Pangeran Gautier de Valois.
Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.
"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."
"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"
"Ini bukan permintaan, Countess,"
"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 (Bayangan di Versailles)
Keesokan paginya, langit cerah, seolah-olah alam sendiri menyetujui pernikahan paksa yang akan terjadi. Versailles bersinar.
Amélie mengenakan gaun pengantinnya yang mewah, gaun sutra gading dengan lapisan renda Bruges yang halus dan mahkota kecil yang menandakan statusnya sebagai Countess yang akan menjadi Duchess. Di permukaan, ia adalah pengantin yang tenang, anggun dan mempesona. Di dalam, ia adalah seorang prajurit yang bersiap untuk berperang.
Upacara pernikahan dilangsungkan di Kapel Kerajaan Versailles. Semua bangsawan dan keluarga kerajaan hadir, termasuk Raja yang lemah dan Permaisuri yang sinis.
Ketika Amélie berjalan di lorong, ia merasakan beratnya tatapan dari setiap sudut. Beberapa tatapan iri, beberapa ingin tahu dan beberapa—terutama dari Éloi—penuh kemenangan.
Dan kemudian, matanya bertemu dengan Gautier.
Gautier mengenakan seragam Duke yang megah, dihiasi medali emas dan lencana Valois yang berusia berabad-abad. Ia tampak seperti patung yang diukir dari es dan baja. Sempurna, mematikan dan tanpa emosi.
Saat ia mencapai altar, Gautier meraih tangannya. Sentuhannya dingin dan formal. Amélie merasakan arus listrik yang singkat, bukan gairah, tetapi pergeseran kekuasaan.
Mereka mengucapkan sumpah. Sumpah itu terasa seperti ironi yang kejam. Amélie bersumpah untuk menghormati dan mematuhi, sementara ia sudah merencanakan pemberontakan diam-diam. Gautier bersumpah untuk mencintai dan menghargai, sementara hatinya ada di tempat lain, melindungi wanita yang ia cintai—Seraphine.
"Aku nyatakan kalian sebagai suami istri," kata Uskup Agung.
Ciuman itu... itu adalah bagian yang paling sulit.
Gautier membungkuk, menahannya erat-erat, tetapi sentuhannya kaku dan cepat. Ciuman itu singkat, dingin dan benar-benar formal. Ia berbau mint, anggur dan besi. Itu adalah ciuman yang menjijikkan, bukan janji, melainkan cap persetujuan yang dingin.
Seluruh istana bertepuk tangan. Amélie adalah Duchess Valois. Istri Pangeran Gautier. Tawanan yang sah.
Pesta pernikahan di Aula Cermin adalah tontonan yang memusingkan. Amélie harus tersenyum, berbicara dan berdansa, sementara ia terus mencari jejak seseorang.
Di tengah keramaian, Amélie melihat Éloi, tersenyum lebar.
Ia mendekatinya.
"Anda terlihat bahagia, Paman," kata Amélie, bibirnya terangkat dalam senyum palsu yang sempurna.
"Tentu saja, ma Duchesse," jawab Éloi, menekan nama barunya dengan penekanan. "Saya telah menyelamatkan LeBlanc. Dan sekarang kita terhubung dengan Valois. Siapa yang bisa lebih bahagia?"
"Oh, tentu saja," Amélie memiringkan kepalanya sedikit. "Saya sangat tertarik dengan utang kehormatan yang Anda sebutkan. Bisakah Anda menunjukkan kepada saya dokumen aslinya? Saya perlu memasukkannya ke dalam Arsip Valois agar semuanya transparan di bawah nama baru saya."
Wajah Éloi menegang seketika. "Tidak perlu, Amélie. Gautier telah mengurusnya. Dokumen itu sudah... dihancurkan. Demi kebaikan LeBlanc."
"Dihancurkan?" Amélie memastikan, tetapi suaranya tetap ringan. "Sayang sekali. Saya khawatir tanpa dokumen itu, mungkin di masa depan orang-orang akan mempertanyakan keabsahan pembayaran utang itu. Bukti tertulis sangat penting, Paman."
Éloi tertawa tegang. "Jangan khawatirkan detail remeh itu. Fokuslah pada tugasmu sebagai Duchess."
Dihancurkan. Amélie mendapat konfirmasi pertamanya. Éloi berbohong, atau setidaknya menyembunyikan kebenaran. Dokumen itu pasti masih ada, atau tidak pernah ada sama sekali.
Saat dansa vals berikutnya dimulai, Gautier mendekatinya. Ia meraih pinggangnya, sentuhannya formal dan tidak pernah melewati batas kewajaran.
"Jangan berbicara terlalu banyak dengan Éloi," bisik Gautier, matanya terpaku pada kerumunan. "Dia hanyalah alat. Alat yang sudah tidak berguna bagiku sekarang setelah pernikahan selesai."
"Ia tampaknya sangat berguna," balas Amélie. "Terutama dalam menjaga rahasia tentang utang keluarga saya."
Gautier menegang sedikit. "Jangan selidiki masa lalu. Itu kotor dan itu akan mencoreng namamu sendiri."
"Saya hanya mencoba membersihkan nama yang Anda gunakan untuk memeras saya, Pangeran," balas Amélie. "Saya tidak bisa menjadi Duchess yang baik dengan bayangan pengkhianatan di belakang saya."
Mereka berdansa dalam keheningan yang tegang, tubuh mereka dekat, tetapi jiwa mereka terpisah bermil-mil.
...*****...
Malam pertama setelah pesta pernikahan.
Setelah pesta yang panjang dan melelahkan, Amélie dan Gautier diantar ke kamar tidur utama Duke. Ini adalah momen yang ditunggu oleh seluruh istana, simbol penyatuan Valois dan LeBlanc.
Saat pintu tertutup, Gautier segera mengambil bantal dari ranjang utama dan selimut tebal.
"Aku akan tidur di sofa di ruang kerja," katanya, dengan nada suara yang tenang. "Kau memiliki kamar ini, Amélie. Anggap ini perjanjian kita yang pertama dan terpenting. Kau aman."
Amélie berdiri di tengah ruangan, merasakan keanehan situasi itu. Ia adalah pengantin baru dan suaminya baru saja meninggalkannya.
"Dan jika ada orang yang bertanya?" Amélie bertanya, melipat tangan di dada.
"Tidak ada yang akan bertanya. Pintu ini akan dikunci. Dubois akan mengumumkan bahwa kami menghabiskan malam dalam privasi yang dalam," Gautier menyeringai, senyum yang tanpa humor. "Selamat malam, Duchess. Sekarang, mari kita mulai menjalankan perjanjian kita. Kau punya kastil ini untuk kau telusuri. Manfaatkan waktumu dengan bijak."
Gautier berjalan ke pintu di sisi kamar yang terhubung dengan ruang kerjanya. Ia membuka pintu, lalu berhenti.
"Amélie," panggilnya, tanpa berbalik. "Aku tahu kau membenciku. Dan aku membencimu karena terpaksa melakukan ini. Tetapi untuk dua tahun ke depan, kita adalah tim. Tim yang tidak tidur bersama, tim yang harus memenangkan permainan Tahta. Jangan mengkhianatiku dan aku tidak akan mengkhianatimu."
Pintu tertutup. Amélie sendirian, tetapi ia tidak kesepian. Ia merasa dipenuhi dengan tujuan yang baru dan kuat. Ia berjalan ke jendela, menarik tirai beludru.
Di bawah, di kebun-kebun Versailles yang diterangi lentera, ia melihat sosok Gautier melintasi halaman yang gelap, menuju menara yang lebih terpencil. Dia mungkin sedang menuju ke tempat dia bisa bertemu dengan Seraphine, wanita yang benar-benar pria itu cintai.
Amélie melepaskan gaun pengantinnya yang berat. Ia mengenakan jubah sederhana. Ia berjalan ke pintu, mencoba pegangannya. Terkunci.
Ia memang aman. Tetapi ia masih tawanan.
Amélie melihat cermin di meja rias, wajahnya tercermin di sana, bukan sebagai Countess yang rapuh, tetapi sebagai Duchess Valois—seorang wanita yang kini memiliki akses ke jantung kerajaan.
Ia mengambil lampu minyak dari meja dan melangkah ke perpustakaan kecil yang terhubung dengan kamarnya, mengabaikan ranjang besar dingin yang sudah menunggunya.
"Pangeran Gautier," bisik Amélie pada ruangan yang kosong. "Anda memberi saya kebebasan bertindak di istana. Ini adalah kesempatan saya. Saya akan menemukan bukti itu dan saya akan menghancurkan kontrak ini dari dalam, sebelum Anda bisa mencintai wanita lain dengan bebas dan sebelum Anda bisa mengambil apa pun lagi dari saya."
Malam pertama pernikahannya, Duchess Amélie de Valois menghabiskan waktu, bukan di pelukan suaminya, melainkan di antara debu-debu kuno, mencari peta arsip Valois dan jejak rahasia.
...*****...