NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menang

Suara dentuman logam yang dihantam kendaraan lapis baja mengguncang gerbang utama Schwarzwald Villa. Maximilian berdiri di balik pilar beton, debu dan serpihan batu menghujani mantelnya yang kini compang-camping. Luka di bahunya yang sempat dijahit Sophie kini terbuka kembali, darah segar merembes membasahi jaket taktisnya, namun Max seolah sudah kehilangan rasa sakit.

"Lucas! Menara otomatis macet! Mereka menggunakan jammer frekuensi tinggi!" teriak Max melalui radio yang mulai terdistorsi.

"Tuan Muda, mundur ke area courtyard! Posisi Anda sudah terekspos!" suara Lucas terdengar panik di sela suara tembakan.

Max mengabaikan perintah itu. Ia melihat dua tentara bayaran Richard berhasil melompati pagar dan mulai menembakkan peluncur granat ke arah pos penjaga.

BOOM!

Ledakan dahsyat melemparkan Max ke belakang. Tubuhnya menghantam dinding dengan keras, membuat pandangannya menggelap sejenak. Senjata laras panjangnya terlempar beberapa meter darinya. Saat ia mencoba bangkit dengan bertumpu pada tangannya yang gemetar, ia menyadari bahwa ia telah terkepung. Tiga moncong senapan otomatis kini mengarah tepat ke dadanya.

Pemimpin unit kedua—seorang pria dengan bekas luka bakar di wajahnya—melangkah maju, menginjak senjata Max yang tergeletak di tanah.

"Ayahmu mengirim salam, Maximilian," ucap pria itu dengan suara dingin tanpa emosi. "Dia bilang, seorang Hoffmann tidak seharusnya mati di tangan musuh, tapi di tangan keluarga sendiri."

Max menyeringai pahit, meski darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia melirik ke arah kamera pengawas yang masih berfungsi di sudut atas, tahu bahwa ayahnya mungkin sedang menonton ini dari tempat yang jauh dan aman.

"Katakan pada pria tua itu," Max berbisik, tangannya perlahan merayap menuju pisau taktis yang tersembunyi di balik pinggangnya, "bahwa aku bukan lagi seorang Hoffmann sejak dia mencoba membunuh wanita yang kucintai."

Tepat saat pemimpin itu hendak menarik pelatuk, sebuah kilatan cahaya dari lantai atas vila memecah kegelapan.

DOR!

Satu peluru presisi menghantam bahu sang pemimpin tim, membuatnya jatuh tersungkur. Max tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia berguling, meraih senjatanya kembali, dan menghabisi dua orang lainnya dalam satu gerakan kilat yang didorong oleh adrenalin murni.

Ia mendongak ke arah balkon vila, jantungnya berdegup kencang. Di sana, di balik bayang-bayang jendela yang pecah, ia melihat siluet seorang wanita yang memegang senapan laras panjang yang tadi ia ajarkan cara pakainya.

"Sophie..." desis Max antara percaya dan tidak.

"Kejar wanita itu! Dia putrinya Adler!" teriak pemimpin tim yang terluka, menunjuk ke arah balkon tempat tembakan tadi berasal. "Richard ingin dia hidup-hidup, tapi patahkan kakinya jika perlu!"

Mendengar perintah itu, darah Maximilian mendidih. Rasa sakit di bahunya dan lebam di sekujur tubuhnya seolah lenyap, digantikan oleh naluri protektif yang meledak-ledak. Ia melihat tiga orang tentara bayaran mulai berlari menuju pintu masuk samping vila—jalur tercepat untuk mencapai posisi Sophie.

"Jangan berani-berani menyentuhnya!" raung Max.

Max tidak lagi bersembunyi di balik pilar. Ia keluar dari zona perlindungan dengan keberanian yang hampir bersifat bunuh diri. Sambil berlari, ia melepaskan rentetan tembakan akurat yang memaksa para pengejar itu berpencar dan mencari perlindungan.

Namun, salah satu musuh yang berada di posisi lebih tinggi menembakkan peluru yang menyerempet paha Max, membuatnya terjatuh tersungkur di atas kerikil tajam.

"Tuan Muda!" suara Lucas terdengar dari interkom. "Saya sedang menuju posisi Nona Adler, tapi saya tertahan di lobi bawah oleh unit penyerbu!"

"Cepat, Lucas! Jangan biarkan mereka mendekatinya!" perintah Max sambil berusaha bangkit kembali meskipun kakinya terasa panas dan berat.

Di atas sana, Sophie menyadari bahwa posisinya telah ketahuan. Ia mencoba melepaskan tembakan lagi, namun senapan laras panjang itu mengalami macet—sebuah kesalahan teknis yang mematikan bagi pemula. Salah satu tentara bayaran sudah berhasil mencapai tangga darurat di bawah balkonnya.

Sophie tahu ia tidak akan menang dalam adu tembak. Senapannya yang macet adalah bukti nyata bahwa ia bukan seorang prajurit. Namun, Sophie adalah seorang analis; ia terbiasa melihat pola dan kelemahan dalam sebuah sistem, dan vila ini adalah sebuah mahakarya teknologi milik Max yang pernah ia pelajari sekilas dari dokumen audit.

Sambil merangkak di balik pagar balkon agar tidak terlihat, Sophie tidak lagi mencoba memperbaiki senjatanya. Sebaliknya, ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel yang terhubung dengan akses tamu sistem pintar vila.

Jika aku tidak bisa mengalahkan kalian dengan peluru, aku akan mengalahkan kalian dengan rumah ini.

Ia melihat pemimpin tim di bawah sana sedang mengarahkan moncong senjata ke arah Max. Sophie tahu ia hanya punya waktu hitungan detik. Jarinya menari di atas layar ponsel, meretas masuk ke protokol darurat sistem pemadam kebakaran dan pencahayaan yang ia ketahui memiliki sensor tekanan tinggi.

Sekarang! tekan Sophie pada layar.

Seketika, sistem pengamanan interior vila bereaksi. Lampu kristal raksasa di lobi mendadak mati total, menyisakan kegelapan pekat yang membutakan unit pengejar. Namun, itu hanya awal. Detik berikutnya, Sophie mengaktifkan sistem pemadam kebakaran jenis high-pressure mist di area lobi.

Kabut air yang sangat tebal dan bertekanan tinggi menyembur keluar dari plafon, menciptakan dinding air yang membuat pandangan siapa pun di bawah sana menjadi nol. Di tengah kekacauan itu, Sophie menekan perintah ketiga: "Overload Circuit—Foyer."

CRAAAK!

Suara loncatan listrik besar terdengar saat Sophie memaksa sirkuit lampu lantai di area lobi untuk meledak kecil secara beruntun. Ledakan cahaya dan percikan api itu berfungsi layaknya flashbang buatan, membutakan musuh yang sudah terorientasi dalam kegelapan dan air.

"Argh! Mataku!" teriak pemimpin tim tersebut saat percikan listrik menyambar di dekatnya.

Sophie tidak berhenti di situ. Ia tahu musuh akan mencoba bergerak dalam kegelapan, maka ia mengaktifkan perintah terakhir yang ia temukan di sistem keamanan dapur: Sistem Pembersih Mandiri—Lantai Marmer. Cairan pembersih industri yang sangat licin menyembur ke seluruh permukaan lantai lobi yang basah.

Para tentara bayaran yang mencoba merangsek maju kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Mereka tergelincir, jatuh menghantam lantai marmer dengan keras, dan senjata mereka terlepas dari genggaman karena lantai yang kini menjadi licin seperti es.

"Max! Sekarang!" teriak Sophie dari atas balkon, suaranya jernih dan penuh otoritas.

Max, yang sudah sangat mengenal medan vilanya, segera meraba dinding untuk menemukan kacamata infra merah yang tersimpan di panel rahasia pilar lobi. Dengan penglihatan infra merah, ia melihat musuh-musuhnya seperti bebek yang lumpuh di atas genangan air dan sabun.

Max bergerak dengan efisien, melumpuhkan satu per satu tentara bayaran yang sedang merangkak licin tanpa mereka bisa melihat siapa yang menyerang.

Sophie berdiri di balkon, napasnya tersengal, namun matanya berkilat cerdas. Ia baru saja membuktikan bahwa tanpa menyentuh satu peluru pun, ia bisa mengubah sebuah vila mewah menjadi jebakan maut bagi pasukan elit. Ia bukan sekadar putri Adler yang harus dilindungi; ia adalah otak di balik serangan balik ini.

...****************...

Di tengah kabut air dan kekacauan di lantai bawah, pemimpin tim yang memiliki bekas luka bakar di wajahnya ternyata jauh lebih tangguh dari yang diperkirakan. Meski matanya perih dan bahunya bersimbah darah, ia berhasil merangkak keluar dari area lantai yang licin. Dengan sisa-sisa tenaga dan dendam yang membara, ia melihat siluet Sophie di balkon melalui celah cahaya sirkuit yang masih memercik.

Ia tidak lagi mengincar Max. Ia tahu, satu-satunya cara untuk keluar hidup-hidup dari sana adalah dengan membawa "aset" Richard—atau setidaknya memastikan Max menderita kehilangan yang sama.

Dengan gerakan yang senyap dan terlatih, ia memanjat pilar samping yang tidak terkena cairan pembersih. Sophie, yang masih sibuk memantau layar ponselnya untuk mengunci pintu-pintu darurat, tidak menyadari ancaman yang datang dari arah bawah balkon.

"Kau pikir kau pintar, hah?!" sebuah suara parau dan penuh kebencian meledak tepat di belakang Sophie.

Sophie tersentak, namun terlambat. Tangan kasar pria itu mencengkeram pergelangan kaki Sophie dan menariknya dengan sentakan kuat. Sophie terpekik, ponselnya terlempar ke lantai lobi saat tubuhnya terseret melewati pagar balkon yang rendah.

"Sophie!" raung Max dari lantai bawah. Jantungnya seolah berhenti berdetak melihat separuh tubuh Sophie sudah menggantung di udara, tertahan hanya oleh tangan pria itu yang mencengkeram kerah mantelnya dan tangan Sophie yang memegang erat besi pagar.

"Jika aku harus mati, setidaknya aku akan membawa alasan pria itu berkhianat!" teriak sang pemimpin tim, bersiap untuk menjatuhkan Sophie ke lantai marmer yang keras dari ketinggian lima meter.

Ia baru saja akan berlari naik, namun langkahnya terhenti seketika saat pemimpin tim itu menodongkan moncong pistolnya tepat ke pelipis Sophie yang sedang tergantung lemas di pagar balkon.

"Satu langkah lagi, Hoffmann, dan otak wanita ini akan berhamburan di atas marmer mewahmu!" ancam pria itu dengan napas tersengal, darah mengucur dari bahunya, membuat cengkeramannya pada kerah mantel Sophie menjadi licin dan semakin tidak stabil.

Max membeku. Kakinya yang sudah siap melompat kini terpaku di lantai. Senjata di tangannya bergetar—sesuatu yang tidak pernah terjadi pada seorang Maximilian Hoffmann. Ia bisa melihat separuh tubuh Sophie sudah melayang di udara, hanya tertahan oleh tangan kasar pria itu yang gemetar karena menahan beban dan rasa sakit.

"Jangan... jangan tarik pelatuknya," bisik Max, suaranya rendah dan penuh permohonan yang menyakitkan. "Kau ingin aku? Ambillah aku. Lepaskan dia, dan kau bisa melakukan apa saja padaku."

Pria itu tertawa getir, sebuah suara parau yang mengerikan. "Richard tidak hanya ingin kau mati, Max. Dia ingin kau hancur. Dan melihat wanita ini jatuh... itu akan menjadi pemandangan yang indah untuk dilaporkan padanya."

Sophie menatap Max dari ketinggian itu. Matanya yang jernih tampak tenang di tengah maut yang mengintai. Ia bisa merasakan jari-jari pria itu mulai kehilangan cengkeramannya pada kain mantelnya. Satu gerakan salah, atau satu peluru saja, maka gravitasi akan menyelesaikan sisanya.

"Max, jangan dengarkan dia!" teriak Sophie, meski suaranya tercekik oleh kerah mantel yang mencekik lehernya. "Dia tidak akan membiarkan kita hidup!"

"Diam, kau!" bentak pria itu, menekan pistolnya lebih keras ke dahi Sophie hingga wanita itu meringis. Ia kemudian menatap Max dengan tatapan gila. "Letakkan senjatamu, Hoffmann! Sekarang! Atau dia jatuh dalam hitungan tiga!"

Max perlahan menurunkan senjatanya. "Baik! Baik, kulepaskan!"

"Satu..." pria itu mulai menghitung, sengaja mengendurkan cengkeraman tangannya pada mantel Sophie. Tubuh Sophie merosot beberapa senti, membuatnya terpekik kecil.

"Dua..."

Max melepaskan senjatanya ke lantai, menimbulkan bunyi logam yang bergema di lobi yang sunyi. Ia mengangkat kedua tangannya, matanya tidak lepas dari Sophie. Dunianya seolah mengerucut hanya pada titik di mana tangan pria itu memegang Sophie. Ia merasa sangat tidak berdaya; kekayaan, kekuasaan, dan keahlian tempurnya tidak berarti apa-apa saat ini.

"Tiga!"

Seringai gila di wajah pria itu melebar saat jemarinya mulai terbuka, melepaskan kain mantel Sophie sepenuhnya. Di detik yang sama, ia menarik pelatuk pistolnya yang diarahkan ke dahi Sophie. Namun, sebelum suara ledakan itu memecah udara, sebuah dentuman lebih keras terdengar dari arah belakang.

DOR!

Sebuah peluru melesat dengan presisi yang mengejutkan, menembus tepat di tengah kepala sang pemimpin tim. Darah memercik ke pilar beton saat pria itu tersentak ke belakang, nyawanya terenggut seketika.

Di ambang pintu, berdiri Hans Adler. Pria tua yang seharusnya terbaring lemah itu kini berdiri tegak dengan tangan gemetar yang memegang sebuah pistol tua—pistol koleksi Max yang disimpan di laci samping tempat tidur. Napas Hans memburu, matanya yang cekung memancarkan kemarahan seorang ayah yang tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh putrinya lagi.

Cengkeraman pria mati itu otomatis mengendur. Sophie, yang sudah tidak memiliki tumpuan, terjun bebas ke arah lantai lobi.

"SOPHIE!" raung Max, jantungnya serasa copot.

Namun, refleks bertahan hidup Sophie bekerja dalam hitungan milidetik. Saat tubuhnya meluncur jatuh, tangannya yang mungil berhasil menyambar jeruji besi pagar balkon yang menonjol di bagian luar. Tubuhnya tersentak keras, menimbulkan bunyi tulang yang berderit menyakitkan saat ia menggantung di udara, tepat di bawah pinggiran balkon.

Pria pemimpin tim itu jatuh melewati tubuh Sophie, menghantam lantai marmer di bawah dengan bunyi gedebuk yang memuakkan, tepat di depan kaki Max.

"Sophie! Pegang erat-erat!" teriak Hans. Pria tua itu menjatuhkan senjatanya dan merangkak menuju tepi balkon. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mencoba meraih tangan putrinya. "Berikan tanganmu pada Ayah, Nak!"

Hans berhasil meraih pergelangan tangan Sophie, namun tubuhnya yang masih dalam pemulihan terlalu lemah untuk menarik beban tubuh Sophie sendirian. Wajahnya memucat, urat-urat di lehernya menonjol karena menahan beban yang hampir melampaui batas kemampuannya.

"Ayah... lepaskan... Ayah tidak akan kuat!" isak Sophie, matanya menatap cemas pada luka di dada ayahnya yang mulai mengeluarkan noda merah.

"Tidak akan... Ayah tidak akan pernah melepaskanmu lagi!" raung Hans dengan gigi terkatup.

Di bawah sana, Max tidak membuang waktu sedetik pun. Tanpa memperdulikan paha dan bahunya yang bersimbah darah, ia berlari menaiki tangga spiral dengan kecepatan yang luar biasa. Adrenalin menghapus semua rasa sakit di tubuhnya. Ia melompati dua anak tangga sekaligus, hatinya berteriak meminta waktu agar tidak terlambat.

Max mencapai balkon dalam hitungan detik. Ia melihat Hans yang sudah hampir kehilangan pegangannya. Tanpa suara, Max langsung berlutut di samping Hans, menjulurkan tangan besarnya yang kokoh, dan mencengkeram lengan Sophie dengan satu tarikan yang mantap.

"Pegang tanganku, Sophie! Aku memegangmu!" suara Max menggelegar, penuh dengan determinasi yang tak tergoyahkan.

Dengan satu sentakan kuat yang dibantu oleh Hans, Max menarik tubuh Sophie melewati pagar balkon. Sophie jatuh ke dalam pelukan Max, keduanya tersungkur di atas lantai balkon yang dingin. Hans ikut terjatuh di samping mereka, terengah-engah dengan napas yang tersengal, namun matanya menatap putrinya dengan kelegaan yang tak terkira.

“Syukurlah… syukurlah…” Max mendekap Sophie begitu erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Ia bisa merasakan tubuh Sophie yang gemetar hebat dan detak jantung wanita itu yang berpacu liar.

"Terima kasih, Pak Adler," bisik Max serak ke arah Hans, sambil terus memeluk Sophie seolah tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi. "Terima kasih telah menyelamatkannya."

Hans masih terengah-engah, namun ia mengangguk pelan sebagai jawaban atas ucapan terima kasih Max. Matanya yang sayu menatap pemandangan di depannya—seorang pria dari darah Hoffmann, yang seharusnya menjadi musuh bebuyutannya, kini justru mendekap putrinya dengan ketulusan yang begitu nyata. Hans tersenyum tipis, sebuah senyum pengakuan bahwa pria di depannya ini benar-benar telah menyerahkan segalanya untuk Sophie.

Keheningan emosional itu mendadak terputus oleh suara langkah kaki yang terburu-buru. Lucas muncul dari arah ruang kendali, wajahnya yang penuh jelaga tampak berkilat oleh cahaya tablet di tangannya.

"Tuan Muda!" seru Lucas, suaranya mengandung nada kemenangan yang jarang terdengar. "Kami berhasil!"

Max melepaskan pelukannya pada Sophie dengan perlahan, meski tangannya masih tetap menggenggam jemari wanita itu dengan protektif. "Laporannya, Lucas."

"Unit siber kita baru saja menembus firewall utama markas pusat Richard di Frankfurt. Kami berhasil masuk ke server tersembunyi yang menyimpan log transaksi asli sepuluh tahun lalu—semua bukti manipulasi dana, perintah sabotase, hingga rekaman percakapan yang bisa menyeretnya ke penjara seumur hidup," Lucas menunjukkan grafik data yang sedang terunduh di layarnya. "Dia tidak lagi bisa bersembunyi di balik nama besar Hoffmann."

Mata Max berkilat dingin. Rasa takut yang tadi ia rasakan berubah menjadi amarah yang terkendali. "Richard sudah mengerahkan segalanya untuk membunuh kita di sini. Dia sedang dalam kondisi paling lemah di markasnya karena yakin unit penyerangnya akan menyelesaikannya."

"Dan bukan itu saja, Tuan Muda," tambah Lucas. "Sinyal helikopter tempur yang tadi kita dengar? Itu bukan bantuan untuk tim Richard. Saya telah mengirimkan bukti-bukti awal itu kepada Unit Kejahatan Khusus Federal secara anonim sepuluh menit yang lalu. Helikopter itu adalah milik otoritas hukum yang sedang menuju ke sini untuk mengamankan lokasi, sekaligus ke markas besar untuk menjemput Richard."

Max berdiri, membantu Sophie dan Hans untuk bangkit. Ia menatap ke arah luar jendela, di mana lampu sorot dari udara mulai membelah kabut hutan.

"Inilah saatnya serangan balik terakhir," gumam Max. Ia menoleh ke arah Sophie, tatapannya kini penuh dengan determinasi. "Sophie, kumpulkan semua dokumen fisik yang kau temukan di ruang kerjaku tadi. Kita akan menyerahkannya langsung. Richard pikir dia bisa membakar sejarah, tapi dia lupa bahwa aku adalah pewarisnya yang tahu di mana dia menyimpan korek apinya."

Sophie mengangguk mantap, tidak ada lagi keraguan di wajahnya.

Max meraih radio taktisnya untuk terakhir kali. "Lucas, siapkan jalur evakuasi medis untuk Pak Adler. Pastikan tim federal mendarat di titik aman. Kita berangkat ke Frankfurt sekarang. Aku ingin melihat wajah ayahku saat imperium kebohongannya runtuh tepat di depan matanya."

Di tengah reruntuhan vila yang hancur, mereka tidak lagi tampak seperti korban yang terkepung. Mereka adalah tim pemenang yang siap membawa badai kebenaran menuju jantung kejahatan Richard Hoffmann.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!