NovelToon NovelToon
CINTA PERTAMA ANDREA

CINTA PERTAMA ANDREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.

Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?

Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETEMU TEMAN LAMA

"Kamu mau jajan dulu, gak?"

Alih-alih hanya berniat jogging keliling komplek, riuh rendah suara orang-orang yang berolahraga pagi itu seolah menjadi tirai pelindung bagi percakapan mereka sejauh ini. Di sepanjang jalan yang ditutup untuk Car Free Day ini, deru tawa anak-anak dan bunyi peluit petugas parkir menciptakan kebisingan yang pas untuk menyembunyikan sebuah rahasia besar.

Dea menoleh, sempat ragu sebelum akhirnya kembali menatap Vhirel yang berjalan tepat di sampingnya. "Kamu panggil aku?"

​Vhirel mendesis pelan, matanya menyapu sekitar seolah memastikan tidak ada tetangga atau kenalan yang menguping. "Iya. Dari tadi Kakak kan sama kamu."

​"Kok kakak lagi, sih?" Dea menggerutu, langkahnya sedikit melambat. Ada gurat kekecewaan yang tak mampu ia sembunyikan dari nada bicaranya.

​"De, dengar..." Vhirel memelankan suaranya hingga nyaris berbisik, sementara bahu mereka sesekali bersenggolan karena padatnya pejalan kaki. "...Setelah Kakak pikir, kita gak perlu merubah nama panggilan. Kakak khawatir Mama sama Papa jadi curiga kalau nanti kita keceplosan di depan mereka. Jadi tolong ya, jangan biasakan."

​Dea membisu, detik berikutnya, ia mengangguk pelan, meski hatinya terasa sedikit mencelos. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya yang melangkah beriringan dengan langkah tegap Vhirel. "Aneh gak, sih kak sama perasaan ini?"

​Vhirel tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, menghirup udara pagi yang mulai bercampur aroma jajanan pasar dan keringat. "Aneh, emang. Aku pun gak tahu kenapa perasaan ini mendadak muncul."

​"Adik-kakak saling jatuh cinta... itu aneh banget, Kak. Tapi aku gak bisa membohongi hati aku sendiri," Lirih Dea, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi musik senam yang berdentum dari kejauhan. "Dulu... semenjak SMA, cuma kelucuan Kakak yang gak lebih buat aku hilang dari rasa bosan meski nyebelin si. Gak lebih. Tapi, setelah lika tahun kita berpisah... jujur, kehilangan Kakak yang setiap hari selalu ada buat aku rindu setiap harinya."

​"Iya, Kakak juga," balas Vhirel singkat, namun penuh penekanan.

Dea melirik Vhirel, "Serius, Kak?"

Vhirel mengangguk. "Gak ada lagi orang yang bisa Kakak buli..."

"Ih nyebelin!" Potong Dea cepat. Jemarinya refleks mencubit perut Vhirel yang tertutup kaus tipis.

Vhirel tersentak kecil, lalu tertawa tertahan. “Eh, sakit, tahu!” Protesnya, meski senyumnya justru makin lebar.

Dea mendengus pelan, membuang muka demi menyembunyikan senyum yang mencuri celah di bibirnya. Di tengah riuh rendah ribuan orang yang memadati jalur Car Free Day pagi itu, suasana di antara Dea dan Vhirel justru terasa kontras—hening, intens, dan sedikit menyesakkan oleh perasaan yang belum tuntas dibicarakan.

​"Andreaaaaa!"

​Suara pekikan melengking itu membelah keramaian dan memecah romansa di antara mereka berdua, pun memaksa Dea teralih sepenuhnya.

​Dea berbalik, sepasang matanya membulat sempurna saat mendapati sesosok gadis berlari kecil ke arahnya dengan napas tersengal namun wajah yang cerah. Ia mengenali sosok itu, kawan lama, sahabat karibnya sejak masa seragam putih abu-abu.

​"Andrea, kan? Beneran lo Andrea?!"

​Dea mengangguk cepat, tangannya spontan terbuka. "A-Aqilaaaa!"

​Keduanya menjerit bahagia, lalu berpelukan erat tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sekitar. "Ya ampun, lama banget kita nggak ketemu! lo ke mana aja, De?" Tanya Aqila setelah melepas pelukan, wajahnya tampak segar dengan keringat tipis di dahi.

​"Iya nih, kebetulan aku baru banget pulang dari Amerika," jawab Dea.

​Aqila tersentak, matanya memindai penampilan Dea dari ujung kepala hingga kaki. "Amerika? Serius? Pantesan auranya beda banget!"

​Namun, pandangan Aqila kemudian beralih, tertuju pada pria jangkung yang sejak tadi berdiri mematung di samping Dea. Ia mengernyitkan dahi, mencoba menggali memori lama. "Eh, ini bukannya... kakak lo, kan? Dulu pernah lho, lo diantar ke sekolah sama kakak lo... Kak Vi... Vi..."

​"Vhirel," sambar Vhirel dengan nada tenang, meski sorot matanya sulit dibaca.

​"Iya! Kak Vhirel!" Aqila menjentikkan jari. "Duh, masih inget aja gue! Kak Vhirel makin... berwibawa ya sekarang."

​"Inget aja kamu," tandas Dea sambil terkekeh, mencoba mencairkan suasana. "Kamu sendirian aja di sini, Qil?"

​Wajah Aqila mendadak berubah sedikit lesu. "Iya nih. Biasalah, di usia yang katanya udah 'harus' nikah ini, harusnya gue udah gandeng calon. Jadi minder gue, meskipun lo sekarang sama kakak lo, seenggaknya ada yang nemenin. gak kayak gue... beneran sendiri."

​Dea melirik Vhirel sekilas. Ada getaran aneh saat Aqila menyebut 'kakak', sebuah status yang sebenarnya ingin Dea tepis jauh-jauh.

​"Oh iya, De," lanjut Aqila antusias, "lo nggak masuk grup WA alumni SMA kita ya?"

​Dea menggeleng pelan. "Enggak, ganti nomor terus soalnya selama di sana."

​"Ya ampun, tahu nggak anak-anak lagi rame ngomongin lo? Dan yang lebih wah-nya lagi..." Aqila merendahkan suara, seolah membisikkan rahasia besar. "lo masih ingat kan, De, cowok yang namanya Satria? Gebetan lo yang dulu bikin lo galau berbulan-bulan itu?"

​Deg.

Nama itu mencuat kembali. Dea tertegun, refleks menatap Vhirel yang berdiri di sisinya. Vhirel hanya tersenyum bijak—senyum formal yang sangat rapi dengan wajah polosnya, meski ia tahu apa yang dibisikkan teman adiknya itu.

Saat itu juga, Dea bisa merasakan perubahan suhu di sekitarnya. Ada api cemburu yang mulai berkobar di balik ketenangan pria itu, dan Dea bisa merasakannya dengan sangat jelas melalui tatapan tajam yang disembunyikan Vhirel.

​"I-iya, ingat," jawab Dea gugup, pura-pura tegar.

​"Dia itu sekarang masih single, lho! Dan denger-denger dia sering nanyain kabar lo ke anak-anak!" Seru Aqila tanpa dosa.

​"Oh ya?" Dea berpura-pura antusias, meski batinnya menjerit melihat rahang Vhirel yang sedikit mengeras.

​Aqila merogoh saku celana training-nya. "Gue minta nomor lo deh, biar gue masukin lo ke grup sekarang juga. Biar Satria tahu lo udah balik."

​"Boleh, boleh." Dea segera mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan kode QR WhatsApp miliknya.

​Aqila langsung memindai.

Tring!

Detik berikutnya, ponsel di saku Dea bergetar, menandakan sebuah notifikasi undangan grup telah masuk.

​"Udah gue masukin ya, De. Thanks a lot! Ntar kita lanjut chat di sana, gue mau lanjut lari lagi nih. Kak Vhirel, duluan ya!" Pamit Aqila sambil melambaikan tangan sebelum kembali menghilang di antara kerumunan.

​"Hati-hati, Qil!" Sahut Dea pelan.

​Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Dea menatap layar ponselnya, lalu menatap Vhirel yang masih memasang wajah 'tenang' yang sangat menyebalkan itu.

"Nyebelin banget tuh cewek!" Celetuk Vhirel. "Bawel!"

Dea terkekeh sambil menyenggol tubuh Vhirel dengan sikutnya. "Bawel apa cemburuuuu?"

Vhirel membelalakkan bola matanya. "Cemburu?"

Dea mengangguk mantap. "Bilang aja Kak Vhirel cemburu karena ada cowok yang disebut Aqila tadi. Soal bawel... Kak Vhirel tahu kan, dari dulu dia emang bawel."

Vhirel mendesis jengkel. "Bawel banget, sih!" Tandasnya seraya menyilangkan kedua lengannya di depan dada. "Kamu sadar nggak, sih, apa yang dia bilang tadi? Di usia dua puluh empat tahun, harusnya dia sudah punya pasangan. Tapi dia jujur, kan, kalau sekarang masih sendiri? Ya jelaslah, mana ada cowok yang betah sama cewek sebawel itu!"

​Dea terkekeh geli melihat ekspresi Vhirel yang mendadak kaku. Pria itu tampak seperti baru saja menelan koin—matanya membelalak sedikit, mulutnya setengah terbuka tanpa kata, dan ada rona merah tipis yang merayap dari leher hingga ke ujung telinganya. Garis wajahnya yang biasanya tegas dan "dingin" itu luluh lantak, digantikan oleh raut kebingungan dan setengah jengkel yang sangat menggemaskan di mata Dea.

Jelas, Vhirel bukan sedang sepenuhnya merasa kesal, tapi juga ada rasa cemburu yang berusaha keras ia sembunyikan di balik sikap sok tenangnya. Rahangnya mengeras, lalu mengendur lagi, seolah ia sendiri belum memutuskan emosi mana yang harus dimenangkan.

Dan, Dea menangkap itu—getar halus di napas Kakaknya, tatapan yang terlalu lama menahan, dan cara bahu pria itu sedikit menegang sebelum akhirnya ia berpaling. Dea hanya mengulum bibir menahan senyum yang hampir saja lolos. Ada rasa geli yang menguar pelan di dadanya, bercampur hangat yang sulit ia beri nama.

****

1
falea sezi
heran liat ortunya ini egois bgt wong bukan saudara kandung sah saja lah jalin hubungan klo. ttep aja emak nya melarang pergi aja dea pergi jauh biar anak nya gila jd ibu koke egoiss amatt
falea sezi
virel g tegas maunya ma siapa Luna apa dea klo mau dea ya jauhin si ulet luna
Kar Genjreng
pokonya jangan ada cinta Antara kakak' Adek kesan nya yang anak angkat ga tau diri padahall namanya perasaan kan tapi jangan sampai itu memalukan keluarga
falea sezi
lanjut . emakk nya knp sih wong bukan inces aja kok hadeh
Kar Genjreng
jangan ada rasa cinta dong biar pun bukan satu kandung tetapi ,,di besarkan oleh orang tua yang sama kasih sayang yang sama jangan ada rasa cemburu layaknya
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,
Penulis🇰🇷Nuansa Korea: hai kak, salam kenal. jika berkenan saya penulis novel Chef seleb bergaya Korsel, kalau suka yg ada nuansa Korea, kuliner, dan budaya Korsel 😊 saya penulis pemula, masih banyak belajar, boleh dikasih saran & dukungannya ya💜terima kasih🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
sapai dua bab belum tau
Kar Genjreng
mampir tapi masih kurang paham ,,, sebenarnya bayi siapa ,,dan Surya dan Oliv itu siapa nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!