NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul satu siang, tapi langit di luar masih menyisakan abu-abu pucat sisa badai. Keyra merasa tubuhnya mulai menuntut hak untuk istirahat total. Efek bubur ayam dan obat penurun panas yang dipaksa masuk oleh Raka mulai bekerja, menarik kelopak matanya agar tertutup. Namun, pikirannya masih terlalu berisik.

"Lo nggak mau pulang?" tanya Keyra sambil berjalan tertatih menuju kamarnya. Kakinya terasa seperti kapas basah, berat namun rapuh.

"Ngusir?" Raka mengekor di belakangnya, santai saja melenggang masuk ke dalam kamar tidur Keyra tanpa permisi. Dia langsung menginspeksi ruangan itu seolah-olah dia adalah mandor bangunan yang sedang mengecek kualitas semen.

"Gue mau tidur, Raka. Dan ini kamar cewek," protes Keyra lemah, menjatuhkan dirinya ke kasur. Sprei dingin menyambut kulitnya yang panas, memberikan sensasi nyaman yang instan.

"Kamar lo lebih mirip gudang arsip FBI daripada kamar cewek," komentar Raka. Dia berdiri di depan dinding tempat Keyra menempelkan berbagai post-it, benang merah, dan potongan artikel tentang anomali waktu dan kematian Julian. Cowok itu menyentuh salah satu kertas dengan ujung telunjuknya. "Obsesif. Gue suka."

Keyra menarik selimut sampai sebatas dagu. "Itu satu-satunya cara biar gue nggak gila. Gue harus metain semua kemungkinan biar nggak salah langkah lagi."

Raka berbalik, lalu menarik kursi belajar Keyra. Alih-alih duduk dengan benar, dia memutarnya dan duduk dengan sandaran kursi di bagian depan, menopang dagunya sambil menatap Keyra. "Lo tau, Key? Orang yang terlalu kaku sama rencana biasanya orang pertama yang mati di film horor."

"Dan orang yang nggak punya rencana biasanya mati konyol di menit awal," balas Keyra tak mau kalah, meski suaranya serak.

"Touché."

Keheningan menyelimuti kamar itu sejenak. Bukan keheningan canggung, melainkan jeda di mana debu-debu halus terlihat menari di sorotan cahaya tipis yang menembus ventilasi. Raka tidak terlihat ingin beranjak. Dia justru mengambil rubik yang tergeletak di meja belajar Keyra, memutarnya dengan gerakan cepat dan presisi yang memusingkan.

"Kenapa lo nggak pernah cerita soal keluarga lo?" tanya Keyra tiba-tiba. Pertanyaan itu lolos begitu saja, mungkin karena demam menurunkan filter bicaranya.

Gerakan tangan Raka terhenti sepersekian detik sebelum berlanjut lagi. "Nggak penting buat plot. Kita kan lagi ngurusin kiamat kecil lo, bukan drama keluarga gue."

"Lo tau semua tentang gue. Tentang kematian gue, tentang Julian, tentang time loop ini. Nggak adil kalau gue nggak tau apa-apa soal partner kriminal gue sendiri."

Raka mendengus, tawa pendek yang terdengar kering. Dia meletakkan rubik yang kini sudah sewarna di setiap sisinya ke atas meja. "Keluarga gue..." Raka memulai, matanya menerawang ke arah tumpukan buku di rak. "Adalah definisi dari 'pabrik robot berkualitas tinggi'."

Keyra mengerutkan kening, mencoba memproses metafora itu. "Maksudnya?"

"Gue punya kakak. Namanya Rama," kata Raka. Nada bicaranya berubah, lebih datar, kehilangan intonasi main-main yang biasa dia gunakan. "Rama itu cetak biru kesempurnaan. Lulusan terbaik, ketua BEM, sekarang kerja di multinasional, sopan, ganteng, taat agama. Pokoknya kalau dia kentut, mungkin baunya parfum vanilla."

Keyra tersenyum tipis. "Dan lo?"

"Gue? Gue adalah produk gagal yang keluar dari jalur produksi karena bautnya longgar satu," Raka menyeringai, tapi matanya tidak tersenyum. "Bokap gue punya standar. Standar itu bernama Rama. Sejak kecil, gue dituntut buat jadi bayangan dia. Nilai matematika harus seratus, les piano, les bahasa, bla bla bla. Setiap kali gue dapet nilai 90, pertanyaannya bukan 'kenapa salah?', tapi 'kenapa nggak kayak Mas Rama?'."

Raka bangkit dari kursi, berjalan mondar-mandir di kamar sempit itu. Energinya yang meluap-luap seolah butuh penyaluran. "Lo tau rasanya hidup di mana skenario lo udah ditulis orang lain bahkan sebelum lo lahir? 'Raka harus masuk IPA', 'Raka harus kuliah hukum', 'Raka harus potong rambut rapi'. Gue enek, Key. Gue muak sama naskah."

Keyra tertegun. Tiba-tiba, potongan puzzle tentang kepribadian Raka mulai terpasang. Sikapnya yang pemberontak, caranya menabrak aturan sekolah, bahkan keputusannya untuk membantu Keyra mengacaukan garis waktu—semuanya masuk akal. Raka tidak sedang melawan takdir Keyra; dia sedang memproyeksikan perlawanannya sendiri terhadap otoritas mutlak.

"Jadi itu alesan lo suka komik?" tanya Keyra pelan.

"Komik itu jujur," jawab Raka, mengambil satu komik acak dari rak Keyra. "Di sini, karakter utamanya bisa siapa aja. Orang bodoh, orang miskin, bajak laut. Mereka nentuin jalan hidup mereka sendiri. Nggak ada yang nuntut Naruto harus jadi Hokage karena bapaknya Hokage—yah, walau akhirnya gitu juga sih, tapi prosesnya beda. Dia milih itu."

Raka melempar komik itu kembali ke kasur, tepat di samping kaki Keyra. "Gue liat lo, Key, berjuang mati-matian ngubah takdir lo yang katanya udah 'garis tangan'. Gue ngeliat diri gue sendiri. Bedanya, lo punya nyali buat bener-bener ngelawan semesta. Gue cuma berani ngelawan bokap dengan bolos sekolah."

"Lo nggak pengecut, Ka," potong Keyra tegas. Dia memaksakan diri untuk duduk, meski kepalanya berdenyut hebat. "Lo ada di sini. Lo bantuin gue lawan sesuatu yang bahkan nggak bisa dinalar logika. Kalau itu bukan berani, gue nggak tau apa namanya."

Raka menatap Keyra. Tatapan tajam yang biasanya mengintimidasi itu kini melunak, menampakkan sedikit keretakan di topeng 'bad boy' yang selalu dia pakai. Ada kelelahan di sana, kelelahan seorang anak yang tidak pernah merasa cukup.

"Jangan bikin gue terharu, ntar gue muntah," elak Raka, kembali ke mode pertahanannya yang sarkastik. "Intinya, gue benci liat orang didikte. Mau itu sama orang tua, atau sama garis waktu sialan ini. Jadi, kalau lo ngerasa capek harus jadi 'sempurna' buat nyelesaiin masalah ini, inget aja cerita gue. Lo nggak perlu jadi Rama. Lo cukup jadi Raka—rusak dikit nggak apa-apa, asal jalan terus."

Keyra tertawa, kali ini lebih lepas. "Jadi saran lo adalah gue harus jadi berandalan?"

"Saran gue adalah lo tidur," Raka menunjuk bantal. "Muka lo udah kayak mayat hidup. Gue nggak mau dituduh nyembunyiin zombie di kamar."

Keyra menurut, kembali berbaring. Rasa kantuk yang sempat hilang kini datang kembali dengan kekuatan ganda. Namun, hatinya terasa jauh lebih ringan. Mengetahui bahwa Raka memiliki luka yang sama—luka akibat tuntutan untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya—membuat ikatan di antara mereka terasa lebih solid. Mereka bukan sekadar korban anomali waktu; mereka adalah dua pemberontak yang menolak naskah yang disodorkan dunia.

"Ka," panggil Keyra dengan mata terpejam.

"Apa lagi?"

"Kalau kakak lo wangi vanilla, lo wangi apa?"

Ada jeda sejenak sebelum Raka menjawab, suaranya terdengar dari ambang pintu. "Minyak angin dan dosa. Udah, tidur."

Pintu kamar tertutup dengan bunyi 'klik' pelan. Keyra tersenyum dalam tidurnya. Di luar sana, Julian mungkin sedang merencanakan sesuatu yang mengerikan. Garis waktu mungkin sedang bersiap menghapusnya lagi. Tapi di dalam kamar ini, dengan aroma bubur ayam yang masih samar dan bayangan cerita Raka yang membekas, Keyra merasa lebih siap. Dia tidak sendirian. Dan yang lebih penting, dia tidak harus menjadi sempurna untuk menang.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!