Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Suara di Tengah Kesunyian
Namun, saat Azkar hendak menarik selimut untuk menutupi kaki Rina, gerakan Rina tiba-tiba membeku. Matanya yang sayu mendadak melebar, menatap ke arah sudut ruangan yang gelap di dekat jendela.
Rina mencengkeram lengan baju Gus Azkar dengan kuat. Tubuhnya sedikit menegang, dan rona merah di pipinya tadi berganti dengan pucat pasi.
"Mas..." bisik Rina dengan suara bergetar.
"Iya, Sayang? Ada yang sakit?" Azkar langsung siaga, mengusap tangan Rina yang dingin.
Rina menggeleng pelan, namun matanya tetap tertuju pada sudut ruangan. "Mas Azkar denger suara gak?? Kayak ada suara orang ketawa..."
Azkar terdiam seketika. Ia mencoba mempertajam pendengarannya. Di telinganya, hanya ada suara angin malam yang bergesek dengan kaca jendela dan suara napasnya sendiri. Ia melihat ke arah yang ditunjuk Rina, namun tidak ada siapa-siapa di sana.
Bulu kuduk Azkar sempat meremang, namun ia segera menepis rasa takutnya. Ia tahu, setelah mengalami koma atau kondisi kritis, seseorang terkadang mengalami halusinasi atau trauma psikis. Apalagi Rina baru saja "kembali" dari ambang kematian.
"Enggak ada apa-apa, Rin. Mungkin itu suara angin di luar," ucap Azkar mencoba menenangkan, meskipun hatinya sedikit mencelos melihat ketakutan di mata istrinya.
"Enggak, Mas... suaranya kecil tapi jelas banget. Kayak suara perempuan yang lagi ngetawain Rina," lirih Rina lagi, ia semakin merapatkan tubuhnya ke arah Azkar, seolah mencari perlindungan.
Azkar segera duduk di pinggir ranjang dan memeluk bahu Rina erat. Ia mulai membacakan Ayatul Kursi dan beberapa zikir pelindung dengan suara yang lembut namun tegas di dekat telinga Rina. Ia ingin suara doanya menenggelamkan "suara tawa" yang didengar oleh istrinya.
"Jangan didengar ya? Fokus ke suara Mas saja. Ada Mas di sini, nggak akan ada yang berani ganggu kamu," bisik Azkar setelah menyelesaikan doanya.
Suasana yang tadinya romantis kini berubah menjadi mencekam karena gangguan yang dialami Rina.
Gus Azkar terus membacakan selawat pelan di samping telinga Rina, sementara tangannya tidak lepas mengusap bahu istrinya untuk memberi rasa aman. Rina, yang masih merasa sedikit bingung dan merinding, reflek menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung instan—meskipun sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali. Itu adalah gerak tubuh khasnya saat sedang merasa canggung atau takut.
"Iya, Mas..." jawab Rina lirih, mencoba memercayai ucapan suaminya meskipun sisa-sisa suara tawa itu seolah masih terngiang tipis di telinganya.
Bayangan di Sudut Ruang
Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama. Saat Rina mencoba memejamkan mata untuk kembali tidur, ia melihat gerakan di sudut ruangan lewat ekor matanya. Rina tersentak, matanya membelalak menatap ke arah lemari kecil di pojok ICU.
Di sana, dalam kegelapan yang hanya terkena sedikit pantulan lampu koridor, tampak sesosok bayangan wanita. Wanita itu berdiri diam, namun yang membuat napas Rina tertahan adalah pakaian dan postur tubuhnya—ia memakai baju pasien yang sama dengan yang dikenakan Rina sekarang.
"Mas... Mas Azkar, itu siapa?!" pekik Rina tertahan, suaranya naik satu oktav. Ia menunjuk ke sudut ruangan dengan jari yang gemetar hebat. "Di sana! Ada perempuan, bajunya sama kayak Rina!"
Gus Azkar langsung berdiri, menatap ke arah yang ditunjuk Rina. Ia tidak melihat siapa pun, namun ia bisa merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menusuk tulang di area tersebut. Azkar menyadari kondisi mental istrinya sedang sangat terguncang setelah peristiwa "mati suri" tadi.
"Rin, lihat Mas. Lihat mata Mas!" Azkar memegang kedua pipi Rina, memaksa istrinya untuk tidak menatap ke sudut gelap itu lagi. "Enggak ada siapa-siapa di sana. Itu hanya pikiran kamu yang lagi lelah."
"Tapi dia lihatin Rina, Mas! Dia ketawa lagi!" tangis Rina pecah, ia menyembunyikan wajahnya di dada Azkar, enggan melihat ke arah mana pun selain suaminya.
Melihat ketakutan Rina yang begitu nyata, Azkar menyadari ia tidak bisa menangani ini sendirian. Ia segera menekan tombol panggil perawat.
"Mas, tolong panggilin Ayah... atau siapapun. Rina takut," rintih Rina di balik dekapan Azkar.
Tak lama kemudian, perawat masuk. Azkar menjelaskan kondisi Rina yang histeris melihat bayangan. Perawat tersebut tampak tenang, ia sudah terbiasa melihat pasien kritis yang mengalami halusinasi pasca-trauma. Namun, Azkar tetap meminta agar lampu ruangan dinyalakan sepenuhnya agar tidak ada sudut gelap yang menakuti istrinya.
Suasana di ruang ICU kembali tegang, bukan karena kondisi fisik Rina, melainkan karena trauma mentalnya yang mulai muncul.