Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH LIMA: PENAKLUKAN MUTLAK
Minggu-minggu menjelang pernikahan yang seharusnya dipenuhi dengan debaran kebahagiaan bagi seorang calon mempelai wanita, justru terasa seperti barisan hari menuju tiang gantungan bagi Seraphina. Di siang hari, ia adalah pusat perhatian yang dimanjakan oleh kemewahan tanpa batas. Giselle membawanya dari satu butik eksklusif ke butik lainnya, memperkenalkannya kepada para sosialita sebagai mutiara baru keluarga Valentinus. Seraphina dipaksa untuk mengenakan senyum palsu yang paling manis, mengangguk pada setiap pujian yang dilontarkan padanya, sementara di balik gaun-gaun mahalnya, tubuhnya menyimpan rahasia gelap yang menyakitkan.
Setiap malam, saat lampu-lampu mansion meredup dan keheningan mulai merayap di lorong-lorong marmer, peran Seraphina berubah drastis. Ia bukan lagi calon permaisuri, melainkan tawanan dari hasrat liar Orion yang tak pernah terpuaskan. Kehadiran Oskar di rumah itu seolah tidak memberikan pengaruh apa pun untuk meredam kegilaan putranya. Justru, Orion tampak semakin berani. Ia merasa telah mendapatkan restu penuh untuk melakukan apa pun pada gadis yang secara resmi sudah menjadi miliknya melalui ikatan pertunangan.
Rasa perih di area sensitif Seraphina hampir tidak pernah benar-benar hilang karena Orion tidak pernah memberinya waktu untuk bernapas. Putingnya sering kali terlihat kemerahan dan membengkak karena hisapan dan gigitan kecil yang diberikan Orion sebagai tanda kepemilikan. Setiap inci kulitnya adalah kanvas bagi obsesi pria itu.
Suatu sore yang cerah, saat matahari mulai condong ke arah barat dan menciptakan bayangan panjang di taman mansion, Giselle sedang sibuk di ruang tamu utama. Suaranya terdengar melengking melalui ponsel saat ia memarahi salah satu vendor bunga yang dianggapnya kurang cekatan. Di tengah keriuhan itu, Orion justru melangkah dengan tenang menuju kamar Seraphina. Ia tidak mengetuk pintu, sebuah kebiasaan yang menunjukkan bahwa privasi bagi Seraphina adalah hal yang tidak ada dalam kamusnya.
Seraphina sedang duduk di tepi sofa beludru, mencoba menenangkan pikirannya dengan membaca sebuah buku novel klasik. Namun, jantungnya seolah melompat keluar dari dadanya saat pintu terbuka dan sosok tinggi Orion berdiri di sana. Seringai predator yang sangat dikenal Seraphina kini terukir jelas di wajah tampan pria itu.
"Mama sedang sangat sibuk dengan urusan pestanya," Orion mendesis dengan suara yang rendah dan serak, sebuah nada yang selalu memicu alarm bahaya di dalam diri Seraphina. "Dan aku sedang sangat merindukanmu."
"Orion, jangan sekarang... Mama Giselle bisa masuk kapan saja," bisik Seraphina dengan suara yang gemetar. Ia mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas melihat kilatan gelap di mata Orion.
"Biar saja dia melihat bagaimana putranya mendidik calon istrinya," Orion menjawab tanpa beban. Tanpa memberikan kesempatan bagi Seraphina untuk menghindar, ia melangkah maju dan menarik tubuh mungil gadis itu. Dalam satu gerakan yang sangat dominan, Orion mengangkat Seraphina ke atas pundaknya seperti seorang pemburu yang membawa hasil buruannya.
Seraphina terkesiap, secara refleks memukul-mukul punggung keras Orion dengan tangannya yang kecil. "Orion! Turunkan aku! Bibi Yani ada di bawah, dia bisa mendengarnya!"
"Biarkan dia mendengar suara desahanmu yang sangat merdu itu," Orion menggeram, langkah kakinya membawanya menuju kamar mandi pribadi yang luas dan mewah di dalam kamar tersebut.
Begitu sampai di dalam, Orion menurunkan Seraphina di atas meja wastafel yang terbuat dari marmer hitam yang dingin. Ia memposisikan Seraphina tepat menghadap cermin besar yang menutupi seluruh dinding depan wastafel. Seraphina bisa melihat pantulan dirinya sendiri; wajahnya yang pucat pasi, matanya yang berkaca-kaca karena ketakutan, dan tubuhnya yang ringkih di bawah bayang-bayang sosok Orion yang perkasa.
"Aku ingin kau menyaksikan sendiri bagaimana kau melayaniku hari ini," ucap Orion dengan bisikan yang bergetar di telinga Seraphina.
Tanpa sedikit pun kelembutan, Orion merobek gaun yang dikenakan Seraphina. Kain sutra itu terlepas dari tubuhnya, memperlihatkan keindahan tubuh Seraphina yang selama ini ia sembunyikan. Payudaranya yang montok langsung bereaksi terhadap suhu dingin di kamar mandi, putingnya menegang dengan sangat jelas. Di permukaan kulitnya yang putih, masih terlihat beberapa jejak kemerahan dari malam sebelumnya, sebuah bukti nyata dari perlakuan kasar Orion.
"Lihat dirimu di cermin itu, Seraphina," perintah Orion. Ia memaksa Seraphina untuk terus menatap pantulannya sendiri. "Lihat bagaimana tubuhmu bereaksi terhadap kehadiranku. Kau sudah sangat basah di bawah sana, bukan?"
Seraphina memejamkan matanya, merasa sangat terhina. Namun, Orion dengan kasar memegang rahangnya, memaksanya untuk tetap menatap cermin. "Jangan tutup matamu. Lihat bagaimana kau akan menerima kehadiranku."
Orion mendorong tubuh Seraphina ke depan hingga dadanya menyentuh marmer wastafel yang dingin. Ia mengangkat pinggul Seraphina tinggi-tinggi, membuat bagian paling pribadinya terekspos sepenuhnya tepat di depan cermin. Orion berdiri tegak di belakangnya, melepaskan celananya sendiri hingga miliknya yang sudah menegang sempurna dan berdenyut penuh nafsu terlihat dengan jelas.
"Kau lihat ini?" Orion menunjuk ke arah miliknya di cermin. "Ini yang akan mengisimu sampai kau lupa siapa namamu."
Tanpa peringatan dan tanpa sedikit pun pelumas selain dari cairan alami Seraphina yang dipicu oleh rasa takut yang luar biasa, Orion menekan kepala miliknya ke pintu lubang Seraphina yang masih terasa perih.
Jleb!
"AAAAAHHHH! SAKIT! ORION, MOHON...!" Jeritan Seraphina pecah dan bergema di dalam ruangan yang kedap suara itu. Tubuhnya melengkung hebat saat merasakan ukuran Orion yang luar biasa kembali menembusnya dengan sangat dalam. Melalui cermin, ia dipaksa melihat bagaimana tubuh Orion menyatu dengan tubuhnya secara brutal.
Orion tidak berhenti. Ia justru mencengkeram pinggul Seraphina dengan sangat kuat hingga jemarinya meninggalkan bekas membiru di kulit paha gadis itu. Ia mulai melakukan dorongan-dorongan yang sangat kuat dan berirama cepat.
Clep! Clep! Clep!
Suara benturan fisik yang basah dan nyata memenuhi ruangan itu. Seraphina hanya bisa mencengkeram tepi wastafel marmer dengan jemari yang memutih, menahan hantaman demi hantaman yang seolah ingin menghancurkan rahimnya. Melalui cermin, ia bisa melihat bagaimana setiap sodokan Orion membuat tubuhnya terguncang hebat.
"Lihat itu, jalang kecilku!" Orion menggeram di sela-sela napasnya yang memburu. "Lihat bagaimana bagian tubuhmu itu melahapku! Kau menyukai rasa penuh ini, kan? Katakan padaku!"
Orion merangkul tubuh Seraphina dari belakang, tangannya meraih payudara Seraphina dan meremasnya dengan sangat keras. Ia menarik puting Seraphina ke atas dan menghisapnya dengan rakus, memberikan sensasi nyeri yang sangat tajam yang justru memicu adrenalin di dalam saraf Seraphina.
"AH! PUTINGKU... NNGGHHH! LEBIH CEPAT... ORION, AKU TIDAK BISA..." Seraphina menjerit, suaranya sudah tidak lagi beraturan. Rasa sakit yang tajam dari putingnya dan hantaman di area pribadinya menciptakan badai sensasi yang mematikan. Meskipun ia sangat membenci situasi ini, tubuhnya yang sudah 'terlatih' oleh Orion mulai merespons dengan cara yang sangat liar.
Orion semakin menggila. Ia meningkatkan kecepatannya hingga mencapai batas maksimal, menumbuk Seraphina dengan seluruh tenaganya tanpa mempedulikan tangisan gadis itu. "Rasakan bagaimana aku mengisi setiap celahmu! Aku akan membiarkanmu merasakan puncaknya berkali-kali sampai kau tidak bisa berdiri!"
"AHHHH! AKU MAU... AHHH! LEBIH DALAM! ISI AKU, TUAN!" Seraphina akhirnya menyerah pada insting hewani yang dipaksakan padanya. Ia menjerit histeris saat merasakan gelombang kenikmatan yang sangat panas mulai meledak dari dalam dirinya. Seluruh otot di tubuhnya menegang hebat, ia merasakan puncak yang luar biasa menyiksa sekaligus melegakan.
Di saat yang bersamaan, Orion meraung dengan suara yang sangat primitif. Dengan satu dorongan terakhir yang sangat dalam hingga menghujam dasarnya, ia memuntahkan seluruh cairan hangat, kental, dan sangat banyak ke dalam rahim Seraphina. Semprotan itu terasa begitu panas di dalam tubuh Seraphina, membuatnya kembali mengejang hebat di bawah dominasi Orion.
Mereka berdua terengah-engah dalam posisi yang masih menyatu. Uap panas dari napas mereka mengembun di permukaan cermin, mengaburkan bayangan kehancuran yang baru saja terjadi. Bau gairah yang pekat dan aroma kotor dari hasil penyatuan itu memenuhi udara kamar mandi yang mewah tersebut.
Orion akhirnya menarik dirinya keluar, meninggalkan sisa-sisa cairannya mengalir di paha Seraphina. Ia menatap gadis yang kini terkulai lemas di atas wastafel itu dengan tatapan puas. Orion kemudian mengangkat Seraphina kembali, menggendongnya menuju ranjang dengan kelembutan yang sangat palsu.
"Kau benar-benar luar biasa di depan cermin itu," bisik Orion sambil merebahkan Seraphina. "Besok, saat kau mengenakan gaun pengantinmu di depan semua orang, ingatlah bahwa di balik kain itu, kau adalah budak yang sudah aku tandai di depan cermin ini."
Narasi internal Orion mencatat kemenangan mutlak ini. Ia merasa restu dari Oskar hanyalah formalitas, karena yang terpenting baginya adalah bagaimana ia bisa mematahkan jiwa Seraphina sedikit demi sedikit setiap harinya.
Malam itu, saat makan malam kembali diadakan bersama Oskar dan Giselle, Seraphina hanya bisa menunduk. Ia merasa sangat kotor dan rendah diri. Setiap kali ia melirik ke arah Orion yang sedang berbincang dengan ayahnya, pria itu akan memberikan senyuman tipis yang sangat mengerikan. Di bawah meja, tangan Orion sesekali menyentuh lututnya, sebuah pesan rahasia bahwa siksaan ini belum berakhir. Oskar tetap diam dengan mata dinginnya, seolah-olah ia mengetahui segala kegilaan yang terjadi di kamar mandi sore tadi namun menganggapnya sebagai hal yang wajar untuk seorang ahli waris Valentinus.
Seraphina menyadari bahwa tidak ada tempat baginya untuk lari. Pernikahan ini akan segera tiba, dan ia akan selamanya menjadi barang milik keluarga yang haus akan dominasi dan kekuasaan ini.