NovelToon NovelToon
CAHAYA DI RAHIM SUNYI

CAHAYA DI RAHIM SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Drama
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.

"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."

Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.

Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.

Haruskah Haniyah kembali...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AROMA PAGI DI RUMAH SUNYI.

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden ruang tamu, tepat mengenai kelopak mata Farel yang tertutup rapat. Pria itu tersentak, insting kewaspadaannya langsung aktif saat menyadari dirinya tidak terbangun di kamarnya sendiri. Ia duduk tegak di atas sofa, merasakan sedikit nyeri berdenyut di lengan kirinya. Memori kejadian semalam berputar kembali di kepalanya; serangan Gilbert, sayatan pisau, dan perhatian tak terduga dari Ratih.

Farel menunduk, menatap kemeja putih milik almarhum ayah Ratih yang kini melekat di tubuhnya. Kemeja itu sedikit kebesaran di bagian bahu, namun aroma detergen yang bercampur dengan wangi bunga lavender yang lembut memberikan sensasi tenang yang asing baginya. Tiba-tiba, indra penciumannya menangkap aroma lain yang sangat menggoda; bau bawang putih yang digoreng dan nasi yang baru saja matang.

"Sudah bangun, Tuan Pahlawan?" sebuah suara menyapa dari arah dapur.

Farel menoleh dan melihat Ratih berdiri di ambang pintu dapur dengan celemek berwarna merah muda. Rambutnya diikat asal, dan wajahnya tampak jauh lebih segar dibandingkan semalam.

"Jam berapa sekarang?" tanya Farel dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

"Hampir jam tujuh pagi. Aku sudah membuatkan nasi goreng spesial untukmu sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku semalam," jawab Ratih sambil meletakkan dua piring di atas meja makan kecilnya.

Farel bangkit dari sofa, merapikan selimutnya dengan sangat teliti sebelum menghampiri meja makan. "Anda tidak perlu melakukan ini, Nona. Itu sudah menjadi tanggung jawab saya."

"Tanggung jawabmu adalah menjaga Haris dan Haniyah, bukan menjagaku sampai terluka seperti ini. Jadi, berhentilah bersikap kaku dan duduklah. Makan selagi panas," perintah Ratih dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Farel akhirnya duduk. Ia memperhatikan nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Saat ia hendak menyuap, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama Bos Haris muncul di layar. Farel segera mengangkatnya.

"Halo, Bos?"

"Farel! Di mana kamu? Kenapa kamu tidak pulang semalaman dan ponselmu sulit dihubungi?" suara Haris terdengar menggelegar dari seberang telepon, penuh dengan nada panik dan curiga.

Farel berdehem, melirik Ratih yang kini sedang asyik mengunyah nasi gorengnya sendiri. "Maaf, Bos. Semalam ada sedikit kendala di rumah Nona Ratih. Saya harus mengurus beberapa hal dengan kepolisian."

"Kendala apa? Apa Ratih baik-baik saja? Dan tunggu, kamu masih di rumah Ratih sekarang?" tanya Haris, volumenya sedikit menurun namun nada bicaranya justru terdengar sangat tertarik.

"Iya, Bos. Saya sedang sarapan di sini. Saya akan segera ke rumah sakit setelah ini," jawab Farel sejujurnya.

Di seberang sana, Haris terdiam sejenak sebelum suara tawa kecil terdengar. "Oh, sarapan ya? Baguslah. Sepertinya prediksiku kemarin salah. Kamu tidak seburuk itu dalam mengambil peluang. Baiklah, tidak usah terburu-buru. Haniyah juga baru saja siuman dan sedang makan bersama Mama. Nikmati saja sarapan romantis kalian."

Haris mematikan telepon sebelum Farel sempat membela diri. Farel meletakkan ponselnya di atas meja dengan wajah yang mendadak terasa panas.

"Ada apa? Haris marah?" tanya Ratih penasaran.

"Tidak. Dia hanya... terlalu banyak berasumsi," jawab Farel singkat, lalu ia mulai memakan nasi gorengnya untuk menutupi kecanggungan.

Keheningan kembali menyelimuti meja makan itu, namun kali ini rasanya tidak sedingin semalam. Ratih memperhatikan cara Farel makan yang sangat rapi dan tenang. Tidak ada suara denting sendok yang beradu dengan piring.

"Farel, kenapa kau memilih menjadi asisten Haris? Dengan kemampuan bela dirimu dan kecerdasanmu, kau bisa saja menjadi perwira atau memiliki bisnis sendiri," tanya Ratih tiba-tiba, memecah kesunyian.

Farel berhenti mengunyah sejenak. "Keluarga Bos Haris telah membantu keluarga saya di masa lalu. Bagi saya, loyalitas adalah segalanya. Menjaga dia dan keluarganya adalah cara saya membalas budi."

"Tapi kau juga punya hak untuk hidupmu sendiri, Farel. Kau punya hak untuk mencari kebahagiaanmu sendiri, termasuk mencari pasangan," ujar Ratih dengan tatapan mata yang dalam.

Farel menatap Ratih. "Saya tidak merasa kekurangan apa pun saat ini."

Ratih menghela napas, ia sedikit gemas dengan jawaban datar pria itu. "Kau tahu, semalam saat aku melihatmu terluka demi melindungiku, ada sesuatu yang bergetar di sini," Ratih menunjuk dadanya sendiri. "Aku terkesan. Sangat terkesan."

Farel kembali merasa kikuk. Ia segera menghabiskan nasi gorengnya dan bangkit dari duduk. "Terima kasih atas sarapannya, Nona. Saya harus segera ke rumah sakit sekarang."

"Tunggu, aku ikut! Aku kan sudah bilang mau melihat Haniyah pagi ini," seru Ratih sambil melepaskan celemeknya dan berlari masuk ke kamar untuk berganti pakaian.

Lima belas menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil jip menuju rumah sakit. Di sepanjang jalan, Ratih kembali pada kepribadian aslinya yang cerewet. Ia menceritakan banyak hal tentang masa kuliahnya bersama Haniyah, sementara Farel mendengarkan dalam diam, meskipun sesekali ia memberikan respons singkat.

Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung ke kamar rawat Haniyah, suasana tampak sangat hangat. Haniyah sudah bersandar di tempat tidur dengan wajah yang mulai merona. Di sampingnya, Rosita sedang menyuapkan sup hangat dengan penuh kasih sayang. Haris duduk di sisi lain, memegang tangan istrinya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.

"Hani! Syukurlah kau sudah sadar!" seru Ratih sambil menghambur masuk dan memeluk sahabatnya hati-hati.

"Ratih, terima kasih ya. Mas Haris menceritakan semuanya, tentang bagaimana kamu melindungiku dan bayiku di gudang itu," ucap Haniyah dengan mata berkaca-kaca.

"Sudahlah, itu sudah kewajibanku sebagai sahabat. Oh ya, kenalkan pahlawanku yang baru," ucap Ratih sambil menoleh ke arah pintu, di mana Farel baru saja masuk.

Pandangan semua orang di ruangan itu tertuju pada Farel, atau lebih tepatnya pada kemeja putih yang ia kenakan. Haris menyipitkan mata, mengenali bahwa kemeja itu bukan milik Farel.

"Farel, kemeja itu... sepertinya aku tidak pernah melihatmu memakainya sebelumnya. Dan lenganmu kenapa dibalut kain kasa?" tanya Haris dengan nada menyelidik yang jahil.

Farel berdiri tegap, mencoba menjaga wibawanya. "Semalam ada serangan dari mantan suami klien Nona Ratih, Bos. Lengan saya terkena sayatan sedikit saat meringkus mereka."

"Dan kemeja itu milik siapa?" tanya Rosita ikut penasaran.

"Itu milik mendiang ayahku, Tante," sahut Ratih cepat sebelum Farel bisa mengarang alasan. "Bajunya robek dan berdarah semalam, jadi aku memintanya untuk berganti baju dan menginap di rumahku karena sudah terlalu larut."

Ruangan itu mendadak sunyi sesaat sebelum Haris meledakkan tawanya. Haniyah pun ikut tersenyum lebar. Rosita menatap Farel dengan pandangan baru, seolah sedang menilai calon anggota keluarga.

"Wah, Farel. Aku tidak menyangka perkembangannya akan secepat ini. Menginap di rumah pengacara cantik?" goda Haris sambil mengedipkan mata pada asistennya.

Farel hanya bisa menunduk, wajahnya yang biasanya sedingin es kini benar-benar memerah. "Saya hanya menjalankan tugas untuk menjaga keamanan, Bos."

"Sudah, sudah. Jangan menggoda Farel terus," bela Haniyah dengan lembut. "Farel, terima kasih sudah menjaga Ratih semalam. Dia adalah orang yang paling berharga untukku setelah suamiku."

Farel mengangguk sopan. "Sama-sama, Ibu Haniyah."

Momen itu terasa begitu sempurna bagi Haris. Istrinya selamat, bayinya sehat, ibunya telah berubah menjadi sosok yang penyayang, dan kini asisten setianya tampaknya mulai menemukan tambatan hati. Namun, di tengah kebahagiaan itu, Haris tahu bahwa Juragan Darwis di balik jeruji besi masih merupakan ancaman jika tidak ditangani dengan tuntas. Ia memberikan kode mata pada Farel untuk keluar ruangan sejenak.

"Farel, pastikan proses hukum Darwis berjalan tanpa celah. Aku tidak ingin dia keluar dari penjara seumur hidupnya. Dan satu lagi," Haris merangkul bahu Farel saat mereka sudah berada di lorong. "Tentang Ratih, aku serius. Jangan biarkan luka di lenganmu sia-sia. Dia wanita yang hebat."

Farel menatap Haris, lalu ia melihat ke arah pintu kamar di mana Ratih sedang tertawa bersama Haniyah. "Saya akan memikirkannya, Bos."

"Jangan terlalu lama berpikir, nanti keburu diambil orang lain yang lebih pintar bicara darimu," canda Haris sebelum kembali masuk ke ruangan.

Farel terdiam di lorong rumah sakit, menyentuh kemeja putih yang dipakainya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Farel merasa bahwa melayani keluarga Haris dan mengejar kebahagiaan pribadinya bukanlah dua hal yang harus dipilih salah satu. Ia bisa melakukan keduanya, dan Ratih sepertinya adalah orang yang tepat untuk membantunya memahami itu.

1
Rara Ardani
ayo farel buka hatimu, jangan kaku gitu, kamu akan mendapatkan kebahagiaan an nanti 🤭🤭
Uba Muhammad Al-varo
kamu tidak nyaman karena pengabaian Ratih kan karena kamu ada rasa ke Ratih
Pujiastuti
sudah mulai ada rasa dihati Farel buat Ratih, tapi Farel belum menyadarinya
lanjut kak semangat 💪💪
Naufal hanifah
cerita nya bagus /Good//Good//Good/
Mira Hastati
bagus
Uba Muhammad Al-varo
farel....... akhirnya terpesona oleh Ratih karena kesederhanaannya dan merakyat 😊😊😊
Eliermswati
ayo farel kejar g ad loh cwe sbaik Ratih, yg g gengsi mkn pinggir jln itu justru lbh nikmat dan enk perut kenyang hti pun senang smga hani cpt smbh y dan bail2 sj
🤣🤣
Eliermswati
smga slmt y thor kshn Hani dah nunggu lm🙏🙏
Perempuan
Keingat dulu pernah keguguran anak pertama. membaca kondisi Niyah, perutku juga rasanya kram
Pujiastuti
semoga calon anak mereka aman dan ngak kenapa²

lanjut kak tetap semangat 💪💪
Salsa Billa
thor halunya kayak didunia sihir, masak pembangunan vila 3hr hampir siap huni,,, segaknya 6bln masih masuk akal 😁😁😁😁 tp ok lah namanya dunia halu
Uba Muhammad Al-varo
bagaimana pun keadaannya semoga Haniyah dan Ratih baik' saja dan secepatnya diketemukan dan diselamatkan oleh Haris, farel dan pasukannya
Eliermswati
ayo haris cptan tlng istrinya jngn smpe terjadi sesuatu sm mreka, thor jngn bkn hani keguguran y kshn kn dah nunggu lm 🙏🙏🙏
Wardah Saiful
romantis,sweet,ada.gemes2nya dikit,top deh❤️💪
Uba Muhammad Al-varo
tinggal sekarang Haniyah menjalani kehamilan ini dengan bahagia dan senang, semua masalahnya sudah terselesaikan dengan baik, hubungan antara ibu mertuanya sudah lebih baik lagi
Uba Muhammad Al-varo
Haris........ terus lindungi Niyah, jangan sampai Niyah terluka lagi
Perempuan
surat dokter yg menyatakan Haris mandul harus disiasati juga. Emaknya bisa saja marah krn merasa dibohongi. Emang lebih baik di desa aja dulu Ris., udaranya juga bagus utk kesehatan si Bumil tercinta
Enny Suhartini
semangat
Uba Muhammad Al-varo
ternyata Miss komunikasi yang terjadi antara Haniyah dan Haris, ayolah Niyah kalau ada sesuatu yang terjadi bicarakan dengan baik' dan terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman /Kiss/
Ayesaalmira
akhirnya masalahnya selesai,jika d bicarakan dgn baik2..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!