"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Benih Pemberontakan
[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 11.00 AM]
[Lokasi: Kediaman Utama Keluarga Gu, Shenzhen]
Suasana di ruang makan keluarga Gu masih terasa berat. Gu Yanran, yang telah menyelesaikan sarapannya dengan cepat, mengelap mulutnya dengan serbet kain. Ia bangkit dari kursi, melirik kursi kakaknya yang masih kosong di lantai atas, lalu menatap orang tuanya.
"Pa, Ma, aku berangkat ke kantor dulu. Ada beberapa bug sistem di Project Mnemosyne yang harus kuselesaikan sebelum dewan direksi mulai bertanya-tanya lagi," pamit Yanran.
"Pergilah. Setidaknya kau lebih berguna daripada kakakmu yang baru saja mempermalukan nama keluarga dengan mabuk-mabukan," gerutu Tuan Besar Gu tanpa menoleh.
Setelah Yanran pergi, keheningan menyelimuti ruangan itu. Namun, keheningan itu pecah oleh suara langkah kaki yang mantap dari arah tangga. Gu Jingshen turun. Wajahnya pucat karena sisa mabuk semalam, namun sorot matanya yang biasanya patuh, kini tampak berbeda—lebih dingin, lebih tajam, dan penuh dengan rahasia yang ia simpan di dalam hatinya setelah membaca data di flashdisk-nya.
Jingshen menarik kursi dan duduk tanpa sepatah kata pun. Ia menatap piring kosong di depannya dengan tatapan kosong.
"Bagus. Akhirnya sang putra mahkota bangun juga," sindir Tuan Besar Gu sambil meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras. "Bagaimana rasanya menjadi tontonan di apartemen penulis rendahan itu, Jingshen? Kau tahu betapa jatuhnya harga diri keluarga Gu karena kelakuanmu semalam?"
Jingshen tidak langsung menjawab. Ia teringat dokumen perceraian paksa ayahnya dan konspirasi kecelakaan itu. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja. "Aku tidak mempermalukan siapa pun, Pa. Aku hanya bertamu ke rumah orang tua Lin Xia. Apa salahnya dengan itu?"
"Salahnya adalah kau kehilangan kontrol diri!" suara Tuan Besar Gu meninggi. "Kau adalah CEO Gu Corp! Kau tidak boleh terlihat lemah hanya karena sedikit alkohol dan seorang wanita!"
Jingshen mendongak, menatap langsung ke mata pria yang selama ini ia anggap pahlawan namun ternyata adalah musuh dalam selimut. "Mungkin... selama ini aku terlalu banyak menuruti perintah Papa hingga aku lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang punya pilihan."
"Apa katamu?!" Tuan Besar Gu menggebrak meja.
Nyonya Gu yang duduk di antara mereka langsung gemetar. Ia segera memegang tangan suaminya. "Sudahlah, Pa. Jingshen masih sakit kepala. Jingshen, makanlah sedikit, Mama sudah siapkan sup untukmu."
"Aku tidak lapar, Ma. Aku ada urusan di kantor," ucap Jingshen dengan nada datar namun tegas. Ia berdiri, mengabaikan teriakan ayahnya yang masih mengomel, dan melangkah keluar menuju mobil yang sudah disiapkan Ah Cheng.
[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 11.30 AM]
[Lokasi: Cafe Moonlight Script, Distrik Bao'an, Shenzhen]
Di sisi lain Shenzhen, Lin Xia baru saja turun dari taksi di depan cafenya. Ia masih membawa termos kecil yang tadi digunakannya untuk mengantar obat. Ia tidak sempat pulang ke apartemen karena teringat tumpukan naskah yang harus ia perbaiki setelah sempat dikacaukan oleh alur "Penulis Bayangan".
Ia mengirim pesan singkat ke ayahnya: “Pa, Xia langsung ke cafe. Termosnya Xia bawa, nanti sore Xia bawa pulang. Jangan lupa makan siang ya!”
Begitu masuk ke cafe, Lin Xia tertegun. Suasana sangat ramai. Pelanggan memenuhi hampir setiap kursi. Di balik meja bar, Xiao Li tampak kewalahan meracik pesanan. Namun yang membuatnya lebih terheran-heran adalah sosok Lin Feng.
Pria flamboyan itu sudah melepas jas mahalnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan dengan lihai membawakan baki berisi pesanan ke meja pelanggan.
"Terima kasih sudah menunggu, Nona manis. Ini latte ekstra caramel-mu," ucap Lin Feng dengan kedipan mata yang membuat pelanggannya tersipu.
Lin Xia hanya bisa menggelengkan kepala. Lin Feng benar-benar niat mendekati Xiao Li sampai mau jadi pelayan dadakan, batinnya. Ia tidak ingin mengganggu kesibukan mereka dan memilih untuk duduk di sudut paling pojok yang agak tersembunyi.
Lin Xia mengeluarkan laptopnya. Ia harus bekerja keras. Ia ingin mengembalikan karakter Marsekal Gu Yan di dalam naskahnya menjadi sosok yang memiliki kontrol penuh atas takdirnya sendiri—seperti harapannya untuk Gu Jingshen di dunia nyata. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard, berusaha menghapus jejak-jejak campur tangan Yanran dalam naskah tersebut.
[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 12.00 PM]
[Lokasi: Di dalam Mobil CEO, Menuju Gedung Gu Corp]
Gu Jingshen bersandar di kursi belakang mobilnya sambil memijat pelipisnya. Di sampingnya, Ah Cheng sedang membacakan jadwal.
"Tuan, siang ini ada rapat dengan departemen keuangan, lalu malam ada makan malam bersama investor dari Singapura—"
"Batalkan semuanya untuk pagi ini," potong Jingshen tiba-tiba. "Ubah agenda menjadi rapat darurat tentang integrasi sistem Project Mnemosyne. Hubungi pihak Yan Technology Corp. Aku ingin Gu Yanran dan timnya datang ke kantor pusat Gu Corp dalam satu jam."
Ah Cheng terkejut. "Tapi Tuan, Yan Technology sekarang sudah mandiri, bukan lagi anak perusahaan. Apakah mereka akan setuju datang begitu mendadak?"
"Katakan padanya ini perintah dari kakaknya, bukan hanya CEO Gu Corp. Kita harus menyelaraskan sistem sebelum data yang hilang itu menyebabkan kerusakan permanen," tegas Jingshen. Matanya menatap ke jendela, memikirkan data rahasia di flashdisk yang tersimpan di saku jasnya.
Begitu sampai di gedung pencakar langit Gu Corp, Jingshen melangkah masuk dengan aura yang sangat dingin. Karyawan yang menyapanya hanya dibalas dengan anggukan kaku. Ia langsung masuk ke ruang kerjanya yang luas dan mulai mempelajari strategi untuk memisahkan aset pribadinya dari pengaruh ayah tirinya.
[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 12.30 PM]
[Lokasi: Ruang Kerja CEO, Yan Technology Corp, Shenzhen]
Di kantornya yang bergaya modern dan futuristik, Gu Yanran sedang menandatangani beberapa dokumen kerjasama yang baru saja lepas dari bayang-bayang Gu Corp. Ia merasa bangga bisa berdiri sendiri tanpa bantuan ayahnya.
Sekretarisnya mengetuk pintu. "Tuan Yanran, baru saja asisten Tuan Jingshen dari Gu Corp menelepon. Mereka meminta Anda dan tim teknis untuk datang ke kantor pusat sekarang juga untuk rapat darurat sistem."
Yanran berhenti menulis. Ia menyandarkan punggungnya di kursi. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. "Kakakku itu... benar-benar tidak bisa menunggu, ya? Padahal dia baru saja mabuk semalam."
Yanran berdiri dan mengambil jaketnya. "Siapkan tim inti. Kita berangkat ke Gu Corp. Mari kita lihat apa yang ingin 'Marsekal' itu bicarakan di markas besarnya."
Yanran tahu, meskipun perusahaannya kini sudah mandiri secara hukum, ikatan antara dirinya, Jingshen, dan proyek Mnemosyne masih sangat kuat. Namun ia tidak tahu, bahwa rapat ini bukan sekadar tentang kode komputer, melainkan langkah awal dari sebuah konspirasi besar yang akan meruntuhkan kekuasaan Tuan Besar Gu selamanya.