"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Dunia Tak Selebar Daun Kelor
"Mommy, ke sekolah hari ini bawa bekal apa?" tanya Kenzie yang baru bangun tidur dengan suara seraknya menemui Liana di dapur. Setiap hari Kenzie lah yang selalu setia menemani Liana ketika membuat bekal untuk dibawanya ke sekolah.
"Pagi ini mommy belum sempat masak sayang. Ini ada Kentucky yang dibelikan oleh Tante Pamela tadi malam, bisa digunakan untuk sarapan. Nanti bekalnya mommy beliin di luar ya?"
Kenzie mendengus dengan menggerutu pelan. "Bukannya mommy bilang kalau makanan yang dibeli dari luar tidak selalu higienis. Tapi kenapa sekarang mommy mau beliin kami makanan dari luar? Mommy udah nggak punya beras ya?!"
Liana tertawa kecil menanggapi celotehannya. "Kamu ini ya? Kalau mommy nggak ada beras emangnya kalian mau belikan?"
"Ya enggak juga. Kami kan masih belum bisa bekerja mom," bantah Kenzie. "Nanti kalau kami sudah dewasa seperti mommy, kami yang akan bekerja, mommy istirahat di rumah aja."
Liana mengacak rambutnya gemas. "Anak pinter. Makanya dari sekarang kalian jadi anak yang nurut, kalau dikasih nasehat jangan melawan. Mommy selalu berdoa agar kalian kelak menjadi anak yang sukses, yang bisa membanggakan orang tua."
"Iya mom, aku janji jadi anak yang baik."
Berbeda dengan Kenzo kembarannya, dia cukup bandel dan suka membuat ulah, namun dia memiliki kepedulian terhadap sesama.
Pagi itu Kenzo seperti biasanya, mengeluarkan beberapa mainannya yang kini memenuhi ruang tamu yang begitu sempit. Hampir setiap hari sebelum berangkat ke sekolah Kenzo selalu membuat ulah dengan membuat rumah berukuran kecil itu berantakan.
"Permisi."
Seseorang mengetuk pintunya yang sedikit terbuka. Bocah itu beranjak untuk membukanya. "Tunggulah sebentar."
Kenzo terkejut ketika membuka pintu dan mendapati keberadaan seseorang yang begitu familiar berdiri tepat di luar pintu. Dia tercengang dan menegurnya.
"Loh, Om! Bukannya Om yang nolongin kami waktu itu?"
Pria itu terkekeh. "Iya, kamu masih ingat rupanya."
Dengan tatapan songongnya Kenzo menjawab. "Ya ingat lah. Muka Om terlalu pasaran, jadi nggak mungkin aku nggak mengingatnya."
Jawaban yang diterimanya singkat, padat dan nyelekit. Dalam hati pria itu mengumpat. 'sial! Mukaku dibilang pasaran. Lalu apa bedanya sama dia. Orang wajah kita mirip. Liana benar-benar tidak bisa mendidiknya dengan baik.'
"Ngapain bengong gitu? Mau masuk nggak?"
Reynan mengangguk. "Iya, tentu saja."
Pria itu melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam rumah dengan tangan menenteng kresek berisi makanan.
"Duduk sini om."
Pria itu kembali mengangguk. "Iya, terimakasih."
"Ngomong-ngomong Om ada maksud apa datang ke rumahku? Masih pagi kok udah bertamu. Mau ikut sarapan gratis?"
Reynan meneguk ludahnya. Ia berpikir 'apakah sewaktu masih kecil aku songong seperti ini?'
"Em..., kedatanganku ke sini bukan buat minta sarapan gratis, tapi kalian yang akan kuajak makan gratis. Ini aku bawa makanan buat sarapan." Reynan membuka kresek dan mengeluarkan empat kotak nasi sterpfom. "Di mana kembaran dan juga mama kamu?" tanya Reynan. "Suruh mereka ke sini, kita sarapan bareng-bareng."
"Mereka kalau jam segini ada di dapur. Tunggulah sebentar, biar ku panggilkan mereka."
Kenzo beranjak dan bergegas ke dapur dengan berteriak. "Mommy! Ada tamu ingin bertemu dengan mommy. Dia bawa makanan, kita diajak sarapan bareng."
Reynan yang mendengarnya tak bisa menahan tawanya. Dia terpingkal-pingkal, sangat lucu dan juga menghibur.
"Ya Tuhan..., selama ini aku hidup sendirian, kesepian. Andai saja dari dulu aku menemukan mereka mungkin hidupku lebih bermakna."
Di dapur Liana menegurnya. Suara Kenzo cukup melengking di telinganya. "Kenzo! Mommy ini nggak tuli ya! Pelankan suaramu!"
Kenzie terkekeh meledeknya. "Syukurin, kena marah kan?"
Kenzo mendengus. "Ck, apaan sih!"
"Barusan kamu bilang ada tamu. Siapa tamunya? Apa Om Dion dan Tante Pamela?" tanya Liana. Selain mereka tidak ada lagi orang lain yang bertamu ke rumahnya, terkecuali pemilik kontrakan yang menagih biaya sewa.
"Bukan mereka, tapi orang yang pernah nolongin kami ketika kami sedang diculik," bantahnya.
Kenzie membulatkan bola matanya. "Maksudnya Om kaya yang kasih uang jajan buat kita waktu itu?"
Kenzo mengangguk. "Hm..., iya. Dia datang ke sini bawa makanan. Katanya ingin makan bareng sama kita."
Liana langsung mematikan kompornya. Pikirannya mulai tak tenang, ia juga ingin tahu siapa orang yang sudah menyelamatkan putranya dari penculikan, setidaknya ia harus mengucapkan banyak-banyak terima kasih padanya, berkat orang itu anaknya selamat.
"Sekarang dia ada di mana Zo? Apa kamu membawanya masuk ke dalam rumah?" tanya Liana.
Bocah itu mengangguk. "Iya, tentu saja aku membawanya masuk ke dalam rumah. Bukannya Mommy sering bilang kalau ada tamu harus diterima dengan baik?"
Dengan berjalan cepat Liana buru-buru ingin menemuinya. Ia berharap orang itu datang dengan maksud baik.
"Ya ampun Kenzo! Mainan kamu berantakan kayak gini! Ayo cepat dipunguti! Taruh di tempat semula! Kebiasaan kamu ini!"
Setibanya di ruangan dekat ruang tamu Liana mendapati mainan anaknya yang berantakan di lantai. Begitu malunya dia di saat ada tamu mendapati rumahnya yang berantakan.
"Iya nanti aku beresin mom! Mommy tenang aja, nggak usah marah-marah mulu!"
Liana menatapnya sinis nan tajam. "Kamu itu kalau dinasehati bantah mulu! Rese seperti Daddy kamu!"
"Emangnya Daddy seperti Abang mom? Suka bikin kesal mommy?" tanya Kenzie yang mengekor di belakangnya.
"Hm..., begitulah."
"Loh! Kok dia?"
Begitu terkejutnya ia saat tiba di ruang tamu. Pria yang ingin dihindarinya kini sudah ada di rumahnya. Padahal hari itu ia berpikir untuk tidak masuk kerja.
"Om! Akhirnya Om datang menemui kami." Kenzie berlari ke arah pria itu dan langsung menyalaminya.
"Halo boy, apa kabar?" tanya Reynan dengan mengusap rambut bocah berusia lima tahun itu.
"Seperti yang Om lihat, aku baik-baik saja," jawabnya dengan tersenyum lebar. "Kupikir Om sudah lupa sama kami. Katanya mau datang, tapi ditunggu nggak datang-datang."
Reynan terkekeh. "Maaf boy..., Om lagi banyak pekerjaan, jadi belum bisa datang untuk menemui kalian. Sekarang om datang ingin mengajak kalian sarapan bersama."
Liana tetap berdiri dengan memasang muka datar tanpa ekspresi. Ia merasa dunianya seakan-akan mau runtuh saat tahu ternyata penyelamat putranya tak lain adalah ayah kandung mereka sendiri.
"Jadi bapak yang sudah nyelamatin anak-anak saya?" tanya Liana sinis. Dia yang hendak mengucapkan terima kasih diurungkan, karena menurutnya menyelamatkan nyawa anak sudah menjadi tanggung jawab orang tuanya.
"Iya, aku lah yang menyelamatkan mereka," jawab Reynan. "Tak disangka ya, dunia tak selebar daun kelor. Tak sia-sia aku menyelamatkan put~~
"Terus maksud bapak apa datang ke sini? Buat cari simpati dari kami? Biar kami berterimakasih karena bapak sudah menolong anak-anak saya?"
Liana sengaja memotong celetukan Reynan yang hendak mengakui mereka sebagai putranya. Ia tidak ingin terburu-buru memberikan penjelasan pada anak-anaknya mengenai siapa ayah kandungnya.
"Liana, tolong jangan bicara seperti itu! Aku datang ke sini dengan maksud baik, tolong jangan berburuk sangka!"