Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Lapar yang Menghujam
Malam kian larut, namun kantuk enggan bertamu di mata Andini. Perutnya mulai mengeluarkan bunyi keroncongan yang perih, sebuah tuntutan biologis yang tidak peduli bahwa pemiliknya tengah dirundung duka sedalam samudera. Sejak pemakaman tadi pagi, tak sebutir nasi pun melewati tenggorokannya. Ia merasa sangat lemah, namun rasa lapar itu kini mulai mengalahkan rasa sedihnya untuk sejenak.
Andini bangkit dari ranjang dingin yang berbau minyak kayu putih itu. Dengan langkah gontai dan kepala yang sedikit pening, ia menyeret kakinya menuju dapur. Di dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya lampu jalan dari balik ventilasi, dapur itu tampak seperti museum kenangan yang menyakitkan.
Ia menyalakan lampu dapur yang redup. Matanya tertuju pada rak piring. Di sana hanya ada beberapa piring plastik dan cangkir seng. Ia membuka lemari makanan, berharap menemukan sesuatu yang bisa langsung dimakan. Namun, lemari itu kosong. Hanya ada sekarung kecil beras di sudut lantai dan sebuah toples berisi garam.
"Mas... aku lapar," bisiknya tanpa sadar, menoleh ke arah pintu belakang seolah-olah Hilman akan muncul dari sana sambil membawa sebungkus nasi rames hangat.
Biasanya, jam segini Hilman baru pulang lembur. Meskipun lelahnya luar biasa, ia tidak akan pernah membiarkan Andini tidur dalam keadaan lapar. Jika tidak ada uang untuk membeli makanan di luar, Hilman akan segera menuju kompor. Dengan cekatan, ia akan mengolah apa pun yang ada.
Andini teringat bagaimana Hilman dulu sering memasak nasi goreng hanya dengan bumbu bawang putih dan garam, namun entah mengapa rasanya sangat gurih. Atau saat mereka benar-benar kesulitan, Hilman akan merebus nasi hingga menjadi bubur lembut, lalu memberinya sedikit kecap manis.
"Cuma masak nasi... aku pasti bisa," gumam Andini mencoba menguatkan diri.
Kegagalan di Depan Tungku
Andini mengambil panci kecil yang pantatnya sudah menghitam karena sering terkena api. Ia menyendok beras ke dalamnya. Namun, ia terdiam. Ia tidak tahu seberapa banyak air yang harus ia gunakan. Ia teringat betapa sering ia memaki Hilman jika nasi yang dimasak suaminya sedikit lembek atau justru terlalu keras.
"Mas! Masak nasi aja nggak becus! Ini nasi apa bubur ayam? Lembek banget! Nggak selera aku!"
Kata-kata kasarnya dulu kini bergema di telinganya seperti kutukan. Ia mencoba mengingat-ingat gerakan tangan Hilman saat mencuci beras. Ia menuangkan air, mencuci beras itu dengan kasar, lalu menaruhnya di atas kompor.
Masalah berikutnya muncul. Ia tidak tahu cara menyalakan kompor gas yang sudah tua itu. Pemantiknya sudah rusak sejak lama, dan selama ini Hilman selalu menggunakan korek api kayu untuk menyalakannya secara manual dengan penuh kehati-hatian agar tidak menyambar.
Andini mencoba memutar kenop kompor. Suara desis gas terdengar, membuatnya panik. Ia menyalakan korek api dengan tangan gemetar.
Wusss!
Api menyambar sedikit lebih besar dari yang ia duga. Andini menjerit kecil dan mundur beberapa langkah. Ia ketakutan. Ia menyadari betapa setiap hari Hilman mempertaruhkan jarinya yang sudah penuh luka untuk menyalakan api ini demi memberinya makan.
Ia menunggu nasi itu masak. Namun, setelah beberapa menit, aroma gosong mulai memenuhi dapur. Andini membuka tutup pancinya. Beras itu masih keras di bagian atas, namun bagian bawahnya sudah hitam berkerak dan berbau hangit. Ia lupa mengecilkan api. Ia lupa mengaduknya. Ia tidak tahu apa-apa.
Andini mematikan kompor. Ia menatap nasi gosong itu dengan air mata yang mulai mengalir. "Mas... kenapa susah banget? Kenapa dulu aku pikir ini gampang?"
Garam dan Air Mata
Karena sangat lapar, ia mencoba menyendok bagian nasi yang tidak terlalu gosong ke dalam piring. Ia teringat kejadian semalam, saat ia melihat Hilman makan nasi garam sendirian di sudut ini.
Andini mengambil toples garam. Ia menaburkan kristal putih itu di atas nasinya yang setengah matang dan berbau sangit. Ia mencoba menyuapnya ke dalam mulut.
Krak.
Berasnya masih keras, butirannya menyakitkan giginya, dan rasa asin yang tajam menusuk lidahnya. Rasanya sangat buruk. Sangat jauh dari nasi garam yang dimakan Hilman dengan tenang malam itu.
Andini tersedak. Ia terbatuk hingga dadanya sesak. Ia mencoba menelan nasi itu, namun tenggorokannya terasa tersumbat oleh penyesalan yang membatu. Ia teringat wajah Hilman yang tersenyum saat memakan nasi serupa. Bagaimana mungkin pria itu bisa tampak begitu menikmati makanan yang seharian ini ia anggap sampah?
Jawabannya menghantam Andini seperti palu godam: Karena Hilman memakan nasi itu dengan rasa syukur bahwa istrinya sudah makan enak di luar. Hilman kenyang bukan karena nasinya, tapi karena ia tahu ia telah berhasil mengenyangkan Andini.
"Mas... maafkan aku... rasanya asin banget, Mas..." Andini raung sambil membuang piring itu ke lantai. Piring plastik itu tidak pecah, hanya berputar di atas semen, memuntahkan isinya yang menyedihkan.
Andini merangkak ke kolong meja dapur, meringkuk di sana di antara tabung gas dan peralatan masak kusam. Di tempat inilah Hilman sering berjongkok untuk memperbaiki selang gas atau sekadar beristirahat sejenak agar tidak mengganggu Andini yang sedang berdandan di kamar.
Di sana, ia menemukan sesuatu yang terselip di balik sela dinding. Sebuah kotak bekal kecil milik Hilman.
Bekal yang Tertinggal
Andini membuka kotak bekal itu. Di dalamnya ada sisa kerupuk yang sudah lempem dan sepotong kecil tempe goreng yang sudah kering. Namun, ada selembar kertas minyak yang diletakkan Hilman sebagai alas bekalnya. Di balik kertas minyak itu, ada tulisan tangan yang sangat kecil, ditulis dengan pensil.
"Bekal hari ini: Tempe satu potong. Alhamdulillah kenyang. Sisa uang gaji hari ini: 50.000 (buat beli vitamin Andini karena dia bilang badannya lemas). Semangat, Hilman. Sebentar lagi Andini bisa punya rumah yang dapurnya besar, biar dia nggak usah cium bau asap begini lagi."
Andini meremas kertas itu di dadanya. Ia menangis meraung-raung di bawah meja dapur yang gelap. Ia baru sadar, selama ini ia tidak hanya memakan hasil keringat Hilman, tapi ia telah memakan nyawa suaminya sendiri. Setiap vitamin yang ia telan, setiap bedak yang ia usapkan ke wajahnya, adalah hasil dari perut Hilman yang keroncongan dan nasi garam yang asin.
"Aku nggak mau rumah besar, Mas... aku mau kamu balik ke sini... masakin aku lagi... meskipun cuma nasi garam, aku janji nggak bakal marah lagi..."
Lampu dapur yang redup tiba-tiba berkedip-kedip, lalu padam sepenuhnya. Kegelapan total menyelimuti Andini. Di tengah kegelapan itu, ia mendengar suara halus dari arah ruang tamu.
Sret... sret... sret...
Suara langkah kaki yang menyeret, persis seperti langkah kaki Hilman saat pulang kerja dengan sepatu bootnya yang berat.
Andini membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. "Mas? Mas Hilman?"
Suara itu berhenti tepat di ambang pintu dapur. Andini tidak bisa melihat apa-apa, namun ia merasakan hembusan angin dingin yang membawa aroma minyak kayu putih dan tembakau murah. Aroma yang dulu ia benci, namun kini sangat ia rindukan.
"Mas... itu kamu?" bisik Andini dengan suara yang hampir habis.
Apakah itu benar-benar Hilman yang kembali, ataukah hanya halusinasinya karena lapar dan duka yang teramat sangat?