NovelToon NovelToon
HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / BTS
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Pengakuan Suga pada Sheril

Hujan gerimis mulai membasahi kaca-kaca jendela markas kepolisian, menciptakan suasana suram yang seolah menelan cahaya lampu koridor. Sheril baru saja hendak melangkah keluar menuju parkiran, tempat Jungkook sudah berjanji akan menjemputnya dengan cokelat panas, ketika sebuah tangan yang dingin dan gemetar mencengkeram lengannya.

"Sheril, ikut aku. Sekarang," bisik Suga. Suaranya tidak seperti biasanya yang sinis; kali ini terdengar penuh keputusasaan.

Tanpa menunggu jawaban, Suga menarik Sheril menuju ruang arsip di lantai bawah tanah—sebuah labirin rak besi tua yang pengap dan jarang dikunjungi. Suara sepatu mereka bergema di lantai beton yang dingin. Begitu pintu besi berat itu tertutup, Suga langsung menyalakan sebuah laptop usang di atas meja kayu yang berdebu.

"Lihat ini!" Suga memutar layar laptop ke arah Sheril.

Layar itu menampilkan serangkaian foto yang diambil dari jarak jauh. Foto-foto V, rekan kerja sekaligus sahabat Sheril, sedang menyerahkan sebuah tas kuning kepada pria bermasker di gang gelap. Sheril terpaku. Jantungnya berdegup kencang melihat ekspresi V yang tampak begitu tertekan dalam foto itu.

"Ini V... menyerahkan dokumen rahasia autopsi kita semalam," ujar Suga, napasnya tersengal. "Tapi itu belum seberapa, Sheril. Lihat ini."

Suga membuka jendela folder lain yang terenkripsi. Sebuah rekaman CCTV muncul. Sheril mengenali interior itu—restoran Le Lapin. Namun, kamera itu bergerak masuk ke bawah dapur, melalui sebuah pintu hidrolik yang tersembunyi di balik rak pendingin daging, hingga masuk ke sebuah ruangan beton yang diterangi lampu operasi yang menyilaukan.

Sheril menutup mulutnya dengan tangan. Di sana, di tengah ruangan yang dikelilingi peralatan bedah yang identik dengan miliknya di lab, Jungkook sedang berdiri. Di dinding ruangan itu, terdapat ratusan foto Sheril yang disusun seperti sebuah kuil. Ada meja rias yang penuh dengan barang-barang Sheril yang hilang. Dan di monitor, Jungkook terlihat sedang memeluk sebuah sweter milik Sheril, menangis tersedu-sedu sambil menciumi aroma kain itu.

"Ini tidak mungkin, Suga! Ini... ini pasti manipulasi!" Sheril menepis tangan Suga dengan kasar, mundur selangkah hingga punggungnya menghantam rak besi. "Kau hanya ingin menghancurkannya karena kau tidak pernah menyukainya sejak awal! Kau iri padanya!"

"Iri?" Suga tertawa pahit, air mata kemarahan menggenang di matanya. Ia melangkah maju, memojokkan Sheril di antara deretan arsip. "Dia mengoleksi fotomu di ruang bedah bawah tanah, Sheril! Dia membangun penjara untukmu di bawah restoran itu! Sadarlah sebelum kau menjadi pajangan berikutnya di sana! Dia bukan mencintaimu, dia sedang memuja mayatmu yang belum lahir!"

Sheril menggelengkan kepala dengan keras, air mata mulai mengalir. "Kau salah paham... Jungkook tidak mungkin menyakitiku. Dia lembut, dia mencintaiku—"

"Lembut?" potong Suga dengan suara menggelegar yang memantul di dinding ruang arsip. "Pria lembut tidak menyimpan skalpel nomor sebelas di rumahnya! Pria lembut tidak memindahkan mayat menggunakan truk gandum! Dia adalah monster yang memakai topeng koki, Sheril! Dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk memasukkanmu ke dalam lemari pendingin itu selamanya!"

Sheril terisak, ia merasa dunia di sekelilingnya berputar. Bayangan Jungkook yang menangis di rekaman itu dan bayangan Jungkook yang menyayat lengannya demi menyelamatkannya semalam bertabrakan di kepalanya. Logika forensiknya berteriak bahwa Suga benar, namun hatinya menolak untuk percaya bahwa pelukan hangat yang ia rasakan setiap malam adalah pelukan seorang algojo.

Sheril keluar dari markas dengan langkah gontai. Di depan gerbang, sebuah mobil SUV hitam yang mengkilap sudah menunggu. Jungkook berdiri di samping pintu mobil, mengenakan kemeja kasmir berwarna abu-abu yang membuatnya tampak sangat elegan dan tenang. Begitu melihat Sheril, wajahnya langsung merekah dengan senyum kelinci yang selalu berhasil meluluhkan hati Sheril.

"Hai, Sayang. Kau tampak sangat lelah," ucap Jungkook lembut. Ia segera mendekat, menyelimuti bahu Sheril dengan jaket wol miliknya yang hangat dan beraroma kayu cendana.

Sheril menatap mata Jungkook. Mata itu masih sangat jernih, penuh dengan kasih sayang yang seolah tidak berujung. Tidak ada tanda-tanda kegilaan seperti yang Suga tuduhkan.

"Kook... ada apa di bawah dapur restoranmu?" tanya Sheril, suaranya nyaris berbisik.

Gerakan tangan Jungkook yang sedang merapikan jaket Sheril terhenti sejenak. Hanya sedetik, namun Sheril merasakannya. Tak lama kemudian, Jungkook kembali tersenyum, meski kali ini ada sedikit nada melankolis di wajahnya.

"Suga memberitahumu, ya? Dia memang peretas yang sangat hebat," jawab Jungkook jujur, sebuah jawaban yang sama sekali tidak disangka oleh Sheril.

Jungkook menangkup wajah Sheril dengan kedua tangannya yang hangat. Jemarinya yang panjang mengusap air mata di pipi Sheril dengan sangat lembut.

"Aku minta maaf kalau itu menakutkanmu, Sayang. Tapi aku membangun ruangan itu bukan untuk hal buruk," Jungkook menarik napas panjang, menatap Sheril dengan intensitas yang membuat napas Sheril tertahan. "Sejak aku kehilangan orang tuaku, aku selalu takut kehilangan orang yang kucintai. Ruangan itu adalah tempat pelarianku. Saat kau sedang bekerja lembur di lab dan aku merindukanmu hingga rasanya jantungku akan berhenti, aku pergi ke sana. Mencium aroma bajumu, melihat foto-fotomu... itu satu-satunya cara agar aku tidak merasa sendirian di dunia ini."

"Tapi peralatan bedah itu... kenapa mirip denganku?" tanya Sheril lagi, hatinya mulai goyah oleh nada bicara Jungkook yang begitu tulus.

Jungkook terkekeh pelan, sebuah tawa manis yang terdengar sedikit sedih. "Karena aku ingin memahami duniamu, Sheril. Aku belajar anatomi, aku belajar teknik memotong yang kau gunakan, agar saat kita berbicara, aku tidak hanya menjadi koki yang bodoh. Aku ingin menjadi segalanya bagimu. Aku ingin tangan ini bisa menyembuhkanmu seahli tanganmu."

Jungkook mengecup kening Sheril dengan sangat lama. "Aku mungkin terobsesi padamu, Sheril. Aku mengakui itu. Tapi aku lebih baik mati daripada melihat satu goresan pun di kulitmu. Ruangan itu adalah janjiku untuk melindungimu dari dunia luar yang kejam. Penjara? Tidak, Sayang. Itu adalah bunker. Tempat kita berdua jika dunia tidak lagi aman untukmu."

Sheril memejamkan mata, membiarkan kehangatan tubuh Jungkook meresap ke dalam dirinya. Kata-kata Suga tadi terasa seperti angin lalu yang dingin, kalah oleh debaran jantung Jungkook yang stabil dan menenangkan di balik dadanya.

"Jangan dengarkan mereka, Sheril," bisik Jungkook tepat di telinganya, suaranya sangat manis namun memiliki daya tekan yang tak terlihat. "Mereka ingin memisahkan kita karena mereka tidak mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Mereka menyebutnya kegilaan, tapi kita menyebutnya kesetiaan."

Jungkook membukakan pintu mobil untuk Sheril. Di dalam, sudah tersedia segelas cokelat panas dengan taburan marshmallow kecil di atasnya, persis seperti yang Sheril sukai.

"Ayo pulang. Aku sudah memasakkan risotto jamur kesukaanmu. Dan aku punya kejutan kecil di rumah," ujar Jungkook sambil mengedipkan sebelah matanya.

Saat mobil melaju meninggalkan markas, Sheril menoleh ke belakang melalui kaca spion. Ia melihat Suga berdiri di bawah lampu jalan, menatap mobil mereka dengan ekspresi hancur. Suga berteriak tanpa suara, namun Sheril memilih untuk membuang muka.

Di dalam mobil, Jungkook menggenggam tangan Sheril dengan erat. Tangan yang kuat, tangan yang presisi, tangan yang menurut Suga digunakan untuk memindahkan mayat. Namun bagi Sheril, saat ini, itu adalah tangan yang menyelamatkannya dari kesepian.

"Aku mencintaimu, Sheril. Lebih dari apa pun di dunia ini," gumam Jungkook sambil mencium punggung tangan Sheril.

"Aku juga mencintaimu, Kook," jawab Sheril pelan.

Di tengah hujan gerimis Seoul, mobil itu melaju menembus kabut malam. Sheril merasa sangat aman di samping pria ini, meski di dalam tasnya, ia masih menyimpan selembar foto dari Suga yang menunjukkan sisi gelap kekasihnya. Ia memilih untuk menutup matanya, memilih untuk percaya pada rasa manis cokelat di tangannya dan kelembutan suara Jungkook, tanpa menyadari bahwa di balik senyum koki itu, ada sebuah rencana yang jauh lebih besar untuk memastikan bahwa Sheril tidak akan pernah berpaling darinya lagi.

...****************...

1
Lilyyanaa
ternyata member bts lengkapp🤭
sabana: iyah, semoga suka🙏
total 1 replies
sabana
Ini Fanfic idol lagi ya, minjam nama-nama personil BTS ya, semoga suka
李慧艳
mampir...semangatk kak
李慧艳: tolong AP???
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!