Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Bukan Obat Perangsang Murahan
Seorang pria paruh baya sudah berdiri di ruang tamu ketika Anita Lewis turun dari tangga. Begitu melihatnya, pria itu segera maju mengambil barang bawaannya dan menundukkan kepalanya dengan sopan.
“Selamat malam, Nona Lewis.”
Pria itu adalah Philip Lee seorang kepala pelayan keluarga Leach , yang secara khusus dikirim untuk menjemput Anita Lewis, sebuah tanda penghormatan besar dari pihak keluarga Leach.
Adik tirinya Anita (Selene Lewis) melangkah maju, menatap Anita dengan panik. “Anita… maaf, aku nggak bermaksud seperti tadi.”
Anita berhenti di depannya, memandangnya dingin, terkesan merendahkan.
“Maaf karena gagal bantu aku kabur, atau karena kamu berhasil mendorong aku ke sungai?”
Memang, Selene lah yang awalnya membantu Anita melarikan diri. Namun tak lama setelah Anita berhasil kabur, Dion muncul dan mengejarnya.
Di tepi sungai, Anita bahkan sempat mengancam akan bunuh diri agar tidak dipaksa menikah. Selene datang membujuk , namun pada akhirnya justru mendorong Anita jatuh ke sungai.
Kabar pun langsung menyebar seantero jagat, bahwa Anita Lewis lebih memilih mati daripada menikah dengan Dion Leach.
Gerry dan Philip memperhatikan situasi itu dengan serius.
Selene langsung menunduk ketakutan. “Maaf… kamu nggak mau kabur ataupun lompat ke sungai. Semua itu salahku, Anita… aku minta maaf.”
Gerry Lewis, ayahnya mencoba menengahi. “Anita, jangan biarkan adikmu disalahkan semuanya.”
Anita hanya mendesah pelan. “Heh... bawa aku keluar.”
Selene menurut tanpa berani menolak.
Udara malam musim gugur terasa sejuk ketika mereka keluar rumah hingga ke halaman tempat air mancur berada.
Tanpa peringatan apa pun Anita meraih lengan Selene dan langsung mendorongnya ke kolam.
BYUR!
Selene tercebur, ia panik berusaha untuk bangkit, “Ah.... Anita.... apa yang kau lakukan?”
Namun Anita menendangnya kembali masuk ke air.
“Perempuan yang lahir di luar nikah bukanlah adikku.”
Semuanya terjadi begitu cepat. Gerry sempat terkejut sebelum bergegas menarik Anita ke belakang.
“Kenapa kamu mendorong Selene!?”
Selene gemetar di dalam kolam, memeluk dirinya. “Ayah… jangan marahi Anita. Tadi semua salahku. Asal dia nggak marah ke aku lagi… aku nggak apa-apa.”
Gerry terlihat sangat kacau, namun Anita sudah berjalan pergi begitu saja menuju ke mobil keluarga Leach tanpa menoleh sedikit pun.
Philip menatap Gerry Lewis. “Tuan Lewis, keluarga Leach akan menjaga putri Anda dengan baik. Jangan khawatir!”
Namun Gerry sama sekali tak menjawab , pikirannya sepenuhnya tertuju hanya pada Selene yang basah kuyup dan menggigil.
---
Dalam perjalanan, Philip beberapa kali melirik ke spion. Anita duduk diam, tenang, nyaris tanpa emosi, ia tidak terlihat seperti perempuan yang dikabarkan liar dan membahayakan.
Rumah keluarga Leach sudah terang benderang saat mereka tiba.
Tuan Leach yang tua (kakek Leach )sedang duduk di ruang tamu ketika Anita masuk. Philip memperkenalkan.
“Tuan, ini Nona Lewis.”
Tuan Leach menatapnya, ia sempat terkejut. Foto-foto yang pernah ia lihat menggambarkan Anita sebagai gadis urakan berambut merah dan bibir mencolok. Tetapi gadis yang berdiri di depannya kini tampak tegas, karismatik, bahkan sedikit angkuh dan entah bagaimana mirip cucunya sendiri.
Anita menunduk hormat. “Selamat malam, Tuan Leach.”
Tuan Leach menunjukkan persetujuan yang jelas. “Aku tidak peduli masa lalu kamu. Selama kamu tahu tata krama dan menjalankan kewajibanmu sebagai Istri Dion. Dan menjadi wanita bagian dari keluarga ini mulai sekarang, kami tidak akan memperlakukanmu dengan buruk.”
Tuan Leach mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat agar Anita duduk.
“Besok pagi akan ku pertemukan kau dengan Dion Leach,” ucapnya tenang namun penuh kuasa. “Dia tidak mudah didekati. Tapi kalau kau pintar membaca situasi, posisimu di keluarga ini akan aman.”
Anita hanya mengangguk tipis sama sekali tidak menunjukkan rasa takut ataupun gugup.
Philip lalu mempersilahkan Anita naik ke kamar yang sudah dipersiapkan. Lorong mansion keluarga Leach panjang dan sunyi, penuh lukisan tua dan lampu gantung antik yang menciptakan suasana dingin namun megah.
Di tengah perjalanan, Philip sempat berkata pelan tanpa menoleh, seolah hanya sekadar memberi tahu tentang keluarga Leach.
“Sebagian orang di rumah ini… tidak menyambutmu.”
Anita tidak bereaksi. Tatapannya tetap datar.
“Aku sudah terbiasa di abaikan.”
Philip menatapnya sekilas melalui sudut matanya, seakan menilai ulang sosok yang ada di belakangnya itu.
Gadis ini… sama sekali bukan seperti rumor kota yang menggambarkannya sebagai pembuat onar.
Sesampainya di kamar, Philip membuka pintu dan sedikit membungkuk.
“Jika kau membutuhkan sesuatu, tekan bel di samping meja, kami akan segera datang. Istirahatlah.”
Anita masuk tanpa bicara. Pintu pun akhirnya ditutup.
Sunyi terasa.
Ia memandang sekeliling kamar yang luas itu , interior mewah, ranjang bak ratu, balkon yang menghadap taman pribadi. Semuanya terlihat begitu indah… dan terasa seperti penjara versi mewah.
Anita mendekat ke cermin. Wajahnya memantul di balik lampu hangat kamarnya saat ini.
Perlahan, bibirnya melengkung setipis bayangan.
“Permainan baru sudah dimulai,” bisiknya sangat pelan, hanya ia seorang yang mampu mendengarnya.
---
Hari Pertemuan Pertama
Anita mengangguk pelan. “Aku mau makan....”
Tuan Leach sempat mengira gadis itu akan membuat keributan, namun karena Anita begitu tenang, ia justru tampak lebih lega. “Kalau begitu, ayo makan malam.”
Anita tertegun ketika melihat pria tua itu berdiri seolah menunggunya secara khusus.
Saat mereka duduk di meja, Anita makin yakin hal itu benar… karena dua hidangan pedas kesukaannya sudah tersaji rapi.
Seketika dadanya terasa hangat.
Sudah sangat lama tidak ada yang menunggunya makan seperti ini.
Usai makan malam yang sunyi namun tidak canggung, Tuan Leach tua langsung membawanya menuju ruangan Dion Leach.
Dalam perjalanan, suara berat pria tua itu terdengar pelan namun jelas, “Kau sudah tahu soal Dion, kan? Kau adalah wanita pilihan yang terakhir. Dan aku takkan membiarkan dia menyakitimu. Aku berharap kau mampu mengatasi Dion....”
Anita hanya menjawab ringan.
Seluruh warga Kota F mengenal nama Dion Leach. Ia dipandang sebagai pria brutal, tidak waras, dan diperkirakan tidak akan hidup melewati usia 28 tahun.
Banyak wanita pernah dipaksa keluarga Leach untuk dijodohkan dengannya. Namun hampir semuanya berakhir dengan kecelakaan, ada yang ditabrak saat kabur, ada yang koma di rumah sakit.
Sejak saa itu, nama Dion terdengar seperti ancaman kematian.
Tapi keluarga Leach mendekati Anita karena hanya dialah satu-satunya perempuan di kota ini yang horoskopnya cocok dengan Dion.
Dan Andrew Morris, tanpa hati mendorong Anita ke pelukan keluarga ini demi keuntungan pribadinya.
Tuan Leach tua membuka pintu dan mendorong Anita masuk.
Di balik cahaya remang, Anita melihat sosok pria tinggi tegap berdiri membelakanginya.
Hanya dari siluetnya saja, ia tahu Dion bukan sosok yang bisa diremehkan.
“Dion,” suara tegas sang kakek menggema. “Ini Anita Lewis. Mulai malam ini, dia telah resmi menjadi istrimu. Dan dia adalah wanita pilihan yang terakhir. Perlakuan dia dengan baik.”
Dion tak bergerak, tak menoleh. Ia pun tak menjawab sepatah kata pun.
Pria tua itu menarik napas panjang, lalu menatap Anita. “Habiskan waktumu dengannya.”
Ia lalu keluar… dan memadamkan lampu.
Hanya sisa cahaya bulan yang menyusup dari jendela besar.
Begitu pintu tertutup.......
WSSHH!
Sosok Dion bergerak secepat bayangan. Hantaman keras menyasar tepat ke arah kepala Anita.
Refleks, Anita memiringkan tubuh, mengepalkan tangan, dan membalas!
Bugh!
Di bawah cahaya temaram, suara pukulan dan benturan bergema. Mereka bertukar serangan tanpa satu pun ragu.
Namun Anita jelas tidak sekuat pria. Terlebih lagi, tubuh barunya belum terbiasa, ia kalah tenaga dan sedikit terdesak.Tapi ia lincah, sangat lincah menangkis serangan Dion.
Sreeeetttt!
Dengan kecepatan tak terduga, Anita menyambar dasi Dion, menariknya ke belakang, menggulungnya, dan mengikatnya di leher pria itu.
BRUUKKK!
Dalam satu momentum singkat, Anita menekannya ke lantai, tepat di depan jendela besar, menindihnya dari belakang. Nafasnya hangat di dekat telinganya.
“Tuan Leach,” bisiknya pelan, “hanya aku yang bisa menetralkan racunmu.”
Itu bukan gertakan, itu sebuah ultimatum.
Dion masih tak gentar. Ia bahkan tidak meronta. Suaranya dingin dan rendah.
“Netralisir racun?”
Apa kakeknya sengaja meracuni tubuhnya agar ia dipaksa memiliki keturunan?
Ia lalu mencibir.
Sekejap kemudian ia membalikkan keadaan.
Dalam gerakan brutal dan presisi tinggi, ia mencengkeram pergelangan Anita, memutar tubuhnya, dan menjepitnya ke dinding.
BRUUKKK
Lengan kokohnya melingkar di leher Anita.
Tubuh mereka nyaris bersentuhan. Mata Dion berkilat dingin.
“Aku tidak keberatan melakukannya dengan mayat.”
Maksudnya tegas. Bila ia memang membutuhkan tubuh wanita itu... ia bisa membunuhnya dulu, baru menggunakannya.
Bangsat , ia tidak berperasaan.
Anita terengah, tapi bibirnya terangkat , justru ia malah tersenyum.
“Tuan Leach…” suaranya lembut namun menegangkan, “mari kita lihat… siapa yang bergerak lebih cepat?”
Dion merasakan sisi ujung terasa dingin seperti sesuatu yang tajam menempel di belakang lehernya.
Dia terdiam sesaat.
“Wanita ini liar, nekat. Dia bukan perempuan biasa.” bathin Dion berkata.
Anita memiringkan wajahnya, bibir merahnya nyaris menyentuh bibir Dion.
“Tuan Leach… bagaimana kalau kau coba antidot dulu?”
Bibir Anita bergerak pelan saat berbicara. Sentuhannya hampir tak terasa ,seperti bulu halus yang menyapu bibir Dion.
Sensasi selembut itu merambat turun, mengguncang detak jantungnya.
Fokus Dion mulai goyah.
Saat itulah .... BRUK!
Lutut Anita menghantam tepat ke selangkangannya.
“Aarrgh!”
Tubuh Dion refleks menekuk, wajahnya pucat. Cengkeramannya di leher Anita langsung melonggar. Ia jatuh bersandar, menahan rasa sakit yang melumpuhkan.
“Anita!” raungnya sambil menggertakkan gigi.
Selama hidupnya, dia belum pernah dipermalukan oleh siapa pun, apalagi dua kali oleh perempuan yang baru ditemuinya.
Anita sudah duduk tenang di sofa. Di tangannya, sebatang garpu ia putar santai , senjata darurat yang tadi sengaja ia bawa dari meja makan.
Tatapannya dingin dan berjarak. “Hanya aku yang bisa menetralkan racun di tubuhmu. Kau yakin tetap mau membunuhku?”
Dion menatapnya tajam. “Apa begitu caramu mendetoksifikasi ku?”
Anita melirik santai ke arah tangannya yang masih menutupi selangkangan.
Pesannya jelas, sakitnya nyata.
“Berpikirlah jernih sedikit,” ujarnya datar. “Racun yang aku maksud bukan obat perangsang murahan, tapi neurotoksin di tubuhmu.”
Bukan afrodisiak. Ia meyakinkan.
Dion memaksa berdiri tegak. Meskipun masih kesakitan, sorot matanya tetap dingin dan menakutkan.
Anita tak bergeming. Ia mendongak, menatap balik tajam. “Maniac, insomnia, dan mimpi burukmu… semua akibat neurotoksin itu.”
Ia berhenti sebentar sebelum berkata lembut namun mematikan.
“Kalau tidak cepat ditangani… kau akan mati dalam waktu kurang dari satu tahun.”
Dion melangkah mendekat. Tubuh tingginya berdiri tepat di hadapan Anita, menjulang seperti dinding tak tergoyahkan.
Tatapannya menusuk. “Kau bukan Anita Lewis.”
Ia tahu gadis ini berbeda dari yang ia dengar sebelumnya.
Sejak usia dua belas tahun, ia menjadi legenda yang ditakuti di seluruh Kota F.
Semua mengira ia hanyalah iblis berhati dingin dengan usia yang tak akan menyentuh tiga puluh.
Tak ada yang tahu bahwa tiap malam ia dihantui mimpi-mimpi yang mengoyak.
Obat adalah satu-satunya pelarian.
Dan semakin banyak obat ia konsumsi… semakin parah kondisi tubuhnya.
Ia bahkan tidak tidur tiga hari berturut-turut kali ini.
Dan anehnya , gadis ini bisa langsung menebaknya.
Anita menatapnya lurus. “Nama asliku tidak penting.... penting atau tidak… yang relevan adalah aku bisa menyelamatkanmu.”
Dion terdiam. Hanya menatap dalam tapi tajam.
Anita tak mengalihkan pandang sedikit pun. Kedua matanya bersinar jernih dalam redupnya cahaya terlihat cantik, namun tidak bisa dibohongi.
Ada kejujuran murni di sana.
Dion hampir , hampir percaya sepenuhnya.
Namun suaranya tetap dingin. “Keluargaku sudah membawa dokter terbaik dari seluruh dunia. Tidak ada yang berhasil. Kau… yang bahkan tidak terlihat berpendidikan maupun ahli… berpikir bisa melakukannya?”
Anita menatapnya datar. “Kalau belum kau coba, bagaimana bisa kau yakin aku akan gagal?”
Dion diam sebentar. Lalu pelan, dingin dan tajam, “Bagaimana caranya?”
“Aku butuh beberapa bahan obat dan jarum perak,” jawab Anita tenang. “Aku akan membuatmu tidur nyenyak malam ini. Tanpa mimpi buruk.”
Diam panjang menggema.
Lalu anggukan singkat dari Dion, pertanda setuju.
“Oke.”
Ada sesuatu darinya… yang membuat Dion mempercayainya.
Anita segera menyebutkan bahan obat yang ia butuhkan. “Cortex albizia, biji jujube, akar polygala…”
Dion menuliskannya tanpa mengalihkan pandangan.
Namun saat Anita menyebutkan bahan terakhir , ekspresi Dion langsung berubah kelam.
Ia menatapnya datar. “Penis rusa?”
Anita tidak terganggu sedikit pun. Bahkan sudut bibirnya terangkat.
“Namanya Cornu Cervi Parvum. Bahan obat formal,” jelasnya tenang. “Bukan jimat perdukunan atau obat perangsang murahan seperti yang kau pikirkan.”
Dion diam sesaat, mata hitamnya menilai begitu tajam, presisi , seakan menguliti jiwanya.
Anita tetap kalem. Menyilangkan kakinya. Memutar garpu di jemari seolah sedang menghadapi negosiasi bisnis, bukan pria yang nyaris membunuhnya.
“Kalau kau ingin bertahan hidup lebih dari setahun…” suaranya merendah, seakan menekan.
“…maka kau butuh aku.”
Diam panjang, udara seolah menegang.
Lalu Dion tertawa pelan.
Bukan tawa senang. Tapi tawa yang terdengar dingin dan menakutkan.
“Hahaha..... apa syaratnya?” tanyanya datar. Akhirnya mengakui secara tidak langsung bahwa ia siap bernegosiasi.
Anita menatapnya tegas, tidak tersipu, tidak tunduk.
“Pertama…” ia mengangkat satu jari.
“…aku tidak akan bersujud. Aku bukan budak keluargamu.”
Dion tidak bereaksi. Hanya menatap tapi tatapannya berubah sedikit.
“Dan kedua…” Anita mendekat sedikit.
Mata mereka sejajar sekarang.
“…jika kau melanggar batas , aku akan pergi kapanpun. Dan biarkan racunmu yang membunuhmu secara perlahan.”
Tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan saat Anita mengucapkannya.
Dion menatapnya dalam, sangat lama seolah mencoba membaca seluruh isi pikirannya.
Lalu ia mengangguk pelan.
“Deal.”
Bukan karena ia kalah. Bukan karena ia percaya sepenuhnya.
Tapi, karena untuk pertama kalinya… seseorang berani berdiri setara dengannya.
Anita tersenyum tipis. “Kau yakin tidak akan menyesal?!”
Tanpa menunggu jawaban, ia berdiri dengan anggun, terlihat tenang. Lalu perlahan-lahan ia mendekat.
Sangat dekat hingga jarak mereka hanya sebatas satu tarikan napas.
“Sekarang…” bisiknya pelan.
“…izinkan aku menidurkan kamu....”
---
Bersambung......