NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan lagi

Setelah perdebatan yang sengit, akhirnya di sinilah mereka berada. Lian, Hita, dan Dirga benar-benar berangkat bersama dan tengah berada di dalam mobil.

Dirga mengemudi, Hita duduk di samping kursi kemudi, dan si menyebalkan Lian duduk di kursi belakang sembari menggulir layar ponselnya dan sesekali berceloteh tentang hal-hal tak masuk akal yang viral di media sosial.

Hita menatap ke arah jalanan, begitu kagum dengan bintang-bintang dan bulan yang menyinari langit malam yang indah.

Jendela mobil sedikit diturunkan, membuat helaian rambutnya yang indah berkibar di sekitar wajahnya saat terkena angin malam.

Hita tak pernah naik mobil meskipun ia dibesarkan oleh keluarga Wijaya yang terkenal pula akan kekayaannya. Ia tak pernah diajak berjalan-jalan dan dianggap tak pernah ada, diperlakukan sangat berbeda dengan Loria saudari tirinya yang begitu beruntung, namun sekarang menghilang entah kemana.

Entah mengapa, Hita kini merasa sedikit bersyukur.

"Halo Kak Bram!"

Tiba-tiba seruan Lian terdengar di kursi belakang, menarik perhatian Hita, sementara Dirga fokus menyetir dengan ekspresi datar yang lama-kelamaan biasa Hita lihat.

"Aku sedang bersama Kak Pramahita, aku sudah berjanji mengajaknya membeli pakaian," ujar Lian, menatap wajah Bram pada layar ponselnya.

"Hmmm... Begitu..." Bram menjawab, membuat Hita semakin penasaran dan menoleh ke kursi belakang terus menerus.

"Dan kenapa kalian baru berangkat malam-malam begini? Apakah ditemani oleh Wisnu?" tanya Bram, terbiasa protektif pada Lian yang merupakan adik perempuan kesayangannya.

"Tidak," jawab Lian malas, menatap sinis Dirga yang sedang menyetir. "Kau tau bahwa Wisnu sedang sibuk mencari hal yang tak berguna," sindirnya, membuat Dirga sedikit terusik namun masih tak bicara.

Selama bertahun-tahun semenjak Dirga berpacaran dengan Loria, Lian sudah tak menyukai wanita itu. Lian menganggapnya terlalu matre, kekanak-kanakan, bahkan selalu menyusahkan Dirga hingga membuat kakaknya itu tempramen.

Dulu bahkan Dirga bersikap manis dan peduli padanya seperti Bram, tapi hubungan mereka berjarak karena Loria tak menyukai Lian. Katanya, Lian terlalu manja dan tidak sopan padanya. Meskipun benar begitu, Lian sendiri tak peduli.

"Cobalah untuk berpikir sebelum bicara, Lian," tegur Bram, suaranya sangat lembut saat memperingatkan adiknya.

Lian berdecak, memutar mata malas sebagai tanggapan.

Tiba-tiba, Lian bergeser mendekat, mencondongkan tubuhnya ke arah Hita di kursi depan. "Lihat, aku sedang bersama Kak Pramahita," ucap gadis itu sembari tersenyum ke arah Hita yang sontak melambaikan tangan untuk menyapa Bram.

"H-hai, Kak," sapa Hita gugup, menatap Bram yang terlihat sedang sibuk dengan berkas-berkas di mejanya.

Hita melihat bagaimana Bram duduk di kursinya, sementara matanya terfokus pada berkas-berkas di tangan. Suasana di dalam ruangan itu tampak sunyi dan begitu tertata.

Saat mendengar sapaan Hita, Bram berhenti sejenak dan menoleh, membuat Hita semakin gugup. Rambut laki-laki itu sedikit berantakan, begitu pula dengan kancing kemeja terbuka dan dasi yang longgar.

"Hai," balas Bram tersenyum, mendekatkan wajahnya dan mencoba melihat Hita di dalam gelapnya mobil. "Aku tidak bisa melihatmu, kenapa tidak nyalakan lampu mobil?" tanyanya, sepenuhnya lupa dengan berkas di atas meja.

Mendengar pertanyaan Bram, Hita menelan ludah dengan gugup. Ia berani bersumpah bahwa apa yang ia lihat di layar saat ini benar-benar sempurna, bahkan membuatnya tak bisa mengeluarkan kata-kata karena kagum. Bram benar-benar tampan dalam artian sebenarnya.

Senyum penuh arti terukir di wajah Lian, seperti sebuah seringai menggoda saat melihat bagaimana Hita sulit menemukan kata-kata untuk menjawab Bram.

"Kenapa kakak baru menyadari kalau lampu mobil mati?" ucap Lian kepada Bram. "Kenapa kakak tidak mengatakannya tadi, saat bicara padaku? bukankah itu berarti tadi juga kakak tidak bisa melihatku karena gelap?"

Hita menoleh saat mendengar ucapan Lian, sebelum kembali menatap Bram dan melihat reaksinya.

"Oh... Aku mengerti..." seringai Lian semakin lebar. "Saat aku yang bicara, kakak tak berniat untuk melihatku dan sibuk dengan berkas-berkas, tapi saat kak Pramahita yang bicara... Kakak langsung menoleh dan memperhatikan."

Mata Hita terbelalak saat mendengar ucapan Lian, membuat semu merah menjalar di pipinya. Untung saja mobil itu gelap, kalau begitu Bram pasti bisa melihat rona di pipi Hita saat ini.

Tawa Bram terdengar di seberang telepon, begitu merdu dan lembut seperti alunan musik. "Benarkah? Kakak kira tidak seperti itu," ucap Bram jenaka, menjauhkan wajahnya dari layar dan kembali pada berkas. "Hanya memastikan apakah itu benar-benar Pramahita yang sedang kau ajak," ucapnya.

Lian mendengus. "Jadi kakak tadi tidak percaya bahwa itu Kak Pramahita?"

"Tentu saja percaya."

"Lalu kenapa harus memastikan lagi kalau sudah percaya?" tanya Lian, tersenyum nakal. "Katakan saja kakak ingin melihat wajah cantik kak Pramahita—"

Tin!

Lian dan Hita terperanjat saat Dirga memencet klakson secara tiba-tiba, membuat ke dua perempuan itu menjerit kaget.

Lian menoleh tajam ke arah Dirga, begitu pula dengan Hita yang tampak kebingungan.

Baru saja Lian ingin mengeluarkan omelan protes, tapi Dirga lebih cepat memotong.

"Duduklah dengan benar dan cobalah untuk berhenti menganggu konsentrasiku, Lian," kata Dirga kesal. "Berikan itu padaku," perintahnya, menengadahkan tangan dan meminta ponsel di tangan Lian, sementara tangannya yang lain memegang stir.

Hita memperhatikan saat Lian memberikan handphonenya kepada Dirga sembari mengomel. Hita jadi bertanya-tanya kenapa Dirga sampai sekesal dan semarah itu, ia dan Lian kan hanya bicara dengan Bram, tidak bicara dengan Dirga hingga laki-laki itu bisa kehilangan konsentrasi dalam mengemudi.

Dirga mematikan sambungan telpon dengan Bram, memasukkan ponsel sang adik di sakunya.

Setelah kartu kredit dan mobil, sepertinya Lian juga kehilangan Handphonenya sekarang.

"Menyebalkan sekali," gerutu Lian di kursi belakang, namun malas berdebat lagi dengan Dirga.

Hita menoleh ke arah Dirga, melihat bagaimana rahang laki-laki itu terkatup rapat seperti menahan kekesalan, sementara tangannya mencengkram stir erat-erat.

...****************...

Setelah sekitar lima belas menit perjalanan, akhirnya mobil berhenti pada sebuah mall mewah yang jelas tak pernah Hita masuki sebelumnya.

Gedung itu begitu tinggi, begitu ramai pula dengan orang-orang yang agaknya dari kalangan atas. Bahkan dilihat dari parkiran, hanya ada mobil-mobil mahal yang berjejer dan terparkir di sana.

"Yey! Kita sudah sampai!" seru Lian antusias, langsung membuka pintu mobil bahkan sebelum mobil sepenuhnya berhenti, membuat Dirga berdecak kesal.

Dirga mematikan mesin mobil, tangannya bergerak gesit saat melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Hita menatapnya, menelan ludah saat ia sendiri masih berada di dalam sana.

Hita tau ini konyol, tapi ia tak bisa membuka sabuk pengaman di tubuhnya, yang awalnya dipasangkan oleh Lian.

Ingin rasanya Hita memanggil Lian lagi untuk meminta bantuan, tapi gadis itu sudah masuk ke dalam mal sembari melompat-lompat girang.

"Apa lagi yang kau pikirkan?! Cepat keluar!"

Seruan kasar Dirga membuat Hita tersentak.

Dirga menatap Hita geram, membuka pintu mobil hanya untuk memperhatikan Hita yang masih diam di tempat.

Menurut Dirga, Hita itu benar-benar wanita lamban, dan ia benci itu.

"M-maaf, kak," gugup Hita, tak enak hati karena terus menerus membuat Dirga kesal. "Aku tidak tau cara melepas ini," jelasnya, menunjuk ke arah sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya.

Dirga memijat pelipisnya begitu mendengar ucapan Hita, tak habis pikir dengan perempuan itu yang terus saja menyusahkan. "Dasar bodoh, membuka sabuk pengaman saja tidak bisa," gerutunya, melangkah mengitari mobil dan berhenti di pintu sebelah kemudi.

Dengan gerakan kasar Dirga membuka pintu, membuat Hita yang berada di dalam sana tersentak dan menunduk. Ia tau ia menyusahkan, dan ia sangat menyesali itu.

Dirga membungkukkan tubuhnya, menghindar dari atap mobil yang rendah. Tangannya merayap ke sisi Hita, meraih gesper sabuk pengaman dan dengan mudah membukanya.

Hita menahan napas, sama sekali tak bergerak saat Dirga benar-benar dekat dengannya. Bahkan Hita bisa mencium aroma parfum laki-laki itu dengan jelas, aroma mahal dan maskulin yang mencerminkan Dirga sendiri.

Hita memperhatikan Dirga yang tampak berkonsentrasi melepaskan sabuk pengaman, matanya yang tajam terlihat menawan dan indah di balik kacamata yang mempertegas wajah tampannya.

Hita jadi bertanya-tanya mengapa Loria kabur dari pernikahan padahal calon suaminya setampan ini, bahkan sangat mencintainya dan bersikap dingin dengan wanita-wanita lain.

Meskipun Hita kerap mendapatkan ucapan yang menyakitkan, tapi ia kagum dengan Dirga yang bahkan tak goyah cintanya untuk Loria.

Seakan menyadari tatapan Hita, Dirga menoleh, dan saat itu juga pandangan mereka bertemu. Bahkan gelapnya mobil tak menjadi penghalang untuk keduanya menatap satu sama lain.

Tangan Dirga berhenti dan berakhir menggenggam sabuk pengaman erat-erat saat matanya terfokus pada sang istri pengganti.

Wajah mereka begitu dekat, bahkan cukup untuk merasakan hembusan napas satu sama lain. Hita tentu saja membeku di tempatnya, merasa takut akan tatapan yang Dirga lemparkan padanya.

Alih-alih menjauh, Dirga malah mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mendesak Hita ke jok mobil dan terjebak diantara tubuhnya.

"Berhentilah mencari perhatian," bisik Dirga, membuat bulu kuduk Hita berdiri.

Dirga mengepalkan tangannya, meremas Jok mobil dan semakin mendekatkan tubuhnya pada Hita dan membuat gadis itu sontak menutup matanya rapat-rapat.

"Berhentilah bersikap genit dan mencari perhatian dari kakakku, itu tidak pantas," lanjutnya, tak peduli pada Hita yang jelas terlihat ketakutan. "Aku tidak ingin dipermalukan karena menikah dengan perempuan genit yang tak tau batasan."

Dirga mengatakan hal itu bukan tanpa alasan, tentu saja ia geram saat ia pulang dari kantor dan mendapati tubuh Hita yang dipasangi kemeja sang kakak, ditambah lagi dengan interaksi yang baru saja Hita lakukan dengan Bram melalui panggilan Vidio. Ia merasa malu, bukan hal yang lain.

"M-maaf, kak," cicit Hita, entah meminta maaf untuk ke berapa kalinya.

"Maaf?" Dirga meremas jok lebih kuat, seakan menahan emosi. "Kau selalu saja meminta maaf tapi sengaja membuat kesalahan, sengaja membuatku malu. Jika sekali lagi aku melihatmu berinteraksi berlebihan dengan Kak Bram, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu," ancam Dirga, seperti desisan amarah yang siap melahap Hita bulat-bulat.

Hita yang mendengar hal itu tak punya pilihan lain selain mengangguk, kepalanya tertunduk dan matanya terpejam, jelas menghindar dari tatapan Dirga.

"Hei! Kenapa kalian lama sekali?!"

Momen menegangkan itu langsung hancur begitu suara Lian terdengar dari kejauhan. Gadis itu berkacak pinggang, tampak kesal sekali dengan Dirga dan Hita yang masih juga berada di mobil.

Hita perlahan-lahan membuat matanya, takut-takut saat menatap Dirga yang masih kesal dan marah padanya.

Tanpa mengatakan apapun, Dirga mundur dan membiarkan pintu terbuka untuk Hita, ekspresinya begitu datar dan dingin.

Dengan helaan napas, Hita mencoba untuk menerima ini lagi. Ini sudah takdirnya, dan mungkin ia harus lebih sabar menghadapinya.

Bersambung...

1
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!