Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Baskara
"Pak Ibnu, jangan bengong! Mana sini paklaring saya?!"
Ibnu bergeming mendengar permintaan Aditi. Ibnu memindai Baskara. Sosok yang sama seperti dirinya, setipe sebenarnya.
Tinggi menjulang. Usia sepertinya di kisaran sebaya, antara 30 sampai 35 tahun.
Wajah Baskara ini terlihat tenang, yang dikunci oleh kacamata tanpa bingkai. Terlihat dewasa dan pandai.
Tampan pula pastinya. Tidak ada raut nakal seperti Ibnu. Itu faktor pembedanya.
Penampilan Baskara pun sederhana namun memikat. Memakai casual blazer berwarna abu-abu, yang dipadu kaus dalaman putih dan celana hitam. Aroma parfum mahal tercium.
Ibnu memiringkan bibir. Ia tak menyangka, lelaki yang katanya tunangan Aditi itu, sulit untuk ia rendahkan.
"Ck, ayo Pak. Jangan ampe saya nggak sopan ya, ngambil langsung sendiri!"
Ibnu akhirnya memberikan amplop cokelat berisi paklaring pada Aditi. Sebenarnya hatinya tak rela.
Huh, kenapa nggak dari tadi. Bikin gue repot aja! Gimana coba ini si Mas Bas?!
"Saya minum dulu ya, Diti," ujar Ibnu.
Aditi mengangguk. Ia membuka amplop cokelat itu dan membaca isinya. Benar, ini paklaring yang ia butuhkan.
Aditi masukkan kembali lembar surat paklaring. Amplop itu ia pegang dengan tangan kanan.
Baskara menatap laki-laki yang terduduk di kursi rotan. Ia melirik ke arah Aditi. Berusaha mencerna situasi.
"Mas Baskara, kerja di mana?" tanya Ibnu.
"Aduh Pak, calon suami saya baru pulang kerja ini. Capek banget. Maklum, pengusaha. Hasil ngerintis sendiri lagi.
Bukan nerusin hasil orang tua. Kasian Pak, kalau diajak ngobrol." Aditi berkata panjang.
Ibnu merapatkan bibirnya. Ia sadar situasi sudah tak kondusif baginya.
"Ya udah, lain waktu mungkin kita bisa ngobrol. Sebentar saya abisin minum saya."
Adisti memiringkan bibirnya. Ia bersedekap menunggu Ibnu benar-benar enyah dari teras rumahnya.
"Boleh pamit sama ayah kamu?" tanya Ibnu.
Aditi berpikir sejenak. "Bentar."
Aditi masuk ke dalam dan menemukan kedua orang tuanya menumpuk di depan jendela ruang tamu yang terbuka, namun ditutupi vitrase.
Hadeuh, bener-bener nggak punya privasi gue. Dikuntit terus ama ini pasangan.
"Ayah, Pak Ibnu mau pulang."
Januar dan Indri tersenyum kaku pada Aditi. Januar berdeham. Ia melangkahkan tungkainya ke teras.
Indri kembali memantau dari pos kebesarannya. Jendela ruang tamu.
"Pak, saya pamit. Insyaa Allah, kalau ada kesempatan, saya ke sini lagi." Ibnu berjabat tangan dengan Januar.
Aditi memutar mata mendengar perkataan Ibnu. Mimpi lo, kadal!
Ibnu dan Baskara juga bersalaman. Ibnu menatap tajam pada tunangan palsu Aditi.
Baskara hanya tersenyum. Wajahnya tetap tenang walau ditatap bak orang aneh.
Aditi menghela napas melihat kepulangan Ibnu. Ia menoleh ke arah Baskara. Senyuman meringis ia cetak di wajahnya.
"Mas Bas, maaf banget ya. Itu tadi fans gaje aku. Resiko punya tetangga cantik. Jadi terlibat drama deh."
Januar menggelengkan kepala mendengar perkataan putrinya. Baskara tersenyum simpul.
"Seru juga ya ternyata punya tetangga cantik," ucap Baskara.
Aditi mengulum senyum. Gelengan kepala Januar semakin kencang.
Januar khawatir terhadap mental Baskara. Baru sehari bergaul dengan Aditi, sudah terindikasi sama gilanya.
"Nanti aku traktir deh, sebagai ucapan terima kasih." Aditi terdiam sejenak. "Eh tapi bulan-bulan depan ya. Aku lagi banyak prioritas bulan ini."
Januar terkekeh mendengar celoteh Aditi. "Ikut makan malem aja di sini, Bas. Ibunya Diti masak gurame saos padang. Gimana?"
"Hhmm... Boleh, Pak. Sebentar saya izin ke Mama dulu."
Januar menganggukkan kepala. Baskara melangkah cepat menuju rumahnya.
Aditi kembali menghela napas lega. Ia terbebas dari janji mentraktir Baskara. Tidak sia-sia ia mencukur mulus para gurame itu.
Baskara tersenyum pada Indri ketika menginjak ruang makan. Dahulu waktu masih SMA dan awal-awal kuliah, ia kerap ikut makan di rumah Januar.
Tepatnya saat makan siang, bukan makan malam seperti saat ini. Ia tahu betul enaknya masakan Indri. Jadi tentu saja ia tak menampik undangan Januar.
"Ayo Diti, layanin tunangan kamu," seloroh Indri. Tawa di ruang makan itu pecah.
"Maaf ya Mas Bas, sekali lagi. Jadi enak eh, malu maksudnya."
Aditi mengambilkan nasi untuk Baskara. Ia lengkapi dengan sang bintang utama, gurame saos padang, tempe mendoan, tumis kangkung dan sambal.
Walaupun bukan tunangan asli, Aditi layani Baskara dengan baik malam ini. Bahkan ia berikan bonus berupa senyuman.
Baskara membalas tersenyum ketika menerima piring dari Aditi. Giliran Indri melayani Januar.
"Wah, masakan Bu Indri, nggak berubah. Masih enak banget." Baskara memuji tulus.
"Itu si Diti yang masak. Saya liatin doang. Harus mulai regenerasi, hehehe..."
"Oh ya? Enak Diti. Sama kayak masakan ibumu." Baskara kembali memuji.
Januar dan Indri saling berpandangan. Aditi hanya mengulum senyum malu. Siapa yang tak meleyot dipuji lelaki setampan Baskara?
"Ibnu tadi itu, siapa Diti? Boleh kan aku tau? Kan tadi dilibatin buat ngusir dia, hehehe..."
Baskara menggigit tempe mendoan. Gurih dan kaya bumbu terasa di dalam mulutnya.
"Itu... bekas atasan aku di Bina Ananda. Nganter paklaring tapi pake modus. Nyebelin!" Aditi meringis.
"Paklaring?" tanya Baskara.
"Si Diti abis resign, Bas. Tadinya mau dipecat, tapi dia milih statusnya resign." Suara Indri menyambar, menjawab pertanyaan Baskara.
Bongkar aja Bu! Bongkar! Kuliti anakmu! Huhuhu...
"Biasa, Mas. Masalah sekolah sama wali murid. Aku ditumbalin."
Akhirnya mengalirlah cerita Aditi tentang pengunduran dirinya. Termasuk cerita tentang Ibnu. Kali ini bab ceritanya lengkap.
"Keputusan kamu udah tepat sih, Dit. Emang lebih baik lepas dari lingkungan setoksik itu." Baskara tersenyum pada Aditi.
"Ya, tapi si Diti nggak dapet apa-apa dari kantornya. Hari itu ngundurin diri, hari itu juga pergi," ujar Indri.
"Kalo Diti terus ampe sebulan, nggak kebayang mental Diti kayak gimana Bu. Harus hadepin Bu Rini, Ambar ama Pak Salman yang rese semua itu.
Terus wali murid. Orang ketua komitenya aja sama aja. Nggak kuat Bu, nanti Diti stress, kurus." Aditi merengut, merasa perlu membela diri atas keputusannya.
"Mental mental! Heran anak sekarang, dikit-dikit bilang, demi kesehatan mental.
Emangnya kalo nganggur, nggak punya duit, nggak bisa makan, mentalnya masih sehat?" Indri mencebikkan bibirnya.
Januar terkekeh. Baskara tersenyum. Kedua lelaki itu memilih tak berkomentar. Makanan di piring lebih aman untuk menjadi fokus mereka.
"Diti nggak akan diem aja kok Bu. Diti juga nggak betah nganggur. Mana kantong tipis." Aditi masih merengut.
"Ya bagus itu. Baru itu anak Ibu." Indri tersenyum pada putri bungsunya.
Baskara merasa tak enak pada Aditi. Ia tahu karakter Indri yang unik. Pasti Aditi malu pada dirinya.
Baskara berdeham. "Diti, kamu orangnya suka tantangan nggak?"
"Hah? Aku suka tantangan? Yah, aku mah akunya yang menantang Mas. Jadi tantangan buat orang laen, hehehe..."
Baskara tergelak. Indri dan Januar terkekeh.
"Kalau kamu mau, aku ada lowongan kerja yang mungkin cocok buat kamu.
Sesuai lah ama background kamu yang pernah jadi guru. Walau... tetep beda sih." Baskara menelan suapan terakhirnya.
Aditi meneguk air putih dari gelasnya. Ia pun telah menyelesaikan makan malamnya.
"Apaan, Mas?" tanya Aditi.
"Jadi... aku kan punya pusat terapi. Yaa, semacam sekolah untuk ABK. Udah jalan tiga tahun.
Kita lagi butuh tenaga pendidik ahli. Mungkin kamu bisa gabung." Baskara kembali tersenyum pada Aditi.
"ABK? Anak buah kapal?" tanya Aditi.
Baskara terkekeh. "Bukan, Diti. Anak berkebutuhan khusus."
"Oh, kirain aku disuruh ngajar mas mas berbadan keker, heheheh.. Eh, tapi... anak berkebutuhan khusus?" Aditi tercenung.
"Terima kasih, Baskara. Si Diti emang harus kerja. Baru nganggur sebentar aja, udah ngaco aja kan otaknya?!" Indri menggelengkan kepala.
Januar kembali terkekeh. Entah sudah berapa kali ia terkekeh seharian ini, karena ulah sang putri.
"Mas Bas, kamu nggak salah nawarin aku? Bukannya guru ABK harus sabar ya? Aku mah bukan sabar tapi barbar. Kayaknya nggak akan cocok deh." Aditi meringis.
"Sabar memang persyaratan utama. Selain itu konsisten dan pantang menyerah. Dan kuat mental.
Aku rasa kamu memenuhi semua syarat itu. Cuma kamu nggak sadar aja. Aku denger cerita kamu tadi, jadi paham kamu kayak gimana.
Kamu bisa bertahan selama hampir dua tahun dan menunjukkan sikap di tempat kerja kamu dulu, menunjukkan kamu memenuhi persyaratan yang dibutuhin sebagai tenaga pendidik ahli," pungkas Baskara.
Aditi termenung. "Mulai kapan emangnya, Mas?"
"Lebih cepat lebih baik. Besok aja gimana? Soalnya kamu bakal ngadepin banyak pelatihan. Masalah teknis lah itu. Kamu pasti bisa." Baskara tersenyum.
Aditi mengerutkan alis. Ia memandang ke arah orang tuanya. Januar tersenyum kepadanya. Indri mendelikkan mata.
Harus gitu, besok banget?! Ya ampun, apa gue bisa jadi guru ABK? Nggak kebayang, huwaaa....