Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Besoknya pagi, mereka ke pasar tradisional buat belanja. Naura gendong Faris pake gendongan kain. Zidan jalan di sampingnya sambil bawa tas belanja.
Ini pertama kalinya mereka belanja tanpa harus mikir keras soal uang.
"Mas, beli beras berapa kilo?"
"Beli sepuluh kilo aja sekalian. Biar awet."
"Terus sayur sayuran?"
"Beli yang kamu mau. Jangan terlalu irit. Kamu butuh nutrisi buat ASI."
Naura senyum lebar sambil milih milih sayur. Dia beli bayam, kangkung, wortel, tomat, bawang, cabe. Lebih banyak dari biasanya.
Terus mereka ke toko baju bayi. Naura pilih pilih baju buat Faris. Ada yang lucu lucu. Ada yang warnanya cerah. Dia pilih lima baju. Total seratus ribu.
"Mas, ini terlalu banyak nggak?"
"Nggak. Faris butuh baju. Beli aja."
Naura seneng banget. Udah lama dia pengen beliin Faris baju yang bagus. Selama ini cuma pake baju sumbangan dari tetangga.
Mereka juga beli susu formula yang bagus. Harganya dua ratus ribu per kaleng. Mahal. Tapi kata penjualnya ini susu terbaik buat bayi.
"Mas, ini mahal. Nggak apa apa?"
"Nggak apa apa. Faris butuh nutrisi yang bagus. Kesehatan dia lebih penting dari uang."
Terakhir, Zidan bawa Naura ke toko baju.
"Mas ngapain kesini?"
"Kamu pilih baju buat kamu. Udah lama kamu nggak punya baju baru."
"Nggak usah Mas. Aku masih punya baju."
"Baju yang udah lusuh semua. Ayo pilih. Jangan nolak."
Naura akhirnya pilih satu gamis sederhana warna biru muda. Harganya seratus lima puluh ribu. Dia ragu ragu.
"Mas, ini mahal. Aku pilih yang lebih murah aja."
"Nggak. Itu bagus. Cocok buat kamu. Beli itu."
Naura megang gamis itu sambil tersenyum bahagia. Udah dua tahun lebih dia nggak beli baju baru. Terakhir beli baju waktu sebelum nikah.
Total belanja mereka satu juta dua ratus ribu. Masih sesuai budget.
Pulang dari belanja, mereka ke rumah Pak Burhan buat bayar cicilan.
Pak Burhan buka pintu dengan wajah terkejut. "Wah Zidan. Tumben dateng sendiri. Biasanya ditelpon dulu."
"Maaf Pak mengganggu. Saya mau bayar cicilan bulan ini. Ini uangnya. Dua juta." Zidan sodorkan amplop.
Pak Burhan terima sambil itung. Bener. Dua juta pas.
"Bagus. Kamu tertib bayarnya. Nggak kayak orang orang lain yang suka telat terus."
"Terima kasih Pak. Bulan depan saya bayar lagi."
"Oke. Tapi inget ya. Pokok hutang masih sepuluh juta. Belum berkurang sama sekali. Yang kamu bayar itu cuma bunga."
"Saya tau Pak. Tapi saya akan coba cicil pokoknya juga pelan pelan."
Keluar dari rumah Pak Burhan, Zidan napas lega. Setidaknya untuk bulan ini aman. Nggak ada debt collector yang bakal dateng ngancam.
Sampe di kontrakan, Naura langsung coba gamis barunya. Pas banget. Warnanya bikin wajahnya kelihatan lebih cerah.
"Mas, gimana? Bagus nggak?"
"Bagus. Cantik. Cocok banget."
Naura senyum lebar sambil puter puter di depan cermin kecil lusuh yang nempel di dinding. Udah lama dia nggak merasa cantik. Udah lama dia nggak punya baju yang bikin dia percaya diri.
"Terima kasih ya Mas. Terima kasih udah beliin aku baju."
"Sama sama. Nanti kalau ada rejeki lebih, kita beli lagi."
Faris di boks pake baju baru juga. Baju warna kuning bergambar bebek. Lucu banget. Naura foto foto Faris pake handphone jadul sambil senyum senyum.
Sore itu mereka duduk di teras sambil liat Faris yang lagi main di pangkuan Naura.
"Mas, aku takut."
"Takut kenapa?"
"Takut kita... kita lupa diri. Dulu kita susah banget. Sekarang tiba tiba ada uang. Aku takut kita jadi sombong. Jadi lupa sama Allah. Jadi lupa sama orang orang yang udah bantuin kita."
Zidan megang tangan istrinya. "Aku juga takut. Tapi kita harus inget. Uang ini bukan karena kepinteran kita. Bukan karena kehebatan kita. Tapi karena Allah kasih rezeki. Makanya kita harus tetep rendah hati. Tetep sholat. Tetep sedekah."
"Iya Mas. Kita harus."
"Besok kita sedekah ke masjid. Sama ke panti asuhan. Nggak banyak. Cukup seratus ribu. Biar Allah tambah rezeki kita."
"Setuju Mas."
Malam itu mereka tidur dengan hati yang tenang. Uang empat juta sisanya mereka simpen di bawah bantal. Dua juta buat tabungan. Satu juta buat modal jualan Naura. Satu juta buat jaga jaga.
Tapi di tengah malam, Zidan terbangun. Dia ngeliatin uang yang ada di bawah bantal. Tangannya gatel pengen pegang.
Empat juta.
Kalau dipake beli motor baru bisa nggak ya? Motor yang sekarang udah tua banget. Sering mogok. Kalau beli motor baru, dia bisa lebih nyaman pergi kerja.
Atau kalau dipake buat beli handphone baru? Handphone yang sekarang udah lemot banget. Sering hang. Kalau beli yang baru, dia bisa lebih gampang komunikasi.
Atau...
"Zidan, kamu kenapa belum tidur?"
Suara Naura bikin dia kaget. Istrinya ternyata udah bangun. Ngeliatin dia yang lagi megang uang.
"Nggak. Aku cuma... cuma pengen ngecek aja. Takut ilang."
Naura duduk di sampingnya. "Mas, jangan sampe tergoda ya. Uang ini buat masa depan kita. Buat Faris. Jangan dipake buat yang nggak penting."
Zidan mengangguk sambil taruh uang itu lagi di bawah bantal. "Iya. Aku cuma liat aja kok. Nggak akan aku pake sembarangan."
Tapi di dalam hatinya, godaan itu udah mulai masuk.
Godaan buat beli ini.
Godaan buat beli itu.
Godaan yang akan terus membesar seiring bertambahnya uang yang dia terima.
Godaan yang suatu hari nanti akan menghancurkan segalanya.
Tapi untuk malam ini, dia masih bisa tahan.
Masih bisa inget nasihat istrinya.
Masih bisa inget janji dia sama Allah.
Dan dia tidur lagi dengan hati yang mencoba tenang.
Meski di sudut hatinya, ada bisikan kecil yang mulai berbisik.
Bisikan yang berbahaya.
Bisikan yang akan terus membesar.
Sampai suatu hari nanti dia nggak bisa tahan lagi.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja