Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 8
Matahari sudah menggantung cukup tinggi di atas cakrawala, menembus tirai sutra emas yang menyelimuti ranjang naga di Istana Chiangnang. Cahaya itu menerpa wajah Mu Lian, membuatnya mengerutkan kening dan perlahan membuka matanya.
"Gghhh..."
Mu Lian mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa berat yang luar biasa menghantam kepalanya, diikuti oleh rasa pegal yang menusuk di bagian pinggang dan punggung bawah. Ia mengerang pelan, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih tercecer.
"Apa yang terjadi?" bisiknya dengan suara serak.
Tangannya meraba permukaan ranjang yang dingin. Kosong. Yuhan sudah tidak ada di sana. Mu Lian kemudian menyadari sesuatu yang membuatnya membeku, tubuhnya hanya terbalut selembar pakaian dalam tipis. Ingatan tentang malam itu mulai berputar di benaknya seperti potongan-potongan lukisan yang kacau namun nyata. Aroma rempah di bak mandi, sentuhan tangan Yuhan yang lembut namun tegas, dan... gairah liar yang meledak begitu saja.
Bodoh, bodoh, bodoh! Mu Lian memaki dirinya sendiri dalam hati. Wajahnya yang biasanya kaku kini memerah hingga ke telinga. Dia adalah Maharani. Bagaimana bisa aku kehilangan kendali hanya karena uap rempah? Setelah ini, dia pasti akan murka karena aku telah melampaui batas.
Namun, saat ia mencoba menenangkan diri, Mu Lian merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Ada sebuah energi yang mengalir deras, hangat, dan sangat murni, berputar di pusat Dantian-nya. Ia segera duduk bersila, menutup matanya, dan memusatkan pikiran untuk memeriksa aliran tenaga dalamnya.
BOOM!
Sebuah ledakan energi kecil terjadi di dalam sistem meridiannya. Mu Lian terbelalak, napasnya tersengal.
"Kultivasi... Tian Di?" pekiknya tak percaya.
Ia merasakan peredaran darahnya mengalir selembut sutra namun sekuat air terjun. Tidak ada lagi sumbatan. Tidak ada lagi sisa racun yang menghambat pergerakannya.
"Apa ini... jangan-jangan akibat kultivasi ganda semalam?"
Kultivasi Tian Di adalah tingkat keenam pada tingkatan kultivasi. Hanya beberapa kultivator yang mampu mencapai tingkatan ini, dan sudah bisa menjadi guru atau sang ahli. Pada tingkat ini, seorang praktisi tidak lagi mengandalkan tenaga dalam internal semata, melainkan mampu menyerap energi dari alam semesta dan menguasai salah satu elemen dasar secara mutlak. Mu Lian bisa merasakan partikel energi di udara seolah menyambut kehadirannya.
Tiba-tiba, seorang dayang istana memberitahukan jika Wu Sheng ada di depan istana Chiangnang.
"Salam Pangeran Kelima, hamba Wu Sheng telah siap bertugas kembali di sisi Anda."
Mu Lian tersentak. "Wu Sheng? Masuklah!"
Pintu terbuka, dan Wu Sheng melangkah masuk dengan tegap. Mu Lian terkejut melihat pengawal pribadinya itu tampak sangat bugar, seolah luka parah kemarin hanyalah mimpi buruk. Namun, Wu Sheng-lah yang justru lebih terkejut saat melihat tuannya.
"Pangeran... wajah Anda..." Wu Sheng mematung di tempat. "Maafkan atas kelancangan hamba!"
Wu Sheng melangkah maju dengan cepat, jemarinya yang kasar dengan hati-hati mengambil selembar kulit mati yang mengelupas dari pipi kanan Mu Lian, bagian yang selama ini rusak oleh luka bakar.
"Pangeran, wajah Anda... ini sebuah keajaiban!" seru Wu Sheng dengan suara bergetar.
"Ambilkan cermin!" perintah Mu Lian, jantungnya berdebar kencang.
Seorang dayang segera membawakan cermin perunggu besar. Mu Lian menatap pantulannya dengan napas tertahan. Meskipun bayangannya agak buram, ia bisa melihat bahwa jaringan parut yang tebal dan mengerikan itu telah menipis secara signifikan. Warna kulitnya mulai merata, seolah-olah lapisan kulit baru yang sehat sedang tumbuh dari balik luka lama.
Mu Lian terdiam seribu bahasa. Ia mengusap pipinya. Yuhan... apa yang kau lakukan padaku semalam?
"Pangeran, bekas luka bakar Anda benar-benar mengalami perbaikan drastis," Wu Sheng memuji dengan tulus. "Ini benar-benar berkah dewa."
Namun, Mu Lian segera menarik diri dari kegembiraannya. Wajahnya kembali kaku. "Cukup. Ambilkan topengku. Di mana Maharani?"
"Maharani sudah berada di Balai Besar Keharmonisan sejak fajar, Pangeran," lapor Wu Sheng sambil membantu Mu Lian berpakaian. "Rapat pagi sedang berlangsung. Kabarnya, suasana sangat panas. Para menteri dan pejabat daerah sedang melaporkan krisis negeri; kekeringan parah di wilayah Barat dan kekurangan pangan di hampir seluruh provinsi."
Mata Mu Lian menyipit. "Krisis itu sudah terjadi berbulan-bulan, kenapa baru sekarang mereka melapor secara resmi?"
"Sepertinya mereka ingin menekan Yang Mulia Maharani Shen, Pangeran."
"Siapkan pakaianku sekarang!" perintah Mu Lian, suaranya mengandung otoritas baru. "Kita menuju Aula Keharmonisan. Aku tidak akan membiarkan serigala-serigala itu mencabik-cabiknya."
Aula Keharmonisan: Pengadilan Sang Maharani
Di dalam Aula Keharmonisan yang megah, udara terasa sangat berat, seolah-olah awan badai sedang terperangkap di bawah langit-langit berukir naga. Shen Yuhan duduk di singgasana emasnya, wajahnya tertutup cadar tipis namun sorot matanya yang tajam menembus siapa saja yang berani menatapnya.
Jenderal Perang Agung, Shue Wang, seorang pria tua dengan janggut putih dan bekas luka di leher, melangkah maju dan memberikan hormat yang kaku.
"Yang Mulia Maharani! Hamba melaporkan dengan berat hati bahwa pasokan makanan untuk prajurit di perbatasan Utara hanya tersisa untuk satu bulan!" suaranya menggelegar di aula. "Baju dingin kami sudah koyak, dan bangsa Tibet mulai mengerahkan pasukan untuk menembus celah gunung. Jika tambahan pasokan tidak segera dikirim, perbatasan akan runtuh!"
Sebelum Yuhan sempat menjawab, Menteri Keuangan Xuan Zhiang menyela dengan suara yang dibuat-buat sedih.
"Mohon ampun, Jenderal Shue! Cadangan keuangan kerajaan hampir kosong!" seru Xuan Zhiang sambil membungkuk ke arah Yuhan. "Biji-bijian, gandum, dan beras di gudang pusat hanya cukup untuk konsumsi keluarga kerajaan dan staf istana. Rakyat di luar sana tengah menghadapi kemarau panjang, tanah retak, dan gagal panen total. Tidak ada lagi yang bisa ditarik sebagai pajak!"
Menteri Pertanian dan Pangan juga ikut menimpali. "Benar, Yang Mulia! Rakyat mulai makan akar pohon dan tanah. Situasi ini sangat genting. Kami butuh solusi segera dari Yang Mulia agar penderitaan rakyat tidak semakin bergejolak!"
Yuhan mendengarkan semua itu dengan jari-jari yang mengetuk lengan singgasana secara ritmis. Gagal panen? Keuangan kosong? Benar-benar klise, batin Yuhan. Ia tahu betul, dalam memorinya, gudang-gudang menteri ini penuh dengan harta haram, sementara rakyat dibiarkan mati.
Di barisan depan, Perdana Menteri Han Tan melangkah maju dengan senyum tipis yang memuakkan.
"Yang Mulia Maharani," ucap Han Tan dengan nada tenang yang memprovokasi. "Kondisi negeri yang malang ini... banyak rakyat yang berbisik bahwa ini adalah tanda kemarahan Dewa Langit. Mereka bilang, langit murka karena pemimpin negeri ini tidak lagi cakap dan bijak dalam memerintah. Kesengsaraan ini adalah hukuman bagi kita semua."
BRAKKK!
yang bisa nolong si Maharani hanya mu Lian