Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Arthur memperhatikan wajah Seyra yang terlelap dari kursi di samping brankar. Setelah Seyra pingsan secara mendadak, dia akhirnya dibawa ke rumah sakit oleh Arthur tanpa memberitahu orang tua gadis itu.
Dia panik dan takut terjadi hal buruk pada Seyra, hingga dia memilih bertindak sendiri.
Pemuda itu baru menyadari jika Seyra memiliki lesung pipi yang begitu manis di kedua pipinya. "Lo lucu kalau lagi tidur."
"Gue tahu."
Seyra yang baru saja membuka mata segera menoleh ke arah Arthur yang terlihat salah tingkah. "Lo suka?"
Arthur memalingkan tatapannya ke arah jendela di sebelahnya. "Iya."
"Masa?"
"Serius!" seru Arthur.
"Bohong."
Arthur menatap ke arah Seyra kesal. "Gue enggak bohong."
"Iya. Lo gak suka gue," ujar Seyra kekeh.
Arthur menggeleng ragu. "Enggak, gue suka kok."
Seyra mengangguk pelan. "Ya sudah."
Kening Arthur berkerut halus. "Ya sudah apa?"
"Lo belum suka sama gue!" Seyra mengedipkan satu matanya.
"Sial," umpat Arthur seraya menutup wajahnya yang memerah.
Seyra terkekeh. Dia menghela napas panjang. Kejadian tadi benar-benar membuatnya syok. Dia baru mengetahui jika Arthur dan Gio yang merupakan pemeran utama kedua adalah saudara tiri.
'Alurnya beda banget, gue bahkan enggak bisa lagi membayangkan bagaimana ke depannya,' batin Seyra murung.
Seyra menggerakkan tubuhnya. Dia berniat turun dari brankar. Dengan sigap Arthur segera membantunya.
"Lo mau ke mana?" heran Arthur begitu melihat Seyra memakai sandalnya.
"Pulang," jawab Seyra, lalu mencabut infus yang terpasang di punggung tangannya.
Arthur tak bisa menahan keinginan Seyra. Dia pun mengikuti gadis itu keluar dari ruang rawat. Saat menyusuri lorong, Seyra kembali membuka pertanyaan.
"Ar, lo benar-benar suka sama gue?" Seyra bertanya tanpa menatap Arthur.
Namun Arthur tidak menjawab. Pemuda itu masih sedikit bimbang akan perasaannya. Dia tahu, perasaannya terhadap Seyra bukan sekadar teman biasa. Semuanya terasa rumit dan membingungkan.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju pintu keluar, di mana cahaya matahari menyinari jalanan. Saat langkah mereka mendekati pintu, Seyra berhenti dan menatap Arthur dengan serius.
"Jadi, jawaban lo apa?" tanyanya tegas. "Apa lo benar-benar suka sama gue?"
Arthur merasakan beban berat di dadanya. Dia ingin jujur, tetapi kata-kata itu sulit keluar. "Gue... Iya suka cuma rasanya rumit. Tapi satu hal yang pasti, gue peduli sama lo."
"Peduli?" Seyra mengulangi, sedikit tersenyum. "Itu permulaan yang baik."
Arthur merasa ada harapan di dalam kata-kata Seyra. Dia mengambil langkah maju, berani mendekat. "Gue enggak ingin kehilangan lo, Seyra. Di mana pun itu, selamat ataupun enggak."
Seyra merasakan kehangatan menjalar di hatinya. Dia tahu perasaan Arthur masih sama seperti miliknya.
"Kalau begitu, ayo kita pulang," katanya seraya mengulurkan tangan.
Arthur menggenggam tangan gadis itu erat. Bersama-sama mereka melangkah ke luar rumah sakit, meninggalkan semua ketidakpastian di belakang mereka.
***
Sore harinya, Seyra pergi menemui Samuel dan Agha. Mereka bertiga berkumpul di rumah Samuel karena orang tua pemuda itu sedang melakukan perjalanan bisnis, jadi mereka lebih leluasa untuk bermalas-malasan di rumah itu.
"Soal kematian Valeri, apa lo sudah punya petunjuk, Sey?" tanya Agha yang sedang mengutak-atik laptop miliknya.
Sudah beberapa hari berlalu, tapi kejadian naas itu masih menjadi trending topik di sekolah mau pun luar sekolah. Karena kematian Valeri benar-benar menjadi teka-teki bagi semua orang, termasuk Seyra.
Seyra menggeleng lesu. "Belum. Papa sudah minta tolong ke polisi juga. Orang itu berani melakukan hal segila itu di sekolah. Sudah bisa dipastikan dia punya bekingan orang berpengaruh, kan?"
Samuel mengangguk dengan wajah serius. "Kita harus lebih hati-hati. Kalau benar dia terlibat sama orang-orang penting, kita bisa terjebak dalam masalah yang lebih besar."
Agha menatap layar laptopnya dan mengerutkan dahi. "Tapi kita enggak bisa cuma diam dan nunggu. Kita perlu gali informasi lebih dalam. Mungkin ada yang bisa kita temukan di media sosial atau forum-forum gelap."
"Setuju," kata Seyra, merasa semangatnya kembali muncul. "Kita harus cari tahu siapa yang terakhir kali bareng Valeri sebelum dia meninggal."
"Kalau gitu, kita mulai susuri jejaknya," tambah Samuel. "Eh, ngomong-ngomong, bokap lo benar-benar bikin makam buat Valeri?"
"Iya. Meski tanpa tubuh dia, kalian tahu sendiri tubuh Valeri hancur lebur akibat ledakan itu. Setidaknya makamnya harus ada sebagai bentuk penghormatan terakhir," jawab Seyra tenang.
Agha mengangguk lalu kembali mengetik di laptopnya. Dia menatap Seyra lagi. "Bukannya waktu itu lo bilang ada orang yang minta lo buat ngorbanin orang yang lo sayang?"
"Iya. Tapi nyatanya itu semua cuma omong kosong. Pada akhirnya dia tetap ngebunuh Valeri, karena itu tujuan utamanya." Jawab Seyra lirih.
"Apa lo bisa ceritain kronologinya?" tanya Agha, penasaran dengan kejadian sebenarnya.
Seyra terdiam sejenak. Ingatan hari itu kembali muncul, menggores luka yang bahkan belum benar-benar sembuh. Meski begitu, dia tetap menceritakan kejadian sebenarnya pada kedua sahabatnya.
Hari itu di atap sekolah...
Seyra berusaha memahami maksud ucapan orang misterius tersebut. Namun tiba-tiba sebuah peluru melesat dari kejauhan dan mengenai pahanya.
Valeri yang melihat darah mengucur dari paha adiknya langsung panik. Bersamaan dengan itu, waktu pada perangkat bom mulai menghitung mundur.
Seyra mencoba mendekati pembatas rooftop, tetapi peluru kembali menembus pahanya. Dia terjatuh. Dengan tangan gemetar, dia menekan lukanya, lalu mengeluarkan cutter dari saku dan membuka lukanya lebih lebar untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam.
Napasnya tersengal. Rasa sakitnya luar biasa, tetapi dia tahu dia tidak boleh menyerah. Dia harus menghentikan bom itu.
Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat tubuh Valeri mulai kehilangan keseimbangan.
"Val!" teriak Seyra panik.
Detik itu juga tubuh Valeri limbung dan terjatuh melewati pembatas rooftop.
"Valerii!" jerit Seyra histeris.
Dia memaksa tubuhnya bangkit, lalu berlari menuruni tangga dengan langkah terseok-seok, mengabaikan rasa perih dan nyeri yang menjalar di kakinya.
Ingatan itu masih sangat jelas, Seyra menghela napas panjang setelah berhasil menceritakan hal itu pada Agha dan Samuel.
"Gue turut prihatin, sebenarnya apa motif orang itu, ya?" Ujar Samuel.
Seyra mengangkat bahunya acuh. "Nggak tahu, gue juga penasaran."
apa milik bapak bapak dengan satu anak itu ya
sayang nya valeri bukan wanita kuat seperti adiknya
ngebut aq bacanya thor🤣