“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Di tempat yang jauh dari gemerlap pesta pertunangan, sebuah gudang tua berdiri sunyi di pinggiran kota. Lampu neon berkedip redup, memantulkan bayangan dinding yang lembap dan berkarat.
Putri terduduk di kursi besi, tangan terikat kuat ke belakang, mata tertutup kain hitam. Kepalanya masih terasa berat sisa pingsan yang dipaksakan padanya.
Tak jauh dari sana, tiga pria berdiri santai. Salah satunya memegang ponsel di telinga.
“Bos,” katanya dengan nada datar. “Wanita itu sudah di tangan kami.”
Suara di seberang telepon terdengar dingin dan terkontrol.
[Beri dia pelajaran,] jawab suara itu.
[Dia sudah berani melewati batas dengan Yura. Jangan sampai cacat. Jangan bunuh. Tapi buat dia mengingat malam ini seumur hidupnya.]
“Dimengerti.”
Panggilan terputus.
Pria itu menurunkan ponselnya, lalu menatap dua rekannya. Senyum licik terbit di wajah mereka.
Di saat yang sama, Putri mulai tersadar sepenuhnya. Nafasnya memburu saat menyadari posisi dirinya. Ia memberontak, kursi berdecit keras saat tubuhnya meronta.
“Lepaskan aku!” teriaknya panik. “Siapa kalian?! Kalian tahu aku siapa?!”
Salah satu pria mendekat, berjongkok di depannya.
“Oh, tentu saja kami tahu,” katanya sambil terkekeh.
“Putri kesayangan keluarga Wijaya.”
Putri terdiam sesaat, lalu menangkap celah harapan itu.
“Aku bisa bayar kalian!” katanya cepat. “Berapa pun! Kalian mau uang? Aku beri sepuluh kali lipat! Ayahku ... keluargaku ... mereka akan—”
“Uang?” pria lain memotong sambil tertawa pendek. “Kami tidak butuh uang.”
Ia mengangkat sebuah botol minuman kecil dan sebuah vial bening.
“Kami cuma ingin kau merasakan ketakutan yang sama seperti yang kau buat orang lain rasakan.”
Putri membeku.
Suara langkah mendekat. Bau alkohol dan obat menusuk hidungnya. Tangannya semakin bergetar.
“Tidak … jangan,” suaranya pecah. “Aku mohon… aku salah … aku minta maaf…”
Salah satu pria meraih dagunya, memaksa wajah Putri mendongak meski matanya tertutup.
“Permintaan maafmu terlambat.”
Botol itu didekatkan ke bibirnya. Putri menggeleng keras, tubuhnya memberontak sekuat tenaga, kursi hampir terguling. Nafasnya tersengal, air mata mengalir deras di balik penutup matanya.
“Tol ... tolong … Kak Hans … Kak Hans…”
Putri meronta keras ketika jarum menusuk lengannya. Jeritannya menggema di gudang kosong, bercampur tawa rendah para pria itu. Cairan bening masuk ke pembuluh darahnya, dingin dan lalu berat.
“Tidak … jangan…” suaranya melemah, matanya berusaha terbuka meski kelopak terasa seperti diseret ke bawah.
Kesadarannya perlahan runtuh. Kepalanya terkulai. Nafasnya masih ada, tapi tubuhnya tak lagi merespons. Salah satu pria menepuk bahu rekannya, senyum menyungging penuh kepuasan.
“Kamera siap?” tanyanya santai.
“Siap,” jawab yang lain sambil mengarahkan lensa, cahaya merah kecil menyala.
“Bos bilang cukup bikin dia takut. Jangan lewat batas.”
Mereka mengangguk. Tidak ada lagi teriakan yang tersisa hanya suara napas Putri yang berat dan ruang gudang yang dingin.
Di sisi lain kota, suasana begitu berbanding terbalik. Lampu kristal menggantung indah di aula pesta. Gelas-gelas kristal beradu pelan, tawa ringan terdengar di mana-mana.
Yura berdiri tenang dengan segelas minuman di tangannya. Gaun yang ia kenakan sederhana, tapi auranya membuat siapa pun menoleh dua kali, tenang, dingin, dan berjarak.
Sky berdiri di sampingnya, senyum tak pernah lepas dari wajahnya.
“Kau tidak perlu memaksakan diri,” bisiknya. “Kita bisa pergi kapan pun.”
Yura hanya mengangguk kecil, matanya tetap menatap cairan di gelas.
Saat itulah Tuan Wijaya dan Nyonya Larasatri mendekat.
“Selamat malam,” sapa Nyonya Larasatri lembut, senyum hangat terukir di wajahnya. “Kita akhirnya bertemu lagi, Nona Lartika.”
Yura mengangkat pandangan sekilas. Tatapannya datar, dingin, nyaris tak beremosi.
“Selamat malam,” jawabnya singkat.
Tak ada keramahan dan tak ada basa-basi. Sky langsung melangkah setengah langkah ke depan, posisinya jelas dan melindungi.
“Maaf,” katanya sopan tapi tegas. “Yura tidak terlalu nyaman dengan keramaian.”
Tuan Wijaya menatap mereka bergantian. Ada sesuatu di wajah pria itu rasa ingin tahu, kebingungan dan entah kenapa, getaran aneh di dadanya saat menatap Yura.
“Kami hanya ingin menyapa,” ujarnya pelan. “Tak lebih.”
Yura akhirnya menoleh penuh ke arah mereka.
“Jika hanya itu,” katanya tenang, “izin saya kembali ke meja saya.”
Sky langsung mengangguk, menggandeng Yura pergi dari hadapan pasangan Wijaya itu.
Nyonya Larasatri menatap punggung Yura yang menjauh. Dadanya terasa sesak, perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Tatapan itu terlalu familiar.
“Mas…” bisiknya pada suaminya.
Tuan Wijaya mengangguk pelan.
“Aku juga merasakannya.”
Sementara itu, jauh dari pesta dan cahaya di gudang tua itu, kamera masih menyala.
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih