NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 28

Memori adalah labirin yang terkadang membawa kita kembali ke sudut paling gelap yang ingin kita lupakan. Bagi Indah, masa lalu adalah sebuah ruangan sunyi di tengah keramaian.

### Masa Lalu: Sekolah Dasar

Suasana kelas 2 SD itu sangat riuh. Cahaya matahari masuk melalui jendela, menerangi debu-debu yang beterbangan seiring dengan langkah kaki anak-anak yang berlarian.

"Baiklah anak-anak manis!" seru Ibu Guru dengan senyum ceria. "Sekarang waktunya tugas prakarya menggambar! Ayo, cari kelompok kalian masing-masing, satu kelompok tiga orang ya!"

Dalam sekejap, kelas berubah menjadi medan tempur kecil.

"Santi, sama aku ya!" "Budi, sini!" Suara tawa dan teriakan gembira memenuhi ruangan. Namun,

di tengah badai aktivitas itu, seorang anak perempuan kecil dengan rambut dikuncir dua hanya duduk mematung.

**Indah kecil** hanya menatap jemarinya yang saling bertaut di atas meja.

Setelah hiruk-pikuk mereda, Ibu Guru berjalan berkeliling dan langkahnya terhenti di depan meja Indah.

"Lho, Indah... kamu sendiri lagi?" tanya Ibu Guru dengan nada prihatin yang justru terasa menyakitkan.

"Anak-anak, ada kelompok yang masih kurang satu orang? Ada yang mau bersama Indah?"

Seketika, suasana menjadi sunyi yang canggung. Seorang anak laki-laki di depan berceletuk, "Eeee... Indah? Tidak mau, Bu!"

"Iya, Bu! Indah itu aneh orangnya, diam terus seperti patung," sahut siswi lain sambil berbisik pada temannya.

"Dia tidak seru, Bu. Nanti tugas kita tidak selesai kalau sama dia," timpal yang lain dengan polos namun tajam.

Indah kecil hanya bisa menundukkan kepala sedalam-dalamnya, mencoba menghilang di balik bukunya.

Ibu Guru menghela napas panjang, suaranya mengecil. "Maaf ya, Indah... sepertinya kamu harus mengerjakan tugas ini sendiri lagi."

---

### Masa Lalu: Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Waktu berlalu, seragam berganti menjadi putih biru, namun luka itu seolah tumbuh bersama dirinya.

Di kelas SMP yang gaduh, sang guru baru saja menutup penjelasan di papan tulis.

"Tugas biologi ini dikerjakan berkelompok. Silakan bentuk kelompoknya sekarang," perintah sang Guru.

Lagi-lagi, skenario yang sama terulang. Indah remaja hanya terdiam di bangkunya, memandang ke luar jendela seolah-olah awan di langit lebih ramah daripada manusia di sekitarnya.

Salah satu pengurus kelas berteriak dari depan meja guru, "Woi! Siapa saja, masukkan Indah ke kelompok kalian! Ini tinggal dia yang belum dapat!"

"Eeeee..." gumam seorang siswa dari kelompok pojok.

"Aku malas sekali, dia orangnya aneh sekali," bisik seorang siswi dengan nada sinis yang sengaja diperkeras.

"Benar, dia itu suram. Kalau bicara dengannya seperti bicara dengan tembok," tambah yang lain sambil tertawa kecil.

Indah hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menundukkan kepala hingga rambutnya menutupi wajahnya yang mulai memanas karena malu dan sedih.

Malam harinya di rumah, Indah berbaring di kasurnya yang sempit.

Lampu kamar dimatikan, hanya menyisakan keremangan. Ia menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca.

"Eeeee... kata mereka," gumam Indah menirukan suara teman-temannya tadi dengan nada getir. "Sekolah itu... ternyata sulit sekali. Kenapa rasanya begitu jauh?"

---

### Masa Sekarang

*BIP! BIP! BIP!*

Suara alarm yang melengking memecah keheningan kamar.

Indah tersentak, matanya terbuka lebar dengan napas yang sedikit memburu. Ia segera duduk dan mematikan alarm tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar.

Ia menyeka keringat dingin di dahinya dan menghela napas panjang yang sangat berat. "Kenapa... kenapa mimpi itu harus datang lagi?" bisiknya lirih. Trauma masa lalu itu rupanya masih tersimpan rapi di bawah alam sadarnya.

---

Masa lalu kelas 2 SMA

Di pojok kelas, dua orang siswi sedang berbisik dengan wajah yang penuh penghakiman. Mata mereka sesekali melirik ke arah bangku paling belakang.

"Eh, kau lihat si Indah itu? Hobinya duduk diam di pojok, rambutnya menutupi wajah lagi. Suram sekali, kan?" bisik salah satu siswi.

"Iya, aura di sekitarnya seperti ada awan mendung permanen. Kalau aku lewat dekat mejanya, rasanya merinding sendiri. Kenapa ya ada orang se-antisosial itu?" timpal yang lain sambil tertawa kecil.

Tiba-tiba, seorang siswa dengan kacamata yang bertengger rapi dan wajah datar mendekat.

Itu adalah **Raka**, yang saat itu masih menjabat sebagai anggota departemen kedisiplinan OSIS, belum menjadi sang Wakil Ketua yang disegani.

"Siapa yang sedang kalian bicarakan sampai membawa-bawa cuaca mendung?" tanya Raka dengan suara dinginnya.

Kedua siswi itu terlonjak kaget. "Eh, Raka! Itu... kami hanya membicarakan Indah."

Raka menaikkan sebelah alisnya, tampak berpikir keras. "Indah? Siapa itu? Di kelas kita ada yang namanya Indah?"

Kedua siswi itu melongo, mulut mereka terbuka lebar. "Raka! Kau bercanda? Dia itu teman sekelas kita sejak semester lalu! Itu, yang duduk di pojok belakang yang selalu menunduk!"

Raka menatap ke arah yang ditunjuk. "Oh. Aku tidak menyadarinya."

Raka kemudian melangkah menuju meja Indah.

Indah yang sedang asyik membaca sebuah buku tipis langsung tersentak. Dengan gerakan panik yang kikuk, ia menyembunyikan buku itu di balik punggungnya.

"Halo," sapa Raka datar. "Apa yang kau sembunyikan itu? Sepertinya menarik sampai kau terlihat seperti buronan yang ketahuan polisi."

"T-tidak ada! Bukan apa-apa!" jawab Indah dengan wajah yang mulai memerah karena gugup. Ia semakin erat memeluk buku yang ternyata adalah komik romantis favoritnya.

Raka tidak memaksa. Ia menarik kursi di depan Indah dan duduk.

"Begini, daftar kelompok tugas Biologi sudah keluar. Aku, kau, dan dua orang lainnya satu kelompok. Jadi, mohon kerjasamanya." Raka memberikan senyum tipis—jenis senyum yang jarang ia tunjukkan.

Indah terpaku, lalu tersenyum canggung. "B-baik... mohon kerjasamanya juga, Raka."

Raka terdiam sejenak, ia menatap wajah Indah dengan intens seolah sedang melakukan analisis data.

Indah yang merasa tidak nyaman mulai gelisah. "Ehm... Raka? Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?"

"Tidak," jawab Raka tenang. "Aku hanya berpikir. Semua orang di kelas ini bilang kau itu 'suram'. Tapi setelah kulihat dari dekat, kau tidak suram sama sekali. Kau hanya... terlalu banyak bersembunyi."

Raka bangkit dan pergi begitu saja, meninggalkan Indah yang termenung. Kalimat itu adalah pertama kalinya seseorang melihat melampaui "awan mendung" yang ia buat sendiri.

---

### Masa Sekarang: Kelas 3-2

Suasana kelas 3-2 sedang gaduh. Guru Kimia baru saja mengetuk meja. "Anak-anak, buat kelompok berempat untuk tugas tabel periodik ini! Sekarang!"

Seketika, trauma masa lalu Indah sempat berdenyut.

Ia hanya terdiam, tangannya mulai dingin, menunggu saat-saat ia akan tersisih lagi. Namun, belum sempat ia menundukkan kepala, sebuah meja ditarik dengan kasar dan diletakkan tepat di depan mejanya. *BRAK!*

"Baiklah! Semuanya berkumpul di sini!" seru Raka yang kini sudah menjadi Wakil Ketua OSIS yang berwibawa.

Indah berkedip bingung. "Eh?"

"Lily! Pinjam pulpenmu satu, punyamu kan banyak sampai bisa buat buka toko!" teriak **Kael** yang tiba-tiba datang menggeser mejanya ke samping meja Indah.

**Lily** datang menyusul, meletakkan mejanya dengan rapi di sisi lain. "Tidak mau! Kau itu kalau pinjam pulpen sukanya digigit-gigit sampai hancur!"

"Pelit sekali! Padahal aku mau menulis dengan penuh perasaan!" balas Kael dramatis.

Mereka berempat kini duduk melingkar. Indah masih mematung, menatap kawan-kawannya dengan tatapan tak percaya.

Lily mengabaikan rengekan Kael dan menatap Raka. "Oke, Raka. Kau yang bagian buat materi dan pembagian datanya."

"Tunggu, kertasnya cukup tidak?" tanya Kael sambil membongkar tas Lily.

"Bukankah sudah kubilang cukup semalam di grup?" sahut Lily ketus.

Raka mengecek tasnya sendiri. "Apa ada yang membawa kertas HVS? Kalau pakai buku tulis, tabelnya akan terlalu kecil." Tidak ada yang menyahut.

Raka kemudian menoleh pada Indah. "Indah, kau bawa penggaris panjang, kan? Bisakah kau bantu membuatkan kerangka tabelnya di kertas manila ini? Tulisan tanganmu paling rapi di antara kita."

Indah sempat termenung, bayangan masa SD dan SMP-nya yang sendirian melintas sekejap. Namun suara ribut Kael dan Lily membuyarkannya.

"LILY! ITU PULPEN WARNA PINK-KU! KEMBALIKAN!" Ucap kael

"Ini pulpenku, Kael! Ada stiker namaku di sini, bodoh!" Ucap Lily

"Mungkin kau mencuri namaku!"ucap kael

"DIAM!" bentak Raka sambil memijit pelipisnya. "Kael, pakai pulpen ini atau aku akan menusuk hidungmu pakai pensil ini. Lily, biarkan dia diam."

Indah menarik napas panjang, sebuah senyuman tulus merekah di wajahnya. Ia mengambil penggaris dan mulai menggaris kertas dengan mantap.

"Dulu, aku selalu takut pada saat-saat seperti ini,"* batin Indah sambil menatap kawan-kawannya yang masih berdebat kecil.

"Tapi ternyata, dunia tidak selalu sejahat mimpinya. Kadang, kita hanya perlu ditemukan oleh orang-orang yang tepat untuk menyadari bahwa kesendirian itu hanyalah bayangan, dan kebersamaan adalah cahaya yang menghapusnya."

"Baiklah, aku akan buatkan tabelnya. Kalian siapkan datanya, ya," ucap Indah dengan suara yang kini terdengar stabil dan penuh percaya diri.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!