Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Didih
Hari-hari berikutnya terasa seperti simulasi kehidupan yang dingin bagi Elang. Rumah yang beberapa bulan terakhir mulai terasa hangat, sekarang kembali ke setelan pabrik, sunyi, kaku dan penuh tata Krama yang menyesakkan.
Nura benar-benar memegang ucapannya. Ia menjadi terapis paling kompeten sekaligus paling menjauh yang pernah ditemui Elang.
Setiap pagi Nura selalu bangun lebih awal, memeriksa sarapan sudah tersedia untuk Kanara. Ia akan berdiri di samping menemani Kanara makan, lalu segera menghilang ke taman belakang. “Ayo, Kanara kita main,” ucapnya segera setelah Kanara selesai sarapan.
Jika mereka berpapasan di koridor, Nura akan menepi, menunduk sedikit, dan mengucapkan “Permisi, Pak” dengan nada formal hingga membuat telinga Elang panas.
Tidak ada lagi obrolan tentang perkembangan Kanara sambil duduk bersantai di sofa. Bahkan, saat Elang pulang larut malam dengan bahu yang lunglai, ia hanya menemukan secarik kertas laporan harian Kanara di atas meja kerja, tanpa kehadiran Nura yang biasanya menunggunya dengan tatapan khawatir.
Minggu ketiga sejak peristiwa kedatangan ibunya, Elang tidak bisa menahan diri lagi. Ketika turun dari kamarnya, ia mendapati Nura sedang membacakan buku cerita untuk Kanara di ruang tengah. Begitu melihat Elang, Nura langsung berdiri, menutup bukunya, dan bersiap pergi.
“Kanara, Kak Nura mau siapin ma–”
“Duduk, Nura,” potong Elang. Suaranya rendah, penuh penekanan yang tidak bisa dibantah.
Nura tertegun, tangannya meremas buku cerita itu. “Maaf, Pak, tapi sekarang ini saya harus siapkan sesi te–”
“Aku bilang duduk,” ulang Elang, kali ini melangkah mendekat. “Sampai kapan kamu melakukan ini? Sampai kapan kamu mau berpura-pura kalau kita ini cuma majikan dan pekerja?”
Nura tetap berdiri, meski tatapannya mulai bergetar. “Memang itu kenyataannya, Pak. Tidak ada hubungan lain antara kita. Ibu Bapak benar, saya seharusnya dari awal tetap menjaga batasan profesional saya. Maaf jika saya sempat terbawa suasana, hingga melupakan posisi saya…”
“Stop Nura!” suara Elang menegas.
Bu Yati yang tidak sengaja berada di dekat ruang tengah, mendekat lalu membawa Kanara ke dapur.
“Kamu tahu betul kalau aku tidak pernah menganggapmu sebagai seseorang yang aku sewa, kamu lebih dari itu. Bagi Kanara, bagiku. Bagian mana yang kurang jelas saat aku bilang kalau aku membutuhkanmu untuk diriku sendiri,” jelas Elang sedikit berapi-api.
Nura menunduk, perkataan Elang menusuk hatinya. Air mata yang sedari tadi ditahannya mulai menggenang.
Elang mengambil tangan Nura, menggenggamnya erat. Ia sungguh merindukan tangan itu. “Kamu tahu beberapa minggu ini kamu membuat aku seperti sedang di neraka,” ucap Elang frustasi. Ia mengacak rambutnya kasar.
Nura hendak menarik tangannya, tapi ditahan Elang. “Aku berjuang di kantor menghadapi tikus-tikus itu, menghadapi ayahku yang menodongkan pistol ke kepalaku, dan aku pulang ke sini berharap mendapatkan sedikit oksigen. Tapi kamu… kamu justru menutup semuanya.”
Nura terdiam, masih menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Aku bilang aku membutuhkanmu, bukan karena pelampiasan. Perasaanku padamu nyata, Ra.”
Nura masih membisu. Tangannya yang ada dalam genggaman Elang terasa sedingin es. Ia ingin sekali bersandar di dada pria itu dan menumpahkan segala sesak yang menghimpitnya. Namun, bayangan trauma masa lalu dan suara-suara yang memintanya ‘tahu diri’ masih jauh lebih lantang di kepalanya.
“Pak… tolong lepaskan,” bisik Nura, suaranya hampir hilang. “Bukan seperti ini, perasaan Bapak… itu terlalu berat untuk saya tanggung.”
Elang menatapnya tidak percaya. “Berat? Ra, aku tidak sedang memberimu beban, aku menawarkan cin–”
Drtt… drtt.. drtt...
Getar ponsel di saku Elang memutus kalimatnya. Ia menghela napas kasar, lalu melepaskan tangan Nura dengan enggan untuk melihat layar. Nama Rian terpampang di sana. Elang bergeser sedikit, memberi jarak meski matanya tetap tertuju pada Nura.
“Iya Rian? … Oke aku segera ke sana.”
Elang mematikan sambungan dengan gerakan cepat. Ia kembali melangkah mendekat, seolah tidak rela membiarkan jarak tercipta lagi di antara mereka. Ia kembali menggenggam tangan Nura, kali ini lebih lembut dan penuh penekanan.
“Aku harus ke kantor sekarang. Ada perkembangan baru yang harus kupastikan sendiri,” ucap Elang, suaranya merendah. “Tapi urusan kita belum selesai, Ra. Aku akan pulang sore nanti, dan kita akan bicara sebagai dua orang dewasa. Bukan sebagai majikan dan terapis, tapi sebagai Elang dan Nura.”
Nura hanya terdiam, merasakan kehangatan tangan Elang yang kontras dengan telapak tangannya sendiri.
Elang melangkah menuju pintu utama. “Jangan menghilang saat aku pulang nanti,” ucapnya sebelum menghilang di balik tembok.
Elang mulai melangkah mundur menuju pintu utama, namun matanya seolah enggan beralih dari sosok Nura. “Jangan menghilang saat aku pulang nanti,” pesannya dengan nada yang terdengar seperti perintah sekaligus permohonan. “Tunggu aku.”
Setelah itu, Elang berbalik dan menghilang di balik tembok, meninggalkan Nura yang berdiri terpaku di tengah ruangan yang mendadak terasa jauh lebih sepi.
**********
Elang menerobos masuk ke dalam ruangannya, dengan langkah lebar yang mengintimidasi. “Jadi, ada apa dengan Pak Hendra?” tanyanya langsung sembari menghempaskan tubuh di kursi kebesarannya.
Rian yang sudah menunggu di dalam sontak berdiri tegak. Wajahnya pucat. “Itu… anu, Pak,” kalimatnya tercekat di tenggorokan.
Elang mendongkak tajam, firasat buruk langsung dirasakannya membuat jantungnya berdegup tidak karuan. “Katakan dengan jelas, Rian. Ada apa dengan pak Hendra?”
“Pak Hendra… melakukan percobaan bunuh diri di kamar tahanan, Pak. Dia menyobek sprei dan…” Rian tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. “Dia dilarikan ke IGD pagi buta tadi, tapi… tim medis tidak bisa menyelamatkannya. Pak Hendra dinyatakan meninggal dunia jam enam pagi.”
Dunia seolah berhenti berputar bagi Elang. Tubuhnya mendadak mati rasa. Bayangan saat ia menandatangani surat penyerahan bukti yang menjebloskan pria tua itu ke penjara, berputar di kepalanya. Pria yang selama ini ia hormati layaknya keluarga sendiri, kini harus meregang nyawa karena keputusannya.
“Ini tidak mungkin,” bisik Elang parau. “Dia bukan orang yang akan menyerah secepat itu.”
Ingatannya melayang pada kunjungan rahasianya ke rumah tahanan beberapa hari lalu. Saat itu, Pak Hendra duduk dengan bahu yang merosot dalam, matanya merah dan basah oleh sisa air mata.
“Nak Elang… demi Tuhan, bukan saya. Saya tidak mungkin mengkhianati amanah Pak Wiratama dan Anda,” suara pria tua itu masih terngiang, bergetar penuh kepedihan.
Pak Hendra bersumpah tidak tahu menahu tentang mutasi rekening dan vendor fiktif itu. Soal sertifikat rumah? Seseorang mengirimkannya secara misterius bulan lalu. “Saya benar-benar tidak tahu siapa…”
“Petugas menemukan ini di bawah bantal selnya, Pak,” suara Rian membuyarkan lamunan Elang. “Sebuah surat wasiat yang ditujukan untuk Bapak.”
Dengan tangan gemetar, Elang menerima amplop putih yang sudah lecek dan ternoda cokelat kering, mungkin darah mungkin air mata. Tulisan tangan di dalamnya miring dan tidak stabil, mencerminkan keputusasaan dari penulisnya.
Nak Elang,
Maafkan saya. Saya pengecut. Saya tidak sanggup menanggung malu di usia senja ini. Tapi demi Tuhan, bukan saya pelakunya. Maafkan saya karena tidak sepenuhnya jujur saat Nak Elang datang berkunjung.
Ada seseorang yang mengancam saya. Mereka bilang akan menghabisi nyawa cucu saya yang masih TK jika saya tidak menandatangani dokumen-dokumen fiktif itu. Saya terjepit. Saya harus memilih antara nama baik atau nyawa cucu saya.
Satu hal yang harus Nak Elang tahu, iblis itu sangat dekat. Dan dia belum akan berhenti sebelum menghancurkanmu dan keluargamu. Jangan percayai siapa pun di kantor ini. Bahkan pada bayanganmu sendiri.
Maafkan saya karena harus pergi dengan cara ini.
Hendra Atmadja
Elang meremas surat itu hingga hancur dalam kepalan tangannya. Matanya memerah, menyala oleh amarah yang membakar. Pak Hendra tidak bunuh diri karena merasa bersalah. Pria itu ‘dibunuh’ oleh ancaman biadab. Dan, Elang merasa telah menjadi kaki tangan pelaku dengan menjebloskan Pak Hendra ke penjara.
“Rian!” geram Elang, suaranya rendah dan berbahaya. “Audit ulang semuanya dari nol. Blokir semua rekening perusahaan dan pegawai yang punya akses finansial. Kita harus lebih teliti. Jangan ada satu lubang pun yang terlewat.”
kasian kl tiba2 histeris
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍