Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Es yang Mulai Retak
Begitu pintu apartemen terbuka, Arash tidak membiarkan Raisa menuju kamarnya. Ia langsung menariknya ke arah ruang kerja pribadi yang terletak di sayap kanan gedung. Dengan satu dorongan tegas, Raisa masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan rak buku tinggi dan aroma maskulin yang kaku.
Arash memutar kunci pintu dan mencabutnya, menyimpannya di dalam saku jasnya.
"Duduk," Arash menunjuk kursi kayu mahoni di balik meja kerja besarnya. "Kotak-kotak itu sudah menunggu. Jangan beranjak sampai setidaknya tiga kotak selesai kau verifikasi."
Raisa menatap tumpukan dokumen yang sudah diletakkan oleh asisten Arash di sana. Amarahnya memuncak. "Aku bukan budakmu! Ini sudah jam sebelas malam! Aku lelah, aku lapar, dan aku tidak mau melakukannya sekarang!"
Arash melepaskan jasnya, melemparkannya ke sofa kulit tanpa mengalihkan pandangan dari Raisa. Ia mulai melonggarkan dasinya, lalu membuka dua kancing teratas kemejanya. Langkahnya lambat, namun pasti, ia mendekat ke arah Raisa yang berdiri mematung di dekat meja.
"Aku menolak, Arash! Kau dengar?" suara Raisa bergetar hebat.
Arash tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah masuk ke ruang pribadi Raisa, memaksa wanita itu mundur hingga punggungnya membentur pinggiran meja kerja yang keras. Arash menumpukan kedua tangannya di meja, mengunci tubuh Raisa di antara lengannya yang kokoh.
Wajah Arash hanya berjarak beberapa sentimeter. Raisa bisa merasakan panas tubuh Arash dan mencium aroma alkohol samar dari napas pria itu yang memburu.
"Kau menolak?" bisik Arash, suaranya kini terdengar sangat rendah dan menggoda, namun penuh ancaman. "Setelah kau mempermalukanku di depan Vino? Setelah kau mengaku single di depan pria lain saat kau masih menggunakan namaku?"
Arash menggerakkan wajahnya lebih dekat, hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Raisa. Matanya menatap bibir Raisa dengan intensitas yang membuat jantung Raisa seolah berhenti berdetak. Tangan Arash perlahan naik, jemarinya membelai rahang Raisa dengan gerakan lembut yang justru terasa sangat menakutkan.
"Apa kau ingin aku membuktikan padamu di sini, sekarang juga, bahwa kau sama sekali tidak single?" Arash berbisik tepat di telinga Raisa, embusan napasnya membuat Raisa merinding hebat. "Kontrak itu mencakup kepatuhan mutlak, Raisa. Jika kau ingin bermain-main dengan api, aku akan memberimu api yang sesungguhnya."
Raisa memejamkan mata rapat-rapat, seluruh tubuhnya gemetar. Ia merasa terancam, bukan secara fisik yang kasar, melainkan oleh intimasi yang dipaksakan ini. "Jangan ... tolong jangan lakukan ini ...."
Melihat Raisa yang sudah hampir menangis dan benar-benar ketakutan, Arash tiba-tiba menarik diri. Ia memberikan seringai dingin yang penuh kemenangan. Ia tidak benar-benar ingin menyentuh Raisa lebih jauh, ia hanya ingin memastikan Raisa tahu siapa yang memegang kendali atas jiwanya.
"Bagus," ujar Arash dingin sembari berdiri tegak kembali, seolah tidak terjadi apa-apa. "Ketakutanmu adalah jawaban yang cukup bagiku."
Arash berbalik, berjalan menuju pintu. Sebelum ia keluar, ia menunjuk ke arah lampu meja. "Kerjakan. Aku akan mengawasimu dari layar monitor di kamar sebelah. Jangan coba-coba tertidur, atau aku akan kembali ke sini dan melakukan apa yang baru saja aku tunda."
Arash membuka pintu, keluar, lalu menguncinya kembali dari luar. Meninggalkan Raisa sendirian dalam keheningan ruang kerja yang mencekam, hanya ditemani bayang-bayang dari lampu meja dan tumpukan dokumen yang harus ia selesaikan sebagai harga dari sebuah pembangkangan.
Beberapa waktu berlalu. Lampu meja kerja Arash yang berwarna kuning temaram menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan yang luas itu. Di luar, hujan kembali turun, membasahi kaca jendela besar apartemen lantai 40 dengan suara rintik yang monoton dan menghipnotis. Jam dinding menunjukkan pukul 02:15 pagi.
Raisa masih duduk di kursi mahoni itu, namun tangannya tidak lagi memegang pulpen. Kepalanya terkulai di atas tumpukan map audit fisik tahun 2021 yang terbuka lebar.
Rambutnya yang hitam tergerai menutupi sebagian wajahnya yang tampak pucat dan kelelahan. Napasnya teratur, namun sesekali ia mengigau kecil, menyebutkan angka-angka atau nama ayahnya dalam tidurnya yang tidak nyenyak.
Di kamar sebelah, Arash duduk di tepi ranjang besar mereka, menatap layar tablet yang menampilkan siaran langsung dari kamera tersembunyi di ruang kerja. Ia awalnya berniat menonton Raisa bekerja sebagai bentuk pengawasan, sebuah cara untuk memuaskan egonya yang terluka. Namun, melihat tubuh mungil itu meringkuk tak berdaya di atas meja kayu yang keras, ada sesuatu yang berdesir di dadanya.
Amarah yang tadi membara kini perlahan padam, digantikan oleh rasa bersalah yang tidak diinginkan.
Arash meletakkan tabletnya. Ia berdiri, menghela napas panjang sembari mengusap wajahnya kasar. "Kau benar-benar keras kepala, Raisa," gumamnya pelan pada kesunyian kamar.
Ia mengambil kunci ruangan dari atas nakas, lalu melangkah menuju ruang kerja. Suara kunci yang diputar terdengar pelan, namun cukup untuk membuat suasana terasa berbeda saat Arash melangkah masuk. Ia berjalan mendekati meja kerja, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet bulu yang tebal.
Arash berhenti tepat di samping Raisa. Ia menatap tumpukan dokumen yang sudah berhasil diselesaikan wanita itu—ternyata Raisa sudah menyelesaikan hampir dua kotak besar. Wanita itu benar-benar memaksakan dirinya hingga batas akhir. Arash melihat bekas air mata yang sudah mengering di sudut mata Raisa, sisa dari ketakutan dan tekanan yang ia berikan tadi.
Secara perlahan, seolah takut membangunkan rahasia yang ia simpan sendiri, Arash mengulurkan tangan. Ia menyelipkan jari-jarinya ke bawah leher dan lutut Raisa. Dengan satu gerakan mantap namun lembut, ia mengangkat tubuh Raisa dari kursi.
Raisa sedikit bergerak, kepalanya terkulai di bahu Arash. "Ayah ... jangan ... hutangnya..." igau Raisa lirih, tangannya refleks meremas kemeja Arash, mencari perlindungan bahkan dalam tidurnya.
Arash tertegun. Ia menunduk, menatap wajah Raisa dari jarak yang sangat dekat. Tanpa sadar, ia mempererat dekapannya. "Ssst ... sudah selesai. Tidurlah," bisik Arash, suaranya tidak lagi dingin atau penuh sarkasme. Untuk sesaat, ia bukan lagi CEO yang tiran, melainkan seorang pria yang hatinya mulai retak oleh kerapuhan wanita di pelukannya.
Arash membawa Raisa keluar dari ruang kerja menuju kamar utama. Ia membaringkan tubuh wanita itu di sisi tempat tidur milik Raisa dengan sangat hati-hati, seolah-olah Raisa adalah porselen retak yang akan hancur jika tersentuh kasar. Ia melepaskan sepatu hak tinggi Raisa, menyelimutinya hingga sebatas dada, dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu.
Arash berdiri di sisi ranjang untuk waktu yang lama, hanya menatap Raisa. Tangannya yang tadi menyentuh kulit hangat Raisa terasa bergetar. Ia menyadari satu hal yang menakutkan, ia mulai peduli. Dan dalam dunianya yang penuh dengan paman-paman pemangsa, rasa peduli adalah kelemahan yang mematikan.
Ia mematikan lampu kamar, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu kota dari luar jendela. Arash berbaring di sisinya sendiri, memunggungi bantal pembatas yang tadi pagi ia hinakan. Namun, malam ini, ia tidak menendang guling itu. Ia justru merasa lega karena ada batas yang melindunginya dari perasaannya sendiri yang mulai tidak terkendali.
***