NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjaga Hati

Udara beraroma kertas tua dan kopi sisa. AC berdesir pelan, berusaha menenangkan siang yang mulai menggigit. Dian berdiri di rak fiksi, jemari menjelajah punggung novel-novel seakan mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu apa.

Dewa di sampingnya, memegang buku Manajemen Strategi untuk Pemula terbalik. Matanya tertuju pada halaman 47, tapi yang dilihatnya bayangan ibu dosen di sudut mata—rambutnya yang hari ini dilepas, menggelayut sampai bahu. Wewangian lavender samar dari shampoo-nya berbaur dengan bau buku. Dewa menelan ludah. Ia sudah tiga kali membaca paragraf tanpa mengerti satu kata pun.

"Ini bukan ide bagus," pikirnya "Ini ide terburuk atau terbaik atau gue tidak tahu lagi."

Tiba-tiba—

"Dewa?"

Suara itu—tajam, familiar, membawa aroma kantin kampus dan tugas telat

Dewa menoleh darahnya langsung turun ke tumit.

Joko. Budi. Rina berdiri di ujung rak rak dengan senyum terlalu lebar, terlalu ceria, terlalu berbahaya.

Joko memegang buku Cara Mendapatkan Nilai A dengan genggaman orang putus asa. Budi menggendong Resep Gorengan Sejuta Umat seolah itu kitab suci. Rina mencengkeram Jurnalisme Investigasi untuk Pemula—matanya yang tajam langsung menyapu, menganalisis, mencatat.

"Lo ngapain di sini, Wa?" tanya Joko, suaranya terlalu nyaring di ruang yang seharusnya sunyi.

Dewa terdiam seperti kena sihir.

Dan tidak lama mata Joko terpaut dengan seorang perempuan paruh baya sedang membuka buku novel tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Bibirnya bergetar membelah laut. "Ibu... Ibu Dian?"

Dian mengernyit menutup novelnya perlahan, sampul keras berbunyi klep pelan di udara tiba-tiba kaku. Ia tersenyum tipis—bukan senyuman seorang dosen yang mengintimidasi, tapi senyum wanita berusaha menjadi manusia biasa.

"Selamat siang."

Budi tergagap buku gorengannya hampir jatuh. "Ibu Dian—

Rina menutup mulutnya dengan tangan masih memegang buku, cengkeraman kuat sampai jari-jarinya memutih.

"Bud, diem! Orang pada lihat!" desisnya, tapi matanya sendiri melotot tak percaya.

Perempuan itu malah tertawa lepas menggoyangkan bahunya, membuat sudut matanya berkerut. "Tenang hari ini libur menjadi dosen."

Rina melongo. Bibirnya bergerak tanpa suara: "Ibu Dian bisa... tertawa?"

Ia menatap Dewa sesuatu di matanya—tantangan, atau mungkin permohonan. "Kata asisten saya, saya galak. Jadi hari ini saya mencoba menjadi putri cinderella."

Ketiga nya tergagap mau ketawa gimana, gak ketawa mulut mau menganga

Budi mencondongkan tubuhnya berbisik "Gue lihat Ibu Dian pakai dress... yakin Lo Rin? Mungkin dunia mau kiamat."

Rina menyikutnya tepat di tulang rusuk. " Memang nya bu Dian selalu make blazer? Lo liat ini mal bukan ruang seminar."

Budi meringis tapi tidak berhenti menatapnya seolah berhalusinasi.

"Kalian mau ikut jalan? saya traktir es krim."

Dewa tersentak kaget berdoa didalam hatinya, " Ya Tuhan jangan engkau buka aibku disini didepan teman teman gila.'

Joko, Budi, Rina. Tiga pasang mata saling bertemu dalam bahasa isyarat yang hanya dimengerti sahabat sejati—Ini jebakan? Ini tes? Ini realita yang mana?

Budi hampir pingsan. Untung saja Joko dengan cepat menangkap sikunya.

 ---

Pukul 12.30, kedai es krim "Melati" di lantai dasar mall

Meja panjang kayu jati, bekas goresan sendok dan tumpahan cokelat dari ribuan pelanggan sebelumnya. Mereka duduk berjajar—Joko dengan Dewa paling ujung seolah siap kabur, Budi di tengah dengan tubuh setengah menghadap pintu, Rina di samping ibu dosen postur wartawan siap wawancara narasumber berbahaya

Ibu Dian memesan lima es krim. Vanilla untuk dirinya, cokelat untuk Dewa, stroberi untuk Rina, matcha untuk Joko, dan triple chocolate untuk Budi yang masih gemetar.

"Ini... ini gratis, Bu?" tanya Budi, melihat tumpukan cokelat yang menjulang.

"Semua gratis hari ini," katanya mengambil sendok. "Hari ini saya bukan dosen. Saya hanya... orang yang ingin makan es krim."

Suasana canggung seperti es yang belum mencair. Sendok menyerok bunyi serak terlalu keras. Joko terbatuk-batuk karena matcha terlalu pahit, tapi ia tidak berani mengeluh.

Rina memberanikan diri. Jari-jarinya memutar-mutar sendok, mencari kata-kata yang tepat. "Bu, boleh nanya?"

"Boleh." Ia menyeruput vanillanya, matanya setengah terpejam menikmati dingin yang menusuk gigi.

"“Bu, banyak mahasiswa bilang Ibu dosen yang sangat tegas. Apa itu memang gaya mengajar Ibu?”

Ia tertawa. "Menurut kalian saya Killer?"

"Maaf, Bu. Itu julukannya di grup WA kampus." Rina menunduk, pipinya memerah.

Dian menghela napas menggoyangkan rambut di dahinya. "Mungkin karena saya terlalu serius. Atau karena..." ia berhenti, sendoknya berputar di mangkuk kosong, "Saya nggak bisa terlalu dekat sama orang."

Joko menimpali tergagap " Ta - pi sa - ma De - wa, Ibu..."

Ia mengalihkan pandangan kepada laki laki berkulit putih membuatnya merah muka "Dewa itu beda, dia assisten.

" Jo, Itu bukan dialog sinetron Brondong vs Dosen Killer?"tanya Budi berbisik halus

Joko menyikutnya, " Lu diem napa."

Rina bertanya lagi, suaranya lebih pelan, lebih hati-hati: "Bu, ,Mohon maaf sekali lagi, ini mungkin menyangkut soal pribadi...."

"'Pak Dekan maksud kalian ?Dian memotong cepat. "Apa kalian mendengar ?"

Rina terdiam sesaat lalu, "Gosip itu sudah menjalar kemana mana, ibu dipindah kan tidak lagi menjadi Ketua Prodi."

"Saya sebenarnya marah, karena urusan pribadi disangkut pautkan dengan pekerjaan, tapi saya sudah move on."

"Move on gimana, Bu?"

Ia menatap mangkuk es krim yang mencair. "Ya... kayak gini keluar, jalan makan es krim." Ia tersenyum, tidak sampai ke mata. "Saya melupakan sejenak status dosen menjadi diri sendiri

Mereka bertiga diam, kagum, sedih dan mengerti.

Joko untuk pertama kalinya melihat Ibu Dosen bukan sebagai monster di ruang kuliah, tapi sebagai manusia—retak, rapuh, mencoba.

 

Pukul 14.00, trotoar di depan toko buku

Matahari sudah naik tinggi, membuat bayangan mereka pendek dan gemuk. Joko, Budi, dan Rina berdiri berjejer, seperti murid dihadapkan kepala sekolah kena strap nyolong MBG

"Kami pamit, Bu," kata Rina sedikit membungkuk.

"Terima kasih atas es krimnya, Bu" tambah Joko, suaranya lebih halus dari biasanya.

Budi hanya mengangguk-angguk, masih trauma.

Sebelum pergi, Rina menarik lengan Dewa, menariknya menjauh beberapa langkah. Matanya serius, lebih serius dari biasanya—tidak ada jejak bercanda di sana. "Wa, lo jaga Ibu Dian baik-baik." Ia menatap ke belakang, memastikan Ibu Dian tidak mendengar. "Ibu ... dia perempuan biasa butuh bahagia. Jangan bikin dia nyesel udah keluar dari cangkang"

Dewa mengangguk tidak ada kata yang cukup kalimat aneh itu

"Mereka baik," Tiba tiba Ibu Dian sudah berdiri disampingnya, menatap punggung tiga orang menjauh.

"Iya, Bu, mahasiswa ibu juga "

"Mereka sayang kamu."

Dewa salah tingkah. Tangan-tangannya mencari saku yang tidak ada, jari-jarinya saling memilin. "Biasa aja, Bu."

Ia tersenyum—senyum yang mengatakan saya tahu kamu berbohong, tapi saya tidak akan membiarkan. "Ayo, kita lanjut."

 

Pukul 15.00, butik "Luna" di lantai tiga

Ruang ganti berdinding cermin, memantulkan bayangan berkali-kali membuat Dewa pusing membedakan mana yang nyata, mana makhluk halus.

Ibu Dian membawa tumpukan baju—gaun, blus, rok—warna-warna yang tidak pernah ia kenakan: merah marun, emerald, mustard.

"Tunggu di sini, Dewa" katanya sebelum menghilang di balik tirai beludru.

Dewa duduk di kursi kayu yang empuk, terlalu empuk, seolah ingin menelannya. Matanya mengitari ruangan—kemewahan yang tidak pernah ia pahami, harga-harga yang membuatnya pusing. Lalu, di seberang, melalui celah antara rak pakaian dan dinding cermin, ia melihatnya.

Laki-laki berjas navy, rapi tanpa cela. Rambutnya dipotong militer, sedikit memutih di pelipis—seperti salju yang menolak mencair. Wajahnya tegas, rahang kuat, bahu lebar yang pernah menopang dunia Dewa sebelum runtuh.

Papa.

Dewa merosot di kursi. Jantungnya berdegup di tenggorokan, di pelipis, di ujung-ujung jari. Papa di sini? Di mall ini? Di hari ini?

Ayahnya sedang berbicara dengan seorang wanita. Muda—mungkin tiga puluhan, mungkin lebih muda. Rambutnya diwarnai cokelat kemerahan, jatuh bergelombang di bahu. Berdandan sempurna, bajunya terlihat mahal bahkan dari jarak sepuluh meter, tas tangannya berlogo yang Dewa kenal dari majalah-majalah dibuang ibunya.

Mereka tertawa bersama, tawa ayahnya—that sound that used to mean safety, that used to mean home—sekarang terdengar seperti pecahan kaca di lantai marmer.

Dewa mengepalkan tangan. Kukunya menancap di telapak, nyeri yang menjadi penawar dari nyeri lain yang lebih besar. Masih dengan wanita muda. Seperti tidak pernah berubah. Seperti ibu tidak pernah ada. Seperti dia tidak pernah ada.

Ayahnya sepertinya merasakan sesuatu. Mata yang sama—cokelat gelap, tajam, menghitung—menoleh. Mereka bertemu di udara yang tiba-tiba menjadi padat, menjadi beracun, menjadi tidak bisa dihirup.

Sekejap hanya sekejap.

Dewa membuang muka. Terlalu cepat. Terlalu kasar. Tirai ganti baju bergerak.

"Dewa?" Suara Dian dari belakang, lembut tapi waspada. "Kamu kenapa?"

Dewa menoleh. Ayahnya sudah tidak ada—atau mungkin tidak pernah ada, mungkin hanya halusinasi, mungkin hantu dari masa lalu yang datang berkunjung.

"Enggak, Bu. Nggak apa-apa." Suaranya terlalu tinggi, terlalu cepat, terlalu palsu.

Dian menatapnya tidak bertanya tahu bahwa ada batasan yang tidak bisa didobrak dengan paksa.

 

Pukul 17.00, parkiran basement

Lampu neon berkedip-kedip, membuat bayangan mereka hidup dan mati, hidup dan mati. Lantai semen dingin, berbau knalpot dan kelembaban. Dian membawa dua kantong—buku-buku dari toko tadi, dan satu gaun merah marun yang ia beli tanpa mencoba.

"Dewa."

"Iya, Bu?"

Dian berhenti di samping mobilnya—honda silver terawat dengan cinta. Ia menatap Dewa, benar-benar menatap, "Kamu lihat sesuatu tadi?"

Dewa diam. Lidahnya terasa berat, penuh dengan kata-kata yang tidak bisa diucapkan. Papa pengkhianat. Lelaki yang membuat Mama menangis sampai ia berpulang "Nggak, Bu."

Dian tidak percaya terlihat jelas dari cara alisnya berkerut, dari cara tangannya mengencangkan genggaman pada kantong belanjaan. Tapi ia tidak memaksa.

"Kalau ada apa-apa," katanya, suaranya lebih lembut, "kamu cerita, ya bukan sebagai dosen dan mahasiswa. Tapi sebagai..." ia berhenti, mencari kata yang tepat, "sebagai dua orang yang sedang mencoba menjadi teman."

Dewa tersenyum tipis "Iya, Bu."

 

Pukul 18.30, Apartemen Anggrek

Lorong panjang, lampu yang berkedip di ujung, bau masakan dari unit apartment lain.

Dian melepas kacamata wajahnya terlihat lebih muda tanpa bingkai hitam itu, lebih rentan, lebih nyata.

"Hari ini menyenangkan," katanya pelan. "Makasih, Dewa."

"Sama-sama, Bu."

Namun Ia terlihat ragu tangannya masih berada di gagang pintu, tapi tubuhnya tidak bergerak. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, sesuatu yang terjebak di antara kerongkongan dan gigi. "Besok... kita mulai rutinitas biasa lagi. Tapi..." ia menatap mata berkilau—bukan air mata, tapi sesuatu yang lebih rumit, "Saya senang hari ini. Sungguh."

"Saya juga, Bu."

Ia masuk. Pintu tertutup dengan bunyi klik terdengar seperti titik akhir bab.

Dewa berdiri di sana menghitung detik dalam hati—satu, dua, tiga—sebelum mengambil ponsel dari saku.

Layar menyala. Ia mengetik pesan ke Roby, jari-jarinya gemetar.

"By... gue lihat papa gue di mall."

Tiga titik. Roby sedang mengetik. Lalu: "Apa? Dia ngapain?"

"Dia sama wanita muda. Lagi."

Tiga titik yang lebih lama. Lalu: "...Gue nyusul ke tempat kos Lo?"

"Gue muak, By. Gue muak lihat dia. Gue muak jadi anak yang harus pura-pura nggak lihat."

"Lo mau pulang? Ketemu dia?"

Dewa menatap pintu apartemen memikirkan tawa Dian, es krim yang mencair, gaun merah yang belum pernah dipakai.

"Nggak. Gue milih di sini. Jagain Ibu Dian."

1
D_wiwied
sayang Dewa apa kekayaannya?? dasar cewek licik bin matre
D_wiwied
loe sendiri msh perawan ga Sha,, bertanya dg nada selembut dering hp nokia jadul 🤭🤭
Ddie: mba wied masih ingat hape Nokia jadul ya...heheh. Sasha itu cewek opurtunis, mencari celah agar bisa dekat mba 😄
total 1 replies
D_wiwied
Si tepung bumbu ini tipe oportunis, deketin Dewa lg krn tau kalo Dewa anak org kaya.. nyesel kan kau sekarang sha, sukuriiiin 😆🤣
Ddie: hahahah...mba wied ..eneg banget
ama Sasha ...padahal dia cantik lho mba. 😄
total 1 replies
ALWINDO BM
yes
Ddie: terimakasih sobatku 🙏
total 1 replies
D_wiwied
jauh banget ya jarak antara apartemen dg kampus, berangkat jam 6 pagi nyampe kampus jam 7.30 ga pegal tu pulang pergi tiap hari 🤭😆😁
Ddie: Itulah mba Wid ...kampus ibu Dian itu di planet mars, tapi demi ayang biby ...jarak tidak terasa hehe
Trims mba Wid koreksinya...emang benar...satu jam setengah...kalau author mungkin udah capek duluan 😄😄🙏
total 1 replies
D_wiwied
yg masih jd tanda tanya, kenapa bisa tiba-tiba sekonyong-konyong Sasha tepung bumbu pindah ke kampusnya Dewa, siapa yg nyuruh.. apakah pak dekan ato si mantan 🤔🤔
D_wiwied: kakk.. mlh ngajak berteka teki 😁
total 2 replies
D_wiwied
rasanya spt belum ditembak tp udah ditolak duluan ya Wa 🤭😆
makanya jujur aja deh Wa, jangan cm dipendam tok gimana bu Dian tau kalo kamu cm diem aja
Ddie: Dewa takut kalau rahasia cincin nya tertukar mba..apa yng terjadi kalau Ibu dosen tahu cincin itu untuk Sasha
total 3 replies
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!