Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logika sang bayangan
Hari pertama di UA High School tidak diawali dengan upacara penyambutan yang meriah. Bagi kelas 1-A, hari itu diawali dengan aroma kecemasan.
Mitsuki duduk di bangku barisan belakang, tepat di samping jendela. Ia mengenakan seragam UA dengan rapi, namun tetap memberikan kesan yang berbeda—seragam itu tampak terlalu kaku untuk tubuhnya yang bergerak dengan kelenturan ular. Di depannya, Izuku sedang duduk dengan tegang, sementara Bakugo sudah menyandarkan kakinya di atas meja dengan ekspresi dongkol.
"Singkirkan kakimu dari meja!" seru Iida sambil mengayunkan tangannya seperti robot. "Itu menghina para senior kita dan pengrajin yang membuat meja ini!"
"Berisik, pecundang!" sahut Bakugo. Matanya kemudian melirik ke arah Mitsuki. "Oi, wajah pucat. Aku belum selesai denganmu sejak hari ujian itu. Jangan pikir karena kau menyelamatkan si Deku sialan itu, kau bisa bersantai di sini."
Mitsuki menoleh pelan, menatap Bakugo dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Aku tidak bersantai. Aku sedang menghitung detak jantungmu. Kau sangat marah, ya? Itu tidak sehat untuk aliran energimu."
Bakugo mengerutkan kening, baru saja akan meledak, ketika sebuah suara serak terdengar dari arah pintu.
"Jika kalian di sini hanya untuk berteman, sebaiknya kalian pergi sekarang."
Shota Aizawa, dalam kantong tidurnya yang berwarna kuning, merangkak masuk seperti ulat bulu raksasa. Seluruh kelas seketika sunyi. Mitsuki menyipitkan mata. Pria ini... dia menyembunyikan kehadirannya dengan sangat baik. Seorang ahli infiltrasi, pikirnya.
Aizawa keluar dari kantong tidurnya dan menatap murid-muridnya dengan mata lelah. "Aku wali kelas kalian, Shota Aizawa. Pakai baju olahraga kalian dan segera ke lapangan."
Tes Penilaian Quirk
Di lapangan, Aizawa menjelaskan bahwa mereka akan melakukan tes kebugaran fisik, namun kali ini dengan izin menggunakan Quirk mereka.
"Siapa yang menempati peringkat pertama di ujian praktik?" tanya Aizawa.
"Bakugo," jawab seseorang.
"Bakugo, coba lempar bola ini menggunakan Quirk-mu. Berapa rekor lemparanmu saat SMP?"
"67 meter," jawab Bakugo. Ia melangkah ke dalam lingkaran, menarik napas dalam, dan meledakkan bola itu dengan teriakan, "SHINEEEEE!" (Mati!).
Hasilnya: 705.2 meter.
Seluruh kelas bersorak kagum, namun Aizawa memberikan peringatan dingin. "Ini adalah pendidikan pahlawan. Siapa pun yang berada di peringkat terakhir dalam akumulasi nilai delapan tes ini akan dianggap tidak memiliki potensi dan... akan langsung dikeluarkan."
Suasana seketika mencekam. Izuku berkeringat dingin. Ia tahu One For All masih sulit dikendalikan. Namun, ia merasakan tepukan ringan di bahunya.
"Tenang, Izuku," bisik Mitsuki. "Gunakan teknik pernapasan yang aku ajarkan. Jangan biarkan emosimu mengonsumsi energimu."
Tes 1: Lari 50 Meter
Saat giliran Mitsuki, ia berdiri berhadapan dengan Iida Tenya yang memiliki mesin di betisnya.
"Mulai!"
Iida melesat dengan kecepatan tinggi. Mitsuki tidak meledakkan kekuatannya. Ia hanya mencondongkan tubuhnya ke depan, menggunakan Chakra di telapak kakinya untuk memicu akselerasi instan teknik Body Flicker (Shunshin) tingkat dasar.
Hasil: 3.04 detik. Hanya terpaut sedikit di belakang Iida yang mencatat 3.01 detik.
Aizawa mencatat hasilnya dengan alis berkerut. Dia tidak terlihat seperti menggunakan Quirk motorik. Itu lebih seperti peningkatan fisik yang dipicu secara internal.
Tes 2: Kekuatan Genggaman
Seorang murid bertubuh besar (Shoji) mencatat angka 540 kg. Mitsuki melangkah maju. Ia tidak memiliki otot besar, namun ia tahu cara mengunci persendian tangan untuk memberikan tekanan maksimal. Ia memanjangkan sedikit otot di lengannya, memperkuat lilitannya pada alat pengukur.
Hasil: 480 kg.
"Wah, anak pucat itu luar biasa!" bisik Kirishima. "Dia tidak terlihat sekuat itu!"
Tes Terakhir: Lempar Bola
Kini giliran Mitsuki. Ia melangkah ke lingkaran lempar dengan santai. Ia tidak berteriak. Ia hanya memegang bola itu, lalu tiba-tiba lengannya memanjang dan meliuk seperti cambuk.
Whusss!
Bola itu terlempar dengan momentum sentrifugal yang luar biasa. Namun, di tengah udara, Mitsuki membentuk segel tangan tersembunyi di balik lengan bajunya. Fūton: Reppūshō (Elemen Angin: Telapak Angin Puyuh).
Tekanan udara mendorong bola itu lebih jauh lagi.
Hasil: 910 meter.
"Curang! Itu tadi seperti ada ledakan udara!" teriak beberapa murid.
Aizawa berjalan mendekati Mitsuki. Matanya tiba-tiba menyala merah, dan rambutnya berdiri. Ia menggunakan Quirk-nya, Erasure, untuk menghapus kekuatan Mitsuki.
"Coba lakukan lagi," perintah Aizawa dingin.
Mitsuki memiringkan kepalanya. "Lakukan apa?"
"Aku sudah menghapus Quirk-mu. Kenapa kau tidak terlihat terganggu?"
Mitsuki tersenyum datar. "Sensei, Anda mungkin bisa menghapus 'sakelar' di dalam tubuh orang-orang ini. Tapi Anda tidak bisa menghapus apa yang sudah menjadi bagian dari anatomi dan latihan keras saya. Kekuatan saya bukan sekadar bakat yang bisa Anda matikan."
Aizawa tertegun. Quirk-nya biasanya membuat pengguna Quirk tipe emisi atau transformasi kehilangan kendali seketika. Tapi Mitsuki tetap berdiri di sana, dengan aliran energi yang tetap stabil. Anak ini... dia bukan pengguna Quirk biasa. Strukturnya berbeda.
Momen Kebenaran Izuku
Kini giliran Izuku. Ia berdiri di lingkaran, tertekan oleh ancaman pengusiran. Ia mencoba menggunakan One For All di seluruh tubuhnya, namun Aizawa menghentikannya.
"Kau tidak bisa mengendalikan kekuatanmu, Midoriya," kata Aizawa. "Kau hanya akan menjadi beban jika kau menghancurkan tubuhmu sendiri di medan perang."
Izuku menunduk. Ia teringat latihan malamnya bersama Mitsuki di pantai.
“Izuku, jangan pikirkan seluruh tubuhmu. Pikirkan satu titik. Seperti ular yang memusatkan seluruh racunnya hanya pada sepasang taring.”
Izuku mengambil posisi. Ia tidak lagi mencoba meledakkan seluruh lengannya. Saat bola akan terlepas dari ujung jarinya, ia memusatkan One For All hanya pada ujung jari telunjuknya.
"SMASH!"
Bola itu melesat, membelah udara dengan suara yang memekakkan telinga.
Hasil: 705.3 meter. Hanya unggul 0.1 meter dari Bakugo.
Izuku berbalik ke arah Aizawa, jarinya bengkak dan ungu, tapi wajahnya menunjukkan ketenangan yang ia pelajari dari Mitsuki. "Sensei... aku masih bisa bergerak."
Aizawa terdiam sebentar, lalu senyum tipis yang menyeramkan muncul di wajahnya. "Menarik."
Di akhir tes, Aizawa mengumumkan bahwa ancaman pengusiran itu hanyalah "tipuan logis" untuk memicu potensi maksimal mereka (meskipun Mitsuki tahu bahwa Aizawa sebenarnya serius dan hanya berubah pikiran setelah melihat hasil mereka).
Saat mereka berjalan kembali ke ruang ganti, Mitsuki berjalan di samping Izuku.
"Kau melakukannya dengan baik, Matahari," ucap Mitsuki.
"Itu berkat teknik fokus yang kau ajarkan, Mitsuki-kun. Kalau tidak, mungkin tanganku sudah hancur total sekarang," jawab Izuku sambil tersenyum lebar.
"Tetaplah waspada," kata Mitsuki sambil menatap ke arah koridor yang gelap. "Aku merasakan ada banyak mata yang mulai memperhatikan kita. Di sekolah ini, menjadi luar biasa berarti menjadi sasaran."
Di sudut koridor, Shoto Todoroki berdiri bersandar di dinding, matanya yang berbeda warna menatap tajam ke arah Mitsuki. Ia merasakan sesuatu yang sangat dingin dan akrab dari remaja berambut pucat itu sesuatu yang mengingatkannya pada "ciptaan" yang sempurna.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen