NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Sebuah Pulau

Lima hari di pulau. Lima hari mencoba meyakinkan diri bahwa ini cukup. Bahwa ini lebih baik dari mansion. Lebih baik dari ruang gelap. Tapi setiap hari rasa terkurung semakin kuat. Walau ada pantai. Walau ada laut. Aku tetap terkurung.

Pagi ini Damian pergi dengan helikopter untuk rapat penting. Bilang akan kembali sore. Meninggalkan aku sendirian di villa.

Atau tidak sepenuhnya sendirian. Pengawal masih di mana-mana. Mengawasi. Memastikan aku tidak ke mana-mana.

Aku berjalan-jalan di sekitar villa. Mencoba mengisi waktu. Membaca buku. Berenang. Tapi semua terasa hambar. Kosong. Sampai aku melihat sesuatu yang aneh.

Di balik villa, di area yang biasanya tidak kualami, ada pintu. Pintu besi tertanam di tanah. Seperti pintu bunker.

Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Atau mungkin tidak pernah memperhatikan. Dengan hati-hati, aku mendekat. Melihat sekeliling. Pengawal terdekat ada sekitar dua puluh meter. Sedang mengobrol dengan rekannya.

Aku mencoba pintu itu. Terkunci. Tentu saja terkunci. Tapi ada keypad digital di sampingnya. Meminta kode. Aku mencoba. 0809. Tanggal lahirku. Kode yang Damian suka pakai.

Aku mencoba lagi. 1504. Tanggal lahir Damian. Merah lagi, lalu aku ingat tanggal pernikahan kami. 2106.

Hijau. Klik.

Pintu terbuka sedikit.

Jantungku berdetak kencang. Aku tahu aku tidak seharusnya masuk. Tahu ini akan ada konsekuensi kalau ketahuan.

Tapi rasa penasaran terlalu kuat. Aku membuka pintu lebih lebar. Tangga beton mengarah ke bawah. Gelap. Hanya lampu redup di dinding.

Aku menoleh lagi. Pengawal masih sibuk berbicara. Tidak melihat ke arahku. Aku turun. Perlahan. Setiap langkah terasa berat.

Di dasar tangga ada koridor panjang. Seperti di bawah tanah mansion. Tapi lebih sempit. Lebih pengap. Dan aku mendengar suara. Suara rintihan. Lemah. Seperti hewan yang terluka.

Aku mengikuti suara itu. Menyusuri koridor. Melewati beberapa pintu besi tertutup. Sampai di pintu yang sedikit terbuka. Cahaya keluar dari celahnya.

Dengan tangan gemetar, aku mendorong pintu itu. Dan aku melihat neraka, ruangan besar dengan sel-sel kecil. Seperti penjara. Tapi lebih buruk. Lebih kotor. Lebih mengerikan.

Dan di sel-sel itu, orang-orang, atau yang tersisa dari orang-orang. Aku melihat pria kurus kering tergeletak di sudut sel. Tubuh penuh luka. Mata kosong menatap langit-langit.

Di sel sebelahnya, wanita dengan rambut putih acak-acakan. Menggumam sendiri. Memeluk lutut sambil bergoyang maju mundur. Di sel lain, pria tua dengan jari-jari yang tidak lengkap. Beberapa dipotong. Luka sudah mengering tapi meninggalkan bekas yang mengerikan.

Aku menutup mulut dengan tangan. Menekan teriakan yang hampir keluar. Berapa banyak? Aku mencoba menghitung. Sepuluh? Dua puluh?

Tiga puluh, ada tiga puluh orang di sini. Dalam kondisi mengerikan.

"Tolong."

Suara lemah dari salah satu sel. Aku berbalik.

Seorang pria muda. Mungkin berusia tiga puluhan. Wajah penuh luka. Mata kanan tertutup bengkak. Tapi mata kirinya menatapku dengan harapan yang menyakitkan.

"Tolong, keluarkan kami." suaranya serak. Hampir tidak terdengar.

Aku melangkah lebih dekat. "Si-siapa kalian semua?"

"Musuh," jawabnya. "Musuh Damian. Orang-orang yang melawannya, yang mencoba menghentikannya."

Dia batuk, darah keluar dari mulutnya.

"Kami di sini sudah tidak tahu berapa lama." lanjutnya. "Bertahun-tahun beberapa dari kami. Disiksa. Ditanya hal yang sama berulang kali. Sampai kami tidak ingat lagi apa jawabannya."

Air mata mengalir di pipiku.

"Kenapa dia tidak membunuh kalian saja?" bisikku.

Pria itu tersenyum pahit. "Karena kematian terlalu mudah. Dia ingin kami menderita. Ingin kami merasa sakit setiap hari. Ingin kami berharap mati tapi tidak pernah mendapatkannya."

Aku mendengar suara lain. Wanita di sel seberang berbicara. Tapi tidak pada aku. Pada dirinya sendiri.

"Tujuh ratus empat puluh dua," gumamnya. "Tujuh ratus empat puluh tiga. Tujuh ratus empat puluh empat."

Dia menghitung. Terus menghitung. Entah apa yang dia hitung.

"Dia sudah gila," kata pria itu. "Beberapa dari kami sudah gila. Terlalu lama di sini. Terlalu banyak rasa sakit."

Dia meraih jeruji selnya dengan tangan yang gemetar.

"Kumohon," bisiknya. "Kalau kau punya hati... bunuh kami. Akhiri penderitaan ini. Apapun caranya."

Aku mundur. Kepala berputar. Mual naik ke tenggorokan.

"A-aku tidak bisa.."

"KUMOHON!" teriaknya. Kali ini lebih keras. Putus asa. "BUNUH AKU! BUNUH KAMI SEMUA! JANGAN BIARKAN KAMI HIDUP SEPERTI INI!"

Teriakan itu membangunkan yang lain. Mereka mulai berteriak juga. Memohon. Menangis. Beberapa hanya menjerit tanpa kata-kata.

Aku menutup telinga. Tapi suara tetap masuk. Memenuhi kepala. Lalu suara lain. Suara yang membuat darahku membeku.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Aku berbalik. Damian berdiri di pintu. Wajahnya kosong. Tidak marah. Tidak kaget. Hanya kosong.

"Damian, a-aku hanya..."

"Hanya apa?" tanyanya sambil melangkah masuk. "Hanya penasaran? Hanya ingin tahu apa yang kusimpan di sini?"

Dia berjalan melewatiku. Melihat sekeliling pada sel-sel dengan orang-orang yang masih berteriak.

"DIAM!" teriaknya.

Semuanya langsung senyap. Bahkan yang gila pun berhenti menggumam. Mereka semua takut pada suaranya, Damian berbalik menatapku.

"Ini adalah tempatku melepaskan amarah," katanya dengan nada yang sangat tenang. Terlalu tenang. "Ketika aku ingin menyakiti seseorang tapi tidak bisa membunuh mereka karena masih butuh informasi. Ketika aku ingin menyiksa tapi tidak mau mengotori mansion."

Dia melangkah lebih dekat.

"Dan ketika aku terlalu marah padamu," lanjutnya, "Aku datang ke sini, untuk menyiksa mereka. Sampai amarahku reda. Supaya aku tidak menyakitimu."

Aku menatapnya dengan mata membelalak. "Kau menyiksa mereka, sebagai ganti karena kau tidak bisa menyiksaku?"

"Ya," jawabnya tanpa ragu. "Lebih baik mereka yang kesakitan daripada kau. Mereka musuh. Kau istri yang kucintai."

Dia menyentuh pipiku. Aku ingin menjauh tapi tubuh membeku.

"Jadi sebenarnya," bisiknya, "aku melindungimu. Dengan cara yang mungkin tidak kau mengerti. Tapi tetap melindungi."

"Ini bukan melindungi!" teriakku. "Ini penyiksaan! Ini..."

"Ini duniaku," potongnya. Suaranya dingin. "Dunia yang sudah kau pilih untuk masuki. Yang sudah kau terima ketika kau tetap bersamaku."

Tangannya bergerak ke leherku. Tidak mencekik. Hanya memegang.

"Dan sekarang," lanjutnya, "kau sudah tahu rahasiaku yang paling gelap. Apa yang akan kau lakukan dengan pengetahuan itu?"

Aku menatap matanya, mencari sesuatu. Penyesalan, rasa bersalah, atau apapun itu. Tapi tidak ada, hanya kekosongan.

"Aku tidak tahu." bisikku.

"Kalau begitu biar aku beritahu," katanya. "Kau tidak akan melakukan apapun. Karena kalau kau bilang pada siapa pun, kalau kau mencoba melepaskan mereka, kalau kau mencoba apa pun..."

Cengkeramannya di leherku mengerat sedikit.

"Aku tidak hanya akan mengurungmu di ruang gelap lagi," bisiknya. "Aku akan masukkan kau ke sini. Bersama mereka. Supaya kau merasakan apa yang mereka rasakan."

Air mata mengalir di pipiku.

"Kau mengerti?" tanyanya.

Aku mengangguk. Sekuat yang kubisa dengan leher yang dipegang. Damian melepaskan cengkeramannya. Mencium dahiku dengan lembut.

"Bagus," bisiknya. "Sekarang ayo keluar dari sini. Tempat ini tidak pantas untukmu."

Dia meraih tanganku. Menarikku keluar. Melewati sel-sel dengan orang-orang yang menatap kami dengan tatapan putus asa. Dan aku tidak bisa melakukan apapun. Hanya mengikuti. Seperti boneka yang ditarik dengan tali.

Kami naik tangga. Keluar dari bunker. Pintu ditutup dan dikunci lagi. Seperti tidak ada apa-apa di bawah sana. Seperti tiga puluh orang itu tidak ada.

Tapi aku tahu mereka ada. Dan aku tidak bisa melupakan wajah-wajah mereka. Tatapan putus asa mereka. Permohonan mereka.

"Jangan pernah ke sana lagi," kata Damian sambil membimbingku kembali ke villa. "Itu bukan tempatmu. Tempatmu di sini. Bersamaku. Di cahaya. Bukan di kegelapan di bawah sana."

Tapi aku sudah melihat kegelapannya yang sebenarnya. Yang paling dalam. Yang paling mengerikan.

Dan aku tidak tahu apakah aku masih bisa melihatnya dengan cara yang sama lagi. Atau apakah aku sudah terlalu rusak untuk peduli.

Malam itu ketika Damian tidur, aku berbaring terjaga menatap langit-langit. Memikirkan tiga puluh orang di bawah tanah. Memikirkan berapa banyak rahasia gelap lain yang dia sembunyikan.

Berapa banyak tempat lain seperti ini, berapa banyak orang lain yang menderita karena kegelapannya.

Dan pertanyaan yang paling menakutkan, kalau aku mencoba menyelamatkan mereka, apakah aku benar-benar akan menjadi salah satu dari mereka?

Atau, apakah sebagian diriku sudah menjadi seperti mereka, hanya dalam penjara yang lebih mewah?

1
Thahara Maulina
suka kak serem penuh obsesion tapi nagih 🤭😍
Riyanti Bee
Jihid bingit sih Damian. 😄
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Queen of Mafia: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Queen of Mafia: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Queen of Mafia: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Queen of Mafia: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Queen of Mafia: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!