NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersiap-siap untuk MATI

Dreven Veir Kingsley, lagi-lagi harus menghela nafas kesal ketika Kakeknya, memaksanya untuk datang ke Mansion dengan penuh ancaman. Dreven sebenarnya ingin tetap berada di rumah sakit, memastikan Shahinaz tetap baik-baik saja di bawah pengawasannya. Tapi panggilan dari kakeknya bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Apalagi, ancaman yang disertakan membuatnya tak punya pilihan lain!

Bersama Vincent, Dreven berjalan masuk melalui pintu besar yang langsung mengarah ke ruang utama. Di sana, semua orang sedang berkumpul, mereka seolah menunggunya dengan wajah serius. Vincent menepuk bahu Dreven untuk menguatkan. Mengingatkan untuk menyelesaikan dengan cepat, lalu pergi dari sini secepat mungkin juga.

"Wahhhh, cucuku, akhirnya kamu datang juga Nak." Kakeknya menyambutnya dengan suka cita. Namun tetap saja, Dreven tidak menggubris sama sekali.

"Kenapa lagi?" tanya Dreven to the point, sambil berdiri tidak ada niatan untuk duduk.

"Sepertinya kamu tidak lagi menghormati keluarga ini, Dreven. Berbicara dengan Kakekmu saja tidak sopan." ujar sosok wanita yang usianya sudah tidak sedikit. Dia istri dari Kakeknya, tapi bukan berarti itu Ibu kandung dari Ayahnya.

Sudah dikatakan sebelumnya, jika Ayahnya ini mengikuti jejak sang Kakek yang suka selingkuh bukan?

"Lynelle berkali-kali terluka, dan kamu tidak ada niatan untuk membantunya sama sekali?" tanya sang Kakek yang akhirnya langsung masuk ke dalam intinya.

Lynelle, gadis itu menundukkan kepalanya seolah dia benar-benar baru saja dirundung di sekolah tadi. Tidak ada cara lain selain melaporkan kepada sang Kakek, apalagi selama ini Dreven seolah membatasinya agar tidak bisa mendekatinya. Dreven sejak dulu hanya membantu dari perundungan saja, sisanya laki-laki itu tidak peduli lagi, dia dibiarkan seorang diri setelah itu.

Dreven begitu menakjubkan dimatanya. Dia sangat tampan, proporsi tubuhnya atletis dan ideal.

Soal aset dan kekayaaan, tanpa keluarga Kingsley juga Dreven masih bisa mengimbangi, dia memegang dua marga sekaligus dari balik namanya. Sebagai anak adopsi, tidak salah kan jika Lynelle menaruh hati pada Dreven selama ini?

"Lalu?" tanya Dreven sambil mengangkat alisnya. Dia benar-benar muak ketika Kakeknya memanggilnya, pasti permasalahannya tidak pernah jauh dari gadis lemah itu.

"Dia itu Adikmu, dan hanya ada kamu saja yang bisa menjaganya di sekolah. Apakah kamu tega Adikmu dirundung oleh para penindas itu?" ucap Kakeknya masih berbicara dengan stok kesabaran yang tersisa.

Dreven menatap kakeknya dengan mata tajam, tidak menunjukkan sedikit pun rasa simpatinya terhadap situasi Lynelle. Baginya, gadis itu hanyalah bagian dari permainan keluarga Kingsley untuk mencoba mengendalikannya. Karena dengan penyatuan aset dua marga yang dikendalikannya, pasti kejayaan Kingsley semakin meningkat pesat!

"Lynelle sudah cukup besar untuk bisa mengurus dirinya sendiri," jawab Dreven dengan nada datar. "Lagipula, saya bukan penjaga pribadinya."

Lynelle mendongak, menatap Dreven dengan mata berkaca-kaca. "Kak Dreven, aku hanya ingin..."

"Anda cuma ingin apa, Lynelle?" potong Dreven dengan dingin. "Mendapatkan perhatian? Mendapatkan simpati? Gara-gara anda, dari dulu saya selalu dianggap bersalah dimata laki-laki tua yang selalu membelamu itu."

Kakeknya, Gallenio Galtaro Kingsley, mengerutkan keningnya mendengar tanggapan Dreven, "Dreven, Lynelle adalah bagian dari keluarga ini. Kau seharusnya menjaga dan melindunginya. Apa kau lupa tanggung jawabmu sebagai anggota keluarga Kingsley?"

Dreven mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. Bukannya dulu dia sudah mengatakan dengan tegas, jika dia tidak ingin berurusan dengan keluarga Kingsley lagi? Tepukan bahu dari Vincent di detik berikutnya, membuat dirinya bisa menahan kemarahan yang hampir membuncah.

"Tanggung jawab apa yang dimaksud oleh anda?" Tanya Dreven dengan sinis, "Bukannya saya sudah pernah bilang tidak ingin berurusan dengan keluarga Kingsley lagi. Keturunan anda banyak, pilih saja mereka untuk menjadi pemimpin selanjutnya. Anak-anak dari istri anda sekarang juga banyak yang menantikannya."

Ruangan itu seketika menjadi hening. Semua orang menahan napas, tak percaya mendengar kata-kata Dreven yang begitu tajam dan lugas. Tatapan Gallenio Galtaro Kingsley semakin mengeras, tetapi ada jejak ketakutan di balik sorot matanya. Dia tahu, Dreven bukan orang yang bisa diancam atau dipermainkan dengan mudah.

"Dreven," suara Gallenio terdengar lebih berat, nyaris bergetar. "Semenjak Ayahmu lepas tangan, kau adalah pewaris utama keluarga ini selanjutnya. Apa kau tidak peduli dengan tanggung jawab yang dibebankan di pundakmu sejak lahir? Apa kau benar-benar ingin menghancurkan semua yang telah kita bangun selama ini?"

Dreven menatap kakeknya dengan pandangan yang tak bisa ditembus. "Saya sudah bilang, saya tidak ingin menjadi bagian dari ini lagi. Apa masih belum jelas? Pilih saja anak-anak anda yang lain, kenapa tidak mengerti juga?"

"Tapi setidaknya bantulah Kakek untuk Lynelle saja." jawab sang Kakek, yang sudah jelas membuatnya naik pitam.

BrakKKK...

Dreven membanting ponselnya sendiri, dia sudah tidak tahan lagi untuk tidak berbuat kasar, dan hanya ponselnya saja yang bisa menjadi pelampiasan. Selama ini dia diam saja karena masih menghormati, tapi sekarang tidak lagi.

"Lihatlah anak-anak anda, dia sudah lama menunggu berita baik dari anda. Tidak tahu kah anda, bahwa mereka ingin menggantikan posisimu? Bahkan mereka sering menyewa pembunuh bayaran agar saya bisa mati dan salah satu dari mereka menjadi penggantinya." tandas Dreven dengan sinis.

"Lancang kamu ya! Berani-beraninya anak ingus seperti anda memfitnah kami!" salah satu dari mereka, tentu saja tidak Terima dengan pernyataan Dreven baru saja.

Vincent yang mendengarkan hanya menggelengkan kepalanya sambil bersedekap dada. Keluarga ini benar-benar di luar nalar, mereka baik di depan Gallenio Galtaro Kingsley saja, lalu ketika diluar mereka saling membunuh satu sama lain.

Situasi semakin memanas di dalam ruangan itu. Tatapan semua orang tertuju pada Dreven yang berdiri dengan penuh amarah, sementara Gallenio Galtaro Kingsley berusaha mempertahankan wibawanya di tengah keributan. Anggota keluarga lain mulai merasa tak nyaman, terutama setelah tuduhan Dreven tentang pembunuh bayaran mencuat ke permukaan. Wajah mereka tegang, tetapi ada yang mulai terlihat gelisah.

"Dreven!" Gallenio Galtaro Kingsley berteriak, suaranya tegas namun ada nada putus asa yang tersirat. "Apa kau pikir mengobrak-abrik keluargamu sendiri akan menyelesaikan masalah? Apa kau lupa bahwa semua ini adalah untuk kebaikanmu juga?"

Dreven menatap kakeknya dengan pandangan dingin, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulut Gallenio hanya membuatnya semakin muak. "Kebaikan? Tidak ada kebaikan dalam keluarga ini, karena semua yang ada di sini hanya tentang kekuasaan dan uang. Saya sudah muak melihat kalian saling menjatuhkan, saling menusuk dari belakang hanya demi warisan yang sama sekali tidak saya inginkan."

Vincent yang sudah muak dengan pertengkaran ini akhirnya mengeluarkan suaranya juga, "Tinggal keluarin kartu As-nya aja bro. Pasti mereka belum tau, kalau Lynelle ini anak dari selingkuhan Kakek lo, dan sebentar lagi akan menggantikan posisi wanita tua itu, menjadi Nyonya Gallenio Galtaro Kingsley di Mansion ini."

"Lancang! Apa maksudmu hah?!" kata wanita tua di samping Gallenio Galtaro Kingsley, yang kini sudah naik pitam.

"Anda tidak tau Nyonya?" Vincent tertawa terbahak, "Selingkuhan suamimu telah mati, meninggalkan anak secantik dan serupawan Lynelle yang sialnya mengguncang debaran hati suamimu yang telah lama hilang. Lagipun untuk apa suamimu selalu memerintah Dreven agar melindungi gadis itu, jika kedepannya tidak ingin dijadikan istri."

Butuh digaris bawahi, Vincent sedang mengarang cerita sebenarnya. Hasil pencarian data sementara waktu itu, Lynelle memang anak dari selingkuhan Gallenio Galtaro Kingsley. Tapi untuk adanya hubungan darah atau tidak dengan Gallenio Galtaro Kingsley, mereka masih belum tau. Dreven dan Vincent, hanya menerka-nerka saja dari awal tidak ada niatan mencari informasi lebih.

Pada intinya, jika Lynelle bukan anak hasil dari perselingkuhan Gallenio Galtaro Kingsley, itu tandanya Kakek tua itu memiliki perasaan lebih kepada Lynelle. Entahlah, Dreven dan Vincent sebenarnya juga masih bingung, kenapa Kakek tua itu begitu melindungi Lynelle dan selalu menuruti kemauan apapun dari gadis itu.

"Anak muda, kau benar-benar kurang ajar!" Nyonya Gallenio berteriak sambil menudingkan jarinya ke arah Vincent. "Beraninya kau mengarang cerita busuk seperti itu tentang suamiku?!"

Vincent tetap tenang, senyum licik terukir di wajahnya, "Aku hanya menyampaikan apa yang aku ketahui, Nyonya. Mungkin suamimu tidak ingin kalian tahu kebenaran ini. Lagipula, siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di belakang pintu tertutup?"

Dreven menatap Vincent dengan bingung, tak menyangka sahabatnya akan mengambil langkah seberani ini. Meskipun demikian, Dreven tahu bahwa mereka harus terus menekan Gallenio Galtaro Kingsley untuk mendapatkan kebenaran. Dia sudah muak selalu disalahkan atas rasa sakit yang didapatkan gadis itu, dan dia sudah tidak ingin berhubungan dengan siapapun yang ada di Mansion ini!

"Aku tidak punya waktu untuk menjawab tuduhan liar dan tidak berdasar ini. Lynelle adalah bagian dari keluarga ini, tidak peduli apa pun yang kalian katakan sekarang." kata Gallenio Galtaro Kingsley menyela.

Namun, ucapan Gallenio justru membuat semua orang di ruangan itu semakin curiga. Tatapan Nyonya Gallenio menjadi lebih tajam, penuh kecurigaan yang mencuat dari lubuk hatinya. Dia menoleh ke arah suaminya, berharap menemukan penyangkalan yang meyakinkan, tetapi Gallenio tampak ragu dan tertekan.

"Kau tidak bisa menghindar dari ini, Gallenio," ucap Nyonya Gallenio dengan suara bergetar. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa anak muda itu benar? Apa kau benar-benar menjalin hubungan dengan wanita lain hingga memiliki anak di luar nikah? Atau kau membawanya ke sini, agar dia bisa menggantikanku dan menjadi istrimu?"

Lynelle pucat pasi. Kenapa masalahnya jadi melebar seperti ini? Dia meminta kepada sang Kakek untuk membawa Dreven ke Mansion, semata-mata agar Kakeknya bisa mendekatkan dia dengan Dreven. Tapi kenapa hasilnya menjadi seperti ini?

Sedangkan Gallenio Galtaro Kingsley mencoba mencari kata-kata yang bagus untuk menjadi alasan, tetapi semua yang keluar dari mulutnya hanyalah kebingungan dan ketakutan. Dia merasa dipojokkan, dan untuk pertama kalinya, seluruh otoritasnya sebagai kepala keluarga Kingsley terguncang di seluruh anggota keluarganya.

"Ya mau gimana lagi, anda juga dulunya hanyalah selingkuhan Gallenio Galtaro Kingsley. Jadi wajar saja jika Gallenio Galtaro Kingsley bisa selingkuh dari diri anda juga," kata Dreven sambil tertawa renyah, "Kakek, kalau memang ada sesuatu yang anda sembunyikan, lebih baik anda mengaku sekarang saja sebelum semuanya terbongkar dengan sendirinya. Coba katakan, gadis itu anak dari perselingkuhan anda atau dia hanyalah orang lain dan akan menjadi calon istrimu di masa depan kelak?"

Gallenio hanya bisa menunduk, tidak bisa menyangkal lagi. Dia terpojok, dia sudah tidak bisa membela dirinya sendiri lagi.

"Lynelle... Memang bukan orang lain," akhirnya Gallenio berbicara dengan suara yang pelan namun jelas, menyebabkan semua orang menahan napas. "Dia adalah putriku, hasil dari hubungan yang tidak seharusnya terjadi. Aku membawanya ke sini karena Ibunya sudah tiada, tidak kusangka aku benar-benar menyayanginya dengan sangat tulus."

"Jadi dia akan menjadi istrimu di masa depan kelak?" Nyonya Gallenio masih tidak menyangka dengan fakta yang baru saja terlontar.

Gallenio Galtaro Kingsley menggelengkan kepalanya, "Dia hanyalah putriku dan tetap akan menjadi putriku."

Hening menyelimuti ruangan setelah pengakuan Gallenio Galtaro Kingsley. Tatapan setiap orang penuh dengan keterkejutan dan ketidakpercayaan. Nyonya Gallenio terlihat begitu terpukul. Matanya menyipit, menatap suaminya dengan rasa terluka yang mendalam.

"Putrimu?" Suara Nyonya Gallenio bergetar. "Kau menyembunyikan ini dariku selama bertahun-tahun? Membiarkanku percaya bahwa dia adalah... bagian dari keluarga ini, padahal... dia adalah anak dari hubungan yang kau sembunyikan? Begitu?"

Gallenio Galtaro Kingsley mengangguk pelan. "Aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi... aku juga tak bisa membiarkan Lynelle hidup tanpa perlindungan. Aku telah kehilangan Ibunya, dan aku tak ingin kehilangan dia juga."

Lynelle, yang berdiri di sudut ruangan, merasa seluruh dunia runtuh di sekitarnya. Segala harapan dan impiannya tentang Dreven kini hancur berkeping-keping. Dia bukanlah bagian dari keluarga yang dia impikan, dia hanyalah hasil dari hubungan yang seharusnya tak pernah ada.

Perasaan bersalah dan kebingungan menguasainya saat ini, apalagi hidupnya tidak akan aman lagi, bagaimana jika mereka langsung menindasnya setelah tau kebenarannya!

"Vincent, cabut, misi kita kelar." kata Dreven sambil mengkode untuk segera pergi dari sana.

Vincent mengangguk. Semoga saja kedepannya Dreven tidak diganggu lagi oleh mereka, hanya karena seorang Lynelle yang merengek dengan alasan habis ditindas. Mereka memiliki pekerjaan penting, dan Lynelle tidak masuk ke dalam list yang harus dilindungi.

"Kak Dreven, tunggu!" teriak Lynelle yang mengejar Dreven dengan buru-buru, dia harus dekat dengan Dreven hari ini juga.

Dreven tak memedulikan panggilan Lynelle.

Langkahnya cepat dan penuh tekad, seolah ingin secepat mungkin meninggalkan semua drama yang baru saja terungkap. Vincent mengikuti di belakangnya, siap untuk melindungi Dreven dari apa pun yang mungkin terjadi. Namun, suara Lynelle yang memanggil namanya terus menggema di koridor Mansion yang panjang dan sepi itu.

"Kak Dreven, tolong dengarkan aku!" Lynelle terus mengejar, suaranya terdengar penuh keputusasaan.

Dreven menghentikan langkahnya, membuat Vincent terkejut. Dia tidak menyangka Dreven akan menanggapi panggilan Lynelle. Dengan gerakan cepat, Dreven berbalik dan menatap Lynelle dengan tatapan tajam.

"Apa lagi?" tanya Dreven singkat.

"Itu tadi nggak bener kan? Aku bukan putri Kakek?" balas Lynelle dengan cepat.

Mendengar Lynelle yang ngotot kalau dia hanya anak adopsi saja, membuat Vincent menyipitkan matanya tak mengerti, "Bukannya berita tadi bagus, seenggaknya lo di sini nggak numpang hidup doang kan? Ada yang salah?"

"Itu bohong, aku nggak percaya. Di sini, aku hanya anak adopsi, dan selamanya akan tetap menjadi anak adopsi. Bener kan Kak Dreven?" balas Lynelle sambil menggelengkan kepalanya cepat, lalu menatap Dreven dengan wajah penuh harapan.

Vincent tersenyum miring, "Kuping lo budeg tadi? Lo nggak denger Kakek tua tadi ngomong apa? Lo itu anaknya, anak haram, anak hasil dari perselingkuhan, perlu gue reka ulang adegan tadi kah?"

Lynelle menggelengkan kepalanya cepat, dia tetap tidak akan percaya dengan begitu mudah, "Nggak! Nggak mungkin! Itu bohong! Kak Dreven, tolong bilang kalau ini semua nggak bener, aku cinta sama Kakak!"

Dreven menatap Lynelle dengan dingin, tak sedikit pun menunjukkan empati atau perhatian pada gadis yang tampak begitu putus asa di depannya. Suasana di koridor yang sunyi membuat suara detak jantung Lynelle terasa semakin kencang di telinganya. Dia berharap, meski sedikit, Dreven akan menunjukkan simpati. Tapi, apa yang keluar dari mulut Dreven jauh dari harapannya.

"Cinta?" Dreven mendengus, tatapannya menusuk Lynelle seperti pisau tajam, "Setelah tau faktanya, harusnya lo sadar kalau gue keponakan lo kan? Jangan ketularan nggak warasnya Bapak lo. Lagian, lo nggak lebih dari benalu di dalam hidup gue."

Lynelle merasakan dadanya sesak. Dia ingin memprotes, ingin berteriak bahwa perasaannya nyata, bahwa dia sungguh-sungguh mencintai Dreven. Dreven membalikkan badan, berniat untuk segera pergi dari sana. Tapi dia kembali membalikkan badannya dan menatap Lynelle dengan tajam.

"Lynelle," Dreven melanjutkan, nadanya sedikit lebih tenang namun penuh ketegasan, "Gue nggak peduli lo anak adopsi, anak haram, atau apapun itu. Yang pasti gue nggak punya urusan sama lo, jadi jangan sangkut pautin masalah lo ke gue lagi. Ngerti?"

Lynelle tertegun. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Tubuhnya terasa lemah, seolah semua tenaga yang dimilikinya telah terkuras habis. Dreven tidak memberinya sedikit pun harapan, bahkan setelah semua yang terjadi.

"Kenapa, Kak?" bisik Lynelle, suaranya nyaris tak terdengar, "Kenapa Kakak begitu membenci aku? Bahkan aku rela ditindas, demi dibela sama Kakak. Kenapa Kakak nggak pernah peka sama perasaanku selama ini Kak?"

"Sudahi semua drama lo ini, atau mati!"

Dreven langsung pergi meninggalkan Lynelle yang mematung di tempat. Ancaman tadi bukan main-main, karena sekali lagi Lynelle menganggu hidupnya, makanya nyawa dia sendiri yang akan jadi taruhannya. Tidak peduli ada Kakeknya yang menghalangi jalannya!

"Dari laporan, Mamah lo udah diamanin dan udah dipindahin ke Mansion sekarang. Mamah lo juga udah nggak teriak-teriak lagi dan udah tenang, ada dua Dokter yang berhasil nanganin Mamah lo tadi." kata Vincent setelah menerima laporan dari seseorang.

Dreven mengangguk, berlian berharganya akhirnya aman juga ditangannya. Entah ingin mati atau cari mati, Kakeknya berhasil menculik Mamahnya dan mengancam dirinya untuk segera pergi ke Mansion Kingsley, lewat video Mamahnya yang disekap ketat.

Dan lagi-lagi, hal yang diributkan masih sama, karena Lynelle. Ini untuk yang terakhir kalinya, untuk selanjutnya, Dreven sudah tidak peduli dengan hubungan darah lagi!

Siapapun yang berani mengganggu hidupnya, itu tandanya mereka sudah bersiap-siap untuk MATI!

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!