Bagaimana hidup Naura yang harus di jodoh kan dengan orang yang sudah mati. selang sehari saat dia meraya kan ulang tahun ke 18.
Naura Isabella adalah seorang murid di SMA Nusa bangsa dengan jalur prestasi.
Di pagi yang mendung itu. Orang tua Naura Tiba tiba menyuruh putri semata wayang mereka untuk tidak ke sekolah.
Dan membawa Naura ke rumah mewah.
Naura yang sudah berdandan cantik layak nya pengantin sangat lah heran. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Banyak orang menangis. Dia bingung kenapa dia malah di dandani seperti seorang pengantin.
Dengan di gandeng oleh kedua orang tua nya. Naura berusaha bersabar dan tidak banyak bertanya.
Orang tua nya menjelas kan jika dia harus ikut karnaval agar bisa mendapat kan uang untuk makan besok. Itu ucapan singkat ke dua orang tua Naura.
Naura tiba di sebuah altar dan sudah ada pendeta di sana. Naura melihat ke sekeliling dan mata Naura terpaku pada mayat pria yang seumuran dengannya dengan wajah yang sangat pucat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
Tak lama berselang mereka pun sampai di sekolah. Yang membuat Naura Isabella heran. Kenapa Aron ikut turun dengannya. Tak lupa sebelum Aron turun, dia juga membuka kan pintu untuk ya.
Akhir nya tanpa membuang waktu, Naura memilih untuk langsung keluar, dari dalam mobil.
Naura masih mematung di melihat punggung Aron. Yang sudah jauh memasuki area sekolah nya. Dia tidak mengira jika laki laki yang berseragam SMA yang tadi mengantar nya adalah teman SMA nya. Teman satu sekolahnya.
"WOY Naura. Berangkat sama siapa lo?" tanya Rebecca yang tiba tiba nongol di belakangnya.
"Anjir, ngagetin loh!" ucap Naura sembari memegang dada nya. Sungguh jantung Naura seperti memompa sangat cepat.
"Dia Aron kan," ucap Rhania, selain bersahabat dengan Rebbeca dan Naura juga bersahabat dengan Rhania. Naura ia juga memiliki sahabat lain di sekolah ini yaitu Sesil dan juga Maria.
"Lah kenapa elo bisa kenal dia Rhan ...?" tanya Naura sembari mengerenyitkan dahi nya.
"Jelas lah gue itu kenal. Dia itu terkenal sekali disekolah ini!"
"Oh iya, dia itu Aron keponakan keluarga Bouven, yang kaya raya itu. Aron itu kelas 12 IPS. Walaupun dia gak pinter pinter amat di pelajaran. Tapi dengan wajah yang tampan dan dia juga seorang atlet renang. Membuat ketampanan nya yang terpancar itu berkali kali lipat," jelas Maria sembari membayang kan Aron yang mempunyai tinggi 182cm. wajah khas orang timur per paduan dengan Chinese.
Seketika Sesil menonyor kepala sahabatnya itu dengan keras. Agar ter sadar.
"Tolong di kondisi kan ya, pagi pagi gak usah bayangin yang aneh aneh deh," celetuk Sesil dengan nada dingin.
"Tapi gue heran. Kenapa elo bisa berangkat bareng Aron. Gimana ceritanya nya?" tanya Rebecca dengan tatapan mata penuh selidik, terus menerus meng intimidasi Naura.
Rebecca melakukan itu, karena dia sudah menyimpan rasa dengan Aron sedari mereka masuk ke sekolah ini.
Naura pun mengeluarkan banyak keringat dingin. Dia bingung. Apa yang harus dia jelas kan ke pada Rebecca.
Masak iya dia menjelaskan kalau dia adalah menantu keluarga Bouven. Tidak mungkin juga kan!
***
Di pagi yang cerah. Seorang gadis sedang duduk di kursi yang ada di depan sebuah kelas.
"Untung aja ujian kali ini, gue gak sekelas sama Rebecca, Rhania, Sesil dan juga Maria. Kalau gak, gue bakal di roasting nih habis habisan!" gumam Naura sembari kipas kipas dengan buku catatan nya. Cuaca di siang ini sangat lah terik.
Dia berada di depan kelas sendirian, sementara murid murid yang lain. Sedang sibuk berkutat dengan kertas ujian. Karena dia sudah selesai mengerjakan ujian nya.
Naura termasuk dalam siswi yang paling berprestasi.
"Gimana janji lo. Kata nya mau traktir gue," ucap seorang murid laki laki yang ntah sejak kapan berdiri di belakang Naura Isabella.
"Anjir, elo ngagetin!!" Pekik Naura sembari memegang dada nya. Dia sangat lah kaget. Melihat Vince sudah berdiri di belakang nya seraya tersenyum jail.
"Siapa kali yang mau traktir lo itu jajan, gak usah kepedean deh!" kata Naura ketus seraya menatap Vince dengan tatapan dingin, bahkan tampan berbasa-basi, ia berdiri dan berjalan meninggal kan Vince begitu saja.
"Dih, jadi cewek gak usah galak galak lah Naura!" ucap Vince sembari mencekal tangan Naura. Lalu meremas nya dengan sangat kuat seperti biasa.
"Sakit Vince. Lepasin gue!" bentak Naura, namun wajah sekarang ini terlihat sedikit takut. Karena ia merasa akhir akhir ini Vince sering sekali berlaku kasar pada diri nya.
Dengan kasar Vince menarik tangan Naura membawa nya ke taman belakang sekolah.
"Kenapa sih, lo benci banget ma gue, Ra?" tanya murid laki laki bernama Vince Marvin foster.
Seorang murid laki laki ber paras bule. Dengan kulit putih bersih. Hidung mancung. Wajah nya sangat lah imut, dia juga terkenal siswa ber prestasi di SMA Nusa bangsa ini. Satu lagi semua perempuan ber lomba lomba untuk mendapat kan Vince.
"Elo liat tangan gue gak! Ini merah Vince, berarti elo nyakitin gue, terus gua harus suka gitu sama orang yang nyakitin gue. Ha ha ha itu kan gak lucu Vince. Elo aneh!!" ucap Naura dengan wajah kesal. Karena benar benar dia tidak habis pikir dengan jalan fikiran Vince.
"Elo tau Naura, gue begini agar bisa dapatin lo, karena kalau gue baik. Lo itu gak bakalan notice gue. Tau gak, bakalan notice," ucap Vince dengan wajah serius.
"Dapatin gue, dengan cara kasar begini, your crazy boy," pekik Naura reflek menggeleng gelengkan kepalanya, bahkan ia menatap Vince dengan tatapan wajah tidak percaya.
"Ya ... Gue gila karena lo Naura. Gue itu cinta sama elo sejak pertama kali kita ber temu saat MOS. Terus kalau gak pakai cara begini. Gue harus nembak lo dengan cara yang manis! Agar lo itu mempermalukan gue di depan satu sekolah, seperti yang lo lakukan pada murid laki laki lain yang menyatakan cinta nya sama lo." Agaknya Vince sekarang ini sedang mencari pembelaan.
"Kan gue udah bilang Vince. Gue gak mau pacaran sampai nanti gue lulus kuliah, NGERTI gak sih!" bentak Naura, ia terlihat berusaha keras untuk menjauhkan tangan Vince yang terus memegangi tangannya.
"Tapi Naura," kilah Vince.
"Sumpah ya, lo itu jadi laki laki kok ngeyel sekali sih!"
"Gue kan udah bilang berkali kali sama lo, Vince. Gue gak mau PACARAN, elo ngerti gak sih! Apa Elo itu tuli. Kenapa masih saja maksa gue," kata Naura dengan nada suara meninggi. Ia benar benar kesal. Karena Vince terlihat seperti orang bodoh. Yang tidak mengerti apa yang ia ucapkan.
Tanpa mereka sadari ada seorang murid laki laki yang merekam kejadian yang menimpa mereka. Dengan senyuman smrik.
"BIAR MAMPUS ELO, BOCAH PRIK!!" ucap orang itu lirih, ia masih saja merekam pertengkaran Naura dan juga Vince.
Tiba tiba dengan kasar Vince menarik tangan Naura lagi menuju tembok belakang sekolah.
Menaruh ke dua tangan Naura ke tembok dan mengangkat nya ke atas kepala Naura. Tak lupa Vince memegangi ke dua tangan Naura dengan satu tangan kiri nya. Tangan kanan Vince memegang tengkuk Naura.
"Vince jangan begini ku mohon," ucap Naura memohon. Tatapan mereka hanya berjarak 2 inci. Sampai hembusan nafas mereka saling bersautan.
"Kalau aku memang tidak bisa mendapatkan mu Ra, maka orang lain tidak ada yang boleh memiliki mu Naura Isabella sayang. Bahkan nama mu terukir indah di dalam hati ku ini Naura," ucap Vince sembari menatap manik mata Naura. Naura melihat ada ke sedihan di balik tatapan Vince.