NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Nekat

"Maafkan saya, Pak Vino. Saya benar-benar tidak enak hati," Raisa menerima kotak itu dengan tangan gemetar.

Vino menepuk meja pelan, memberikan senyum penyemangat. "Jangan dipikirkan. Saya bisa beli di kantin nanti. Lebih baik kamu segera naik sebelum dia meledakkan gedung ini karena menunggu. Semangat, Raisa."

Raisa mengangguk lemah. Ia memeluk kotak bekal itu seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak di tangannya. Dengan langkah berat dan hati yang hancur karena martabatnya kembali diinjak-injak oleh ego Arash, ia berjalan menuju lift pribadi.

Setiap lantai yang dilewati lift terasa seperti hitungan mundur menuju neraka. Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, ia langsung disambut oleh keheningan yang mencekam. Arash berdiri di depan mejanya, memunggungi pintu, menatap kota dengan posisi tubuh yang sangat kaku.

Raisa masuk dan meletakkan kotak bekal itu di meja marmer dengan bunyi pelan. "Ini yang Anda minta, Pak Arash."

Arash berbalik perlahan. Matanya merah, bukan karena lelah, tapi karena amarah yang ditahan sekuat tenaga. Ia menatap kotak bekal itu, lalu menatap Raisa dengan pandangan yang membuat Raisa merasa sangat kecil.

"Kenapa?" suara Arash rendah, bergetar karena emosi. "Kenapa kau memberikannya pada orang lain setelah menawarkannya padaku?"

"Karena Anda menolaknya!" Raisa balas membentak, air mata kemarahan mulai menggenang. "Anda bilang itu makanan rendahan! Anda bilang aku tidak bisa membeli harga diri Anda dengan ini! Lalu kenapa sekarang Anda memintanya kembali setelah aku memberikannya pada orang yang benar-benar menghargainya?"

Arash melangkah maju, memangkas jarak hingga Raisa terpojok ke meja. Ia mencengkeram pinggiran meja, mengurung Raisa di bawah tatapannya yang menghunus.

"Karena meskipun aku membuangnya ke tempat sampah, itu adalah sampah MILIKKU, Raisa! Bukan untuk diberikan pada pria lain agar dia bisa mencicipi apa yang kau buat untukku!"

Raisa tertegun. Di balik kata-kata kasar itu, ia mendengar sesuatu yang lain. Sesuatu yang terdengar seperti ketakutan akan kehilangan kendali. Namun, sebelum ia sempat membalas, Arash menyambar kotak bekal itu dan membukanya dengan kasar, mengambil satu potongan sandwich dan memakannya di depan wajah Raisa dengan gerakan provokatif.

"Rasanya hambar," bohong Arash dengan nada sarkas, padahal lidahnya merasakan kelezatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Sama hambarnya dengan kesetiaanmu pada kontrak ini."

Raisa hanya bisa menatap Arash dengan kebencian yang mendalam, menyadari bahwa pria di depannya ini bukan hanya dingin, tapi juga terobsesi untuk menguasai setiap jengkal hidupnya, bahkan sepotong roti sekalipun.

***

Pintu ruang rapat utama tertutup dengan bunyi berdebam pelan, mengunci kebisingan koridor kantor dan menyisakan kesunyian yang sarat akan aroma kertas baru serta sisa parfum maskulin para petinggi perusahaan. Raisa berdiri di podium, jemarinya yang masih sedikit gemetar merapikan tumpukan kertas laporan yang baru saja menjadi pusat perhatian selama dua jam terakhir.

Layar proyektor di belakangnya masih menampilkan grafik pertumbuhan yang stabil—hasil revisi maraton yang ia kerjakan di bawah pengawasan ketat, dan bantuan terselubung, dari Arash semalam.

"Kerja yang luar biasa, Nona Raisa. Saya tidak menyangka revisinya bisa sedetail ini dalam waktu satu malam," puji Pak Broto, salah satu komisaris paling kritis, sesaat sebelum melangkah keluar ruangan.

Satu per satu petinggi Dirgantara Group meninggalkan ruangan dengan anggukan apresiasi. Mereka semua terpukau, tak menyadari bahwa di balik angka-angka sempurna itu, ada campur tangan sang CEO yang bertindak sebagai mentor kejam sekaligus pelindung bayangan.

Kini, hanya tersisa dua orang di ruangan luas itu.

Arash masih duduk tenang di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung dengan kedua tangan tertaut di depan dada. Ia tidak ikut memberikan tepuk tangan atau pujian verbal seperti yang lain. Matanya yang tajam tetap terkunci pada Raisa, memperhatikan bagaimana wanita itu mencoba mengatur napasnya yang masih memburu akibat adrenalin presentasi.

"Semua orang memujimu, Raisa," Arash membuka suara, memecah keheningan dengan nada rendah yang bergetar secara otoriter. Ia memutar kursi kerjanya sedikit, menatap Raisa dengan seringai tipis yang sarkas. "Mereka pikir kau adalah jenius administrasi yang baru lahir. Mereka tidak tahu bahwa semalam kau hampir menangis di depan laptopmu karena tidak tahu cara memasukkan rumus pembulatan."

Raisa menelan ludah, ia mematikan proyektor dengan gerakan terburu-buru. "Aku tahu ini berkat bantuanmu, Pak Arash. Aku tidak melupakannya."

"Hanya tahu?" Arash berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja oval panjang tersebut. Setiap langkah kakinya di atas lantai granit terasa seperti dentuman yang menekan dada Raisa. "Di dunia bisnis, tidak ada bantuan yang gratis. Aku sudah meluangkan waktu tidurku, membuatkanmu cokelat hangat yang—menurutmu—enak, dan membereskan kekacauanmu."

Arash berhenti tepat di depan Raisa, memangkas jarak hingga wanita itu bisa mencium aroma sandalwood yang kini terasa begitu mengintimidasi namun familier. Ia menumpukan kedua tangannya di pinggiran podium, mengurung Raisa di antaranya.

"Jadi, mana hadiahku?" tanya Arash, alisnya terangkat satu. "Aku ingin imbalan atas keberhasilanmu hari ini."

Raisa mendongak, matanya bertemu dengan iris gelap Arash yang dalam. Jantungnya berpacu liar. Imbalan? Pria ini punya segalanya. Uang, kekuasaan, apartemen mewah. Apa yang bisa diberikan oleh seorang wanita yang bahkan bekerja untuk melunasi utang ayahnya padanya?

Pikiran Raisa berkecamuk. Ia teringat kejadian pagi tadi di tempat tidur—bagaimana ia merasa nyaman di dekapan Arash. Ia teringat tatapan posesif Arash soal kotak bekal sandwich. Dan entah keberanian gila dari mana yang merasuki otaknya, sebuah ide nekat muncul. Sebuah ide yang tidak masuk akal, namun terasa seperti satu-satunya cara untuk membungkam kesombongan pria di depannya ini.

"Kau ingin imbalan?" bisik Raisa, suaranya parau.

"Tentu saja. Dan pastikan itu sebanding dengan kerja keras—"

Belum sempat Arash menyelesaikan kalimat sarkasnya, Raisa berjinjit. Ia mencengkeram kerah kemeja mahal Arash, menariknya ke bawah, dan mendaratkan bibirnya di pipi pria itu, sebelum kemudian bergeser sedikit ke sudut bibirnya. Itu bukan ciuman yang dalam, hanya sentuhan singkat yang panas, basah, dan penuh dengan kepanikan yang terpendam.

Satu detik. Dua detik.

Waktu seolah membeku. Raisa bisa merasakan rahang Arash yang mengeras di bawah sentuhannya. Begitu ia melepaskannya, Raisa melihat mata Arash membelalak—sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria sedingin es itu. Arash benar-benar terpaku, napasnya tertahan, dan tangannya yang tadinya mencengkeram podium kini membeku di udara.

Raisa segera memutar tubuhnya, menyambar tasnya dengan gerakan secepat kilat. Wajahnya panas membara, ia merasa seperti seluruh tubuhnya terbakar oleh rasa malu yang hebat.

"Itu hadiahmu! Jangan minta apa-apa lagi!" seru Raisa tanpa berani menoleh lagi.

Ia berlari menuju pintu keluar, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di atas lantai. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Raisa menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Kakinya terasa lemas seperti jeli.

"Apa yang baru saja kulakukan?" batinnya menjerit histris.

Sementara itu, di dalam ruangan yang kini sunyi, Arash masih berdiri di posisi yang sama. Tangannya perlahan terangkat, menyentuh sudut bibirnya yang masih menyisakan sisa kehangatan dari bibir Raisa.

Ia benar-benar terkejut. Sejujurnya, saat meminta "hadiah", yang ada di pikirannya hanyalah meminta Raisa untuk membuatkan kopi khusus atau mungkin mengakui secara lisan bahwa ia adalah bos yang hebat. Ia tidak pernah berpikir tentang ciuman. Tidak dari Raisa. Tidak dari wanita yang dianggapnya hanya sebagai "investasi".

Arash menatap pintu yang tertutup itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada getaran aneh yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika bisnis mana pun.

"Sial," gumam Arash pelan, suaranya sedikit parau. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak beraturan. "Wanita itu ... benar-benar sudah tidak waras."

Namun, di balik wajahnya yang kembali mengeras, ada sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga nyaris tak terlihat—yang muncul di sudut bibirnya. Perang dingin di antara mereka baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya dari sekadar kontrak di atas kertas.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!