NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 6

Angin sore di atap sekolah bertiup kencang, membawa aroma debu dan aspal panas dari jalan raya di bawah sana. Pintu besi berkarat itu berderit ngilu saat Keyra mendorongnya terbuka dengan kasar. Napasnya memburu, bukan hanya karena dia baru saja berlari menaiki empat lantai tangga darurat, tapi karena amarah dan rasa penasaran yang membakar paru-parunya.

Di sana, duduk di tepi tembok pembatas setinggi pinggang, Raka Mahendra sedang menatap langit yang mulai jingga. Kakinya berayun-ayun di atas jurang ketinggian, seolah jatuh bukanlah opsi yang menakutkan baginya. Di tangannya, ada sebatang permen lolipop yang belum dibuka, diputar-putar dengan gerakan jari yang gelisah.

"Gue tahu lo bakal lari ke sini," suara Keyra memecah keheningan, tajam dan tanpa basa-basi.

Raka tidak menoleh. Bahunya hanya sedikit menegang, tanda dia menyadari kehadiran gadis itu, sebelum kembali rileks. "Anginnya enak, Key. Daripada di bawah, sumpek sama bau parfum Bu Ratna."

"Turun, Raka. Itu bahaya."

"Hidup itu bahaya, Keyra Anthea. Nyebrang jalan bahaya, makan bakso pedes bahaya, jatuh cinta apalagi," jawab Raka santai, akhirnya melompat turun dari tembok pembatas dengan pendaratan mulus yang mencurigakan. Dia memasukkan lolipop itu ke saku celana abu-abunya. "Ngapain lo ngejar gue? Fans berat?"

Keyra tidak tertawa. Dia melangkah maju, memangkas jarak hingga Raka terpojok di antara dirinya dan tumpukan kursi bekas yang dibiarkan membusuk di sudut atap. Tatapan Keyra mengunci manik mata Raka yang gelap.

"Gue nggak butuh lelucon lo. Gue butuh jawaban. Soal lab kimia. Soal Julian. Soal kunci lemari B3 yang lo bilang rusak padahal belum ada yang ngecek hari ini. Dan soal lo... yang tahu segalanya sebelum itu terjadi."

Raka menghela napas panjang, menyugar rambutnya ke belakang. Wajah tengilnya perlahan luntur, digantikan oleh ekspresi lelah yang jarang dia perlihatkan di depan umum. "Gue udah bilang, gue observan. Gue perhatiin detail. Julian itu ceroboh, kuncinya emang udah goyang dari minggu lalu..."

"Bohong!" sergah Keyra. Dia mencengkeram lengan seragam Raka, menahannya agar tidak kabur lagi. "Minggu lalu lo nggak masuk sekolah tiga hari, Raka! Gimana lo tahu kuncinya goyang?"

Raka terdiam. Mulutnya terkatup rapat. Skakmat.

"Lo bukan cuma observan," lanjut Keyra, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Lo bertindak kayak orang yang udah nonton film ini sebelumnya, dan lo bosen sama ending-nya, jadi lo ubah skenarionya. Siapa lo sebenernya? Cenayang? Time traveler?"

Raka menepis tangan Keyra kasar. Gerakannya tiba-tiba menjadi defensif. Dia berjalan menjauh, menendang kerikil di lantai beton. "Jangan ngaco. Ini dunia nyata, bukan novel fiksi ilmiah yang lo baca di perpustakaan."

"Kalau gitu jelasin!" teriak Keyra, suaranya menggema di atap yang sunyi. "Jelasin kenapa lo natap Julian dengan tatapan kasihan lima detik sebelum dia ngambil botol itu! Jelasin kenapa lo udah siapin botol penukar di saku lo!"

Raka berbalik mendadak, wajahnya kini terlihat frustrasi. Topeng 'cowok santai' itu retak sepenuhnya. "Karena gue udah liat itu, puas lo?!"

Keyra terpaku. Angin sore seolah berhenti bertiup sejenak. "Maksud lo... lo liat masa depan?"

"Bukan masa depan yang jelas kayak di TV!" Raka membentak, lalu segera menurunkan nada suaranya, menyadari dia kehilangan kendali. Dia memijat pelipisnya, tampak kesakitan. "Gue... gue sering mimpi. Mimpi yang sama. Berulang-ulang. Potongan-potongan kejadian acak yang kerasa nyata banget."

Raka menyandarkan punggungnya ke tembok ruang mesin lift, merosot duduk di lantai yang dingin. Dia menatap kedua telapak tangannya sendiri dengan tatapan asing. "Gue sebut itu *deja vu* parah. Kadang gue bangun tidur dengan dada sesak, inget bau asap, inget suara ledakan, inget teriakan anak-anak kelas. Tapi pas gue bangun, semuanya normal. Gue pikir gue gila."

Keyra perlahan mendekat, amarahnya surut digantikan rasa ingin tahu yang lebih besar. Dia ikut berjongkok di depan Raka, menjaga jarak aman. "Jadi... ledakan di lab itu... ada di mimpi lo?"

"Iya," Raka mengangguk pelan. Matanya tidak fokus, menerawang jauh. "Dalam mimpi gue—atau entah apa sebutannya—Julian ngejatuhin botol itu. Apinya nyamber ke gorden, terus ke lemari penyimpanan bahan kimia. Ledakannya nggak gede, tapi asepnya... asepnya beracun, Key. Tiga orang masuk rumah sakit. Bu Ratna dipecat karena kelalaian."

Raka menoleh menatap Keyra. Ada ketakutan tulus di mata cowok itu. "Gue nggak tahu kapan itu bakal kejadian. Bisa hari ini, bisa besok, bisa tahun depan. Tapi tadi pagi, pas gue liat Julian pake jaket denim yang sama kayak di mimpi gue, dan Bu Ratna nyuruh kita praktik reaksi eksoterm... gue tahu. Itu hari ini."

"Lo nyiapin botol penukar itu dari pagi?" tanya Keyra pelan.

"Gue nyiapin itu setiap kali ada jadwal lab kimia, Key," jawab Raka dengan tawa getir. "Setiap minggu gue bawa air gantiin larutan berbahaya itu, jaga-jaga kalau 'hari itu' dateng. Dan hari ini, beneran dateng."

Keyra terhenyak. Dia membayangkan Raka melakukan hal itu berminggu-minggu, sendirian, dianggap aneh oleh orang lain, hanya untuk mencegah bencana yang hanya dia yang tahu. Beban macam apa yang dipikul cowok ini sendirian?

"Kenapa lo nggak laporin aja? Bilang ke Bu Ratna kuncinya rusak?"

"Siapa yang bakal percaya sama murid dengan catatan BK setebel gue?" Raka mendengus. "Kalau gue bilang 'Bu, jangan praktik, saya mimpi bakal ada ledakan', gue bakal diketawain atau dikirim ke psikolog. Cara paling aman ya... *silent outcome* tadi. Mencegah tanpa ada yang sadar kalau bahaya itu pernah ada."

Penjelasan itu masuk akal. Terlalu masuk akal hingga membuat Keyra merinding. Raka bukan pahlawan super yang gagah; dia adalah korban dari ingatannya sendiri yang kacau.

"Tapi ada satu hal yang beda, Key," ucap Raka tiba-tiba, suaranya berubah menjadi bisikan serius.

"Apa?"

"Di mimpi gue... lo nggak pernah ngejar gue sampai ke atap. Lo nggak pernah tahu soal ini. Lo biasanya cuma ikut lari keluar kelas sambil batuk-batuk kena asep."

Raka menatap lurus ke manik mata Keyra, tatapannya tajam dan mengintimidasi. "Lo variabel baru, Keyra. Lo anomali. Dan jujur aja, gue nggak tahu apakah keterlibatan lo ini bakal bikin garis waktu jadi lebih baik... atau malah bikin segalanya makin ancur."

Keyra menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. "Gue nggak peduli soal variabel. Gue cuma peduli fakta kalau lo sendirian ngadepin ini. Dan itu nggak adil."

Raka terdiam sejenak, lalu perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, namun kali ini terlihat sedikit lebih tulus. Dia bangkit berdiri, membersihkan debu di celananya. "Lo keras kepala, ya. Persis kayak di... ah, lupain."

"Kayak di mana?" desak Keyra, ikut berdiri.

"Rahasia perusahaan," Raka kembali memasang topeng acuh tak acuhnya, meski matanya masih menyiratkan kewaspadaan. Dia berjalan menuju pintu atap. "Sekarang, mending kita turun. Gerbang sekolah bentar lagi dikunci Pak Satpam. Gue nggak mau terjebak semaleman di sini sama lo, nanti jadi gosip satu angkatan."

Saat Raka memegang gagang pintu, dia berhenti tanpa menoleh. "Key, anggap aja percakapan ini nggak pernah terjadi. Buat keselamatan lo sendiri. Mimpi gue... kadang bukan cuma soal kecelakaan sekolah."

"Maksud lo?"

"Kadang ada hal yang lebih gelap. Dan gue nggak mau lo ada di sana pas itu terjadi."

Raka mendorong pintu dan menghilang ke balik kegelapan tangga darurat, meninggalkan Keyra sendirian di bawah langit yang kini telah berubah warna menjadi ungu pekat. Keyra mengepalkan tangannya. Pengakuan Raka justru memunculkan seribu pertanyaan baru. Dia tidak akan mundur. Jika Raka bermimpi buruk sendirian, maka Keyra akan memastikan dia ada di sana saat Raka terbangun.

Keyra mengeluarkan ponselnya, mengetik catatan singkat di aplikasi memo: *Target dikonfirmasi. Fenomena Deja Vu/Prekognisi. Anomali terdeteksi.*

Dia menyeringai tipis. "Garis waktu boleh punya rencana, Raka. Tapi gue juga punya."

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!