Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat Pulang
Pintu apartemen terbuka pelan.
Lara melangkah masuk sambil menghembuskan napas lega, seolah baru saja lolos dari sesuatu yang menegangkan. Sepatunya belum dilepas , tasnya masih tersampir di bahu. Ia bahkan belum sempat menyalakan lampu ketika sebuah suara terdengar dari dalam.
“Kamu dari mana?”
Lara terhenti.
Nada itu datar. Terlalu datar untuk disebut marah—tapi justru itulah yang membuatnya merinding.
Ia menoleh.
Arka berdiri di ruang tengah, bersandar pada meja dapur. Kemejanya masih rapi, rambutnya sedikit berantakan, jam tangan masih melingkar di pergelangan. Tatapannya tertuju padanya—tajam, dingin, tapi ada sesuatu yang berkilat samar di sana.
“Eh....Paman” Lara tersenyum kikuk. “Maaf aku baru pulang.”
“Aku tahu,” jawab Arka singkat. “Jam berapa sekarang?”
Lara melirik jam di dinding. “Hampir… enam.”
Arka mengangguk pelan. Terlalu tenang.
“Kamu bilang akan pulang habis kuliah.”
“Iya, tapi—”
“Memangnya jam kuliah kamu seharian?,” potong Arka.
Sunyi jatuh di antara mereka.
Lara menelan ludah. Baru sekarang ia sadar—ini pertama kalinya Arka menegurnya sejak mereka tinggal bersama. Dan rasanya… aneh. Bukan seperti dimarahi ayah. Bukan juga seperti ditegur kakak. Ada jarak yang dingin, tapi perhatian yang terlalu jelas untuk diabaikan.
“Aku ke perpustakaan Paman,” ucap Lara akhirnya. “Ngerjain tugas. Nggak kerasa waktunya.”
Arka tidak langsung menjawab. Ia melirik jam tangannya lagi—gerakan kecil yang justru mengungkap kegelisahan.
“Kamu tahu aku pulang jam empat,” katanya. “Dan kamu belum ada.”
Nada suaranya tetap terkendali, tapi Lara bisa menangkap sesuatu di baliknya.
“Kampus kamu bukannya dekat.”
Lara mengangguk. “Aku tahu. Maaf.”
Ia melangkah sedikit mendekat. “Aku nggak maksud bikin paman khawatir.”
Kata khawatir membuat rahang Arka mengeras.
“Aku nggak bilang aku khawatir.”
Lara mengangkat alis. “Tapi kelihatannya iya.”
Arka terdiam.
Untuk sesaat, ia ingin marah. Ingin berkata bahwa Lara ceroboh. Bahwa Jakarta bukan kota kecil. Bahwa ia tidak seharusnya pulang tanpa kabar.
Namun pikiran lain menyela—tajam dan jujur.
Nomornya saja aku nggak punya.
Arka menghembuskan napas panjang, kali ini tidak berusaha menyembunyikan rasa kesalnya—pada Lara, dan lebih besar lagi, pada dirinya sendiri.
“Aku nggak bisa hubungi kamu,” katanya akhirnya. “Karena aku nggak punya nomor kamu.”
Lara terdiam. Matanya berkedip pelan.
“Oh.”
Satu kata itu terasa… memalukan.
“Oh?” Arka menatapnya. “Kamu tinggal di tempat yang sama denganku, tapi aku bahkan nggak bisa tahu kamu ada di mana.”
Lara menggaruk tengkuknya pelan. “Aku juga… nggak kepikiran.”
Sunyi kembali mengendap.
Arka memejamkan mata sesaat. Semua kemarahan yang tadinya siap keluar mendadak kehilangan arah. Ia ingat dirinya sendiri—dua jam lalu, berdiri di tempat yang sama, menatap pintu, berpura-pura tenang sambil mengecek jam berkali-kali.
Ia membuka mata.
“Lain kali,” katanya lebih pelan, “kasih kabar.”
“Iya,” jawab Lara cepat. “Aku Janji.”
Ia baru saja melepas sepatunya ketika suara itu kembali terdengar.
“Lara kemari sebentar.”
Lara menoleh. Arka masih berdiri di ruang tengah. Wajahnya sudah tidak setegang tadi, tapi tatapannya kini tertuju pada bagian depan kemeja Lara.
“Kenapa bajumu?” tanyanya.
Lara refleks menunduk. Noda samar berwarna jingga masih terlihat jelas.
“Oh… ini,” katanya sambil menarik ujung kemejanya. “Tadi di kampus. Aku ceroboh.”
Arka mengerutkan dahi. “Ceroboh bagaimana?”
Lara ragu sepersekian detik. “Ketumpahan minuman,” jawabnya akhirnya. “Waktu makan di kantin. Aku kepedesan.”
Itu bukan bohong. Hanya… tidak sepenuhnya lengkap.
Arka mengangguk pelan, meski jelas belum sepenuhnya puas. Namun ia tidak mendesak.
“Lain kali lebih hati-hati,” ucapnya singkat.
Ia lalu mengeluarkan ponselnya. “Kita tukeran nomor. Aku nggak mau kejadian ini keulang.”
Lara mengangguk cepat. “Iya.”
Mereka bertukar nomor dengan jarak yang canggung—cukup dekat untuk membuat Lara sadar bahwa Arka kini benar-benar memperhatikannya.
“Kalau pulang telat,” kata Arka setelah selesai menyimpan nomor, “kabarin.”
“Iya, paman” jawab Lara lembut.
Ia tersenyum kecil, lalu melangkah ke kamarnya.
Setelah mandi, Lara berdiri di depan mesin cuci sambil memegang tasnya. Tangannya berhenti ketika menyentuh sesuatu yang terlipat rapi di saku dalam.
Lara terdiam sejenak, lalu tersenyum samar. Ia mencucinya dengan hati-hati, memerasnya pelan, lalu menjemurnya di ruang laundry kecil apartemen.
Besok aku balikin, batinnya.
Beberapa saat kemudian, Arka keluar dari kamarnya membawa pakaian dalam yang ingin ia cuci. Langkahnya terhenti ketika pandangannya jatuh pada sesuatu yang tergantung di tali jemuran.
Sebuah sapu tangan.Putih. Bersih.Tapi bukan milik Lara.Dan juga bukan miliknya.
Arka mendekat, menurunkannya, lalu mengamati sudut kain itu.
Sebuah huruf kecil terjahit rapi,dengan inisial "A".
Arka terdiam.
Ia tahu betul—itu sapu tangan seorang pria.
Dan untuk pertama kalinya sejak Lara kembali ke hidupnya, perasaan tidak nyaman itu muncul lagi. Pelan. Tapi nyata.
Arka berdiri di dapur apartemen, lengan kemejanya digulung, celemek sederhana melingkar di pinggangnya. Tangannya bergerak cekatan—memotong, menumis, mengatur api. Semua dilakukan dengan kebiasaan lama yang sudah melekat sejak ia tinggal sendiri di luar negeri.
Memasak adalah caranya menenangkan diri.
Dan malam ini… juga caranya untuk menebus rasa bersalah.
Ia teringat wajah Lara tadi sore. Cara gadis itu berdiri kaku di hadapannya, meminta maaf tanpa membantah. Arka sadar—sikapnya terhadap ponakannya itu memang dingin. Terlalu dingin.
Setelah makanan siap, Arka menoleh ke arah koridor kamar.
“Lara,” panggilnya. “Ayo makan.”
Tak lama kemudian, pintu kamar Lara terbuka.
Arka yang sedang menyendok nasi refleks menoleh—dan gerakannya terhenti.
Lara melangkah keluar mengenakan piyama satin berwarna lembut, tanpa lengan, panjangnya sebatas lutut. Rambutnya masih sedikit lembap, jatuh membingkai wajahnya. Cahaya lampu apartemen membuat kain satin itu memantulkan kilau halus—membentuk siluet tubuhnya dengan samar, tapi cukup jelas.
Cantik.Terlihat dewasa.
Arka menelan ludah tanpa sadar. Sejak kapan…Lara....
“Eh,” suara Lara memecah pikirannya. “paman masak?”
Arka tersentak, cepat-cepat mengalihkan pandangan. “Iya ayo makan.”
Nada suaranya kembali datar, tapi detak jantungnya tidak sekooperatif itu.
Mereka duduk berhadapan di meja makan. Suasana canggung, tapi tidak sepenuhnya kaku. Lara mencicipi masakan Arka, lalu matanya langsung berbinar.
“Ini enak banget,” katanya jujur. “Jauh lebih enak dari mie instanku.”
“Itu standar yang terlalu rendah,” jawab Arka singkat.
Lara terkekeh. “Beneran enak.”
Makan malam berjalan pelan. Tidak banyak bicara, tapi juga tidak sunyi. Ada suara sendok bertemu piring, ada sesekali tatapan yang cepat-cepat dialihkan.
Di tengah makan, ingatan Arka melayang lagi.
Sapu tangan itu, dengan inisial A.
Ia meletakkan sendoknya.
“Kampus kamu… gimana?” tanyanya seolah santai.
Lara mendongak. “Hah? Oh. Ya… baik.”
“Kamu sudah dapat teman?”
Lara mengangguk. “Sudah. Beberapa.”
Nada jawabannya ringan, tapi Arka menangkap jeda kecil sebelum beberapa kata keluar.
“Laki-laki juga?” tanya Arka, terlalu cepat—lalu menyesalinya.
Lara mengangkat alis. “Kenapa?”
“Bukan apa-apa,” Arka berdehem. “Sekadar tanya.”
Lara tersenyum kecil. “Ada sih. Kenalan baru.”
Arka mengangguk pelan, meski dadanya terasa sedikit mengeras. Ia tidak tahu kenapa pertanyaan itu penting. Tapi malam ini, ia sadar satu hal yang sulit ia sangkal—
Lara bukan lagi gadis kecil yang selalu mengikutinya ke mana-mana.
Dunia Lara kini lebih luas. Dan Arka… tidak lagi berada di pusatnya.
Setelah makan, Lara membantu membereskan meja—meski lebih banyak berdiri dan bertanya apa yang harus dilakukan. Arka membiarkannya, sesekali mengoreksi dengan sabar.
Saat semuanya selesai, Lara menguap kecil.
“Aku ke kamar dulu ya paman,” katanya. “sudah ngantuk."
“Iya.”
Lara melangkah pergi, meninggalkan aroma sabun dan sesuatu yang membuat Arka berdiri lebih lama di dapur.
Entah kenapa, malam ini terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih dekat. Tapi juga… lebih berbahaya.
Dan Arka tahu—ia sudah mulai melangkah ke wilayah yang seharusnya tidak ia sentuh.