NovelToon NovelToon
Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Lima tahun lalu, malam hujan hampir merenggut nyawa Kapten Shaka Wirantara.
Seorang wanita misterius berhelm hitam menyelamatkannya, lalu menghilang tanpa jejak. Sejak malam itu, Shaka tak pernah berhenti mencari sosok tanpa nama yang ia sebut penjaga takdirnya.

Sebulan kemudian, Shaka dijodohkan dengan Amara, wanita yang ternyata adalah penyelamatnya malam itu. Namun Amara menyembunyikan identitasnya, tak ingin Shaka menikah karena rasa balas budi.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan dingin dan penuh jarak.

Ketika cinta mulai tumbuh perlahan, kehadiran Karina, gadis adopsi keluarga wirantara, yang mirip dengan sosok penyelamat di masa lalu, kembali mengguncang perasaan Shaka.
Dan Amara pun sadar, cinta yang dipertahankannya mungkin tak pernah benar-benar ada.

“Mas Kapten,” ucap Amara pelan.
“Ayo kita bercerai.”

Akankah, Shaka dan Amara bercerai? atau Shaka memilih Amara untuk mempertahankan pernikahannya, di mana cinta mungkin mulai tumbuh.

Yuk, simak kisah ini di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Penyesalan itu selalu datang terlambat

Malam semakin larut, tapi rumah besar keluarga Wirantara belum juga tenang. Lampu di ruang tamu masih menyala redup, menyoroti wajah Merlin yang duduk diam di kursi panjang. Tangannya gemetar, secangkir teh di depannya sudah dingin. Dari arah tangga, langkah Shaka terdengar pelan, nyaris tanpa suara.

“Masih belum tidur, Bu?” suaranya serak, lirih, penuh penyesalan. Merlin tidak menjawab, dia hanya menatap kosong ke arah cangkir itu. Setelah beberapa detik hening, ia berkata pelan, “Kenapa baru sekarang kamu sadar, Shaka?”

Nada suaranya bukan lagi amarah, tapi campuran sedih dan kecewa yang menyesakkan. Shaka mendekat, berlutut di hadapan ibunya.

“Aku sudah menghancurkan segalanya, Bu…” ujarnya lirih. “Aku menyakiti orang yang seharusnya aku lindungi.”

Air mata menetes dari sudut mata Merlin. Ia menyentuh kepala putranya, membelai dengan lembut tapi getir.

“Amara perempuan baik, Shaka. Dia hanya ingin dicintai tanpa dicurigai. Tapi kamu terlalu keras kepala, terlalu buta oleh amarahmu sendiri.”

Shaka menunduk semakin dalam, bahunya bergetar menahan emosi.

“Aku akan menemukannya, Bu. Apa pun yang terjadi.”

Merlin menghela napas panjang, lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara ingin menahan, tapi juga sadar tidak ada gunanya melarang lagi.

“Kalau kamu pergi, jangan pulang sebelum kamu membawa dia kembali,” katanya dengan suara bergetar. “Aku tidak ingin kehilangan dia seperti aku kehilangan dirimu malam ini.”

Shaka menatap ibunya, lalu perlahan berdiri.

“Terima kasih, Bu…”

Dia memeluk Merlin erat, pelukan pertama setelah sekian lama jarak dan kesalahpahaman memisahkan mereka. Kemudian, tanpa banyak kata lagi, Shaka melangkah keluar rumah dengan langkah mantap.

Hujan mulai turun, menetes pelan di atas jalanan yang gelap.

Beberapa jam kemudian, di ruangan pribadi Tuan Wirantara, pria tua itu memandangi jendela dengan napas berat.

Haris masuk membawa beberapa berkas dan melaporkan,

“Semua jaringan bisnis masih dibekukan, Tuan. Tak ada kabar dari Bu Amara, dan Tuan Edward juga menolak semua komunikasi dari pihak kita.”

Tuan Wirantara mengangguk pelan.

“Biarkan saja, Haris. Shaka butuh waktu untuk menebus dosanya.”

Dia menatap keluar jendela, ke arah hujan yang kian deras. “Anak itu keras kepala seperti Kakeknya. Tapi aku tahu … ketika dia mencintai seseorang, dia akan mencintainya sampai mati.” Kata Wirantara untuk Amara.

Sementara itu, di luar sana, di bawah langit malam yang sama Shaka menatap peta yang dipenuhi tanda merah dan catatan. Dia kembali menyalakan mesin mobil, menatap lurus ke depan, lalu bergumam pelan,

“Amara … tunggu aku.”

Dan mobil itu melaju menembus hujan, membawa Shaka menuju awal dari penebusannya sendiri. Hujan turun deras malam itu, membasahi seluruh permukaan jalan tol yang sepi. Hanya suara deru mesin dan hujan yang memecah kesunyian ketika mobil Shaka melaju menembus gelap. Matanya fokus ke depan, pikirannya kacau oleh ribuan bayangan wajah Amara, kata-kata ibunya, dan rasa bersalah yang tak kunjung hilang.

Namun, tak lama setelah lampu sorot mobilnya menembus kabut, beberapa mobil hitam tiba-tiba muncul dari sisi kanan dan kiri jalan, memotong laju mobilnya secara mendadak.

Shaka menginjak rem sekeras mungkin. Ban mobil berdecit keras, menciptakan suara gesekan yang menggema di antara hujan dan kabut malam.

“Brengsek…” desisnya pelan.

Dia menatap lurus, tangan kanannya perlahan meraih senjata yang tersimpan di bawah jok. Tapi sebelum sempat bereaksi lebih jauh, dua mobil lagi muncul di belakang, menutup seluruh akses keluar.

Perlahan, dari kendaraan-kendaraan itu, belasan pria berpostur besar keluar dengan wajah tertutup masker hitam. Beberapa membawa tongkat besi dan bisbol, sisanya memegang rantai logam. Mereka berjalan mendekat, melingkari mobil Shaka seperti kawanan serigala mengepung mangsa, Shaka menarik napas panjang. Ia tahu, malam ini bukan malam keberuntungannya.

“Kalau aku harus mati, aku mati sebagai Wirantara,” gumamnya lirih, lalu membuka pintu mobil dan turun.

Begitu kakinya menginjak aspal basah, suara logam beradu terdengar. Satu pria langsung melayangkan pukulan bisbol ke arah Shaka, namun Shaka berhasil menangkis dengan tangan, lalu membalas dengan tendangan keras ke perut lawannya.

Pertarungan pun pecah, Shaka melawan sendirian melawan lebih dari sepuluh orang. Setiap hantaman yang ia terima meninggalkan bekas, darah mengalir dari pelipisnya, tetapi Shaka terus bertahan, berusaha berdiri meski tubuhnya sudah limbung.

Satu pukulan keras menghantam bahunya dari belakang membuatnya jatuh tersungkur ke tanah. Saat salah satu penyerang mengangkat tongkat besi dan hendak memukul kepalanya, suara tembakan peringatan terdengar memecah udara malam.

Dor! Dor!

Semua orang terdiam, menoleh ke arah sumber suara. Dari kejauhan, lampu mobil lain menyorot tajam ke arah mereka, lalu suara langkah kaki terdengar semakin dekat.

“Cukup.”

Suara itu dalam dan tenang, tapi penuh wibawa. Shaka menatap samar melalui darah di pelipisnya. Saat sosok itu mendekat di bawah cahaya lampu mobil, matanya melebar.

“Zico...” ucapnya pelan, antara lega dan tidak percaya.

Zico menatap dingin ke arah para penyerang. “Pergi … sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran,” katanya datar.

Pria-pria itu saling berpandangan, lalu bergegas kabur, meninggalkan Shaka yang tergeletak lemah di tengah jalan tol yang tergenang air hujan. Zico berjongkok, menarik Shaka agar bersandar di bahunya.

“Bodoh,” gumamnya pelan. “Kalau kau terus begini, bagaimana bisa menebus kesalahanmu pada Nona Amara?”

Shaka mencoba bicara, tapi suaranya nyaris tak terdengar. “Kau … datang karena … dia, kan?”

Zico menatapnya, matanya dingin tapi ada sesuatu yang bergetar di sana.

“Tidak ada yang tahu aku di sini. Tapi kalau bukan karena dia … mungkin aku tak akan peduli.”

Tanpa menunggu, Zico memapah Shaka masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan menuju rumah sakit terdekat. Di dalam mobil, dengan napas tersengal, Shaka menatap jendela yang dipenuhi air hujan. Dalam samar, ia bergumam lirih,

“Amara … bahkan setelah semua yang kulakukan … kau masih menjagaku.”

Zico melirik sekilas ke arah pria yang setengah tak sadar di kursi penumpang. Ia tidak menjawab, hanya mempercepat laju mobil, wajahnya tegang tapi penuh tekad.

Langit pagi itu masih kelabu, sisa hujan semalam menetes pelan di kaca jendela rumah sakit. Bau antiseptik tajam memenuhi ruangan putih itu. Suara detak mesin monitor terdengar lembut, mengiringi napas berat seorang pria di ranjang pasien.

Shaka perlahan membuka mata. Pandangannya buram sesaat sebelum akhirnya bisa fokus pada cahaya putih di atas kepalanya. Tubuhnya terasa nyeri di hampir seluruh bagian, terutama bahu dan pelipis yang masih diperban.

Ia mencoba menggerakkan tangan, tapi suara lembut langsung menahannya.

“Jangan dulu, Nak.”

Shaka menoleh, di sisi tempat tidurnya duduk Nyonya Merlin, mata wanita itu sembab, namun tatapannya tetap tegas. Di sebelahnya berdiri Tuan Wirantara, sementara di sisi lain ada Karina, menunduk dengan wajah yang tampak bersalah.

“Bu…” suara Shaka serak, nyaris tak keluar.

Merlin menarik napas panjang, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Kau hampir mati, Shaka. Kalau orang yang menyelamatkanmu tidak cepat datang, mungkin kau sudah...”

Ia tak melanjutkan, tangannya menutupi mulutnya sendiri, menahan sesak di dada. Tuan Wirantara menatap Shaka tajam, wajahnya penuh amarah sekaligus kelelahan.

“Kalau bukan karena orang itu, mungkin aku sudah kehilangan anakku,” katanya tegas. “Kau tahu siapa yang menolongmu?”

Shaka terdiam, kepalanya berat, tapi ia masih mengingat jelas suara itu. Suara yang memerintah dengan tenang di tengah hujan.

“Zico,” gumamnya pelan.

Karina yang sejak tadi diam, menggigit bibirnya. “Tuan Zico? Asisten Mbak Amara itu?” sinis Karina.

Shaka menatap ke arah Karina, mata gelapnya kosong. “Ya … dia.”

Tuan Wirantara mendengus keras. “Orang itu datang tengah malam, meninggalkanmu di depan ruang IGD lalu pergi begitu saja. Tidak bilang sepatah kata pun.”

Ruangan itu hening sesaat. Hanya suara detak mesin monitor yang mengisi udara. Shaka membuka mata lagi, menatap langit-langit.

“Amara…” gumamnya lirih, nyaris seperti doa.

Karina memalingkan wajahnya, perasaan tak menentu berkecamuk dalam dirinya. Sementara Tuan Wirantara menatap anaknya dalam-dalam, lalu berkata pelan tapi mantap,

“Kalau kau benar-benar mencintai dia, jangan cari alasan lagi, Shaka. Carilah dia ... tapi kali ini bukan sebagai seorang Wirantara yang ingin berkuasa … melainkan sebagai pria yang tahu bagaimana cara menjaga wanita yang sudah terlalu sering terluka.”

Shaka menunduk, rahangnya menegang. Ia menggenggam seprai dengan tangan yang masih lemah.

1
Ning Suswati
jgn sampai karinanya dibunuh, biar tau rasanya disiksa lahir dan bathin, dan biarkan dia memohon untuk dibunuh,
Ning Suswati
siapa lagi dirga,
Ning Suswati
ada2 saja kaya gk ada laki2 lagi di dunia ini, dasar kunti laknat, semoga amara selalu didepan🤭
Ning Suswati
emangnya saka bisa apa, waktu ada gangguan di perusahaan wirantara aja amara yg segera bertindak, laupun dia sdh memutuskan untuk bercerai, tapi tetap peduli dg shaka, dan shaka tetap tdk mengakui, boro percaya apa yg sdh dilakukan amara pada perusahaannya, yg dufikirannya cuma nek kunti
Ning Suswati
ya begitulah sakitnya perempuan, bibir bisa memafkan tapi sulit untuk bisa melupakan, bayangkan karena hasutan nek kunti, sampai tdk mengakui anak yg dikandung amara dan banyak lagi, kata2, prilaku yg menyakitkan, lebih percaya orang lain daripada menggunakan otaknya sendiri, aq jadi curhat nih, karena itu aq merasakan
Ning Suswati
ya terserah amara lah, dia yg merasakan, orang lain hanya bisa menasehati dan memberi masukan, tapi gk pernah merasakan pada posisi amara selama 5 thn di sia2kan suami dan berjuang sendiri.
Ning Suswati
ya tuhan semoga amara segera selamat, amara hukan orang biasa kan, paati ada cara untuk bertindak dan menyelamatkan diri
Ning Suswati
semua nya yergantung taqdir, kalau memang bukan jodoh ya paling tidak jgn masuk ke lobang yg sama
Bulan Hampa
sengaja langsung lihat bab ahir kirain benar cerai, gajadi deh.
Ning Suswati
aq suka keputusan amara, laki2 tdk akan pernah berubah total, kalau ada maunya, ber baik2, tapi akan mengulanginya lagi
Ning Suswati
semua kehancuran keluarga saka, ortunya sendiri yg membuat nasib rumah tangga anaknya se hancur2nya, sdh tau ada kunti di dln rumah tapi diam selama ber thn2,
Ning Suswati
sama dong kayanya plan plin plen, sdh basi, emang masih ingin disakiti kembali, laki2 gk akan berubah, kecuali apa y🤔
Ning Suswati
kok zico yg jadi pelampiasan, emangnya ciuaman belum tuntas, sok2an merasa gagah, tapi dikadali laki2 dodol masih aja nyosor.
Ning Suswati
woooiiiii sdh pisah masih aja bikin masalah, selama ini kemana aja gk pernah membela dan percaya sama isteri sendiri, sekarang didekati laki2 lain sewot aja lho, sinting gila miring🤭
Fitri Guntoro
lanjut thor gantung banget deh
Ning Suswati
keegoisan ortu selalu dg nafsu tanpa perasaan, apa imbas dari keegoisan mereka
Ning Suswati
gk malu apa keluarga wirantara masih menyebut cucuku, selama ini kemana aja, membiarkan ular menyebarkan racun dlm rumah tapi tetap diam, pengausaha apa, pengusaha kotoran kali y🤔, biasanya pengusaha itu selalu berfikir dan bertindak, bukan diam seribu kata
Ning Suswati
seringkali kejadian ceritanya seperti ini, terus katanya tdk ingin lagi ketemu, masih ada rasa peduli, tapi apa lukanya amara sdh sembuh, terlalu baik juga jgn
Ning Suswati
terus siapa perempuan dan suaminya yg membela anak dan isterinya, tanpa tau masalah
Ning Suswati
yah kalamaan sampe 5 thn lagi2 5 thn, gk ada kata lain apa y, dan td siapa wanita yg ingin memukul azril, apakah nek kunti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!