Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Rapat Malam yang Melelahkan
Rapat malam dimulai habis isya. Aula kecil di samping lapangan sudah setengah penuh waktu aku datang. Lampunya terang, tapi rasanya tetap pengap. Kursi plastik disusun melingkar, sebagian sudah ditempati. Aku ambil kursi kosong dekat ujung.
Aku datang tepat waktu. Bahkan lebih awal dari beberapa orang. Tapi nggak ada yang nyapa. Nggak ada yang nengok. Aku duduk, taruh buku catatan di pangkuan. Rara duduk di depan, dekat pembina. Posisi yang biasa. Bedanya, dulu aku sering duduk di situ juga. Sekarang enggak. Pembina mulai rapat dengan nada datar. Evaluasi hari pertama. Agenda besok. Catatan teknis. Aku dengerin serius. Aku catat. Bukan karena disuruh. Tapi karena kebiasaan.
“Untuk konsumsi besok pagi,” kata pembina, “siapa yang pegang?” Rara langsung angkat tangan.
“Aku, Kak.” Aku refleks ikut angkat kepala. Biasanya dia nengok aku, atau nyebut namaku. Tapi kali ini, nggak.
“Oke,” kata pembina. “Pastikan jam lima sudah siap.”
“Iya.” Aku nunduk lagi. Topik lanjut ke logistik. Tenda, alat masak, pembagian regu. Beberapa kali ada pertanyaan, tapi arahnya selalu ke Rara. Dia jawab lancar. Aku tahu sebagian jawabannya karena aku juga yang ngerjain. Aku nahan diri buat nggak nyela. Sampai akhirnya pembina bilang,
“Naya, kamu yang urus teknis lapangan kemarin, kan?”
Aku angkat kepala. “Iya, Kak.”
“Coba jelasin alurnya, dari awal.”
Aku tarik napas. Ini bagian yang aku kuasai. Aku berdiri, bawa buku catatan. Aku nggak ngomong muter-muter. Aku jelasin satu per satu. Jam berapa mulai, siapa pegang apa, kendala apa, solusinya apa.
Aku ngomong sekitar lima menit. Mungkin tujuh. Waktu aku selesai, ruangan hening sebentar. Lalu ada suara ketawa kecil. Bukan ketawa keras. Lebih ke cekikikan. Dari sisi kanan. Disusul bisik-bisik. Aku berdiri kaku.
Pembina bilang, “Oke, jelas.”
Tapi sebelum aku duduk, ada yang nyeletuk, “Ribet banget ya.” Disusul tawa pelan. Aku duduk. Pelan. Buku catatanku aku tutup. Rara nggak nengok ke arahku. Dia cuma nunduk, nulis sesuatu. Aku nggak tahu itu disengaja atau nggak. Tapi rasanya kayak dibiarkan.
Rapat lanjut. Aku mulai susah fokus. Kepalaku panas, tapi bukan marah yang meledak. Lebih ke greget yang mentok di dada. Setiap kali aku buka mulut buat nambahin, aku mikir dua kali. Perlu nggak? Ada gunanya nggak?
Beberapa kali aku batal ngomong. Tara duduk dua kursi dari aku. Dia sempat nengok, matanya kayak nanya, “Kamu nggak apa-apa?” Aku cuma angguk kecil. Di tengah rapat, ada pembahasan soal jadwal jaga malam. Nama-nama disebut. Namaku ada, tapi disebut paling akhir. Tanpa komentar.
“Oke, yang lain clear?” tanya pembina.
Rara angkat tangan lagi. “Kak, kalau bisa jadwal jaga ditukar. Biar lebih efektif.”
“Dengan siapa?”
Rara nyebut dua nama. Bukan aku. Aku duduk diam. Padahal aku tahu jadwal itu nggak seimbang. Tapi aku nggak ngomong. Bukan karena nggak peduli. Tapi karena capek.
Setelah hampir satu jam, rapat selesai. Kursi diseret. Orang-orang berdiri, ngobrol sendiri-sendiri. Aku masih duduk sebentar. Tanganku pegang buku, tapi kosong. Rara berdiri, ngobrol sama pembina. Ketawa kecil. Santai. Aku bangun, jalan keluar aula. Udara malam dingin. Aku hirup dalam-dalam.
Di luar, beberapa anak ngumpul, rokok di tangan, ketawa keras. Aku lewat, mereka berhenti sebentar, lalu lanjut lagi. “Nay,” panggil seseorang. Aku nengok. Faris.
“Iya?”
“Besok pagi kamu ikut bantu di dapur nggak?”
Aku mikir sebentar. “Ikut.”
“Oke.” Pendek. Nggak ada lanjutan. Aku balik ke barak. Lampu sudah redup. Beberapa sudah rebahan. Aku ganti baju, duduk di kasur. Tara naik ke kasur atas. “Kamu kenapa?” dia nanya pelan.
Aku jawab jujur. “Capek.”
“Karena rapat?”
Aku angguk. “Rasanya kayak ngomong ke tembok.”
Dia diem sebentar. “Aku dengar kok, tadi kamu jelasin jelas.”
Aku senyum dikit. “Makasih.” Lampu dimatiin. Suara barak pelan-pelan sepi. Aku rebahan, ngadep langit-langit. Aku muter ulang rapat tadi di kepala. Ketawa kecil itu.
Cara orang-orang nggak beneran denger. Cara aku berdiri, ngomong serius, tapi kesannya kayak berlebihan. Aku mulai nanya ke diri sendiri. Apa aku terlalu detail? Apa aku terlalu niat? Apa aku harusnya santai aja? Tapi aku juga tahu, kalau aku santai, banyak hal nggak jalan.
Di situ aku sadar, capekku bukan cuma fisik. Tapi capek harus terus jadi yang peduli sendirian. Aku masih bagian dari tim ini. Secara struktur. Secara nama. Tapi secara rasa, aku mulai sendirian.
Dan malam itu, sebelum tidur, aku mikir satu hal yang bikin dada makin berat: Aku nggak salah. Tapi aku juga nggak menang. Aku cuma… bertahan.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭