NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:182.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir Saja

Ruangan mendadak terasa sunyi. Max tidak langsung menjawab pertanyaan Naomi. Ia menatap Naomi dengan tajam, mencoba membaca ekspresi wajah gadis itu.

“Ini bukan lelucon?” tanyanya pelan.

Naomi menggeleng. “Bukan.”

“Kau yakin?”

“Sangat yakin.”

Max menyandarkan punggungnya sedikit. “Dari mana kau tahu?”

Naomi terdiam sepersekian detik. Lalu ia berkata pelan, “Anggap saja … aku sudah melihatnya.”

Max menyipitkan mata. “Seperti yang kau katakan sore tadi? Soal kehancuran dunia?”

Naomi mengangguk. “Kak … aku tahu ini terdengar gila. Bahkan sahabat-sahabatku saja sulit percaya. Tapi aku tidak mungkin berbohong tentang hal sebesar ini.”

Max menatap wajah Naomi yang biasanya ceria. Sekarang tidak ada canda di sana, hanya wajah serius.

Max menghela napasnya, lalu menatp Naomi. Tatapannya dalam, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik wajah gadis itu.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Naomi?” tanyanya serius.

Naomi tertegun, pertanyaan itu terasa lebih berat daripada sebelumnya. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya.

“Kak!” suaranya sedikit bergetar, “apa kakak percaya kalau aku telah bereinkarnasi kembali ke masa lalu?”

Max kembali terdiam. Wajahnya tidak menunjukkan ejekan ataupun ketidakpercayaan. Hanya keheningan yang terjadi di antara mereka.

Naomi menunduk sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Aku mati, Kak. Aku mati membeku di tengah badai salju itu.”

Tangannya tanpa sadar mengepal. “Mereka membuangku keluar dari bunker. Saat persediaan menipis aku dianggap beban.”

Udara di ruangan terasa makin berat.

Tiba-tiba ingatan Max terarah pada beberapa malam terakhir Naomi yang mengigau dalam tidur, tubuhnya gemetar, berulang kali berkata jangan buang aku jangan buka pintunya.

“Aku tak—”

“Aku percaya.”

Max memotongnya tegas.

Naomi langsung menatapnya dengan wajah terkejut. “Kak?”

Ia mencoba mencari tanda-tanda bahwa Max hanya menghiburnya. Namun yang ia lihat hanyalah keseriusan.

“Apapun yang kau katakan, kakak percaya,” ujar Max lagi.

Tanpa sadar, tangan Max terangkat dan menyentuh pipi Naomi. Sentuhannya hangat, kontras dengan cerita dingin yang baru saja ia dengar.

Naomi menahan napas.

Wajah Max perlahan mendekat. Jarak mereka semakin tipis. Ia bisa merasakan hembusan napas pria itu. Detak jantungnya semakin kacau.

Tiba-tiba Naomi berdiri cepat. “Kak! Aku … aku sudah mengantuk.”

Max membeku.

“Kita lanjutkan pembicaraan ini besok saja,” sambung Naomi terburu-buru.

Tanpa memberi kesempatan Max bereaksi, ia langsung berbalik dan lari terbirit-birit keluar dari kamar pria tampan itu.

Brak!

Pintu kamar langsung tertutup.

Max berdiri diam beberapa detik, lalu menghela napas panjang.

“Bodoh kau Max,” gumamnya, pada diri sendiri yang benar-benar lepas kendali.

Di sisi lain, Naomi menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan bersandar di baliknya. Jantungnya berdegup kencang.

“Apa yang hampir terjadi tadi?” bisiknya dengan napas naik turun.

Wajahnya masih memerah.

Ding!

Suara notifikasi sistem terdengar di kepalanya. Sila muncul dengan suara yang ceria.

[“Tuan! Mengapa Anda pergi? Padahal hampir saja terjadi adegan ciuman!”]

Naomi langsung memicingkan mata kesal. “Diam kau.”

Sila mengabaikannya dan tetap berbicara dengan nada semangat.

[“Tingkat kesukaan Max meningkat menjadi 30%! Selamat, Tuan!”]

Naomi memejamkan mata, mencoba mengabaikan.

[“Sebagai hadiah, ruangan penyimpanan Anda kini semakin luas. Bahkan dapat digunakan untuk makhluk hidup. Selain itu, ketajaman intuisi meningkat, dan kemampuan fisik bertambah hingga delapan puluh persen.”]

Naomi menghela napas kesal. “Aku tidak mendekatinya untuk itu.”

[“Tetapi progres tetaplah progres, Tuan!”]

Naomi yang sudah kesal langsung berkata, “Nonaktifkan notifikasi.”

[“Baik, Tuan. Sistem dalam mode diam.”]

Sila langsung menghilang.

Naomi masih berdiri beberapa detik, lalu berjalan ke ranjangnya. Ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya.

Bayangan wajah Max yang mendekat tadi kembali muncul.

“Fokus, Naomi,” gumamnya. “Tujuanmu bukan itu.”

Akhirnya, perlahan ia memejamkan mata dan tertidur.

Berbeda dengan Naomi, Max sama sekali tidak bisa tidur. Ia berdiri di kamarnya beberapa saat, lalu berjalan menuju lemari. Tak lama kemudian, ia sudah mengenakan setelan lengkap kemeja gelap dan jas mahal.

Wajahnya kembali dingin dan tegas. Ia turun ke lantai bawah.

Di ruang keluarga, lampu masih menyala redup. Bastian, ayahnya, sedang membaca beberapa dokumen.

Bastian mengangkat kepala ketika mendengar langkah kaki.

“Max?” tanyanya heran. “Ke mana malam-malam begini?”

Max berhenti di hadapannya. “Ada beberapa berkas yang harus aku periksa dan selesaikan, Pa,” jawabnya tenang.

Bastian menatap putranya beberapa detik. “Sekarang?”

“Ya.”

Nada Max tidak memberi ruang untuk ditanya lebih lanjut.

Bastian mengangguk pelan. “Jangan terlalu memaksakan diri.”

Max hanya menjawab singkat, “Aku tahu.”

Setelah itu, ia berbalik dan berjalan keluar. Pintu mansion tertutup pelan.

Di dalam mobilnya, Max duduk diam sejenak sebelum menyalakan mesin. “Badai salju setahun lagi. Aku harus membantu Naomi.”

*

*

Pagi itu suasana ruang makan keluarga Atlas terasa hangat seperti biasa. Terlihat di meja panjang yang sudah dipenuhi berbagai hidangan sarapan.

Naomi berjalan masuk dengan langkah pelan. Rambutnya terikat rapi, wajahnya masih terlihat sedikit mengantuk, karena memikirkan kejadian itu hingga mengganggu tidurny.

Naomi menarik kursi dan duduk. Namun baru beberapa detik, ia menyadari sesuatu. Kursi di sebelahnya kosong. Alisnya sedikit berkerut.

Naomi lalu menoleh ke arah orang tuanya. “Pa, Ma, Kak Max ke mana?”

Bastian yang sedang melipat koran mengangkat wajahnya. “Semalam dia keluar.”

“Keluar?” Naomi tampak heran.

“Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Katanya mendesak.”

Naomi mengangguk pelan. “Oh .…”

Tiba-tiba ingatannya kembali pada kejadian semalam. Wajah Naomi langsung memerah tanpa sadar. Ia buru-buru menunduk, pura-pura fokus pada roti di piringnya.

Nyonya Arumi yang duduk di seberangnya memperhatikan dengan cermat.

“Sayang?” panggil Arumi lembut.

Naomi tersentak. “Iya, Ma?”

“Kamu kenapa? Wajahmu merah sekali.”

Naomi langsung gelagapan. “Hah? Aku tidak apa-apa, Ma.”

Arumi bangkit dari duduknya dan mendekat. Tangannya terangkat menyentuh kening Naomi. “Jangan-jangan kamu demam.”

Naomi makin panik. “Tidak, Ma! Aku benar-benar tidak demam.”

Arumi mengerutkan kening. “Tapi pipimu panas.”

“Itu cuma … cuma kepedasan tadi,” jawab Naomi cepat, padahal ia belum menyentuh makanannya.

Bastian menatap putrinya dengan tatapan samar-samar curiga, namun tidak berkata apa-apa.

Arumi masih memegang kening Naomi. “Lebih baik hari ini tidak usah kuliah dulu. Istirahat saja di rumah nanti Mama hubungi dokter keluarga.”

Naomi langsung menggeleng cepat. “Jangan, Ma. Aku ada kelas penting hari ini.”

“Kesehatan lebih penting.”

“Aku benar-benar tidak apa-apa,” Naomi meyakinkan. “Kalau memang demam, pasti aku pusing. Tapi ini tidak.”

Arumi menatapnya beberapa detik, mencoba memastikan. “Kamu yakin?”

Naomi mengangguk mantap. “Yakin.”

Arumi akhirnya kembali ke kursinya. “Baiklah. Tapi kalau merasa tidak enak badan, langsung pulang. Jangan memaksakan diri.”

“Iya, Ma,” jawab Naomi patuh.

Bastian menyesap kopinya lalu berkata santai, “Max mungkin akan langsung ke kantor pagi ini. Dia jarang pulang kalau sudah tenggelam dalam pekerjaan.”

Naomi hanya mengangguk kecil.

Dalam hati ia bergumam, Apa semalam dia benar-benar pergi karena pekerjaannya atau karena aku?

Wajahnya hampir memerah lagi, tapi kali ini ia cepat-cepat menegakkan punggung dan meminum jusnya.

“Fokus, Naomi,” bisiknya pelan agar tidak terdengar.

Arumi tersenyum tipis melihat putrinya kembali normal. “Kamu terlihat lebih ceria akhir-akhir ini.”

Naomi terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Mungkin karena aku punya sesuatu yang perlu aku perjuangkan, Ma.”

1
Arbaati
kapokmu kapan
Kusii Yaati
nah kan kena gampar sama max, terlalu kepedean sih... tubuh max itu terlalu mahal untuk di sentuh sama yang murahan kayak elo... sakit nggak seberapa tapi malunya luar biasa, udah di tolak di depan umum kena gampar pula 🤣🤣🤣🤣
Atalia
mampus kau vivian 😂😂😂
Silla Okta
babang max emang the best,,, gak mungkin tergoda sama ulet keket,,,,, 🤣🤣🤣🤣🤣 next Thor
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tumaan 🤣🤣 dipuskn berpa pri tuh 😤
Eka Haslinda
babang Max Seraaamm 👍👍👍
Hary Nengsih
salah sasaran y 🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Si Zane ini sensi banget dah 🤣
Nor Azlin
Rasakan lah anak orang lain yang kalian jaga & anggap anak sendiri malah menikam kalian dari belakang🤣🤣🤣🤣ini lah karma yang kalian cari sendiri ...buat yang kayak nyonya sama tuan Elios ini berpada2 lah mau menjaga anak orang yang kehilangan kedua orang tua nya kerana ini sangat berbahaya akibat nya mereka membuang anak sendiri kedesa namun meranti kan anak orang lain menjadi puteri mereka...sesuatu kebenaran sangat menyakitkan di saat semua nya terbongkar dengan sendiri disaat kalian di ambang kehancuran bukan bisa menolong malah membinasakan masa depan kalian semua yah 😂😂😂semoga ini titik pelajaran buat kalian para manusia busuk darah daging sendiri dituduh2 Mulu dasar orang tua bodoh percaya dengan orang luar berbanding anak yang di kandung kan nya sendiri ...ini lah contoh orang tua bodoh sudah ada anak sendiri masih mau ambil lagi beban yang akan membinasakan diri mereka sendiri deh...lanjutkan thor
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mantap Max walau menurut saya kurang tp tak apa itu sebagai perkenalan sama Viviane 😉😏😅
Passolle
lanjut thor
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Zane sblm kamu marah dan pertemananmu dngn Max hancur gara" tunangan mu itu mending selidiki dulu 😏
zylla
yakin? 🤣🤣🤣🤣
zylla
Zane benar" bodoh
Lesmana
wkwkwkwk brasa timmy lg ngejual sonya ke clay😄😄😄
Tiara Bella
Viviane kena tampol max... mana mw diksh para pria lg kan itu hukuman dr max bt cwek kegatelan
🍒⃞⃟🦅 ☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
puas gak tuh viviane🤣🤣🤣
@ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hahahaha rasakan itu vivian
nnti pulang jadi apa coba
@ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
blm tau kah yg sebebrnya kau zen
🏡s⃝ᴿ . Cha
go maxxxx i lope you
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!