"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 31
Pagi itu, Jakarta diguyur hujan yang seolah meratapi nasib Arlan. Di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, Arlan menatap layar ponsel dengan mata merah dan cekung. Pesan singkat dari Keyla terbaca berulang kali, setiap katanya terasa seperti belati yang diputar di dalam lukanya.
"Anggap aku sudah mati."
"Tidak mungkin... ini bukan kamu, Key," geram Arlan.
Tanpa membuang waktu, ia melajukan mobilnya menuju rumah Baskoro. Ia mengabaikan semua rambu lalu lintas, hanya ada satu tujuan di otaknya, menyeret Keyla keluar dan membuktikan bahwa pesan itu bohong. Namun, sesampainya di sana, Arlan membeku.
Gerbang kayu rumah itu digembok dari luar. Tidak ada mobil Baskoro. Lampu teras masih menyala meski hari sudah siang, menandakan penghuninya pergi dengan terburu-buru. Dengan cepat Arlan langsung melompati pagar, lalu menggedor pintu rumah itu berkali-kali.
"KEYLA! PAK BASKORO!" teriaknya histeris. Ia mengintip lewat jendela yang tertutup gorden, dan ia melihat ruang tamu itu kosong. Beberapa barang ditutupi kain putih. "Sialan! Mereka pergi!"
Arlan jatuh terduduk di teras. Ia sadar sekarang, ia telah kalah dalam perlombaan melawan ibunya sendiri. Rasa sakit itu seketika berubah menjadi amarah yang mendidih. Ia beranjak lalu masuk kembali ke mobil, dan melesat menuju gedung pencakar langit yang menjadi simbol kekuasaan Dirgantara Group.
Sesampainya di sana, Arlan melangkah melewati lobi dengan aura yang begitu gelap hingga para staf yang biasanya menyapanya memilih untuk menunduk ketakutan. Ia tidak berhenti di sekretariat, melainkan langsung menendang pintu ruangan dewan komisaris tempat Sofia sedang mengadakan rapat kecil.
BRAK!
Sofia Dirgantara menoleh dengan tenang, menyesap tehnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Arlan? Tidak sopan sekali. Kita sedang membahas ekspansi ke Vietnam."
"Dimana dia?!" suara Arlan menggelegar, membuat para staf di dalam ruangan segera melarikan diri keluar.
Sofia meletakkan cangkirnya. "Siapa? Gadis parasit itu? Dia sudah pergi, Arlan. Dia memilih harga diri ayahnya daripada cintamu yang tidak realistis itu. Dia pintar juga ternyata."
"Ibu yang mengancamnya! Ibu menghancurkan mentalnya di depan umum!" Arlan mendekati Sofia. "Sudah cukup Ibu. Aku tidak akan membiarkan Ibu menyentuh hidupku lagi."
Arlan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah map yang berisi surat pernyataan bermaterai yang sudah ia siapkan semalaman lalu melemparkannya tepat ke depan wajah Sofia.
"Ini surat pengunduran diriku secara resmi sebagai CEO Dirgantara Group. Dan di baliknya, ada surat pelepasan hak warisku," ucap Arlan.
Sofia tertegun. "Kamu gila? Kamu mau membuang kerajaan ini demi satu gadis rendahan?"
"Kerajaan ini berdarah, Bu. Dan aku muak menjadi raja di atas penderitaan orang yang aku cintai," Arlan melepas tanda pengenalnya dan meletakkannya di atas meja. "Mulai detik ini, aku bukan lagi putra mahkota Dirgantara. Aku bukan siapa-siapa. Jangan pernah cari aku, dan jangan pernah sentuh keluarga Keyla lagi, atau aku akan pastikan seluruh skandal penggelapan pajak Ibu yang aku simpan selama lima tahun ini sampai ke tangan KPK."
Sofia berdiri, wajahnya memerah karena murka. "Kamu mengancam ibumu sendiri?!"
"Aku sedang menyelamatkan sisa kemanusiaanku!" balas Arlan. Ia berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Setelah pintu tertutup dengan dentuman keras, Sofia tidak menangis. Ia justru tersenyum sinis sambil merapikan pakaiannya. Ia tau putranya sedang emosional. Baginya, Arlan hanyalah burung yang sedang mencoba terbang keluar dari sangkar emas, namun ia yakin burung itu akan kembali saat perutnya lapar.
"Hendra!" panggil Sofia pada sekretaris pribadinya.
"Ya, Nyonya Besar?"
"Arlan butuh pengalihan. Dia pikir dia kehilangan dunia karena gadis itu," ucap Sofia sambil menatap ke luar jendela. "Cari tau jadwal kepulangan Clara Wijaya dari London. Dia putri pemilik Wijaya Steel. Beritahu orang tuanya, aku ingin menjodohkan mereka. Arlan butuh wanita yang selevel, yang bisa menutupi noda yang dibuat gadis Baskoro itu."
"Tapi Tuan Arlan sedang sangat marah, Nyonya. Apakah ini saat yang tepat?"
"Laki-laki akan lupa saat mereka melihat berlian yang lebih berkilau. Clara cantik, cerdas, dan keluarganya memegang kunci industri baja. Arlan akan sadar bahwa cinta adalah omong kosong dibandingkan kekuasaan absolut," Sofia duduk kembali di kursinya. "Dan pastikan, pantau setiap penerbangan atas nama Keyla Baskoro. Jika dia berani menginjakkan kaki di Jakarta lagi, aku sendiri yang akan memastikan dia menghilang secara permanen."