NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Mukjizat di Balik Tangis Sang Buah Hati

Ruangan itu telah berubah menjadi dingin, sedingin harapan yang baru saja pupus di hati Hannan. Garis lurus di monitor EKG menjadi saksi bahwa perjuangan Amara telah sampai pada titik terakhirnya. Dokter perlahan meletakkan alat kejut jantung dan menarik kain putih menutupi wajah cantik yang kini pucat pasi itu.

"Gus... mohon ikhlaskan Ibu Amara. Beliau sudah tiada," ucap dokter dengan suara rendah, sarat akan rasa duka.

Hannan tidak menjawab. Ia seperti patung yang kehilangan nyawa. Namun, di sudut lain ruangan, seorang perawat sedang menggendong bayi merah yang baru saja dikeluarkan melalui operasi sesar darurat. Bayi itu diam, tidak menangis, seolah ikut berduka atas kepergian ibunya.

"Gus, bayi Anda... dia sangat lemah. Nafasnya pendek sekali. Kami harus segera membawanya ke ruang NICU," lapor perawat itu dengan cemas.

Hannan mendongak. Matanya yang merah menatap bayi kecil yang berlumuran darah dan lendir itu. "Bawa dia ke sini," bisik Hannan parau. "Biarkan dia memeluk ibunya untuk pertama dan terakhir kalinya. Saya mohon..."

Dokter mengangguk perlahan, memberi isyarat kepada perawat. Dengan hati-hati, bayi kecil yang masih sangat lemah itu diletakkan di atas dada Amara yang sudah tidak berdenyut. Pertemuan kulit ke kulit itu terasa begitu memilukan.

Hannan memegang tangan kecil putrinya, mengarahkannya untuk menyentuh pipi Amara. "Nak... ini Umimu. Umi yang sangat mencintaimu sampai ia memberikan nyawanya untukmu..."

Tepat saat tangan mungil bayi itu menyentuh kulit Amara, sebuah getaran luar biasa terjadi. Bayi yang tadinya diam membiru itu tiba-tiba menghirup udara dengan kuat dan mengeluarkan tangisan yang sangat kencang.

“Oeeeekkk... Oeeeekkk... Oeeeeekkk!”

Suara tangisan itu menggema di seluruh penjuru ruang UGD, seolah memecah kesunyian maut yang sempat berkuasa. Dan di situlah, sebuah keajaiban yang tidak masuk akal secara medis namun nyata terjadi.

Monitor EKG yang tadinya hanya menampilkan garis lurus horisontal tiba-tiba memunculkan sebuah gelombang kecil.

Pip...

Mata dokter terbelalak. Ia segera memeriksa denyut nadi di leher Amara. "Tidak mungkin... denyut nadinya kembali! Sangat lemah, tapi ada!"

"Tangisan bayinya memicu stimulasi!" seru perawat lain.

Hannan gemetar hebat. Ia melihat dada Amara yang tadinya diam, kini bergerak sedikit demi sedikit seiring dengan tangisan sang bayi yang semakin keras. Detak jantung bayi yang menempel di dada Amara seolah menjadi pacemaker alami yang memanggil kembali nyawa sang ibu dari gerbang kematian.

"Amara! Amara, bangun, Sayang! Anakmu memanggilmu!" teriak Hannan sambil menggenggam tangan istrinya yang mulai terasa hangat kembali.

Perlahan, kelopak mata Amara bergerak. Ia menarik napas panjang seolah baru saja muncul dari dalam air yang sangat dalam. Matanya terbuka sedikit, menatap kabur ke arah Hannan, lalu ke arah bayi yang menangis di atas dadanya.

"Ba... yi... ku..." bisik Amara, nyaris tak terdengar.

"Iya, Amara! Dia selamat! Kamu hidup lagi, Sayang! Kamu kembali!" Hannan mencium tangan istrinya berkali-kali dengan tangis yang meledak, namun kali ini tangis bahagia.

Dokter segera bertindak cepat. "Segera pasang kembali oksigen! Siapkan cairan infus tambahan! Ini benar-benar mukjizat!"

Kiai Abdullah yang berdiri di depan pintu hanya bisa jatuh terduduk di lantai sambil bersujud syukur. Air matanya membasahi lantai rumah sakit. Beliau menyadari bahwa kekuatan doa dan ikatan antara ibu dan anak telah mengalahkan logika medis yang paling dingin sekalipun.

Amara kembali. Ia tidak hanya memberikan nyawa untuk anaknya, tapi sang anak jugalah yang telah menjemput nyawa ibunya kembali ke dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!