Di tangannya, Raga memegang sebuah tablet, matanya fokus membaca berita bisnis sambil sesekali menyesap kopi hitam dari cangkir porselen tipis.
Ia terlihat seperti raja yang sedang duduk di singgasananya yang kesepian.
"Duduk," perintah Raga tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
Nala melangkah masuk. Ia ragu harus duduk di mana. Apakah di kursi di ujung satunya yang berjarak lima meter dari Raga? Atau di sampingnya?
Nala memilih kursi di sisi kanan Raga, berjarak dua kursi dari pria itu. Cukup dekat untuk bicara, tapi cukup jauh untuk merasa aman.
Seorang pelayan wanita paruh baya dengan seragam hitam-putih segera mendekat. Ia menuangkan teh hangat ke cangkir Nala dengan gerakan efisien namun kasar. Sedikit teh tumpah ke piring tatakan.
"Maaf," gumam pelayan itu tanpa rasa bersalah, lalu pergi begitu saja.
Nala menatap punggung pelayan itu. Ia bisa merasakan permusuhan yang samar. Ah, tentu saja. Di mata mereka, Nala (yang mereka kira Bella) hanyalah wanita manja yang dijual keluarganya demi uang.
Nala kembali menatap meja. Hidangan di depannya luar biasa. Ada roti croissant yang mengkilap, telur orak-arik yang creamy, sosis panggang, potongan buah segar, dan berbagai selai impor. Ini adalah sarapan termewah yang pernah Nala hadapi.
Namun, suasana di meja itu membunuh selera makannya.
Raga tidak bicara. Dia bahkan tidak melirik Nala. Suara denting garpu Nala yang menyentuh piring terdengar seperti ledakan bom di tengah keheningan itu. Nala berusaha makan sepelan mungkin, takut membuat suara yang mengganggu "Tuan Besar".
"Bagaimana sofa itu?" tanya Raga tiba-tiba, memecah kesunyian.
Nala tersedak sedikit rotinya. Ia buru-buru meraih serbet dan menyeka bibirnya.
"Lumayan... nyaman, Tuan," bohong Nala.
Raga meletakkan tabletnya. Ia menoleh perlahan, topeng peraknya berkilau tertimpa cahaya pagi.
"Pembohong," desis Raga pelan. "Aku bisa melihat kau memijat lehermu sejak tadi. Jangan berbohong padaku, Nala. Aku membenci wanita yang berpura-pura kuat padahal rapuh."
Nala menunduk, meremas serbet di pangkuannya. "Maaf. Sofanya sedikit... keras."
"Nanti siang pelayan akan mengantar tempat tidur lipat ke kamar," ucap Raga datar, lalu kembali fokus pada kopinya. "Sampai kau terbiasa dengan aturan rumah ini, kau tetap tidur di bawah. Aku tidak mau mengambil risiko kau mencoba membunuhku saat aku tidur."
Nala terbelalak. "Membunuh? Saya tidak akan pernah.. "
"Orang yang putus asa bisa melakukan apa saja," potong Raga dingin. "Dan kau, Nala Aristha, adalah orang yang sangat putus asa. Kau dijual oleh ayahmu sendiri. Kau tidak punya apa-apa. Kau tidak punya siapa-siapa. Orang seperti itu berbahaya."
Kata-kata itu tajam, tapi anehnya, Nala tidak merasa tersinggung. Raga benar. Dia memang tidak punya apa-apa.
"Saya mungkin tidak punya apa-apa, Tuan," jawab Nala pelan tapi tegas, memberanikan diri menatap mata kanan Raga yang hitam kelam. "Tapi saya masih punya harga diri. Saya tidak akan menggigit tangan yang memberi saya atap untuk berteduh."
Gerakan tangan Raga yang hendak mengambil cangkir terhenti di udara. Sudut bibirnya terangkat sedikit, sebuah senyum yang nyaris tak terlihat, namun sarat makna.
"Harga diri," ulang Raga seolah mencicipi kata itu. "Kita lihat berapa lama harga dirimu bertahan di rumah ini."
Raga meletakkan serbetnya di meja, lalu memutar kursi rodanya mundur.
"Aku akan pergi ke kantor pusat hari ini. Ada rapat direksi yang harus kuhadiri untuk membungkam mulut-mulut tua yang meragukan kemampuanku berjalan," ujar Raga. "Kau dilarang keluar dari area mansion. Kau boleh berkeliling di lantai satu dan taman belakang. Lantai dua sayap barat terlarang. Dan jangan bicara dengan siapa pun dari luar pagar."
"Baik, Tuan," jawab Nala patuh.
"Pak Hadi!" panggil Raga.
Kepala pelayan itu muncul entah dari mana. "Ya, Tuan Muda."
"Pastikan Istriku mendapatkan semua kebutuhannya. Dan panggilkan desainer ke sini besok. Pakaiannya..." Raga melirik kemeja Nala yang lusuh dengan pandangan meremehkan. "...membuat mataku sakit. Ganti semuanya."
Setelah mengatakan itu, Raga meluncur pergi meninggalkan ruang makan. Beberapa pelayan pria segera mengikuti di belakangnya, siap membantu mengangkat kursi rodanya masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di lobi.
Nala ditinggalkan sendirian lagi di meja makan raksasa itu. Ia menatap roti di piringnya yang baru termakan separuh. Tiba-tiba, rasa lapar itu hilang, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa.
Ia baru saja melewati "ronde pertama" dengan selamat. Tapi hari masih panjang.
Nala memutuskan untuk membereskan piringnya sendiri. Itu kebiasaan lamanya. Ia tidak terbiasa dilayani. Ia menumpuk piring kotornya dan cangkir tehnya, lalu berdiri hendak membawanya ke dapur.
"Apa yang Anda lakukan?!"
Sebuah teguran keras menghentikan langkah Nala.
Pelayan wanita paruh baya yang tadi menuangkan teh dengan kasar kini berdiri di ambang pintu dapur, menatap Nala dengan mata melotot. Di name tag-nya tertulis nama 'Bu Ratih'.
"Saya hanya ingin menaruh piring kotor ke belakang, Bu," jawab Nala polos.
Bu Ratih berjalan mendekat dengan langkah cepat, lalu merampas tumpukan piring itu dari tangan Nala dengan kasar.
"Jangan bertingkah, Nona Bella," desis Bu Ratih sinis. Ia sengaja menekan nama 'Bella'. "Di rumah ini, Nyonya Besar tidak mengangkat piring kotor. Anda ingin membuat kami terlihat tidak becus kerja di depan Tuan Muda? Anda ingin kami dipecat?"
"Bu-bukan begitu..." Nala mencoba menjelaskan. "Saya hanya terbiasa... "
"Terbiasa?" Bu Ratih tertawa mengejek. "Oh, kami tahu semua tentang Anda. Tuan Bramantyo menelpon kemarin, meminta perlakuan khusus karena putrinya 'sangat manja'. Jangan kira karena Anda sekarang Nyonya Adhitama, Anda bisa mengambil hati Tuan Raga dengan berpura-pura rajin. Tuan Raga membenci wanita bermuka dua."
Nala terdiam. Ia menyadari satu hal. Bu Ratih ini setia pada Raga, sangat setia, sehingga dia membenci siapa pun yang dianggap bisa menyakiti atau memanfaatkan tuannya. Dan di mata Bu Ratih, Nala adalah parasit yang datang untuk menggerogoti harta Raga.
Nala menarik napas panjang. Ia menegakkan punggungnya. Ia tidak boleh terlihat lemah. Jika ia membiarkan pelayan ini menginjaknya hari ini, besok seluruh isi rumah akan menginjaknya.
"Bu Ratih," panggil Nala. Suaranya tidak keras, tapi tenang dan berwibawa.
Wanita tua itu berhenti, menoleh dengan alis terangkat.
"Pertama, nama saya Nala, bukan Bella. Tolong ingat itu."
Bu Ratih mengerutkan kening bingung.
"Kedua," lanjut Nala, menatap lurus ke mata pelayan senior itu tanpa rasa takut. "Saya tidak sedang berpura-pura rajin. Saya melakukannya karena saya menghargai makanan yang kalian masak. Dan ketiga... saya memang istri yang dibeli karena kontrak, tapi selama saya masih memakai cincin ini..."
Nala mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin platinum sederhana yang melingkar di jari manisnya.
"...saya adalah Nyonya di rumah ini. Jadi tolong, jangan bentak saya lagi."
Keheningan menyelimuti ruang makan itu. Bu Ratih tampak terkejut. Ia tidak menyangka gadis kurus dengan baju lusuh ini punya nyali untuk membalas tatapannya. Biasanya, wanita-wanita yang mendekati Raga hanya peduli pada uang dan perhiasan, mereka tidak peduli pada harga diri di depan pelayan.
Wajah Bu Ratih memerah, campuran antara rasa malu dan marah, tapi ia tidak bisa membantah. Hierarki di rumah ini jelas.
"Maafkan kelancangan saya, Nyonya Nala," ucap Bu Ratih kaku, sedikit membungkuk walau matanya masih menyiratkan ketidaksukaan. "Saya akan bawa piring ini."
Bu Ratih berbalik dan pergi ke dapur dengan langkah menghentak.
Nala menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. Kakinya gemetar. Itu adalah konfrontasi pertamanya, dan itu menguras energinya.
Ia berjalan menuju jendela besar ruang makan yang menghadap ke taman belakang. Hujan sudah berhenti total, menyisakan butiran air yang berkilau di dedaunan. Taman itu indah, tapi liar. Rumputnya dipotong rapi, tapi bunga-bunganya tampak suram, didominasi warna hijau gelap dan ungu tua.
Di tengah taman, ada sebuah gazebo kaca yang terlihat tak terawat, dipenuhi tanaman rambat yang hampir menutupi seluruh permukaannya.
Nala menempelkan tangannya ke kaca jendela. Dingin.
Rumah ini seperti tuannya. Indah, megah, kaya raya, tapi kesepian dan penuh duri. Dan sekarang, Nala adalah burung kecil yang terperangkap di dalam sangkar emas berduri ini.
"Setidaknya," gumam Nala sambil menyentuh dadanya yang masih berdebar, "di sini aku tidak perlu berebut makanan sisa."
Tanpa Nala sadari, di lantai dua, dari balik jendela koridor yang gelap, sepasang mata mengawasinya sejak tadi. Raga belum pergi. Ia membatalkan keberangkatannya lima menit hanya untuk melihat bagaimana "istri kecilnya" itu menghadapi Bu Ratih yang terkenal galak.
Raga melihat bagaimana Nala berdiri tegak membela diri, lalu melihat bahu gadis itu turun saat sendirian.
"Menarik," bisik Raga pada dirinya sendiri, sebelum memutar kursi rodanya menuju lift pribadi. "Dia punya cakar, meski kukunya tumpul."
ceritanya bagu😍