Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Ibu Phoenix
...SELAMAT MEMBACA!...
...🐰...
"Dia nantang gue, Bos." Wan mengadu kepada sang ketua, membuat lelaki dewasa itu menatapnya tajam. "Gue gak terima kalau mereka anggap remeh Wind Blaze," lanjut Wan.
Ketua Wind Blaze yang sering dipanggil Ambo itu mendudukkan tubuhnya di sofa, kemudian mengangkat satu kakinya. Pria berusia 30 tahun tersebut menyalakan rokok dengan korek di tangannya. Lalu, dia menyesap dan meniup hingga kepulan asap keluar dari bibir.
"Gak ada yang bisa ngalahin gue," ujar Ambo. Pria itu menarik sudut bibirnya. "Kita teror si ketua Ultimate Phoenix."
"Kenapa gak langsung serang aja?" sahut sang wakil, yang duduk di samping Ambo. "Lebih seru kalau langsung baku hantam."
"Gue mau mental mereka mati terlebih dahulu," kata Ambo, dengan senyum licik yang terukir di wajah garangnya.
Ketua Wind Blaze memang dikenal sangat kasar, bahkan ia pernah bekerja menjadi preman di masa remajanya. Selain itu, penampilannya selalu terlihat menakutkan. Tatapan tajam, kerutan dahi, alis tebal, dan baju serba hitamnya, serta rokok yang dihisap setiap waktu.
Pria berperawakan tinggi dan besar tersebut berdiri dari kursi yang diduduki, kemudian dia meraih topi hitam di ujung sofa dan memakainya. "Kita mulai besok," katanya sebelum melenggang pergi. Namun, Ambo sering kali pergi dari tempat perkumpulan, dan menyendiri di tempat sepi.
.....
Di tempat lain, anak-anak muda tengah menghabiskan hari liburnya di sebuah bangunan sederhana. Mereka bercanda sambil menikmati jagung bakar di siang hari. Beberapa anak dari Ultimate Phoenix tengah duduk melingkar di ruang tengah.
Bama si ketua divisi dua sedang membakar jagung di teras, ditemani oleh Mahen yang duduk diam di kursi kayu. Mahen dengan tatapan kosong mengarah ke kepulan asap, sepertinya telah terjadi kepedihan dalam hidupnya. Bama acuh, tidak memperdulikan lelaki gila itu karena Bama masih kesal, Mahen membisu saat ditanyai.
Di dalam sana, terdapat tamu yang telah lama berlibur dari tugasnya. Seorang lelaki duduk di samping Aga, penampilannya begitu sopan dengan gamis hitam dan peci di kepalanya. Dia Hamid Abraham, seorang wakil divisi tiga. Hamid baru saja pulang dari tanah suci, mengikuti jejak bapaknya sebagai ustadz.
"Dino lama banget," ucap Hamid, sembari memperhatikan jam tangannya.
"Bentar lagi juga dateng, Bang," sahut Derwan, lelaki yang duduk di sudut ruangan.
Tamunya tidak hanya Hamid, dua lelaki di sudut ruangan adalah Darwin dan Derwan.
Aguran Darwin, lelaki tampan 26 tahun yang dikenal sebagai wakil ketua Ultimate Phoenix. Dia berperawakan lebih tinggi dari Dino, hanya saja sedikit kurus.
Lelaki berwajah mirip seperti Darwin merupakan kembaran lelaki itu. Derwan Abraham, ketua divisi satu. Dia tidak jauh berbeda dari Darwin.
"Dino katanya kangen banget sama di kembar," celetuk Angga.
Ketahuilah, dua anak kembar ini telah terpisah sejak lahir. Bayi Derwan ditemukan oleh keluarga Hamid, kemudian diadopsi. Setelah mereka beranjak dewasa, Hamid memutuskan untuk bergabung dengan Ultimate Phoenix dengan mengajak Derwan. Sehingga Derwan dan Derwin menyadari kemiripan mereka dan memutuskan untuk saling bertanya kepada orang tua.
Dilakukanlah tes kemiripan mereka dan mendapatkan hasil yang melegakan. Keduanya adalah anak kembar, Derwan adalah saudara Derwin yang lama hilang.
Di halaman basecamp, Dino menghentikan motornya di sana, kemudian memerintahkan Dara untuk turun. "Ayo, Ra!"
Dara menolak, dia menggelengkan kepala. "Ngapain takut, sih?"
"Nggak mau, No. Aku tunggu di sini," ucap Dara.
Dino menghela napas berat. "Turun!" pintanya dengan suara berat.
Itu membuat Dara merinding. Sehingga gadis itu menurut dan turun dari motor Dino.
Pakaian Dara cukup tertutup. Celana kulot jeans dan kemeja lengan pendek, serta rambutnya diurai. Dino menarik pergelangan tangan istrinya, membawanya untuk masuk. Sementara itu, pasangan tersebut membuat dua lelaki di teras mematung. "Wah, Pak Ketua bawa istri!" pekik Bama, melihat kedatangan Dino bersama Dara.
Dara tersenyum tipis menyapa mereka.
"Mahen, tumben pendiem?" celetuk Dino. Bama menanggapi pertanyaan cowok itu dengan menaikkan pundak. "Hen, gue tanya."
Mahen tentu saja takut bila sudah seperti ini. Dia menghembuskan napas panjang. "Gebetan gue udah ada pacar, Kak," katanya.
"Cewek di dunia ini gak satu. Lo belum ketemu jodoh lo, aja," ujar Dino. "Bawain jagung buat Dara ke dalem!"
Mahen menganggukkan kepala, kemudian menghela napas panjang setelah Dino pergi ke dalam.
Seperti masuk ke sarang harimau. Dara ketakutan sekali. Dia terus mengigit bibirnya untuk mengatasi rasa takutnya. Ini adalah kali pertama dia masuk ke dalam basecamp anak motor. "Bibirnya jangan digigit terus! Mau gue bantu gigit?" celetuk Dino, Dara sontak memukul punggung lelaki itu. "Gak usah takut!"
Ketika sampai di ruang tengah, Dino menghentikan langkahnya hingga membuat Dara bersembunyi di belakang tubuh besar Dino. "Seru, nih," ujar Dino.
Seseorang yang membelakangi mereka sontak menoleh. 12 lelaki anggota Ultimate Phoenix itu membulatkan mata melihat Dino datang. Pasalnya, ini adalah kali pertama sang ketua membawa seorang gadis datang ke tempat ini.
"Wah! Bos bawa pawang!" teriak Derwan dengan suara melengking. Dia sungguh menjadi yang paling bersemangat bila ada seorang wanita.
"Istri gue jangan digoda, Erwan!" peringat Dino. Lalu, lelaki itu mengajak Dara duduk di antara mereka. "Santai aja, Ra."
"Tenang, Bu Bos, kita anak baik-baik," ujar Darwin.
"Arwin, ikut gue ke atas dulu, yuk!" ajak Dino. Dia berdiri dari duduknya, mengelus surai lembut sang istri. "Lo di sini dulu ya, Ra! Gue mau ngobrol ke atas."
"Jangan lama!"
Dino menarik kedua sudut bibirnya sambil mengangguk. "Jagain istri gue!" perintah Dino, kepada anak-anak itu.
"Aman, Bos!" sahut mereka bersamaan.
Tidak lama setelah Dino dan Darwin naik ke rooftop, Mahen datang membawa piring berisi jagung bakar. "Jangan digodain Kakak gue!" teriaknya. Mahen membuat Derwan berdecak. "Bang Erwan, mending lo cepetan cari cewek."
"Bocah, berani banget lo ngeledek gue." Derwan mendaratkan kepalan tangan di lengan Mahen dengan cukup keras, membuat cowok itu meringis.
"Lo punya adik gak, Kak?" tanya Mahen, kepada Dara.
"Ada satu," jawab Dara. Dia meraih jagung di atas meja, kemudian mengigitnya dan merasakan manis di dalam mulutnya.
"Kenalin sama gue dong, Kak! Pasti umurnya gak jauh beda, atau seumuran." Mahen menatap Dara dengan mata bulatnya, seperti anak kucing yang memelas. "Cewek atau cowok, Kak?" tanya cowok itu.
"Cowok. Namanya Tino."
Sontak suara tawa memecah di ruangan itu, mereka terbahak-bahak menertawai Mahen dengan rasa puas. Sedangkan cowok yang baru patah hati itu, langsung memasang wajah jutek.
"Mungkin, belum waktunya kamu ketemu sama jodoh kamu. Nanti, pasti ketemu, kok," kata Dara, kemudian menepuk pundak cowok itu.
Waktu berjalan dengan cepat. Tanpa terasa, sudah dua jam Dara berada di tempat ini. Hanya berdiam diri melihat para pemuda itu bercanda tawa. Selama itu, Dino berada di atas bersama Darwin, tak kunjung turun hingga membuat Dara bosan.
Saat Dino datang, Dara langsung bersikap acuh kepada Dino. Tidak merespon suaminya yang terus berusaha berbicara kepadanya. "Lo abis diapain sama mereka, Ra?" tanya Dino.
Dara tidak menjawab, dia memutar tubuhnya, berpaling dari Dino. Gadis itu menghadap ke arah Mahen dan Aga yang tengah bermain kartu.
Lelaki dengan status suami Dara itu menatap tajam para anggotanya. Menelisik wajah mereka satu per satu. "Kalian apain istri gue?" tanyanya dengan ketus.
"Dia itu kesal karena menunggu kamu terlalu lama, Pak Ketua," ujar Hamid, kemudian duduk di samping Dino. "Seperti itu wanita, mudah marah. Karena itu, kamu harus selalu mengerti mereka."
Dara kagum mendengar pria itu membuka suara, lantunan suaranya merdu dan begitu dalam maknanya. "Wanita itu mau dimengerti. Meski mereka tidak mengatakannya, kamu harus tahu apa maunya," lanjut Hamid.
Dino menatap lelaki itu dengan serius, dia perlu berguru kepada Hamid. Lalu, Dino beralih menatap Dara yang masih memunggunginya. "Ra, mau pulang sekarang?" tawar Dino.
"Emang udah selesai?"
"Udah." Dino berdiri dari duduknya, kemudian mengulurkan tangan kepada sang istri. "Mari pulang ke rumah, Tuan Putri," katanya.
Menggelikan. Dara memicingkan mata melihat suaminya. "Kamu abis ngapain sama cowok itu? Kok jadi berubah?" bisik Dara di telinga Dino.
"Soal pria." Dino balik membisikkan kalimat mengerikan kepada Dara.
Keharmonisan selalu menyertai geng motor ini. Tidak hanya soal motor, tetapi mereka sering mengadakan acara-acara kemanusiaan, seperti membagikan sedikit bantuan, berkumpul untuk berbagi ilmu pengetahuan, dan lainnya. Ultimate Phoenix jarang sekali tawuran, hanya ketika musuh memancing emosi mereka.
Sedikit saja anggota di dalamnya tergores, sang ketua akan turun tangan dan menyelesaikan masalah secepat mungkin.
Tidak langsung pulang, Dara mengajak Dino untuk mampir ke kediaman sang ayah dan bunda. Sudah beberapa bulan ini mereka tak bertemu.
Di bawah indahnya langit menjelang sore, matahari hendak turun untuk pulang. Awan itu menggumpal dan terbang di sana. Beberapa burung berterbangan bersama, mereka berkicau merdu meramaikan.
Dino semakin melajukan motornya, membuat rambut Dara berantakan karena tiupan angin. "Pegangan, Ra!" pinta Dino.
Dara menurut, tetapi dia hanya berpegang pada pundak Dino. "Pegangan yang bener! Gue mau ngebut!"
"Jangan ngebut kalau bisa! Aku mau sampai di rumah Bunda!" balas Dara.
Sesungguhnya, Dara masih canggung untuk bersentuhan dengan suaminya itu. Atau mungkin, akan terasa nyaman. Gadis itu memajukan tubuhnya, kemudian berpegang pada pinggang Dino.
Secarik senyum telah terbit di wajah lelaki tampan itu.
.....
"Nggak usah ikut kegiatan kemah itu, Tino!"
"Tahun depan, kamu baru bisa ikut. Kita nabung dulu, ya?" Bila terlihat lelah. Dia meneguk segelas airnya. Melihat wajah lesu sang putra, dia menjadi tidak tega. Namun, mau bagaimana lagi, ekonomi di rumahnya sedang tidak stabil.
"Iya, Bunda," ucap Tino. Lelaki itu menunduk dalam, merasakan sedih dalam hatinya. Padahal, dia sudah menyiapkan mental untuk mengikuti acara yang diselenggarakan sekolahnya.
"Maaf, kamu jadi nggak bisa ikut serta di acara sekolah kamu," kata Bila.
Suasana di ruang tamu itu begitu sendu. Amat terasa kesedihannya dan perubahan setelah berpindahnya anak sulung ke rumah sang suami.
"Kenapa nggak bisa ikut, Bunda?"
Suara Dara terdengar, keberadaannya yang tidak tahu ada sejak kapan, membuat Bila dan Tino memutar tubuhnya dengan cepat.