Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
“ SU RAAAN... DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI..!”
Teriakan melengking langsung mengagetkan Su Ran dan juga pasangan Ma. Mereka langsung menegakkan tubuh. Terlebih pasangan Ma, mereka bahkan menyiapkan bdan mereka untuk melindungi gadis Ran.
Tampak dari kejauhan, Nyonya tua Fen datang dengan gagahnya. Kedua tangannya berkacak pinggang. Badan yang sedikit berisi membuat postur tubuhnya seperti badut di dunia modern.
“ Ppftttttt...” Tawa Su Ran sedikit tertahan. Ia bahkan harus menutup mulutnya tetapi bahunya bergetar hebat. Menandakan jika dirinya sedang diguncang tawa.
Paman dan Bibi Ma tidak tahu apa yang dipikirkan oleh gadis dibelakang mereka. Paman Ma melirik kearah bibi Ma, seolah memiliki pemahaman tersendiri, bibi Ma langsung mengangguk dan berlari secepat yang ia bisa.
“ Nyonya tua Fen, ada keperluan apa hingga kau bersusah payah datang ke ladangku yang gersang ini,” tanya paman Ma ingin mengalihkan marah nyonya tua Fen.
Tetapi nyonya tua sudah menyiapkan amarahnya sedari dirumah, sulit untuk dialihkan. Siraman bensin oleh kedua cucunya juga hasutan putra pertamanya, membuat ia tidak terkendali lagi.
Ia melirik ladang milik pasangan Ma ini. bukan karena ia tidak mendengar gosip jika Gadis Su Ran ini memberikan sejenis bibit entah apa namanya kepada tetangga – tetangga yang dekat dengannya.
Satu dea menertawakannya, bahkan dia pun juga sama. Ia memandang lautan hijau seluas 2 Mu ini dengan matanya yang tajam, tak kuasa mencibir.
“ Ini adalah tanaman yang dikenalkan oleh J*lang ini? heh, kurasa kau sudah gila, Lao Ma, kau mempercayai ucapan gadis mati ini?” kekeh nyonya tua Fen membuat wajah paman Ma Menggelap. Tetapi tetap diam dan membiarkan nyonya tua itu mengoceh.
Nyonya tua Fen cukup mencibir tanaman cabai yang bahkan belum berbunga tersebut. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Su Ran yang hanya diam menyilangkan kedua tangannya, tersenyum miring.
“ APA SIKAPMU ITU! TIDAKKAH KAU HARUS MENGHORMATI NENEKMU INI!” bentak nyonya tua Fen.
“ Pffttttt Ha ha ha..” kali ini, Su Ran sungguh tidak bisa menahan diri lagi, penampilan sang nenek tua sungguh sangat lucu dimatanya.
Sepasang mata segitiga terbalik, pipi bergelambir penuh dengan keriput, dan tatapan mata yang tajam menusuk. Jangan lupa dengan kecepatan mulut untuk memaki ini.
Mirip dengan bibi tukang maki di pasar modern yang mana bila tidak mendapatkan harga sesuai penawarannya akan langsung memaki orang. Sungguh persis!
“ DASAR ANAK DURHAKA! TERTAWA APA!” nyonya tua Fen semakin berang melihat Su Ran yang menertawakannya.
“ Ehem, duh bagaimana ini, perutku kaku kebanyakan ketawa,” deham Su Ran berusaha menetralkan tawanya. Ia sedikit menyesuaikan diri selama semenit kemudian menatap datar nyonya tua Fen.
“ Sebenarnya, nyonya Fen, “ tidak ada lagi sebutan ‘nenek’, Su Ran sekarang memanggilnya sebagai NYONYA, membuat nyonya tua Fen sedikit mengernyitkan dahi tidak senang.
“ Apa yang ingin kau lakukan? Seingatku, kita sama sekali sudah tidak memiliki hubungan apapun,” ucap Su Ran dengan santai.
Paman Ma masih tetap di posisinya, ia mengangguk setuju dengan ucapan Su Ran.
“ SEHARUSNYA KAU BERIKAN PEKERJAAN DIKOTA ITU KEPADA DUA SEPUPUMU, ATAS DASAR APA KAU MALAH MEMBERIKAN KEPADA ORANG LUAR! KAU ADALAH BAGIAN KELUARGA FEN!” tanpa basa basi lagi, nyonya tua Fen langsung mengeluarkan tujuannya, membuat Su Ran menyeringai dingin. Ternyata tidak jauh – jauh dari gosip hari ini!
“ Atas dasar apa? Lalu, aku akan bertanya atas dasar apa aku harus memberikan kuota itu kepada ‘SEPUPUKU’, oh bukan.. aku sama sekali tidak memiliki sepupu,”
“ Jika kau ingat dengan jelas, kita sudah lama berpisah. Segala URUSANKU sama sekali tidak memiliki hubungan denganmu dan keluargamu,” tekan Su Ran. Sungguh ia tidak tahu apa yang ada didalam pikiran nenek tua ini.
“ HUBUNGAN DARAH TETAP AKAN LEBIH KENTAL DARIPADA AI....”
“ Hei nenek tua! Kita sama sekali tidak memiliki hubungan darah apapun! Ingat, aku hanya anak angkat mendiang kedua orangtuaku!” potong Su Ran dengan geram.
“ Ingat, aku adalah ‘beban’ yang dibawa oleh kedua orangtuaku. Orang yang selama ini kau anggap hanya penghabis jatah makan keluargamu,” seringai dingin mulai terbentuk di bibir Su Ran, membuat Paman Ma dan nyonya tua Fen sedikit bergidik ngeri.
“ TA .. TAPI KAU TETAP SAJA BERHUTANG KEPADA KELUARGA FENKU!” teriak nyonya tua Fen tak mau kalah.
“ HEH, berhutang? Masih berani kau mengatakan jika aku berhutang? SUDAH AKU KATAKAN BERULANG KALI, JIKA AKU MEMANG BERHUTANG, ITU ADALAH KEPADA AYAH DAN IBU ANGKATKU!” teriak Su Ran tak kalah tinggi dari nyonya tua Fen.
“ Kau sama sekali tidak memberikan sesuap nasi pun kepadaku! Bahkan sesuap nasi, sehelai kain pun sama sekali tidak kuterima dari tangan kikirmu!” Su Ran sama sekali tidak memberikan jeda untuk nyonya tua menjawab.
“ Aku hidup karena perjuangan ayah ibuku. Ibuku, bahkan harus menahan sakitnya hanya untuk membelikanku baju. Uang yang seharusnya digunakan untuk pergi ke tabib, malah digunakan membeli kain. Hanya untuk membuatkan pakaianku, hanya agar aku terlihat sama dengan anak – anak lain,”
“ Belum kering tanah kuburan mereka, kau sudah langsung datang ‘merebut’ rumah dan tanah peninggalan mereka untukku! Jika aku tidak memutuskan hubungan ini, kau masih ingin menikahkanku dengan orang bodoh hanya karena iming – iming mahar besar!”
“ Atas dasar apa? Atas dasar apa kau memperlakukan aku seperti itu! Aku sama sekali tidak makan darimu, tidak tinggal denganmu!” Su Ran seakan – akan mengeluarkan semua ganjalan di hatinya. Lebih tepatnya, ganjalan hati pemilik tubuh asli.
“ ADA APA LAGI INI...”
Suara kepala desa terdengar dari kejauhan. Su Ran sedikit melirik, hanya mendapati jika paman kepala desanya datang bersama dengan beberapa warga yang berkumpul.
Raut wajah nyonya tua sedikit bengkok. Ia memilih untuk mendatangi ladang Ma ini karena tidak ingin ada yang melihatnya, tetapi ternyata istri Lao Ma ini sungguh licik memanggilnya kemari. Urusannya pasti tidak akan sesederhana sekarang.
“ FEN SAN, ini sungguh tidak seperti apa yang kau lihat,” sikap nyonya tua langsung berubah.
Paman kepala desa hanya menghela nafas kasar.
“ Paman, nyonya tua ini protes denganku. Mengatakan jika seharusnya aku memberikan kuota pekerjaan dikota kepada cucu – cucunya. Ia juga berkata jika aku harus membalas budi kepadanya, kepada keluarga Fen,” adu Su Ran dengan cepat. Paman Ma menutup mulutnya, mencegah agar ia tidak terbahak mendengar aduan anak kecil seperti Su Ran ini. tadi ia sangat garang!
“ Bibi ketiga, bukannya kalian sudah lama berpisah. Jelas sekali dan banyak saksi yang melihatnya. Apakah aku perlu membawamu pergi ke kantor pengadilan?”
“ Paman, biarkan saja! Aku akan memberikan kesempatan terakhir kali ini. tetapi jika besok – besok keluarga Fen mencari gara – gara denganku, aku akan membawa masalah ini ke pengadilan!” ucap Su Ran tegas.