Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Keesokan harinya.
Alun-alun kota kembali dipadati manusia. Namun kali ini suasananya berbeda. Tidak ada aura permusuhan, yang ada hanya aura kekaguman dan ketegangan.
Semua pemuda berbakat di kota—yang berusia di bawah 20 tahun—berbaris rapi di tengah lapangan. Lin Xiao berdiri di barisan depan bersama Su Mei.
Su Mei tampak memukau dengan jubah biru barunya, pedang Taring Naga Es tergantung di pinggangnya. Dia menyenggol lengan Lin Xiao pelan.
"Hei, Tuan Juara. Kau mengincar sekte mana?" bisik Su Mei.
"Mana saja yang memiliki sumber daya api terbaik," jawab Lin Xiao acuh tak acuh.
"Dasar pragmatis," cibir Su Mei. "Aku pasti akan masuk Istana Bunga Es. Itu sekte khusus wanita dengan teknik elemen es terbaik."
Tiba-tiba, langit di atas kota menjadi gelap.
"Mereka datang!" teriak seseorang.
Angin kencang bertiup, menerbangkan debu dan topi para penonton.
Dari arah utara, seekor Bangau Raksasa berbulu putih dengan bentang sayap dua puluh meter turun perlahan. Di punggungnya, berdiri seorang pria tua berjubah putih dengan aura yang tenang namun dalam seperti lautan.
Sekte Awan Putih.
Dari arah barat, sebuah Pedang Terbang Raksasa melesat membelah awan. Di atas pedang itu berdiri seorang pria kekar berotot dengan pedang besar di punggungnya. Auranya tajam, seolah tatapannya saja bisa melukai kulit.
Lembah Pedang Besi.
Dan dari arah timur, kepingan salju turun di tengah hari yang panas. Sebuah Kereta Kencana Es yang ditarik oleh dua Kuda Pegasus bersayap mendarat dengan anggun. Seorang wanita cantik berusia 30-an tahun turun, setiap langkahnya membekukan tanah.
Istana Bunga Es.
Tekanan aura (Pressure) dari ketiga utusan ini membuat Tuan Kota Liu Ming—seorang ahli Inti Emas—buru-buru membungkuk hormat.
"Selamat datang, Para Utusan Terhormat!" sambut Liu Ming.
Ketiga utusan itu hanya mengangguk tipis. Di mata mereka, kota kecil ini hanyalah desa udik.
Pria tua dari Sekte Awan Putih maju selangkah. Matanya menyapu barisan pemuda di bawah.
"Saya, Tetua Mo, mewakili Sekte Awan Putih. Kami tidak punya banyak waktu. Kami hanya mencari bakat, bukan sampah. Siapa di antara kalian yang mencapai Qi Gathering Tingkat 4 sebelum usia 18 tahun, maju satu langkah!"
Hanya sekitar sepuluh orang yang maju, termasuk Lin Xiao, Su Mei, dan Lin Hong (yang sudah sembuh).
"Sisanya, bubar! Kalian tidak lolos kualifikasi!" perintah Tetua Mo kejam.
Ribuan pemuda lain menunduk kecewa dan mundur. Dunia kultivasi memang sekejam ini.
"Bagus," Tetua Mo menatap sepuluh orang yang tersisa. "Sekarang, ukur bakat kalian."
Sebuah batu kristal pengukur bakat dikeluarkan.
Satu per satu peserta maju. "Lin Hong... Bakat Tingkat Menengah. Lulus sebagai Murid Luar." "Su Jian... Bakat Tingkat Rendah. Gagal."
Giliran Su Mei. Dia meletakkan tangannya di kristal. Cahaya biru terang memancar, disertai hawa dingin.
"Oh?" Wanita dari Istana Bunga Es mengangkat alisnya. "Bakat Elemen Es Tingkat Tinggi? Dan... Tubuh Roh Es Yin?"
Wanita itu melayang turun, langsung mendarat di depan Su Mei. Dia memegang pergelangan tangan Su Mei, memeriksa nadinya. Wajahnya berubah gembira.
"Nak, siapa namamu?"
"Su Mei, Senior."
"Bagus. Kau tidak perlu ikut tes lagi. Aku, Tetua Han, merekrutmu langsung menjadi Murid Inti Istana Bunga Es!"
Wow! Kerumunan gempar. Murid Inti! Itu status yang lebih tinggi dari Tuan Kota sekalipun di masa depan. Su Mei tersenyum bangga, lalu melirik Lin Xiao dengan tatapan: Lihat kan?
Akhirnya, giliran Lin Xiao.
Dia berjalan santai ke depan batu kristal. Pria kekar dari Lembah Pedang Besi menatap pedang hitam besar di punggung Lin Xiao dengan minat.
"Pedang itu... beratnya lumayan. Nak, kau pengguna pedang berat?" tanya pria kekar itu.
"Hanya hobi," jawab Lin Xiao singkat.
Dia meletakkan tangannya di atas kristal.
Lin Xiao memiliki masalah. Jiwanya adalah jiwa Supreme Alchemist, tapi tubuh fisiknya memiliki bakat Meridian yang aslinya buruk (sebelum diperbaiki). Jika dia mengeluarkan kekuatan penuh jiwanya, kristal ini akan meledak dan menarik perhatian entitas kuat yang belum siap dia lawan.
"Aku harus menekannya," batin Lin Xiao.
Dia menyegel 90% aura jiwanya dan hanya melepaskan aura fisik hasil tempaan Api Ungu.
Vwoom.
Kristal itu bersinar. Warnanya... merah api. Tapi cahayanya tidak terlalu terang. Redup. Dan ada bercak-bercak abu-abu (sisa ketidakmurnian masa lalu yang belum 100% hilang).
"Hmm..." Tetua Mo dari Sekte Awan Putih mengerutkan kening. "Bakat Tingkat Menengah-Bawah. Elemen Api tidak murni. Sayang sekali, padahal kultivasimu sudah Tingkat 6 di usia muda. Kau pasti menggunakan banyak obat-obatan untuk memaksa naik tingkat, kan? Fondasimu pasti rapuh."
Lin Xiao diam saja. Dia tidak ingin membantah.
"Dengan bakat ini... kau hanya bisa jadi Murid Pelayan atau paling tinggi Murid Luar di Sekte Awan Putih," vonis Tetua Mo, kehilangan minat.
Pria kekar dari Lembah Pedang Besi menggeleng. "Kami butuh bakat pedang murni. Kau terlalu mengandalkan obat."
Lin Xiao tersenyum tipis. Mereka menilai buku dari sampulnya. Mereka mengira kultivasinya yang cepat adalah hasil obat-obatan paksa, padahal itu hasil teknik dewa.
"Apakah ada pilihan lain?" tanya Lin Xiao.
"Pilihan lain?" Tetua Mo tertawa meremehkan. "Nak, bisa masuk Sekte Awan Putih sebagai pelayan saja sudah berkah bagimu. Jangan bermimpi terlalu tinggi."
Tiba-tiba, sebuah suara lembut namun menggoda terdengar dari atap sebuah kedai teh di dekat alun-alun.
"Jika orang-orang tua ini buta, bagaimana kalau kau ikut denganku?"
Semua orang menoleh ke atas.
Di sana, duduk santai di pinggiran atap, adalah seorang wanita mengenakan jubah merah menyala yang terbelah tinggi, memperlihatkan kaki jenjang yang putih mulus. Wajahnya tertutup cadar tipis, tapi sepasang matanya yang seperti mata kucing memancarkan aura misterius dan berbahaya.
Di pinggangnya, tergantung sebuah token giok dengan ukiran: Sekte Iblis Langit (Heavenly Demon Sect).
Wajah Tetua Mo dan dua utusan lainnya berubah drastis. Mereka mencabut senjata seketika.
"Penyihir dari Sekte Iblis?! Berani-beraninya kau menampakkan diri di wilayah Sekte Awan Putih!" bentak Tetua Mo.
Wanita itu tertawa, suaranya seperti lonceng perak. Dia mengabaikan ancaman itu dan menatap lurus ke arah Lin Xiao.
"Hei, Adik Kecil. Aku melihat pertarunganmu kemarin. Api ungu itu... dan tubuh fisik itu... Sekte ortodoks ini terlalu kaku untuk memahami potensimu. Di Sekte Iblis Langit, kami menghargai kekuatan di atas segalanya. Tidak ada aturan. Tidak ada munafik. Bagaimana?"
Lin Xiao menatap wanita cantik itu. Dia merasakan getaran aneh dari Kitab Keabadian. Wanita ini... mempraktikkan teknik kuno yang berhubungan dengan garis keturunan Phoenix.