NovelToon NovelToon
Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Anime / Harem / Action / Romantis / Fantasi
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Hari pertama perjalanan berlalu tanpa kejadian apa pun.

Menjelang malam, rombongan akhirnya tiba di sebuah kota kecil.

“Kita istirahat di sini saja,” ujar Albert sambil turun dari kereta.

“Aku akan memesankan kamar untuk kalian juga.”

Setelah itu, Albert pamit lebih dulu menuju penginapan.

Wakasa, Diana, dan Starla memilih berjalan-jalan sebentar.

Kota itu memang tidak besar, tapi cukup ramai—

“Untuk ukuran kota kecil, tempat ini hidup juga ya,” ujar Diana sambil melihat sekeliling.

“Iya,” jawab Starla pelan.

“Tokonya banyak.”

Mereka pun mampir ke sebuah restoran sederhana untuk makan malam.

Suasananya hangat, makanan yang disajikan sederhana tapi cukup mengenyangkan.

Setelah makan, ketiganya kembali ke penginapan.

Sesampainya di penginapan, mereka langsung disambut oleh pemiliknya, seorang pria paruh baya dengan wajah ramah.

“Kamar kalian ada di lantai atas,” katanya sambil menyerahkan sebuah kunci.

Wakasa menerimanya… lalu berhenti.

“Eeh?”

Ia menatap kunci di tangannya.

“Pak,” katanya ragu,

“ini… cuma satu kunci?”

“Iya,” jawab pemilik penginapan santai.

“Kalian bertiga satu kamar.”

Wakasa langsung refleks meninggikan suara.

“Eeh?! Mana mungkin aku satu kamar dengan mereka! Aku laki-laki loh, Pak!”

Pipinya langsung memerah.

Diana menoleh dengan senyum jahil.

“Waw.”

Starla terdiam, wajahnya ikut memerah sambil menunduk.

Pemilik penginapan terlihat bingung sebentar, lalu tertawa kecil.

“Tenang saja, Nak. Kamarnya cukup luas.”

Wakasa menghela napas panjang, masih terlihat malu.

“Bukan soal luasnya itu…”

“Maaf ya,” lanjut pemilik penginapan,

“hari ini benar-benar penuh. Itu satu-satunya kamar yang tersisa.”

Suasana mendadak canggung.

Diana mengangkat bahu santai.

“Ya sudah, mau gimana lagi.”

Lalu ia menambahkan dengan nada sengaja dibuat ringan, sambil menengok ke arah Starla,

“Aku sih nggak keberatan.”

“Sepertinya Starla juga nggak keberatan tuh.”

“Eeeeeh?!”

Starla menoleh ke Diana sebentar, lalu cepat-cepat menunduk.

“…E-em,”

ia mengangguk kecil.

Wakasa yang melihat itu langsung panik.

“Eeeh?! Apa maksudmu, Diana?!”

Mulutnya terbuka lebar, wajahnya makin merah.

Ia buru-buru menghadap pemilik penginapan lagi.

“Anuu, Pak…”

“nggak ada kamar lain ya? Kamar penyimpanan barang juga nggak apa-apa deh…”

Nada suaranya terdengar semakin kecil, jelas malu tapi masih berusaha memohon.

Pemilik penginapan hanya menggeleng pelan.

“Maaf, Nak. Benar-benar tidak ada.”

Wakasa terdiam beberapa detik… lalu menyerah.

“…Baiklah.” jawabnya dengan muka lusuh dan pipinya masih memerah

Dengan satu kunci di tangan, mereka bertiga pun menaiki tangga menuju lantai atas—

Sesampainya di depan kamar, Wakasa langsung memasukkan kunci dan membuka pintu.

Klik.

Begitu pintu terbuka, mereka bertiga langsung terdiam.

Di dalam kamar itu—

hanya ada satu kasur.

Ukurannya memang besar, tapi tetap saja… satu.

Wakasa terpaku di tempat.

Otaknya seperti berhenti bekerja.

Starla menutup mulutnya refleks, wajahnya langsung memerah sampai ke telinga.

Jantungnya berdetak kencang, bahkan terlalu kencang.

Sementara itu, Diana justru menyeringai.

Tatapan usil langsung muncul di wajahnya.

“…Kenapa bisa begini…”

Wakasa berlutut pelan di depan pintu, menunduk sambil sedikit berteriak.

“Sudah, sudah,” kata Diana santai sambil melangkah masuk.

“Ayo masuk aja dulu.”

Starla ragu sejenak, lalu ikut masuk dengan langkah pelan.

Diana langsung duduk di atas kasur tanpa beban sedikit pun.

Starla pun ikut duduk di ujung kasur, tubuhnya kaku, tangannya saling menggenggam di pangkuan.

Sementara itu, Wakasa memilih menjauh.

Ia meringkuk di pojok depan lemari, memeluk lututnya dengan kedua tangan.

Ruangan itu pun hening.

Diana merebahkan diri di kasur, menepuk-nepuk sisi kosong di sampingnya dengan santai.

“Hmm~ kasurnya gede juga,” katanya sengaja pelan.

“Bertiga juga masih muat.”

Wakasa langsung menegakkan badan.

“A-apa yang kamu bicarakan!”

Starla yang duduk kaku di ujung kasur makin menunduk, wajahnya merah padam.

Ia tidak berani menatap siapa pun.

Diana melirik Wakasa dengan senyum penuh arti.

“Kenapa kamu panik banget?”

“Atau… Wakasa-kun kepikiran yang aneh-aneh?”

“Haaah apa maksud mu!” Wakasa cepat-cepat membantah.

Ia berdiri dan menunjuk lantai.

“Aku akan tidur di lantai aja.”

Diana mengangkat alis.

“Serius? Lantainya dingin, loh.”

“Justru itu,” jawab Wakasa tergesa.

“Biar… segar. Iya, segar.”

Ia mulai menggelar kain di lantai.

“Lagi pula, aku penjaga. Lebih cocok di bawah.”

Starla melirik sekilas ke arah Wakasa.

“A-apa nggak apa-apa…?”

Wakasa tersenyum canggung.

“Tenang aja. Aku baik-baik kok.”

Diana menahan tawa.

“Wah, pahlawan banget.”

Wakasa pun langsung merebahkan badan dan menghadap ke arah lemari, mencoba untuk tidur—

Diana menoleh ke arah Wakasa.

Senyum jahil kembali terukir di wajahnya.

“Padahal nggak apa-apa, loh, tidur di kasur,” ucapnya santai, seolah cuma bercanda ringan.

Lalu ia melirik Starla.

“Iya kan, Starla?”

Wakasa menahan napas.

Bahunya sedikit menegang, tapi ia sama sekali tidak menoleh.

Tidak membalas.

Tidak bergerak.

Pipinya terasa panas, dan jantungnya berdetak cepat.

Starla terdiam.

Jari-jarinya saling menggenggam di atas kasur.

Ia melirik sekilas ke arah punggung Wakasa… lalu cepat-cepat memalingkan pandangan.

Tanpa berkata apa-apa, ia berbaring perlahan dan menarik selimut menutupi dirinya hingga sebatas wajah.

Diana menghela napas kecil, setengah geli, setengah puas.

“Hmm~ kalian berdua lucu banget.”

Starla tidur di pinggir kasur, posisinya mengarah langsung ke Wakasa yang terbaring di lantai.

Di belakangnya, Diana tampak sudah memejamkan mata.

Beberapa menit berlalu.

Kamar benar-benar hening.

Perlahan, Starla membuka selimut yang tadi menutupi wajahnya.

Matanya melirik ke belakang, memastikan Diana benar-benar tertidur.

Tak ada gerakan.

Tak ada suara.

Barulah ia menghela napas kecil.

Pandangan Starla kembali ke depan, ke arah Wakasa yang masih berbaring menghadap dinding.

Bibirnya melengkung tipis.

Wajahnya hangat, namun kali ini bukan karena malu—melainkan rasa tenang.

“Selamat malam, Wakasa-kun…”

Suaranya sangat pelan, hampir seperti bisikan.

Namun di kamar itu, kata-kata itu tetap terdengar jelas.

Di belakang Starla, Diana membuka satu matanya sedikit—lalu menutupnya kembali.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Dasar…

ucapnya dalam hati, menahan tawa.

Ke esokan paginya mereka ternyata sudah disambut oleh Albert

" Yoh , apa kalian tidur nyenyak malam ini " tanyanya sambil tersenyum

Diana dan Starla hanya tersenyum sementara wakasa memasang wajah curiga ke Albert.

Setelah itu mereka pun keluar penginapan dan melanjutkan perjalanan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!