NovelToon NovelToon
CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Sistem / Cintapertama / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari terkahir di valenbourg

Eryn masih berdiri di tempat, menatap punggung ibunya yang menjauh. Lalu Eryn berpaling pada Elara, tersenyum pelan meski ada sedikit rasa bersalah di matanya.

“Aku harus pergi, tampaknya,” ujarnya.

Elara mengangguk pelan.

Eryn tertawa kecil, lalu melangkah mundur sambil melambaikan tangan.

“Sampai jumpa lagi, Elara Wyhther.”

Elara membalas lambaian itu dengan senyum kecil. “Sampai jumpa lagi, Tuan Eryn.”

Namun di kejauhan, Elara sempat melihat Lady Mirelle menoleh sebentar — menatapnya dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.

Dan dalam hati Elara tahu, perempuan itu pasti tidak menyukainya.

**

Hari-hari setelahnya. Elara memilih untuk pekerjaan di luar rumah utama—membantu Paman Alden memeriksa gudang, menyapu teras pondok, atau menyirami kebun kecil yang mereka rawat bersama di tepi hutan.

Setiap kali langkah kaki para pelayan berlarian ke arah rumah besar karena kedatangan Tuan Muda Lucien, Elara akan segera berbalik arah, mencari alasan untuk menjauh.

Ia tak ingin berpapasan, bahkan sekadar bertemu tatap dengan lelaki muda yang dingin itu.

“Elara,” panggilnya.

Gadis itu menoleh cepat. “Ya, Paman?”

“Kau sengaja menghindar dari rumah utama,bukan?”

Elara menunduk, jemarinya meremas ujung celemek.

“Aku hanya… tidak ingin menimbulkan masalah, Paman.”

“Masalah? Kau hanya seorang gadis kecil yang bekerja dengan jujur. Tidak ada yang akan mempermasalahkan itu.”

Elara masih menunduk.

“Tuan Marquis muda berbeda. Dia bukan seperti orang lain, Paman. Tatapannya tajam… dan caranya memperlakukan sesuatu, membuatku—”

Ucapan Elara terhenti, dia tak sanggup melanjutkan.

Alden menatapnya lama.

“Aku mengerti. Tapi ingat, Elara. Dalam rumah bangsawan, tak ada yang benar-benar bisa kau hindari selamanya.”

Elara hanya mengangguk.

"Aku tahu, Paman.” jawabannya dengan suara nyaris tak terdengar.

**

Hari-hari pun terus berlalu.

Valenbourg perlahan kehilangan warna bunganya. Hujan turun lebih sering, dan aroma tanah basah menggantikan wangi bunga musim semi.

Di halaman rumah utama, para pelayan sibuk menyiapkan keberangkatan Tuan Muda Lucien Kaelmont kembali ke Eropa. Kotak-kotak besar berisi pakaian dan dokumen dimuat ke dalam kereta berhias lambang keluarga Kaelmont.

Dari kejauhan, Elara berdiri diam di tepi hutan, di bawah pohon ek besar. Dia menyaksikan barisan kuda berderap pelan keluar dari gerbang utama.

Lucien duduk di dalam kereta itu, mengenakan mantel gelap dengan emblem keluarga di dadanya.

“Musim semi telah berakhir, dan itu berarti aku harus pergi…” gumamnya lirih.

Kata-kata itu terhenti di tenggorokannya sendiri. Elara menunduk, menggenggam ujung rok lusuhnya dengan erat.

“Elara?”

Suara itu, Elara segera berbalik.

“Paman Alden.” ucap Elara.

Alden berjalan mendekat, membawa keranjang berisi ranting kering di tangannya. Dia menatap gadis itu sejenak sebelum menurunkan keranjang dan duduk di bangku batu di dekatnya.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini? Sudah sore, udara mulai dingin,” katanya tanpa nada keras, tapi cukup membuat Elara menunduk.

“Aku hanya… memandangi kebun ini, Paman. Mungkin untuk terakhir kalinya.” Jawabannya lirih.

“Terakhir kalinya?” Alden mengangkat alis.

"Aku tahu, musim semi telah berakhir. Aku harus pergi kan paman..."

Elara menunduk lagi, bibirnya bergetar.

"Jika aku pergi dari sini, aku tidak tahu harus ke mana lagi? Aku tidak memiliki siapa pun… tidak ada rumah, tidak ada tempat untuk kembali.”

Elara berhenti sejenak, lalu menatap Alden dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“... tolong, Paman. Jangan usir aku. Aku mohon… aku tidak ingin pergi dari sini.”

Tangis Elara pecah. Alden terpaku melihat nya. Alden bukan pria yang pandai menenangkan tangis, apalagi dari seorang gadis muda seperti Elara. Tapi melihat bahu kecil itu bergetar, Alden hanya bisa menghela napas pelan.

“Elara.”

Suara Alden terdengar lebih lembut dari biasanya.

Gadis itu mengusap matanya cepat-cepat, berusaha tersenyum meski air mata masih jatuh.

“Maaf, Paman… aku tak bermaksud menangis. Aku hanya—”

“Sudahlah.” Alden memotongnya.

“Tidak ada yang akan mengusirmu, Elara.Kau bisa tinggal lebih lama di sini, selama yang kau butuhkan.” ucapnya pelan.

“A… apa Paman sungguh-sungguh?”

“Apa aku terlihat seperti sedang bergurau?”

Elara menggeleng cepat, bibirnya gemetar. “Tidak… tapi aku… aku tak tahu harus berkata apa…”

“Kalau begitu, jangan berkata apa-apa. Cukup pastikan kau tidak membuatku menyesal karena keputusan ini.” sahut Alden sambil berbalik, pura-pura acuh.

Elara menatapnya, lalu tertawa kecil di antara isak.

“Aku berjanji, Paman. Aku akan bekerja lebih keras lagi, membantu Paman, menjaga kebun, hutan, apa pun yang Paman perintahkan. Aku berjanji.”

Alden hanya mengangguk, lalu mengambil kembali keranjangnya.

“Sekarang, ayo kembali ke pondok. Kau harus beristirahat untuk besok.”

Elara mengangguk patuh, berjalan di belakangnya. Tapi langkahnya ringan, jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Untuk pertama kalinya sejak lama, hatinya merasa hangat.

“Terima kasih, Paman…” bisiknya lirih.

Alden menoleh sekilas. “Apa kau berkata sesuatu?”

Elara tersenyum. “Tidak, Paman. Hanya berbicara pada musim semi yang telah berlalu.”

Alden menggumam kecil, separuh kesal, separuh geli.

“Kau ini benar-benar gadis aneh.”

Dan di balik ucapannya itu, ada kehangatan yang tak pernah seorang Alden tunjukkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!