Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - PENYESUAIAN
Tiga hari sudah berlalu sejak insiden basement yang memalukan itu.
Ash berdiri di tengah arena latihan guild, menatap target kayu di depannya dengan penuh konsentrasi. Keringatnya mengalir deras meski baru pagi. Matahari belum terlalu tinggi, tapi udara sudah mulai panas.
Di tangannya, mana berkumpul perlahan. Elemen api di tangan kanan, elemen petir di tangan kiri.
"Pelan-pelan," gumamnya pada diri sendiri. "Jangan overthinking. Ini cuma target kayu. Bukan monster. Bukan musuh. Cuma kayu tanpa nyawa."
Dia mencoba gabungkan kedua elemen itu. Api dan petir. Seharusnya bisa. Violet pernah bilang kombinasi elemen itu mungkin kalau kontrolnya cukup bagus.
Mana dari kedua tangannya mulai menyatu. Warna merah api bercampur dengan biru petir. Energinya bergetar, tidak stabil, tapi Ash coba pertahankan.
"Pelan... Pelan..." bisiknya sambil mulai arahkan ke target.
Eveline yang berdiri agak jauh sambil minum air langsung berteriak. "Ash, tunggu! Itu kelihatan tidak stabil! Jangan..."
Terlambat.
Ash melepaskan energi gabungan itu.
BOOM!
Ledakan besar terjadi. Bukan hanya target kayu yang hancur. Seluruh sisi arena latihan rusak. Tanah meledak. Debu beterbangan. Adventurer lain yang sedang latihan terpental ke belakang karena gelombang kejut.
Dan yang paling parah, atap gudang peralatan di sebelah arena runtuh sebagian.
Hening.
Semua orang menatap Ash dengan mata melotot.
Ash sendiri masih berdiri dengan tangan teracung, mulut terbuka lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Emm..." mulai Ash dengan suara pelan. "Prankkk!!..."
Resepsionis guild yang sedang lewat langsung teriak dari jendela. "ASH! INI SUDAH KETIGA KALINYA MINGGU INI! GUILD MASTER AKAN POTONG BAYARAN QUESTMU!"
Razen yang baru datang sambil bawa pedang latihan langsung menepuk dahinya sendiri. "Aku bilang apa. Aku bilang jangan coba kombinasi elemen kalau belum siap."
"Tapi Violet bilang aku bisa!" protes Ash.
"Ratu Violet itu penyihir genius yang latihan puluhan tahun! Kau bahkan belum sebulan menggunakan sihir!" Razen mendekati reruntuhan arena sambil menggeleng geleng kepala. "Berapa biaya perbaikan kali ini?"
Adventurer yang tadi terpental, seorang pria besar bertubuh kekar dengan jenggot cokelat tebal, bangkit sambil tepuk tepuk debu di bajunya. Dia tertawa keras.
"HAHAHA! Bocah, kau punya mana yang luar biasa! Tapi kontrolmu seperti anak ayam belajar terbang!"
Ash menoleh ke pria itu. Tubuhnya pendek, mungkin cuma seratus lima puluh sentimeter, namun lebar dan berotot. Kulitnya kecokelatan seperti terbakar matahari bertahun-tahun. Di punggungnya, kapak besar dengan ukiran rumit.
Dwarf.
"Maaf pak, aku tidak sengaja," ucap Ash sambil membungkuk.
Dwarf itu malah mendekat sambil masih tertawa. "Tidak sengaja? Bocah, kau baru saja buat ledakan sihir setingkat adventurer rank B! Untuk adventurer rank C, itu mengesankan! Meski... yah, kontrolnya masih parah."
Razen langsung hormat. "Tuan Rusk. Maaf atas kekacauan ini."
"Rusk Goldstrike," dwarf itu mengulurkan tangannya ke Ash. "Rank A. Dan kau pasti Ash yang terkenal itu. Yang selamat dari Fort Silvergate."
Ash menjabat tangannya. Genggaman Rusk sangat kuat, kulitnya kasar seperti batu. "Terkenal dengan cara yang salah, sepertinya?"
"Tidak ada terkenal dengan cara yang salah. Yang penting orang ingat namamu." Rusk menatap arena yang hancur dengan tatapan menilai. "Kombinasi api dan petir itu konsep bagus. Tapi kau terlalu terburu buru menyatukan keduanya. Mana tiap elemen punya frekuensi berbeda. Kalau paksa gabung tanpa sinkronisasi, ya jadinya ledakan seperti tadi."
"Lalu bagaimana caranya?" tanya Ash penasaran.
"Latihan. Ribuan kali. Sampai tubuhmu hapal ritme tiap elemen tanpa perlu mikir." Rusk menepuk bahu Ash. "Tapi kau punya potensi. Aku lihat itu. Ratu Violet tidak akan latih orang sembarangan."
Eveline mendekat sambil masih bawa botol air. "Tuan Rusk, apa benar Anda salah satu adventurer yang pernah bertemu langsung dengan The Roots?"
Mata Rusk berbinar. "Oh, kau tahu The Roots? Aku pernah menyelesaikan quest bersama dua dari mereka. Immortal Sword dan Beast King. Itu pengalaman yang... Sungguh luar biasa. Mereka itu level berbeda, kau tahu. Bukan cuma kuat. Tapi cara mereka bertarung, cara mereka berpikir, cara mereka mengatasi situasi sulit... seperti nonton legenda hidup bergerak."
"Apa itu The Roots?" tanya Ash.
"The Roots adalah 10 adventurer Rank S yang legendaris." jawab Rusk
"Legendaris? Seberapa kuat mereka?"
Rusk terdiam sebentar, seperti mencari kata yang tepat. "Aku tak tau seberapa kuat mereka, namun yang pasti sangat kuat, hingga mereka tak pernah gagal dalam quest"
"Siapa yang lebih kuat The Roots atau The Five?"
"Itu sudah beda kelas, The Roots memang kuat, namun The Five adalah puncak mahluk fana!"
Hening.
Pikiran Ash langsung muncul banyak hal, The Five lebih kuat dari The Roots, lalu sekuat apa morgana yang bisa memerintah Violet yang merupakan anggota The Five.
"Makanya aku bilang," lanjut Rusk sambil menepuk kapaknya. "Kalian masih muda. Masih punya waktu. Jangan terburu-buru jadi kuat. Nanti malah mati bodoh karena terlalu percaya diri."
Razen mengangguk setuju. "Nasihat yang bijak."
"Ngomong-ngomong," Rusk melirik ke arah papan quest di dekat guild. "Kalian sudah ambil quest hari ini?"
"Belum," jawab Eveline. "Kami masih... Belum menentukan akan ambil quest apa."
"Bagus. Aku ada rekomendasi." Rusk berjalan ke papan quest, mengambil satu kertas. "Quest rank C. Investigasi caravan yang hilang di hutan utara. Bayarannya lumayan, dua puluh silver. Dan aku rasa cocok untuk kalian. Tidak terlalu berat, tapi cukup menantang untuk mengasah skill."
Ash membaca kertas quest itu. Caravan dagang hilang tiga hari lalu. Terakhir terlihat memasuki hutan utara. Guild minta investigasi dan kalau mungkin, selamatkan.
"Kenapa tidak Anda yang ambil?" tanya Ash. "Atau mengapa tak ada yang ambil, bayarannya cukup banyak?"
"Karena aku sudah ada quest lain. Dan..." Rusk tersenyum. "Karna tak ada yang berani, hutan utara sangat tak tertebak, bisa menjadi tempat aman, namun juga bisa sangat berbahaya."
Razen menatap Ash dan Eveline. "Kalian bagaimana?"
Ash menatap kertas quest itu lagi. Investigasi. Bukan pertarungan langsung. Tapi tetap ada risiko. Hutan utara itu cukup berbahaya.
Tapi mereka butuh ini. Uang mereka sudah menipis, apalagi setelah Ash beberapa kali menghancurkan sesuatu.
"Aku setuju," ucap Ash.
Eveline mengangguk. "Aku juga."
"Bagus!" Rusk menepuk punggung Ash sampai Ash hampir tersedak. "Dan Ash, tolong jangan ledakkan hutan utara. Aku suka tempat itu."
"Aku usahakan," jawab Ash sambil nyengir.
Rusk tertawa lagi lalu berjalan pergi sambil melambai. "Sampai jumpa, bocah bocah! Jaga diri kalian!"
Setelah Rusk menjauh, Razen menatap arena yang hancur. "Kita harus lapor ke guild master tentang ini."
"Lagi?" Ash merintih. "Tak bisakah kita anggap saja ini ulah bencana alam?"
"Apa maksudmu. ini salahmu sendiri tidak bisa kontrol," ucap Eveline sambil mulai jalan ke gedung guild. "Ayo. Semakin cepat kita lapor, semakin cepat selesai."
Ash mengikuti dengan langkah berat. Di belakangnya, beberapa adventurer masih sibuk melihat reruntuhan arena sambil bergosip.
"Itu Ash kan? Yang dari Fort Silvergate?"
"Iya. Katanya dia punya mana gila besarnya. Tapi kontrolnya parah."
"Aku dengar dia rank C tapi bisa bikin ledakan rank B."
"Berbahaya sih. Tapi mengesankan."
Ash mendengar bisikan-bisikan itu tapi mencoba tidak peduli. Reputasi memang pedang bermata dua.
Sore harinya, setelah puas diomeli guild master dan membayar denda lima silver untuk perbaikan, Ash duduk di balkon kamar sambil menatap matahari yang mulai turun.
Tangannya masih gemetar sedikit. Efek samping dari ledakan tadi pagi. Mana di tubuhnya belum sepenuhnya stabil.
Ketukan pintu membuatnya menoleh.
"Masuk."
Eveline masuk sambil bawa nampan berisi roti dan sup. "Kau belum makan siang. Aku bawakan."
"Terima kasih." Ash menerima nampan itu. Sup hangatnya mengepul, baunya enak. Rotinya masih segar.
Eveline duduk di kursi seberang. "Tadi aku sparring dengan beberapa adventurer rank C lainnya."
"Bagaimana?"
"Mudah." Eveline menatap tangannya sendiri. "Terlalu mudah. Aku menang semua pertandingan tanpa kesulitan berarti. Sepertinya... Fort Silvergate membuat kita terlalu terbiasa dengan pertarungan level tinggi."
Ash memahami itu. Setelah bertarung melawan ksatria LightOrder yang setiap pukulannya bisa membunuh, sparring dengan adventurer biasa terasa seperti bermain-main.
"Itu bagus kan?" tanya Ash sambil makan roti.
"Aku tidak tahu." Eveline terlihat ragu. "Bagus karena kita jadi lebih kuat. Tapi... aku takut kita jadi terlalu percaya diri. Seperti yang Tuan Rusk bilang tadi. Terlalu percaya diri itu berbahaya."
"Maka kita harus tetap hati-hati," ucap Ash. "Quest besok itu test yang bagus. Investigasi caravan. Bukan pertarungan langsung. Kita bisa latih skill lain selain bertarung."
Eveline mengangguk. "Tracking, analisis, stealth. Skill yang aku kuasai."
"Dan aku bisa latih kontrol sihir tanpa harus ledakkan sesuatu." Ash tersenyum kecil. "Semoga."
Mereka terdiam sebentar, menikmati ketenangan sore.
"Ash," panggil Eveline pelan. "Apa kau masih mimpi tentang... Fort Silvergate?"
Ash berhenti makan. "Kadang-kadang. Kau sendiri?"
"Setiap malam." Eveline menatap langit sore. "Aku lihat wajah-wajah mereka. Tentara yang mati. Yang terluka. Yang berteriak minta tolong tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Razen bilang itu normal. Trauma butuh waktu untuk hilang."
"Aku tahu. Tapi tahu dan merasakan itu dua hal berbeda." Eveline menghela napas. "Kadang aku bertanya, apa kita sudah melakukan yang benar? Ikut perang itu?"
Ash menatapnya. "Kita bantu orang-orang yang diserang. Kita menyelamatkan nyawa. Itu yang benar."
"Tapi kita juga bunuh orang."
Hening.
Itu kenyataan yang tidak bisa mereka hindari. Di Fort Silvergate, mereka membunuh. Mungkin puluhan. Mungkin lebih. Ash tidak menghitung. Tidak mau menghitung.
"Eveline," ucap Ash pelan. "Aku tidak tahu apa yang kita lakukan itu benar atau salah. Yang aku tahu, kita lakukan itu untuk melindungi orang yang tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Dan... aku rasa itu cukup."
Eveline menatapnya lama. Lalu tersenyum kecil. Senyum yang jarang dia tunjukkan. "Terima kasih, Ash."
"Untuk apa?"
"Untuk tetap jadi Ash. Meski sudah melihat hal-hal mengerikan."
Ash tidak tahu harus jawab apa. Jadi dia hanya tersenyum balik.
Matahari mulai tenggelam. Langit berubah jingga kemerahan. Kota Vairlion mulai menyalakan lampu lampu jalan.
Kehidupan berlanjut.
Dan besok, quest baru menunggu.
Malam hari, di atap gedung seberang, sosok kecil berjubah hitam duduk sambil mengayunkan kaki.
Jack menatap kamar Ash dengan tatapan yang sulit dibaca. Di tangannya, jam saku tua berdetak pelan.
"Quest caravan besok," gumamnya pelan. "Timeline alpha, mereka bertemu corrupted wolves. Selamat semua. Timeline beta, mereka temukan jebakan. Razen luka. Timeline gamma..."
Dia menutup jam saku itu.
"Semoga mereka beruntung," bisiknya. "Karena keberuntungan itu satu-satunya yang tidak bisa ku kontrol."
Lalu dia berdiri dan menghilang ke dalam bayangan malam.
Meninggalkan angin yang berhembus pelan.
kalau bisa crazy up thor🤭🤭🤭