Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadian
Hanin pun sudah kembali ke ruko, setelah melewati lobby ia kemudian naik ke lantai 2, "Mbak.. kemana aja, di cari-cari nggak ada" ujar Amel asisten pribadinya. "Aku tadi ke rumah bekas mantan suami aku, kan udah aku beli gitu Mel.." ujar Hanin.
"Sudah di bayar mbak?" tanya Amel, "Mm sudah Mel, tadi aku buka cek untuk pencairan, jadi besok ada uang keluar ya dari rekening pribadi 1.1M ya Mel," ujar Hanin. Amel mengangguk.
"Nanti kamu harus ke rumah itu, "ujar Hanin. "Siap mbak Hanin" ujar Amel singkat.
Adrian dan Hanin sedang membereskan baju, celana dan barang Adrian lainnya di kosnya yang baru, "Sayang .. "ujar Adrian lembut. "Apa mas?" ujar Davina sambil merapikan baju Adrian. "Mm, kita nikah yuuk.., aku serius, aku mau hidup dengan kamu" ujar Adrian sambil menatap lekat mata Davina.
"Mas, menikah itu gampang.. tapi aku harus menguatkan mentalku dulu, aku juga harus istiharoh" ujar Davina. "ya, kalau gitu ijinkan aku bertemu dengan orang tuamu, aku akan sampaikan aku mau melamarmu" ujar Adrian.
"Aku nggak melarang mas bertemu dengan orang tua aku, itu bisa setiap saat tapi aku butuh waktu" ujar Davina sambil duduk di atas bed kamar kos Adrian.
Adrian menatap Davina lembut, Adrian tidak tahan melihat kecantikan Davina.. hati Adrian selalu berdebar setiap dekat dengan Davina,
"Vin, jujur kadang aku masih merasa sayang pada Hanin tapi .. jelas sekali Hanin menolak, aku sadari itu, mencintai kamu bukan bentuk pelarian aku, nggak sama sekali.. semua itu murni berawal dari rasa sayang, aku pasrahkan hidup aku sekarang ini hanya untuk seorang Davina" ujar Adrian yang terlihat serius.
Davina pun hanya tertunduk, dan hanya mematung mendengar pernyataan Adrian.
Kamar kos itu hening sesaat,
Adrian ingin sekali menyentuh, mencium pipi dan bibir Davina.. Adrian pun lalu menatapnya lembut dekat sekali,
Davina sebenarnya juga merasakan hal sama, ia tidak langsung bergerak, hanya menatap detail wajah Adrian.. garis rahangnya yang tegas, alis yang sedikit agak berkerut, dan nafas yang teratur...
Adrian mulai menyentuh pipi Davina, ibu jarinya mengusap lembut.. "Vin, apa pun yang terjadi nanti, aku nggak mau kehilangan ini" katanya dengan pelan.
Davina menyandarkan kepalanya di dada Adrian, ada rasa aman di sana, namun juga ada kegelisahan kecil.. yang belum sepenuhnya menemukan tempat.
Tangan Adrian mulai menyusuri punggung Davina perlahan, mengusapnya lembut, menenangkan, tidak terlihat hasrat yang mendesak.. hanya sentuhan yang berkata, 'aku ada ...'
"Kamu takut Vin?" tanya Adrian pelan.
Davina mengangguk jujur,
"Sedikit .. bukan sama kamu mas, tapi sama perubahan" ujar Davina.
Adrian menariknya lebih dekat, kening mereka bersentuhan, "Aku juga .. tapi mungkin takut itu tanda kalau ini penting" ujar Adrian.
Adrian dengan lembut mengangkat dagu Davina, bibir Davina terlihat basah merekah.. Adrian pun berhasil mencium bibir mungil Davina, tanpa sadar Davina mengikuti iramanya.
Davina lalu melepaskan ciuman Adrian.. ia merasa berdosa dan bersalah sudah larut dalam perasaannya sendiri.
"Udah mas, maaf aku nggak bisa begini.. kita berdosa mas, kita bukan muhrim" ujar Davina menggeser duduknya dan tertunduk.
"Maaf ya mas, aku akan coba sholat istikharah dulu mohon petunjukNya dulu.. aku nggak mau cium-cium seperti ini lagi, antarkan aku pulang sekarang.." ujar Davina menyesal, Adrian pun terdiam.
"Ya, maafkan aku ya Vin.. aku hanya tidak bisa menahannya" ujar Adrian.
Adrian pun lalu mengantar Davina pulang, di depan pintu rumah..
"Sekali lagi aku minta maaf, please jangan tinggalkan aku ya Vin.. apa yang terjadi tadi itu murni rasa sayang aku," ujar Adrian.
"Ya sudah mas, aku ngerti.. aku cuma nggak mau kita kebablasan, hanya itu, kita ini 2 orang dewasa dan sama-sama punya hasrat, aku masih menghormati diri aku sendiri" ujar Davina.
"Mm, terima kasih untuk pengertian kamu.. tapi tolong jangan tolak perasaan aku Vin, aku bisa gila" ujar Adrian.
"Mas, jangan ngomong gitu.. aku ini punya Allah, aku gimana Allah aja, Allah yang menggerakkan hati manusia" ujar Davina.
Adrian pun mengangguk.
Adrian pun pamit kembali ke kosnya.
Tiba di tempat kos, Adrian berpapasan dengan seorang wanita penghuni kos di blok lain.. "Malam mbak" sapa Adrian, "Malam juga.. baru ya mas?, saya Andini" ujar wanita itu. "Oh iya mbak, saya Adrian" ujar Adrian, mereka pun bersalaman.
Karena lelah Adrian pun langsung masuk ke kamar, merebahkan dirinya di bed kamar yang sudah termasuk fasilitas kos, tanpa Adrian ketahui.. Andini sempat memfoto Adrian dengan ponselnya tanpa flash, "Mm ganteng juga nih si mas.." gumamnya, lalu menjadikan foto Adrian di statusnya dengan caption 'Gantengnya pacar orang', Andini lalu kembali ke kamarnya.
Tak lama Adrian pun tertidur dan bermimpi dengan Davina.
-----
Pagi ini Adrian dengan seragam pemdanya susah bersiap untuk ke kantor, tiba di kantor Adrian pun memarkirkan mobilnya persis bersebelahan dengan mobil BMW warna pink muda milik Davina, "Mm .. lucu juga warna mobil Davina, seleranya bagus" gumam Adrian.
Pagi ini Adrian tampak sedang rapat hingga siang hari, selesai rapat Adrian bergegas menghubungi Davina di kantornya untuk mengajak makan siang di sebuah Mall.
Kini Davina sudah bersama Adrian,
"Mas, itu lihat .. ada pameran perumahan, kamu mau kesana?" tanya Davina. "Mm, boleh tapi nanti ya sayang aku pingin makan dulu.." ujar Adrian sambil menggandeng tangan Davina.
"Mau makan apa Vin?" tanya Adrian setelah duduk di sebuah cafe. "aku lagi pingin makan ayam bakar pedas, juga lemon tea" ujar Davina. Adrian mengangguk.
"Vin, aku mau menagih janji kamu.. apa kamu sudah ada jawaban?" tanya Adrian, Davina pun menunduk. "iya mas, aku akan jawab sekarang" ujar Davina.
Hati Adrian bergetar, ada rasa takut Davina menolak cintanya, Davina pun memperhatikan sikap Adrian yang gelisah.. Davina tersenyum melihat wajah Adrian yang tambah tampan saat galau, ia pun merasa gemas.
"Mas Adrian .. please jangan marah ya, maaf aku nggak bisa mas,.. "ujar Davina yang sebenarnya hanya sedikit bermain dengan sikap nervous Adrian.
Adrian pun terdiam, "Vin .. jadi .. jadi maksud kamu......" Adrian terlihat sedih dan tidak meneruskan kalimatnya.
Dalam hati Davina yang sebenarnya juga mencintai Adrian, tertawa kecil..
"iya mas, .. tadi kan aku bilang, 'maaf aku nggak bisa'.. kan masih ada terusannya atuh, 'nggak bisa menolak cintanya mas Adrian', tapi harus janji aku nggak mau sakit hati, gitu lho.." ujar Davina sambil tertawa kecil.
Wajah Adrian pun berubah, senyuman mulai terlihat di wajahnya..
"Terima kasih ya Vin, udah bisa menerima aku apa adanya, kamu ya tadi bikin aku sedih sebentar ya Allah.. ,ya sudah aku akan cepat melamar kamu, aku mohon ijin silahturahmi ketemu orang tua kamu" ujar Adrian dengan perasaannya yang lega dan bahagia cintanya di terima.
Sambil makan, Adrian sesekali menatap wajah Davina di hadapannya.. tidak menyangka sama sekali siang ini mereka sudah 'jadian' , hati Adrian berbunga-bunga rasanya.
Di parkiran kantor saat Adrian mengantar Davina, Adrian terus menatap Davina,
"Vin, malam nanti aku ke rumah ya, aku hanya ingin berkenalan dengan orang tuamu," ujar Adrian lembut.
Davina pun mengangguk.
Malam pun tiba, dan Adrian sudah memarkir mobilnya tepat depan pagar kediaman Davina lalu turun dengan membawa hand bucket mawar merah marun pekat yang dibelinya tadi di florist.
"Assalamualaikum,.. "sapa Adrian. "Waalaikumsalam.. "ujar Davina yang juga baru pulang beberapa menit lalu.
Adrian lalu memberikan hand bucketnya, "ini buat bidadari aku.." ujar Adrian tersenyum, Davina pun menerimanya.
"Makasih ya mas.. "ujar Davina, lalu mengajak Adrian duduk di ruang tamu. Adrian pun mengikuti dari belakang.
Davina kemudian memanggil kedua orang tuanya, dan mereka berkenalan, papa Davina bernama Firman dan mamanya bernama Elis..
"Nak Adrian, teman kantor Vina?" tanya pak Firman. "iya pak, betul.. saya datang kesini untuk silahturahmi dengan bapak dan ibu, "ujar Adrian dengan sopan.
Pak Firman dan bu Elis pun mengangguk, mengerti dengan maksud kedatangan Adrian.
Adrian berbincang hangat dengan kedua orang tua Davina, tentang masalah pekerjaan dan belum berani bercerita tentang ibu dan kakaknya. Setelah lama berbincang.. Adrian pun berpamitan, Davina pun mengantar Adrian sampai depan pintu pagarnya.
Adrian bahagia sekali bisa bersilahturahmi dengan keluarga Davina, "Sayang.. aku pulang ya" ujar Adrian. Davina mengangguk, ingin sekali mencium pipi Davina tapi mungkin Davina akan menolaknya.
****