Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RERUNTUHAN DI BALIK RAGA
Malam itu, napas Devan di ujung telepon terdengar seperti geraman badai yang tertahan. Suaranya bukan lagi sekadar dingin, melainkan tajam, menusuk gendang telinga Scarlett dengan otoritas yang absolut.
"Ukuran yang kamu berikan tidak akan cukup, Scarlett," desis Devan. "Desainer ini bukan penjahit pasar yang bisa kamu kibuli dengan angka perkiraan. Jika gaun itu meleset satu inci saja saat malam pesta Nenek, tidak akan ada waktu untuk revisi. Kita sudah di ujung waktu. Kamu harus pulang besok, atau aku sendiri yang akan menjemputmu paksa."
Scarlett memejamkan mata rapat-rapat. Rasa berdenyut di pelipisnya kini berubah menjadi dentuman yang menyakitkan. Ia tahu tubuhnya, namun ia juga tahu bahwa berdebat dengan Devan saat cadangan energinya berada di titik nol hanya akan berakhir dengan kehancuran.
"Baik," jawab Scarlett pendek, suaranya nyaris menyerupai bisikan sebelum mematikan sambungan secara sepihak.
Ia ambruk di atas ranjang tanpa sempat menanggalkan pakaian kerjanya. Apartemen itu sunyi, namun di dalam kepala Scarlett, ribuan baris kode algoritma berputar seperti badai. Ia tertidur dalam kondisi otak yang masih bekerja, sebuah siksaan mental yang perlahan menggerogoti fisiknya.
Ambang Kehancuran
Keesokan paginya, matahari Nordigo bersinar dengan intensitas yang menyakitkan bagi mata Scarlett yang kekurangan tidur. Begitu ia melangkah keluar dari apartemen menuju lift, dunia seolah kehilangan porosnya.
Lantai marmer yang ia pijak terasa seperti gelombang laut yang tidak stabil. Pandangannya mengabur, pecah menjadi bintik-bintik hitam yang menari-nari. Jantungnya berdegup kencang, mengirimkan sensasi mual yang hebat ke kerongkongannya. Scarlett mencoba meraih dinding lift, namun tangannya hanya menyentuh udara kosong.
Dunia menjadi gelap dalam satu kedipan mata. Tubuhnya jatuh menghantam lantai dengan suara yang tumpul, tak berdaya di hadapan batas kemampuan raganya sendiri.
Kenyataan yang Berdarah
Bau tajam amonia dan cairan antiseptik menyambut kembalinya kesadaran Scarlett. Hal pertama yang ia dengar bukanlah suara Devan, melainkan isak tangis yang tertahan dan detak monoton mesin elektrokardiogram.
"Scarlett... syukurlah kamu bangun."
Mavin duduk di samping ranjang dengan wajah yang hancur. Matanya yang biasa tajam kini merah dan bengkak. Pria itu tampak seolah baru saja melewati medan perang sendirian.
"Jam... jam berapa sekarang?" Scarlett mencoba duduk, namun rasa sakit yang luar biasa menjalar dari perut bawahnya, membuatnya memekik pelan.
"Jangan bergerak!" Mavin menahan bahunya dengan tenaga yang gemetar. "Kamu pingsan di depan lift selama hampir satu jam sebelum petugas apartemen menemukanmu. Scarlett... kenapa kamu tidak pernah bilang?"
"Bilang apa?" Scarlett bertanya dengan suara parau. Ia melirik jam dinding. Sudah pukul lima sore. Janji dengan desainer Devan sudah terlewat jauh. "Mavin, aku harus pergi. Devan akan mengamuk jika aku tidak datang ke rumah utama, dan algoritma robot itu..."
"Persetan dengan Devan! Persetan dengan robot itu!" suara Mavin meledak, memenuhi ruangan VIP rumah sakit yang sunyi. Ia menggenggam tangan Scarlett yang sedingin es, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi.
Scarlett terpaku. Ia belum pernah melihat Mavin sehancur ini.
"Dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh, Scarlett. Luka dalam akibat keguguranmu bulan lalu... kamu tidak pernah merawatnya, kan?" Mavin bertanya dengan suara bergetar karena emosi yang meluap. "Ada pendarahan internal yang membeku. Sisa-sisa trauma itu menyumbat rahimmu dan memicu infeksi yang sudah menjalar ke jaringan sekitarnya."
Scarlett memalingkan wajah ke arah jendela, menatap langit yang mulai berdarah oleh warna senja. Ia ingat hari itu. Hari di mana ia kehilangan bayinya di koridor rumah sakit, sementara Devan sibuk memapah Vivian yang berpura-pura pingsan karena stres.
"Dokter bilang..." Mavin menarik napas panjang, suaranya kini pecah. "Jika dalam empat puluh delapan jam ini kamu tidak menjalani operasi pembersihan total dan istirahat selama satu bulan penuh, kamu... kamu tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi selamanya. Kondisi rahimmu sudah di ambang nekrosis."
Hening yang mematikan menyergap. Scarlett tidak menangis. Ia hanya menatap langit dengan tatapan kosong, senyum miris terukir di bibirnya yang pucat.
"Mungkin itu memang hukuman untukku, Mavin," bisik Scarlett pelan. "Aku sudah tidak punya anak, tidak punya suami yang mencintaiku, dan sekarang aku hampir kehilangan karierku. Anak? Untuk apa aku memikirkan rahim yang hanya membawa kesedihan?"
"Scarlett, dengarkan aku!" Mavin mencengkeram bahunya, memaksa Scarlett menatapnya. "Aku akan membatalkan peluncuran UME. Aku akan menanggung semua kerugiannya. Aku tidak peduli jika Grup Laksmana menang kali ini. Aku hanya ingin kamu selamat!"
"Tidak," Scarlett menatap Mavin dengan sorot mata yang tiba-tiba menjadi sangat tajam dan dingin. "Jika aku mundur sekarang, Vivian akan menang dengan hasil curiannya. Devan akan terus menganggapnya dewi, dan aku akan selamanya menjadi pecundang yang cacat. Aku akan menjalani operasi itu, Mavin. Tapi aku butuh laptopku di sini. Aku akan menyelesaikan algoritma itu di atas ranjang rumah sakit ini, atau aku lebih baik mati sekarang juga."
Mavin tertegun. Ia melihat sebuah api dendam yang begitu besar di mata Scarlett, sebuah tekad yang sudah melampaui rasa takut akan kematian. Scarlett tidak lagi bertarung untuk perusahaan; ia bertarung untuk memulihkan martabatnya yang telah diinjak-injak hingga hancur.
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.