Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Malam di Kebun Herbal Nomor 9 jauh lebih sunyi dibandingkan bagian lain Sekte Awan Putih. Lembah ini terisolasi, dikelilingi tebing curam yang memantulkan suara angin seperti siulan hantu.
Di tengah kegelapan itu, sesosok bayangan bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang.
Zzzzt!
Suara seperti listrik statis terdengar. Bayangan itu berpindah dari depan gubuk ke ujung ladang—jarak lima puluh meter—dalam satu kedipan mata.
Namun, pendaratan sosok itu tidak mulus.
BRUK!
Lin Xiao tergelincir, kakinya menghantam tanah dengan keras hingga menciptakan lubang sedalam mata kaki. Dia meringis, memegangi otot betisnya yang berkedut hebat. Asap tipis mengepul dari kakinya.
"Sial," umpat Lin Xiao, mengatur napasnya yang memburu. "Teknik Sembilan Langkah Bayangan Petir ini benar-benar menyiksa. Setiap kali aku memicu ledakan kecepatan, tekanan pada tulang kaki setara dengan dijatuhi batu satu ton."
Jika dia masih memiliki tubuh lamanya yang lemah, kakinya pasti sudah patah menjadi serbuk sejak langkah pertama. Untungnya, Tulang Besi Otot Tembaga yang baru dia tempa mampu menahan beban G-force yang mengerikan itu.
"Gerakanmu kaku seperti bebek yang tersambar petir."
Suara serak Tetua Han terdengar dari teras gubuk. Orang tua itu sedang duduk santai menikmati arak, matanya yang setengah tertutup menatap Lin Xiao.
"Kau terlalu mengandalkan kekuatan otot untuk menekan udara," lanjut Tetua Han, memberi petuah langka. "Petir tidak menekan udara, Nak. Petir menembus udara. Jangan lawan hambatannya, jadilah bagian dari arusnya."
Lin Xiao terdiam, merenungkan kata-kata itu. Menembus, bukan melawan.
Dia bangkit berdiri, mengabaikan rasa nyeri di kakinya. Dia memejamkan mata, merasakan aliran angin malam. Dia mengalirkan Qi ke titik akupunktur di kakinya, kali ini tidak meledakkannya sekaligus, tapi mengalirkannya dalam getaran frekuensi tinggi.
Zzzzt!
Kali ini tidak ada suara hentakan keras. Lin Xiao lenyap dari tempatnya berdiri, hanya menyisakan bayangan residu berwarna ungu samar, dan muncul di atas dahan pohon di tebing seberang tanpa menggoyangkan sehelai daun pun.
"Langkah Pertama: Kilatan Awal, sukses," gumam Lin Xiao puas.
Dia melompat turun kembali ke ladang. Keringat membasahi tubuhnya, tapi hatinya puas. Dengan teknik ini, dia bisa mengejar musuh yang kabur atau lari dari musuh yang terlalu kuat.
"Istirahatlah," kata Tetua Han sambil melempar botol arak kosong ke arah Lin Xiao. "Tikus-tikus tanah biasanya keluar saat lewat tengah malam. Kau butuh tenaga untuk memukul mereka."
Lin Xiao menangkap botol itu. Matanya menyipit. "Tikus tanah?"
Tetua Han tidak menjawab, hanya mendengkur pura-pura tidur. Tapi Lin Xiao mengerti isyarat itu. Insting tajam si orang tua telah mendeteksi sesuatu yang belum dideteksi Lin Xiao.
Lin Xiao tidak masuk ke gubuk. Dia memadamkan lampu minyak, lalu duduk bersila di tengah ladang Rumput Roh Api yang tinggi, menyembunyikan auranya sepenuhnya dengan teknik pernapasan kura-kura. Dia menunggu.
Dua jam kemudian. Lewat tengah malam.
Kabut tebal mulai turun menutupi lembah. Suasana begitu sunyi hingga suara serangga pun hilang.
Tiga sosok berjubah hitam menyelinap masuk melalui celah pagar kayu yang rusak di sisi utara kebun. Gerakan mereka sangat hati-hati, kaki mereka hampir tidak menyentuh tanah.
Mereka adalah murid sekte luar, tapi dari aura mereka yang tajam dan kejam, jelas mereka bukan murid biasa.
"Ini tempatnya," bisik salah satu penyusup. "Kebun Herbal Nomor 9. Target kita adalah ladang itu."
"Hati-hati," bisik yang lain. "Target bernama Lin Xiao itu dikabarkan punya kekuatan fisik aneh. Dia mengalahkan pengawal Diaken Zhao."
"Hah, hanya keberuntungan," cibir pemimpin penyusup itu, seorang pria dengan tato ular di lehernya. Kultivasinya berada di Ranah Pengumpulan Qi Tingkat 8. "Tugas kita bukan bertarung. Tuan Wang Jian memerintahkan untuk menghancurkan masa depannya."
Pria bertato itu mengeluarkan sebuah botol keramik hitam dari jubahnya.
"Ini Air Mayat Korosif. Satu tetes cukup untuk mematikan tanah seluas satu meter. Tuangkan ini ke seluruh ladang. Besok pagi, semua tanaman ini akan busuk. Lin Xiao akan disalahkan karena gagal panen, dicambuk, dan diusir dari sekte. Setelah dia di luar... Tuan Wang Jian akan mengurus sisanya."
"Kejam sekali," kekeh rekannya. "Aku suka."
Ketiga penyusup itu merayap mendekati ladang Rumput Roh Api yang menyala kemerahan dalam gelap.
"Sebar!" perintah si pemimpin.
Mereka membuka tutup botol masing-masing. Bau busuk yang menyengat langsung menyebar, membuat tanaman di dekat mereka layu seketika.
"Siram!"
Mereka mengangkat botol, bersiap menumpahkan racun itu.
"Malam yang indah untuk berkebun, bukan?"
Suara dingin terdengar tepat di belakang telinga si pemimpin.
"Sia—?!"
Si pemimpin berputar cepat, menghunus belati dari pinggangnya. Tapi dia hanya menebas udara kosong.
Zzzzt!
Suara listrik berderak.
Sebuah tangan yang kokoh muncul dari kegelapan, mencengkeram pergelangan tangan si pemimpin yang memegang botol racun.
Itu Lin Xiao. Matanya bersinar keemasan di tengah kegelapan, menatap si pemimpin seperti hantu penuntut balas.
"Kau membawa air busuk ke kebunku?" tanya Lin Xiao datar. "Itu tidak sopan."
KRAK!
Lin Xiao meremas pergelangan tangan itu. Tulang berbunyi.
"ARGH!" Si pemimpin menjerit, botol racun terlepas dari tangannya.
Namun botol itu tidak jatuh ke tanah. Lin Xiao menangkapnya dengan tangan kiri sebelum menyentuh tanah.
"Bos!" Dua penyusup lainnya kaget. Mereka segera bereaksi, mencabut pedang dan menerjang Lin Xiao dari kiri dan kanan. "Bunuh dia!"
"Lambat."
Lin Xiao mengaktifkan Sembilan Langkah Bayangan Petir.
Tubuhnya bergetar dan lenyap, meninggalkan afterimage (bayangan sisa) di tempatnya berdiri.
Pedang dua penyusup itu menembus bayangan Lin Xiao, saling beradu satu sama lain. TRANG!
"Di mana dia?!"
"Di sini."
Lin Xiao muncul di belakang penyusup sebelah kiri. Dia tidak menggunakan senjata. Dia menggunakan botol keramik yang baru dia rampas.
Dia memukulkan botol keras itu ke kepala penyusup kiri.
PRAK!
Botol pecah. Cairan Air Mayat Korosif tumpah membasahi kepala dan wajah penyusup itu.
"AAAAAAHHH!"
Jeritan yang sangat memilukan memecah keheningan malam. Wajah penyusup itu mulai melepuh dan berasap, dagingnya meleleh seperti lilin yang dibakar. Dia jatuh berguling-guling di tanah, mencakar wajahnya sendiri karena kesakitan.
Penyusup terakhir gemetar ketakutan melihat nasib rekannya. Kakinya lemas. "Iblis... Kau iblis!"
Dia berbalik hendak lari.
"Mau ke mana?"
Lin Xiao menendang sebuah batu kerikil di tanah. Batu itu melesat seperti peluru, dilapisi Qi.
Plesh!
Batu itu menembus betis penyusup yang lari.
"Ugh!" Dia jatuh tersungkur, kakinya berlubang.
Kini, hanya tersisa si pemimpin bertato ular yang masih memegangi tangannya yang patah. Dia menatap Lin Xiao dengan horor. Informasi yang mereka dapat salah besar! Lin Xiao bukan sekadar kuat fisik, dia adalah pembunuh berdarah dingin!
Lin Xiao berjalan perlahan mendekati si pemimpin. Dia memungut satu botol racun lagi yang jatuh dari tangan penyusup yang wajahnya meleleh tadi.
"Wang Jian yang mengirim kalian?" tanya Lin Xiao santai, sambil menimang-nimang botol racun itu.
Si pemimpin menggertakkan gigi. "Kalau kau tahu itu Tuan Wang Jian, lepaskan kami! Dia adalah salah satu dari Sepuluh Besar Sekte Luar! Sepupunya adalah Tetua Sekte Dalam! Jika kau menyentuh kami, kau akan mati!"
"Salah jawaban."
Lin Xiao mencekik leher si pemimpin, mengangkatnya ke udara dengan satu tangan.
"Aku tidak peduli siapa sepupunya. Yang aku pedulikan adalah... kau mencoba merusak kerja kerasku."
Lin Xiao membuka paksa mulut si pemimpin dengan jari-jarinya.
"M-mhhmm! J-jangan!" mata si pemimpin melotot, menyadari apa yang akan terjadi.
"Kau membawa racun ini, jadi kau harus meminumnya. Jangan mubazir."
Lin Xiao menuangkan setengah isi botol Air Mayat Korosif ke dalam mulut orang itu.
Gluk.
Lin Xiao melepaskannya.
Si pemimpin jatuh ke tanah, mencengkeram lehernya. Asap keluar dari mulut dan hidungnya. Dia tidak bisa berteriak karena pita suaranya hancur seketika. Dia hanya bisa menggelepar seperti ikan di daratan, merasakan organ dalamnya terbakar perlahan. Racun itu tidak langsung membunuh, tapi memberikan penderitaan neraka.
Lin Xiao menatap tiga orang yang kini tidak berdaya itu. Satu wajahnya hancur, satu kakinya lumpuh, satu organ dalamnya terbakar.
"Bawa mereka," perintah Lin Xiao pada penyusup yang kakinya berlubang (satu-satunya yang masih sadar penuh dan bisa bicara).
Penyusup itu mengangguk panik sambil menangis. "B-baik! Baik! Jangan bunuh aku!"
"Sampaikan pesan ini pada Wang Jian," kata Lin Xiao, suaranya dingin menusuk tulang.
"Katakan padanya: Hadiahmu sudah kutrima. Tapi aku orang yang suka membalas budi. Tunggu giliranku."
"P-paham! Saya paham!"
Penyusup itu dengan susah payah menyeret dua rekannya yang setengah mati keluar dari kebun. Mereka pergi dengan tertatih-tatih, meninggalkan jejak darah dan bau busuk.