NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Tameng Debu Semen

Niko melangkah masuk ke dalam kedai dengan ekspresi seolah-olah ia sedang melewati tumpukan sampah. Sepatu pantofelnya yang mengkilap beradu dengan lantai semen kedai yang tidak rata, menciptakan bunyi yang kontras dengan suasana pedesaan di luar. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, lalu menutup hidungnya sejenak.

"Gia, aku sudah mencarimu ke mana-mana, dan ternyata kamu berakhir di sini? Menjadi pelayan di warung reyot yang bahkan tidak punya pendingin ruangan?" Niko tertawa sinis, matanya menyapu seisi kedai dengan hinaan yang nyata.

Gia merasa lidahnya kelu. Rasa sakit hati yang ia kubur dalam-dalam selama tiga bulan terakhir mendadak meluap kembali. Niko bukan hanya menghancurkan hatinya dengan berselingkuh, tapi pria itu juga yang memfitnahnya melakukan penggelapan dana kantor hingga Gia dipecat secara tidak hormat.

"Apa yang kamu lakukan di sini, Niko? Pergi," suara Gia bergetar, meski ia berusaha keras untuk tetap terdengar tegar.

"Pergi? Aku ke sini untuk memberimu kesempatan, Gia. Ayolah, aku tahu kamu tidak berbakat hidup miskin. Kembalilah ke Jakarta, aku bisa mengatur agar namamu bersih, asal kamu mau menuruti permintaanku," Niko melangkah mendekat, mengabaikan keberadaan Rian yang masih merangkul bahu Gia.

Baru saja Niko hendak menyentuh tangan Gia, Rian berdeham sangat keras. Ia melepaskan rangkulannya dari bahu Gia, lalu berpindah posisi berdiri tepat di depan gadis itu, menghalangi pandangan Niko.

"Waduh, Tuan Jas Rapi," sela Rian dengan suara berat yang sengaja dibuat ramah namun terdengar menyindir. "Di sini aturannya jelas. Kalau mau bicara sama Neng Gia, harus beli kopi dulu. Dan kalau mau bicara sombong, tarifnya beda lagi, Mas. Harus bayar pajak polusi suara."

Niko mengernyitkan dahi, menatap Rian dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Siapa kamu? Tukang sampah? Singkirkan tangan kotormu itu dari hadapanku. Kamu tidak tahu siapa aku, hah?"

Rian bukannya takut, ia justru terkekeh pelan. Ia mengangkat tangannya yang kasar dan masih ada sedikit sisa debu semen kering, lalu dengan sengaja menepuk-nepuk pundak jas mahal Niko. "Saya? Saya ini nasabah prioritas di sini, Mas. Utang saya banyak, jadi saya punya hak istimewa buat jagain pemilik kedainya dari lalat-lalat besar yang bau minyak wangi mahal tapi hatinya busuk."

"Kamu!" Niko berteriak, wajahnya merah padam saat melihat noda abu-abu samar tertinggal di jas kasmirnya. "Jangan lancang! Jas ini harganya lebih mahal dari seluruh isi warung kumuh ini!"

"Oh ya?" Rian menaikkan sebelah alisnya, wajahnya yang penuh keringat kini tampak sangat provokatif. "Di sini, jas Mas itu nggak berguna. Kalau Mas nggak bisa bantu Neng Gia cuci piring atau angkut karung kopi, mending Mas balik ke kota aja. Kasihan mobilnya, nanti debu desa ini bikin mesinnya batuk-batuk."

Gia terpaku di belakang punggung Rian. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Selama ini, Niko selalu mendominasi hidupnya, menekannya, dan membuatnya merasa kecil. Namun hari ini, seorang pria yang bahkan tidak punya uang untuk membayar secangkir kopi hitam, berdiri dengan kepala tegak membelanya di depan orang paling berkuasa yang pernah ia kenal.

"Gia, kamu lebih memilih dibela oleh gelandangan ini?" Niko menatap Gia melewati bahu Rian. "Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat. Apa yang bisa diberikan pria ini padamu? Cinta? Rumah dari kardus?"

Gia menarik napas panjang. Ia melangkah maju, berdiri di samping Rian. "Dia punya sesuatu yang tidak pernah kamu miliki, Niko. Dia punya harga diri yang tidak perlu dibeli dengan uang."

"Gia!"

"Pergi, Niko. Sebelum aku memanggil warga desa dan memberitahu mereka kalau ada orang kota yang sedang menghina satu-satunya kedai kopi di kampung ini," ancam Gia dengan nada dingin yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya.

Niko mengepalkan tinjunya. Ia tahu, di desa seperti ini, sentimen warga terhadap "orang kota yang sombong" sangat kuat. Dengan geram, ia memutar tubuhnya, melangkah keluar kedai menuju mobil sedannya. Sebelum menutup pintu mobil, ia sempat berteriak, "Kamu akan menyesal, Gia! Kamu akan memohon padaku untuk membawamu pergi dari lumpur ini!"

Mobil mewah itu melaju kencang, meninggalkan kepulan debu yang tebal di depan kedai. Gia mendesah panjang, bahunya merosot lemas. Seluruh energinya seolah terkuras habis.

"Neng, jangan dipikirin. Orang kayak gitu biasanya cuma berisik di mulut, tapi hatinya kecil kayak kerikil," ujar Rian sambil kembali duduk di kursinya seolah tidak terjadi drama apa pun.

Gia menatap Rian dengan tatapan yang sulit diartikan. "Terima kasih, Rian. Tapi... jas dia beneran mahal. Kamu nggak takut dia bakal balas dendam?"

Rian tertawa terbahak-bahak, lalu ia meminum sisa kopinya hingga tandas. "Takut? Saya ini sudah biasa kena reruntuhan bangunan, Neng. Kena gertakan orang pakai jas itu rasanya cuma kayak digigit nyamuk. Lagian, anggap saja tadi itu cicilan buat lunasin utang kopi saya hari ini, ya? Berarti utang saya berkurang seribu?"

Gia tidak tahan untuk tidak tersenyum tipis. "Enak saja! Seribu tetap seribu. Tapi... ya sudah, khusus hari ini, utangmu aku hapus satu baris."

"Nah, gitu dong! Senyum itu bikin kopi jadi manis beneran," Rian mengedipkan sebelah matanya, lalu bangkit berdiri. "Saya balik ke proyek dulu ya. Mandor galak sudah nungguin. Sampai ketemu nanti sore, Barista Cantik!"

Rian melenggang pergi dengan sandal jepitnya yang berbunyi tak-tek-tak-tek, meninggalkan Gia yang kini berdiri sendirian di kedai. Namun kali ini, aroma kopi di sana tidak lagi terasa pahit oleh kegagalan. Ada sedikit rasa hangat yang tersisa di sana, rasa hangat yang tidak berasal dari mesin espresso, melainkan dari punggung lebar seorang pria berkos oblong pudar yang baru saja menjadi tamengnya.

Gia menatap buku catatan utang di atas meja. Ia mengambil pena, lalu mencoret satu baris nama Rian. Namun di bawahnya, ia menuliskan sesuatu yang tidak pernah ia duga akan ia tulis: Terima kasih, si Tukang Utang.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!