"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pengecoh dan Sang Algojo
Langit Jakarta menyambut kepulangan Arkan dan Alana dengan kilatan petir yang membelah kegelapan. Pesawat jet pribadi mereka mendarat di pangkalan udara militer yang sunyi, jauh dari jangkauan mata-mata Kevin yang berjaga di Bandara Soekarno-Hatta. Udara lembap ibu kota terasa berat, seolah membawa beban dosa yang sudah lama terkubur.
Di dalam limusin yang melaju kencang menuju pusat kota, Arkan dan Alana duduk bersisian dalam keheningan yang tegang. Arkan mengenakan rompi antipeluru di balik kemeja hitamnya, sementara Alana menggenggam tas kulit berisi rekaman suara Adrian dan dokumen brankas Jenewa.
"Kita tidak bisa menyerang secara frontal," Arkan memecah kesunyian. Suaranya terdengar seperti gesekan logam, dingin dan tanpa ampun. "Kevin sudah menyebar orang-orangnya di gudang pelabuhan lama. Dia menunggu kita datang untuk menyerahkan bukti itu. Jika aku muncul di sana, dia akan membunuh Elena dan bayi itu seketika karena dia tahu aku adalah ancaman terbesarnya."
Alana menoleh, matanya berkilat penuh tekad yang tidak pernah ada sebelumnya. "Maka biarkan saya yang pergi ke sana sendirian. Kevin meremehkan saya. Baginya, saya hanyalah gadis miskin yang Anda bayar untuk menjadi boneka. Dia tidak akan menganggap saya sebagai ancaman fisik."
Arkan mencengkeram tangan Alana. "Itu terlalu berbahaya, Alana. Kevin adalah sosiopat. Dia tidak akan ragu menyakitimu."
"Tuan," Alana membalas genggaman tangan Arkan, mencoba memberikan kekuatan. "Anda harus pergi ke gedung pusat Arkananta Group. Pukul sembilan pagi ini, Kakek telah memanggil dewan komisaris untuk melengserkan Anda berdasarkan bukti palsu yang diberikan Kevin. Jika Anda tidak ada di sana untuk memutarbalikkan fakta dengan rekaman Adrian, kita akan kehilangan segalanya—termasuk perlindungan hukum untuk bayi itu. Biarkan saya menjadi pengalih perhatian. Saya akan membawa kotak musik itu ke Kevin."
Arkan menatap Alana dalam-dalam. Ada pergulatan hebat di matanya antara logika seorang CEO dan perasaan seorang pria yang mulai mencintai wanita di depannya. Akhirnya, ia mengangguk perlahan.
"Aku akan menempatkan tim penembak jitu rahasia di sekitar gudang itu. Mereka tidak akan bergerak sampai aku memberikan kode. Pakailah ini," Arkan memberikan sebuah anting mutiara kecil. "Ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah pemancar GPS dan mikrofon dua arah. Aku akan mendengar setiap kata yang kau ucapkan."
Penyusunan Strategi di Ambang Kehancuran
Rencana pun dijalankan. Mobil mereka berpisah di persimpangan jalan protokol. Arkan menuju jantung kekuasaan Arkananta, sementara Alana, dengan kawalan tim keamanan yang menyamar sebagai sopir taksi daring, bergerak menuju kawasan pelabuhan yang terbengkalai.
Di dalam taksi, Alana mencoba mengatur napasnya. Ia mengingat setiap detail dari masa kecilnya yang sulit, bagaimana ia harus berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi. Kekerasan mental yang ia alami saat menghadapi Kakek Arkananta dan kegilaan Elena telah menempa mentalnya menjadi baja.
Aku bukan lagi Alana yang lemah, batinnya. Aku adalah pelindung masa depan Adrian.
Di Gudang Pelabuhan: Labirin Kematian
Gudang nomor 14 itu tampak mengerikan di bawah gerimis tipis. Alana melangkah keluar dari mobil, membawa kotak musik kayu di tangannya. Bau karat dan air laut yang membusuk memenuhi udara. Dua pria bertubuh besar dengan tato di leher menggeledahnya dengan kasar sebelum mengizinkannya masuk.
Di tengah ruangan luas yang remang-remang, sebuah lampu gantung bergoyang pelan, menyinari pemandangan yang menghancurkan hati Alana. Elena terikat di kursi kayu, wajahnya lebam dan rambutnya kusut. Di sampingnya, sebuah inkubator portabel berdengung rendah. Bayi itu diam, mungkin kelelahan setelah menangis berjam-jam.
"Selamat datang, Nyonya CEO gadungan," suara Kevin menggema dari kegelapan di atas balkon lantai dua.
Kevin turun dengan langkah santai, memegang sebuah tablet yang menampilkan siaran langsung dari ruang rapat dewan komisaris Arkananta Group. "Kau tepat waktu. Lihatlah di layar ini. Arkan sedang berjalan masuk ke ruang rapat. Dia sedang menuju jebakan yang kusiapkan. Kakek akan mencopotnya dalam hitungan menit."
Alana berdiri tegak, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. "Tuan Arkan tidak selemah yang Anda kira, Kevin. Dan saya di sini bukan untuk melihat drama keluarga Anda. Saya membawa apa yang Anda inginkan."
Ia mengangkat kotak musik itu. "Lepaskan Elena dan bayi itu sekarang, maka kotak ini menjadi milikmu."
Kevin tertawa sinis. "Kau pikir kau punya posisi untuk menawar? Aku bisa membunuhmu sekarang, mengambil kotak itu, dan tetap menjadi pahlawan bagi Kakek."
"Anda salah," Alana melangkah maju satu langkah, suaranya jernih dan tegas. "Kotak ini memiliki sistem pengunci otomatis yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari saya sekarang. Arkan sudah mengubah protokolnya sebelum kami berangkat dari Swiss. Jika Anda membunuh saya, kotak ini akan terkunci selamanya, dan bukti-bukti di dalamnya akan terkirim secara otomatis ke Interpol melalui server rahasia."
Itu adalah gertakan, namun Alana mengucapkannya dengan keyakinan yang luar biasa. Kevin berhenti tertawa. Matanya menyipit, menatap Alana dengan penuh kebencian.
Di Ruang Rapat: Sang Algojo Muncul
Sementara itu, di lantai 50 gedung Arkananta Group, suasana sangat mencekam. Kakek Arkananta duduk di kursi utama, dikelilingi oleh para pemegang saham kawakan yang wajahnya tampak cemas.
"Berdasarkan dokumen yang diajukan oleh Kevin Arkananta," Kakek memulai dengan suara berat, "saudara kita Arkananta telah melakukan pembohongan publik, pemalsuan identitas istri sahnya, dan penyalahgunaan dana yayasan untuk kepentingan pribadi. Dengan ini, saya mengusulkan pemecatan tidak terhormat—"
BRAK!
Pintu ruang rapat terbuka dengan paksa. Arkan melangkah masuk dengan aura yang begitu mengintimidasi hingga beberapa komisaris refleks berdiri. Ia tidak tampak seperti pria yang sedang terpojok; ia tampak seperti seorang raja yang kembali untuk merebut tahtanya.
"Pemecatan?" Arkan meletakkan tas kerjanya di atas meja marmer dengan dentuman keras. "Sebelum Anda memecat saya, Kek, mungkin dewan komisaris ingin mendengar suara dari masa lalu. Suara yang Anda coba kubur di dasar Danau Jenewa sepuluh tahun yang lalu."
Arkan mengeluarkan alat perekam dari Jenewa dan menghubungkannya ke sistem audio ruangan. Kakek tampak memucat, tangannya yang memegang tongkat mulai bergetar.
"Satu matahari sudah cukup. Arkan, ingat ini: kekuatan dibangun di atas pengorbanan yang paling pahit..."
Suara Kakek yang dingin menggema di seluruh ruangan. Para komisaris saling berpandangan dengan wajah ngeri. Ini bukan sekadar skandal bisnis; ini adalah pengakuan atas penghilangan nyawa.
Puncak Konfrontasi
Kembali ke gudang, Kevin yang melihat siaran itu melalui tabletnya mulai panik. "Bajingan! Dia benar-benar membawanya!"
Kevin mencengkeram leher Alana dan menodongkan pistol ke pelipisnya. "Berikan kodenya! Sekarang! Atau aku akan menembak bayi ini dulu sebelum aku menghabisimu!"
Alana merasakan dinginnya moncong senjata di kulitnya, namun ia tetap tenang. Ia tahu Arkan bisa mendengar semuanya melalui antingnya. "Kevin, lihatlah layar itu. Kakek sudah kehilangan kekuatannya. Jika Anda membunuh kami sekarang, Anda hanya akan menjadi buronan. Menyerahlah, dan mungkin Arkan akan memberikan belas kasihan."
"Belas kasihan? Di keluarga ini tidak ada belas kasihan!" teriak Kevin gila.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar. Bukan dari pistol Kevin, melainkan dari penembak jitu Arkan yang membidik bahu Kevin melalui jendela atas gudang.
"AAARGH!" Kevin terjatuh, senjatanya terlepas.
Alana segera berlari menuju inkubator, mendekap bayi itu dalam pelukannya sambil berteriak memanggil tim medis yang sudah bersiaga di luar. Pengawal Arkan menyerbu masuk, melumpuhkan sisa anak buah Kevin dalam hitungan detik.
Akhir yang Menjadi Awal
Satu jam kemudian, Arkan tiba di lokasi dengan pengawalan polisi. Ia berlari masuk ke gudang, melewati Kevin yang sedang diborgol dan diobati lukanya. Matanya hanya tertuju pada satu orang.
Alana duduk di lantai, sedang menyuapi bayi itu dengan botol susu, sementara Elena sedang ditangani oleh paramedis di ambulans. Alana mendongak dan melihat Arkan.
Arkan berlutut di depan Alana, napasnya memburu. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar, ia menarik Alana dan bayi itu ke dalam pelukannya.
"Terima kasih," bisik Arkan di telinga Alana. Suaranya pecah oleh emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. "Terima kasih telah menyelamatkan keluargaku... dan menyelamatkanku."
Alana menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. "Kita berhasil, Tuan."
"Panggil aku Arkan," balasnya lembut.
Kakek Arkananta telah diamankan oleh otoritas atas tuduhan konspirasi dan pembunuhan. Kevin akan menghadapi tuntutan penculikan dan penggelapan dana. Namun, di tengah puing-puing kehancuran dinasti Arkananta, sebuah fondasi baru telah terbentuk.