NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: tamat
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan yang Belum Mati

Malam itu, kota terasa terlalu ramai untuk pikiran Kia yang sedang berantakan.

Ia berjalan menyusuri trotoar dengan langkah pelan, jaket tipis menahan angin yang menyusup ke kulit. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, meninggalkan kilau yang membuat segalanya terlihat lebih sendu dari biasanya. Di tangannya, ponsel bergetar pelan—nama yang sama, lagi.

Daffa.

Kia tidak langsung mengangkat. Ia berhenti di depan etalase toko yang sudah tutup, menatap pantulan dirinya sendiri. Perempuan dewasa dengan tatapan dingin, bahu tegap, dan jarak aman yang selalu ia jaga dari siapa pun. Enam tahun ia membangun ini. Enam tahun ia meyakinkan diri bahwa perasaan lama telah selesai.

Ponsel bergetar lagi.

Ia menghela napas, lalu mengangkat.

“Iya.”

“Gue nggak ganggu?” suara Daffa terdengar hati-hati, seperti dulu.

“Sedikit,” jawab Kia jujur. “Tapi nggak apa-apa.”

Ada jeda. “Lo di mana?”

“Lagi jalan.”

“Sendiri?”

Kia tersenyum kecil, getir. “Sejak kapan lo peduli?”

Sejak kapan—pertanyaan itu menggantung di udara. Daffa tertawa pelan. “Sejak dulu.”

Kia menutup mata sejenak. “Ada apa?”

“Gue cuma… pengen mastiin lo baik-baik aja. Setelah hari ini.”

“Hari ini,” ulang Kia. Pertemuan di kantor, tatapan yang terlalu lama, jeda-jeda canggung yang mengungkapkan hal-hal tak terucap. “Gue baik.”

“Boleh gue jemput?” tanya Daffa, pelan.

Kia ragu. Ada bagian dari dirinya yang ingin berkata tidak, yang ingin pulang dan menutup pintu rapat-rapat. Tapi ada bagian lain—yang lebih jujur, lebih lelah—yang ingin berhenti bersembunyi.

“Gue di taman dekat apartemen,” katanya akhirnya.

“Gue ke sana.”

Telepon ditutup. Kia berdiri lama, merasakan detak jantungnya sendiri yang terasa terlalu keras untuk malam yang seharusnya tenang.

Daffa datang sepuluh menit kemudian. Mobilnya berhenti di pinggir jalan, lampu sein berkedip lembut. Ia turun, mendekat dengan langkah ragu—seperti takut jarak ini akan memutuskan sesuatu yang baru saja tumbuh kembali.

“Kia,” sapanya.

“Daffa.”

Nama itu masih terdengar sama. Masih memantik sesuatu di dada Kia yang selama ini ia kunci rapat.

Mereka berjalan berdampingan tanpa tujuan jelas. Taman itu sepi; hanya ada bangku-bangku kosong dan suara dedaunan yang bergesek. Lampu taman membentuk lingkar cahaya kecil, cukup untuk memperlihatkan wajah Daffa yang kini lebih matang—rahang lebih tegas, tatapan lebih tenang.

“Gue nggak nyangka ketemu lo lagi kayak gini,” kata Daffa akhirnya.

“Gue juga,” jawab Kia. “Gue pikir… semua itu udah selesai.”

“Udah?” Daffa menoleh. “Buat lo?”

Kia berhenti berjalan. “Harusnya iya.”

Daffa ikut berhenti. Jarak di antara mereka tinggal satu langkah. “Tapi?”

Kia menelan ludah. “Tapi hidup nggak pernah nanya ‘harusnya’ ke gue.”

Mereka tertawa kecil—tawa yang rapuh, tapi jujur. Daffa mengangguk. “Gue berubah, Kia.”

“Semua orang berubah.”

“Gue tahu. Tapi gue pengen lo tahu—gue nggak datang buat ngulang luka.”

Kia memandangnya lama. “Terus lo datang buat apa?”

Daffa menghela napas, memilih kata-kata. “Buat ngaku kalau perasaan itu… belum mati.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat. Kia merasakan sesuatu menghangat di dadanya, diikuti rasa takut yang cepat menyusul.

“Lo gampang ngomong,” katanya lirih. “Lo nggak yang bangun tembok.”

“Gue juga bangun,” jawab Daffa. “Bedanya, tembok gue bolong.”

Kia tertawa singkat. “Puitis.”

“Jujur.”

Keheningan kembali mengisi ruang. Angin menggerakkan rambut Kia, dan Daffa tanpa sadar mengulurkan tangan—lalu menariknya kembali, menghormati jarak yang belum diberi izin.

“Lo takut?” tanya Daffa.

Kia mengangguk. “Takut berharap.”

“Gue juga.”

Mereka duduk di bangku taman. Bahu mereka hampir bersentuhan, tapi tidak. Di langit, awan bergerak lambat, seperti memberi waktu.

“Gue sering mikir,” kata Daffa pelan, “kalau dulu gue lebih berani, mungkin ceritanya beda.”

Kia menatap lurus ke depan. “Kalau dulu gue lebih lembut, mungkin gue nggak menyakiti semua orang.”

“Kita masih nyalahin diri sendiri?” tanya Daffa.

“Kadang.”

“Boleh gue jujur?” Daffa menoleh.

“Selalu,” jawab Kia.

“Yang bikin gue berhenti waktu itu bukan lo. Tapi ketakutan gue sendiri. Dan gue nggak mau ulangi itu.”

Kia menutup mata, menarik napas dalam. “Gue nggak mau janji.”

“Gue juga nggak minta,” kata Daffa. “Gue cuma mau mulai pelan.”

Kia membuka mata. “Mulai apa?”

“Kenal lagi,” jawab Daffa. “Sebagai dua orang dewasa. Tanpa menyelamatkan siapa pun.”

Kia menatapnya. Tatapan itu—tenang, tidak memaksa—membuat pertahanannya goyah.

“Pelan,” katanya akhirnya. “Dan jujur.”

Daffa tersenyum. “Deal.”

Hari-hari berikutnya terasa aneh—dan hangat.

Pesan singkat di pagi hari. Makan siang singkat di sela kerja. Tawa kecil saat ingat kebiasaan lama yang masih bertahan. Tidak ada sentuhan berlebihan, tidak ada pengakuan besar. Hanya kehadiran yang konsisten.

Suatu malam, mereka bertemu lagi. Di apartemen Kia. Hujan turun deras, dan Daffa terjebak macet.

“Masuk aja,” kata Kia di depan pintu. “Baju lo basah.”

Daffa tersenyum kikuk. “Gue janji nggak lama.”

“Minum teh doang.”

Apartemen itu rapi, minimalis—seperti pemiliknya. Daffa berdiri canggung, lalu duduk di sofa. Kia membuatkan teh, gerakannya tenang. Ada keintiman sederhana dalam rutinitas itu.

“Lo tinggal sendiri?” tanya Daffa.

“Iya.”

“Tenang,” katanya.

“Sepi,” jawab Kia jujur.

Daffa menatapnya. “Gue bisa pulang kalau lo mau.”

Kia menggeleng. “Nggak. Tinggal.”

Keheningan mengisi ruang. Hujan mengetuk jendela, menciptakan ritme yang menenangkan. Daffa menaruh cangkir, lalu menoleh. “Kia…”

“Iya?”

“Boleh?” Daffa mengangkat tangan, ragu.

Kia menatap tangan itu lama. Lalu mengangguk kecil.

Sentuhan itu ringan—ujung jari yang bertemu, telapak tangan yang hangat. Tidak ada ciuman. Tidak ada desakan. Hanya dua orang yang mengakui sesuatu yang lama mereka sangkal.

Kia menutup mata. Dadanya terasa penuh, tapi bukan sesak. “Gue lupa rasanya aman.”

Daffa mendekat sedikit. “Lo aman.”

Kia membuka mata. “Jangan janji.”

“Gue nggak janji,” jawab Daffa pelan. “Gue hadir.”

Kia mengangguk. “Itu cukup.”

Mereka duduk berdampingan, tangan masih saling menggenggam. Waktu berjalan pelan, seolah memberi ruang untuk napas baru.

Di luar, hujan mereda.

Dan di dalam, dua hati yang lama beku mulai mencair—perlahan, hati-hati—tanpa paksaan.

Karena perasaan itu memang belum mati.

Dan kali ini, mereka memilih untuk menjaganya.

...****************...

1
falea sezi
ya kok end kan blom. nikah daffa sama. kia Thor g ada boncap kah
sabana: maaf kak, sampai di sini aja ya kak.🙏
total 1 replies
falea sezi
sweet bgt si daffa
falea sezi
gini doank nih karma bapak nya sama. nenek. lampir h seru
sabana: jahat kan masalahnya 🤣
total 1 replies
falea sezi
emak kia lebih baik hati kan dripada emak lu yg egois perebut
sabana: 😄 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
ia lah pantas jangan ngerusak kebahagiaan kia.. dr awal lahir kia uda menderita sedangkan lu ma ibuk lu enak bgt hidup nya
sabana: iyah bener🤭
total 1 replies
falea sezi
cpet nikah deh kalian buat tara jangan ganggu kapal gue ini ya
sabana: 🤭 terimakasih
total 1 replies
falea sezi
moga daffa bisa nyembuhin luka kia
sabana: iyah🤭
total 1 replies
falea sezi
kurang ajar bgt ne mertua
sabana: emang nyebelin
total 1 replies
Amelia Kesya
hadir thor, kayaknya seru lajut dulu☺️
sabana: terimakasih, semoga betah 🤭
total 1 replies
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!