Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan Masa Lalu Dimas
Keesokan harinya, Tasya resmi menempati kos barunya. Bangunannya sederhana—dinding bercat putih yang mulai pudar, lembap di beberapa sudut, kasur busa tipis yang sudah sedikit lepek. Tak ada pendingin ruangan, hanya kipas angin tua yang berdecit pelan saat dinyalakan.
Beberapa mahasiswa satu kampus yang tinggal di sana menatap Tasya dengan heran. Nama Tasya Adibrata sudah terlalu dikenal untuk berada di tempat seperti ini.
Ada yang sempat bertanya, tapi Tasya hanya menjawab seperlunya. Ia tak ingin ceritanya jadi konsumsi siapa pun, meski ia tahu—sebagian dari mereka sudah mendengar kabarnya.
Tasya:
Dim, hari ini lo ke kampus nggak?
Dimas:
Udah di perpus.
Tasya memasukkan laptop ke dalam tas lalu melangkah keluar kamar. Puluhan pasang mata mengikuti langkahnya di lorong sempit itu, sebagian berbisik, sebagian hanya menatap tanpa ekspresi.
Sesampainya di kampus, Tasya langsung duduk di sebelah Dimas di perpustakaan. Mereka kembali berkutat dengan data penelitian yang hampir rampung dan rencananya akan diserahkan ke Pak Sasongko hari itu juga.
“Lo udah dapet lokasi penelitian?” tanya Tasya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Dimas menyodorkan ponselnya.
“Ini dari temen sekelas gue yang udah lulus. Lo tinggal pilih—Desa Panarikan atau Desa Wanohjaya. Dua-duanya cocok sama judul lo.”
Tasya mengerutkan dahi.
“Jauh?”
“Lima jam dari sini.”
“Yang penting kelar, Dim. Gue nggak mau lama-lama di bab satu.”
Dimas mengangguk. Setelah semua data selesai diolah, ia langsung mencetak tiga puluh halaman draft untuk diserahkan ke Pak Sasongko.
Di ruang dosen, Pak Sasongko membaca lembar demi lembar dengan teliti—terlalu teliti. Hampir tiga puluh menit berlalu dalam keheningan yang bikin Tasya dan Dimas sama-sama gelisah.
Akhirnya, pria itu menutup map.
“Sudah. Kalian bisa lanjut ke draft penelitian skripsi masing-masing.”
“Terus seminar ulangnya kapan, Pak?” Tasya menyela cepat.
Pak Sasongko membuka laci, menarik jadwal.
“Besok siang ada slot. Kamu mau?”
Tasya mendengus.
“Besok? Pak, nggak ada jadwal lain?”
Tatapan Pak Sasongko mengeras dari balik kacamatanya.
“Kalau mau berdua saja dengan saya juga boleh. Tinggal atur waktunya.”
“Terserah Bapak mau berdua, berlima, atau berapa,” balas Tasya dingin. “Saya maunya minggu depan.”
Pak Sasongko hanya mengangguk, lalu mempersilakan mereka keluar.
Begitu sampai di lorong, Tasya menghembuskan napas kesal, teringat wajah genit Pak Sasongko yang selalu bersikap aneh di hadapannya.
“Gue balik dulu, Dim.”
“Mau gue anter?” tanya Dimas refleks.
“Kosan gue di belakang kampus.”
Dimas berhenti melangkah.
“Kosan Bunga Lima?”
Tasya mengangguk pelan.
Dimas terdiam sesaat.
“Gue mampir bentar.”
Sesampainya di sana, beberapa mahasiswa perempuan sempat menggoda Dimas agar mampir ke kamar mereka. Dimas mengabaikannya. Pandangannya justru menyapu lorong sempit itu dengan waspada.
“Katanya lo alim,” sindir Tasya sambil membuka pintu kamarnya. “Ternyata bener juga omongan orang—playboy.”
Dimas mendengus.
“Gue cowok, Sya. Wajar ngeliat cewek cantik.”
“Brengsek. Isi kepala cowok emang nggak jauh dari selangkangan,” gerutu Tasya.
Sebelum Tasya masuk, Dimas kembali menatap lorong. Alisnya mengerut.
Ada sesuatu yang mengganjal.
Dan firasat itu membuat dadanya terasa tidak enak—seolah tempat ini menyimpan masalah yang belum memperlihatkan wajah aslinya.
“Lo yakin, Sya, betah di tempat kayak gini?” tanya Dimas sambil melangkah masuk ke kamarnya—ruangan sempit yang jauh dari kesan mewah seperti dulu.
“Mau gimana lagi?” Tasya menuangkan air putih ke dalam gelas. “Gue harus bertahan hidup. Duit dari Om Restu doang yang bisa gue andelin sekarang.”
“Restu?” Dimas berhenti bergerak. Tatapannya langsung mengunci wajah Tasya.
Tasya mendesah kesal. “Jangan sampai lo mikir aneh-aneh, ya. Gue nggak jual diri.” Ia menyodorkan gelas air ke arah Dimas.
“Restu Adibrata?” Dimas mengulang nama itu, kali ini dengan nada berat.
“Lo kenal dia?” Tasya mengernyit, mulai menangkap ada sesuatu yang janggal.
Dimas terdiam. Rahangnya mengeras, bibirnya sedikit bergetar—seolah sebuah pintu lama di kepalanya baru saja terbuka, membawa kembali bau darah dan ancaman.
“Sekarang… lo masih komunikasi sama dia?” tanya Dimas akhirnya, suaranya lebih rendah.
Tasya menggeleng pelan. Ia tahu, kalau nomor itu sampai kembali ke tangan Restu, bukan tak mungkin orang tuanya akan muncul—atau lebih buruk, menyeretnya pulang ke Surabaya dengan paksaan.
“Saran gue,” Dimas menarik napas panjang, “balikin duitnya.”
“Kenapa?” Tasya menatapnya tajam. “Dim, lo aneh dari tadi.”
Dimas mengusap tengkuknya. “Gue… bingung harus mulai dari mana, Sya. Soal bokap lo. Soal masa lalu gue.”
Tasya melangkah mendekat. “Ayolah, Dim. Lo harus jujur. Ada apa sebenarnya antara lo sama bokap gue?”
2 TAHUN YANG LALU
Saat itu, Dimas masih bekerja di sebuah perusahaan bernama GARDA KOLEKTA—perusahaan penagihan sekaligus jasa keamanan yang lebih sering bermain di wilayah abu-abu.
“Dimas,” kata seorang pria berambut cepak bertubuh kekar sambil melempar map ke meja, “hari ini lo pegang job khusus. Dar Pengusaha gede Di Jakarta. Beresin semua tagihan ini. Gimanapun caranya.”
Dimas membuka map itu, matanya menyapu daftar nama.
“Reynald Geraldi,” gumamnya.
“Lima ratus juta,” lanjut pria itu santai.
Dimas mendecak. “Kecil.”
“Pesanan dari siapa?” tanyanya sambil menyandarkan punggung ke kursi.
“Lo nggak perlu tahu. Tugas lo cuma satu—eksekusi lahan proyeknya. Apapun caranya. Paham?”
Pria itu pergi tanpa menunggu jawaban.
Tak sampai satu jam kemudian, Dimas sudah melesat dengan motor sport 250 cc-nya. Kecepatan tinggi, tanpa ragu.
Sebuah pagar seng menjulang di depannya. Spanduk besar terbentang: PROYEK PEMBANGUNAN HOTEL. Dua petugas keamanan berjaga di depan gerbang.
“Saya mau ketemu Pak Reynald,” kata Dimas sambil memperlihatkan ID perusahaan.
Kedua security saling pandang.
“Mas ada janji?” tanya salah satunya.
“Nagih utang nggak perlu janjian,” jawab Dimas sambil mengangkat surat resmi. “Kalau janjian, yang ada malah kabur duluan.”
“Maaf, mas. Tanpa janji—”
Dimas menyeringai. “Lo mau jalan pendek apa jalan panjang?”
Ia mengeluarkan gulungan uang dari balik jaketnya.
Beberapa detik hening. Salah satu security mengangguk ke arah samping—jalur masuk khusus pegawai.
Dimas menyelipkan uang itu ke saku mereka, lalu melangkah masuk.
Di sebuah bedeng seng, ia menemukan Reynald—jas hitam rapi, duduk bersama seorang wanita cantik, memeriksa berkas.
“Selamat siang, Pak Rey,” sapa Dimas santai tanpa mengetuk.
“Siapa kamu!” Reynaldi berdiri, wajahnya pucat.
“Tenang,” Dimas mendekat. “Saya cuma bawain ini.”
Surat tagihan pun berpindah tangan.
“Apa-apaan ini!” Reynaldi melempar kertas itu. “Saya nggak pernah punya utang segede ini!”
Dimas menyalakan rokok, menghembuskan asap ke wajah Reynald.
“Saya cuma menjalankan tugas. Dan kalau perlu…”
Ia memperlihatkan belati kecil dari balik jaketnya.
“…saya bisa bikin ini selesai di tempat.”
“Kamu—!”
Belati itu menancap ke meja. Duk.
“Bayar,” ujar Dimas datar. “Atau—”
“Cukup.”
Seorang pria masuk. Wibawanya langsung menekan ruangan.
“Saya yang akan bertanggung jawab atas semua utang itu.”
Dimas menoleh. Tatapannya berubah tajam.
“Kamu ikut saya,” kata pria itu. “Sekarang.”
Mereka berjalan menjauh dari keramaian.
“Saya tahu siapa kamu, Dimas,” ujar pria itu dingin. “Dan saya tahu siapa ayahmu.”
“Pesanan ini,” lanjutnya, “datang dari kakak saya—Andreas Adibrata.”
“Gue nggak peduli,” potong Dimas. “Yang gue mau cuma duit.”
Pria itu—Restu Adibrata—mengeluarkan ponsel, menampilkan foto ayah Dimas di ruang sidang.
“Andreas yang menjebloskan ayahmu.”
Urat di pelipis Dimas menegang.
“Jangan bawa urusan pribadi,” desisnya sambil memutar belati.
“Bawa uangnya. Atau proyek ini gue ratain.”
Ia tak lupa rasa geram itu—saat tahu siapa yang menghancurkan keluarganya, dan kenapa ia tak pernah benar-benar bisa lari dari dunia gelap ini.
POV END