NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Mercusuar di Ujung Dunia

Mercusuar Navasari tidak seperti menara penjaga pantai yang menghadap ke laut luas. Bangunan ini adalah mercusuar udara sebuah relik dari masa ketika navigasi pesawat masih bergantung pada suar cahaya di atas daratan. Berdiri di puncak timur yang paling terjal, menara beton setinggi tiga puluh meter itu tampak seperti jari raksasa yang menuding ke langit, memperingatkan siapa pun agar tidak terlalu dekat dengan rahasia cakrawala.

Alana dan Elian tiba di dasar menara dengan napas yang terbakar. Kabut di sini jauh lebih padat, membuat cahaya lampu halogen dari kendaraan musuh di bawah sana tampak seperti pendar hantu yang mencoba menembus tirai putih.

"Pintu ini tidak memiliki kunci fisik," bisik Elian sambil meraba permukaan logam pintu mercusuar yang dingin dan lembap oleh embun. "Ia hanya merespons frekuensi."

Alana segera mengerti. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan alat perekam digital yang tadi ditinggalkan Arlo. Tanpa instruksi, ia mendekatkan layar biru alat itu ke panel kecil di samping pintu. Begitu kedua benda itu berdekatan, alat perekam itu mengeluarkan suara dengung tinggi yang memekakkan telinga. Detik berikutnya, pintu logam yang tampak mustahil untuk dibuka itu bergeser dengan suara geraman mesin tua yang sudah lama tertidur.

Begitu mereka masuk, Elian segera menutup kembali pintu tersebut dari dalam. Kegelapan di dalam mercusuar terasa begitu padat, seolah-olah cahaya tidak diizinkan masuk ke ruangan ini. Bau karat, oli, dan sesuatu yang manis seperti aroma bunga mawar menyeruak.

"Nyalakan ini," Elian menyerahkan sebuah senter kecil kepada Alana sementara ia sendiri sibuk mengunci palang pintu manual sebagai pengamanan tambahan.

Cahaya senter Alana menyapu ruangan. Ini bukan sekadar mercusuar. Di dinding-dindingnya, terdapat rak-rak berisi tabung vakum, kabel-kabel tembaga yang menjuntai seperti urat saraf, dan panel kontrol dengan jarum-jarum analog yang masih bergerak meski tidak ada aliran listrik yang terlihat. Di tengah ruangan, sebuah tangga besi melingkar menuju ke puncak suar.

"Ke atas," perintah Elian. "Ruang Antara ada di balik lensa utama."

Mereka mendaki tangga itu dengan terburu-buru. Di bawah, suara hantaman keras mulai terdengar. Kelompok "Para Penjemput Fajar" telah sampai di dasar menara. Suara teriakan perintah dan bunyi alat bor logam mulai merambat melalui dinding beton, menciptakan getaran yang membuat nyali Alana menciut.

"Mereka akan masuk dalam hitungan menit!" seru Alana panik.

"Terus naik, Alana! Jangan lihat ke bawah!"

Sesampainya di ruang puncak, Alana terkesima. Ruangan itu dikelilingi oleh kaca-kaca besar yang menghadap ke segala arah. Di tengahnya terdapat lensa Fresnel raksasa yang seharusnya memancarkan cahaya. Namun, di dalam lensa itu, bukan lampu pijar yang ada, melainkan sebuah bola cahaya yang berputar lambat, memancarkan warna-warna pelangi yang tidak wajar.

Elian segera menuju ke sebuah konsol kontrol dan menarik beberapa tuas. "Cepat, Alana! Dekati lensa itu. Pegang perekam suaranya dan konsentrasi pada suara Arlo."

Alana melangkah mendekat. Getaran di ruangan itu begitu kuat hingga ia merasa giginya gemertak. Ia menyentuh permukaan kaca lensa yang terasa hangat. Ia menekan tombol play pada alat perekam suara itu sekali lagi.

Kali ini, rekaman itu tidak berhenti di pesan peringatan. Sebuah pesan baru muncul, seolah-olah alat itu bereaksi terhadap kedekatannya dengan lensa mercusuar.

"Alana... kau ada di sana? Aku bisa merasakan detak jantungmu," suara Arlo terdengar jauh lebih jernih, seolah-olah ia sedang berdiri tepat di balik kaca. "Mereka tidak boleh mengambilmu. Jika mereka melakukannya, mereka akan merobek langit untuk mendapatkan energi ini, dan Navasari akan musnah. Kau harus masuk ke dalam Ruang Antara. Hanya kau yang bisa."

"Masuk? Bagaimana caranya?!" Alana berteriak, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku manusia, Arlo! Aku tidak bisa berubah menjadi cahaya!"

"Kau tidak perlu berubah," suara Arlo melembut, penuh dengan keyakinan yang menghancurkan logika. "Cinta adalah frekuensi yang melampaui dimensi materi. Ingat warna 'Amber'? Ingat perasaan saat kau pertama kali melihat bintang biru itu? Itu adalah jangkar kau. Fokuslah pada perasaan itu."

Tiba-tiba, pintu di bawah mereka meledak. Suara tembakan dan langkah sepatu boot yang berat mulai terdengar menaiki tangga besi.

"Elian, mereka sudah di sini!" Alana menoleh ke arah tangga, melihat bayangan para pengejar yang mulai muncul di celah tangga.

Elian berdiri di depan tangga, mencabut sebuah batang besi dari mesin tua sebagai senjata terakhirnya. Ia menatap Alana dengan senyum sedih. "Tugas ayahku sudah selesai, Alana. Sekarang tugasmu untuk hidup. Masuklah! Jangan biarkan pengorbanan Arlo sia-sia!"

"Elian, tidak!"

"PERGI!"

Seorang pria berpakaian taktis hitam muncul di puncak tangga, menodongkan senjata ke arah Alana. "Nona Alana, letakkan alat itu dan ikut kami secara kooperatif, atau kami akan menggunakan kekerasan!"

Alana menatap moncong senjata itu, lalu menatap bola cahaya di dalam lensa. Ia teringat kehancurannya di Jakarta. Ia teringat betapa dunianya selama ini terasa seperti penjara tanpa jeruji. Dan di depan matanya, ada sebuah pintu menuju sesuatu yang mustahil, namun terasa lebih seperti "rumah" daripada apa pun yang pernah ia tahu.

Dengan teriakan penuh keberanian, Alana tidak lari menjauh. Ia justru melompat ke arah lensa raksasa itu.

Bukannya menabrak kaca padat, tubuh Alana seolah-olah menembus permukaan air yang hangat. Suara tembakan meletus di belakangnya, namun suara itu mendadak menjadi sangat lambat dan teredam, seperti suara dari dunia lain.

Pandangan Alana menjadi putih total. Rasa sakit di tubuhnya menghilang. Rasa takutnya menguap. Untuk pertama kalinya, ia merasa gravitasi benar-benar melepaskannya.

Ia tidak lagi berada di mercusuar.

Alana berdiri di sebuah ruang yang tidak memiliki dinding. Ia berada di dalam sebuah kapsul yang terbuat dari cahaya kuning amber warna favoritnya. Di depannya, duduk seorang pria di depan sebuah panel instrumen pesawat yang kuno namun bersinar dengan teknologi yang tak dikenal.

Pria itu berbalik. Itu bukan lagi siluet cahaya atau bayangan dari film tua.

Arlo berdiri, mengenakan jaket kulitnya yang beraroma tembakau dan angin. Ia tersenyum, sepasang matanya yang berisi galaksi kini tampak sangat manusiawi.

"Kau tepat waktu, Alana," kata Arlo pelan. Ia melangkah maju dan, untuk pertama kalinya, tangannya menyentuh pipi Alana. Sentuhan itu nyata. Hangat. Sedikit kasar namun penuh kasih sayang.

"Apakah aku... sudah mati?" bisik Alana.

"Tidak," Arlo menggeleng. "Kau baru saja terbangun. Selamat datang di Navigasi Langit, Alana. Kita punya banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan... dan sebuah dunia yang harus kita selamatkan dari atas sini."

Di luar jendela kapsul mereka, Alana melihat bumi. Namun bukan bumi yang biasa; ia melihat bumi yang dikelilingi oleh jaring-jaring cahaya frekuensi emosi manusia yang saling terhubung. Dan di bawah sana, di titik kecil bernama Navasari, ia melihat mercusuar itu memancarkan suar emas yang sangat terang, mengusir kegelapan yang mencoba mengepungnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!