NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umpan dan Jaring

Udara di lantai tujuh Divisi Audit Internal terasa lebih dingin dari biasanya. Baskara sengaja mengatur suhu pendingin ruangan sedikit lebih rendah, menciptakan atmosfer yang memaksa penghuninya untuk tetap waspada. Di balik meja kerjanya yang luas, ia mengamati Alea melalui pantulan kaca pintu.

Gadis itu sedang sibuk menyusun jadwal audit vendor. Tangannya lincah, namun matanya mencerminkan kelelahan yang mulai menumpuk.

"Alea, masuklah sebentar," panggil Baskara melalui interkom.

Alea masuk dengan buku catatan di pelukannya, sikapnya selalu sigap, namun ada sedikit jarak yang ia bangun. "Ada yang bisa saya bantu, Pak—maksud saya, Baskara?"

Baskara menyodorkan sebuah kunci kuningan tua ke atas meja. "Aku butuh kau turun ke gudang arsip bawah tanah. Ada tumpukan dokumen fisik dari tahun 2005 hingga 2010. Semuanya berantakan. Aku ingin kau menyusunnya kembali berdasarkan kode proyek."

Alea tampak ragu. "Baskara, bukankah semua data itu sudah dipindahkan ke sistem digital oleh tim TI?"

"Sistem bisa diretas, Alea. Data digital bisa diubah dengan satu klik tanpa meninggalkan jejak fisik," Baskara berdiri, berjalan memutari meja hingga ia berdiri tepat di hadapan Alea. Ia sengaja merendahkan suaranya, memberikan kesan bahwa ini adalah tugas rahasia. "Aku hanya percaya pada ketelitianmu. Di rumah ini, aku tidak tahu siapa yang benar-benar bisa kupercayai selain dirimu."

Kalimat "Hanya percaya padamu" adalah umpan yang dilemparkan dengan presisi. Baskara melihat kilatan emosi di mata Alea—perasaan dihargai yang selama ini jarang ia dapatkan dari Sarah, yang cenderung memperlakukannya sebagai alat.

Menanam Benih Keraguan

Dua jam kemudian, Baskara menyusul Alea ke ruang bawah tanah yang pengap. Ia menemukan Alea sedang berlutut di antara tumpukan map biru yang berdebu. Baskara menyodorkan segelas kopi hangat yang ia bawa.

"Terima kasih," ujar Alea pelan, menyeka butiran keringat di dahi dengan punggung tangannya.

"Kau sangat efisien, Alea," puji Baskara sambil memperhatikan cara Alea bekerja. "Tujuh tahun bekerja untuk Sarah... kau memegang akses biometrik, kau tahu semua alur kas, dan kau bahkan mengurus jadwal pribadinya."

Baskara menjeda, sengaja memberikan ruang sunyi agar Alea menoleh padanya.

"Tapi aku penasaran satu hal," lanjut Baskara dengan nada santai namun tajam. "Kenapa asisten sepintar dan seloyal dirimu tidak pernah dipromosikan ke posisi manajerial? Dengan kemampuanmu, kau seharusnya sudah menjadi Direktur Keuangan, bukan sekadar asisten yang harus membersihkan debu di gudang arsip setiap kali ada masalah."

Alea terdiam. Pertanyaan itu menghantam bagian paling sensitif dalam hatinya. "Nyonya Sarah bilang... dia lebih membutuhkanku di sisinya. Dia bilang aku tak tergantikan."

"Tak tergantikan, atau tak boleh berkembang?" Baskara tersenyum pahit. "Terkadang orang menahan kita di bawah mereka bukan karena mereka membutuhkan kita, tapi karena mereka takut jika kita berdiri lebih tinggi, kita akan melihat apa yang mereka sembunyikan di bawah kaki mereka."

Alea menunduk, tidak berani membantah. Benih keraguan pertama telah tertanam di benaknya, tepat di sebelah loyalitas butanya kepada Sarah.

Map Merah: Sang Pancingan

Sore harinya, sebelum mereka kembali ke rumah Mahardika, Baskara meletakkan sebuah map merah di tengah meja kerjanya. Ia membiarkan map itu sedikit terbuka, memperlihatkan lampiran slip transfer mencurigakan dari salah satu anak perusahaan yang merugi.

Itu adalah penggelapan pajak berskala kecil, sesuatu yang Sarah lakukan secara rutin. Baskara sengaja meninggalkannya di sana.

"Alea, aku ada janji dengan Ayah di lobi. Tolong rapihkan meja ku, ya," ucap Baskara sambil berlalu keluar, namun ia tidak benar-benar pergi.

Melalui layar ponselnya yang terhubung dengan kamera pengawas tersembunyi di ruangan itu, Baskara mengamati. Ia melihat Alea mendekati meja. Gadis itu melihat map merah tersebut. Jemarinya ragu sejenak, lalu ia memberanikan diri membukanya.

Baskara menahan napas. Jika Alea mengambil ponselnya untuk menelepon Sarah, maka infiltrasi melalui Alea akan menjadi sangat sulit. Namun, yang dilakukan Alea justru sebaliknya.

Setelah membaca isi dokumen itu selama beberapa detik dengan wajah pucat pasi, Alea perlahan menutup kembali map tersebut. Ia tidak mengambil foto. Ia tidak menelepon siapa pun. Ia justru merapikan map itu agar terlihat seperti tidak pernah disentuh, lalu ia mematikan lampu ruangan dengan tangan yang sedikit bergetar.

Baskara tersenyum di balik layar ponselnya.

Umpan dimakan, batinnya. Alea telah memilih untuk melindungi rahasia "kakak tiri"-nya daripada melaporkannya kepada "penyelamat"-nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!