NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: IBU YANG KOLAPS

#

Api masih menyala waktu ambulans datang.

Bukan buat padam api. Tapi buat ibu.

Ibu tiba-tiba jatuh pingsan di belakang warung Pak Hadi. Tubuhnya kejang. Matanya merem. Napasnya sesak.

"IBU! IBU BANGUN!"

Aku teriak sambil pegang tubuh ibu. Dingin. Keringat dingin membasahi dahinya.

Pak Hadi langsung telpon ambulans. "Cepat! Ada orang pingsan di sini!"

Sepuluh menit kemudian ambulans datang. Paramedis langsung bawa ibu ke dalam. Aku ikut naik.

Ayah di warung Pak Hadi. Dia nangis sambil teriak. "SATRIA! IBU KAMU KENAPA?! SATRIA!"

Suara ayah bikin hati aku hancur. Tapi aku gak bisa balik. Aku harus ikut ibu.

Ambulans jalan cepat. Sirine meraung-raung. Paramedis pasang oksigen ke ibu. Cek tekanan darah.

"Tekanan darahnya sangat tinggi. 180/110. Ini bahaya. Dia juga demam tinggi. 39 derajat."

Aku pegang tangan ibu. Dingin. Gemetar.

"Bu... Bu kumohon bertahan... kumohon jangan tinggalin aku... kumohon..."

Tapi ibu gak sadar. Matanya tetep merem. Napasnya terengah-engah.

***

Sampai di puskesmas, ibu langsung dibawa ke ruang gawat darurat.

Aku tunggu di luar. Duduk di bangku plastik yang dingin.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

Orang-orang pada lalu lalang. Ada yang nangis. Ada yang teriak kesakitan. Ada yang duduk diem kayak aku.

Aku gak nangis. Gak bisa nangis.

Cuma kosong.

Kosong banget.

Rumah kami dibakar. Habis jadi abu.

Sekarang ibu pingsan.

Ayah di rumah orang. Gak bisa apa-apa.

Dan aku... aku di sini. Sendirian. Gak tau harus gimana.

"Kenapa... kenapa harus kayak gini... kenapa..."

Bisikku pelan. Ke langit-langit puskesmas yang putih kusam.

Satu jam kemudian, dokter keluar.

Dokter muda. Perempuan. Mukanya capek. Tapi ramah.

"Keluarga pasien atas nama Siti Aminah?"

Aku berdiri cepat. "Iya, Dok. Saya anaknya. Ibu saya gimana?"

Dokter liat clipboard di tangannya. "Ibu kamu mengalami kelelahan akut. Stres berat. Tekanan darahnya sangat tinggi. Demam juga tinggi. Kami sudah kasih obat penurun demam dan penurun tekanan darah. Tapi... kondisinya masih lemah. Dia butuh perawatan intensif minimal tiga hari."

Jantungku berdebar. "Ibu saya... ibu saya bakal sembuh kan, Dok?"

Dokter senyum tipis. "Insya Allah. Tapi dia harus istirahat total. Gak boleh stres lagi. Gak boleh kerja berat. Kalau gak... bisa lebih parah lagi."

Aku ngangguk. Tapi pikiranku kacau.

Gak boleh kerja berat? Ibu satu-satunya yang kerja di keluarga kami. Kalau ibu gak kerja... kami makan dari mana?

"Dok... biayanya... biayanya berapa?"

Dokter liat clipboard lagi. "Untuk tiga hari perawatan intensif, obat-obatan, pemeriksaan... totalnya sekitar lima belas juta rupiah."

Dunia aku runtuh.

Lima belas juta.

Aku... aku gak punya uang segitu.

Aku cuma punya... aku ambil dompet dari saku celana. Aku itung.

Delapan ratus ribu.

Hasil kerja seminggu di warung Pak Hadi.

Jauh banget dari lima belas juta.

"Dok... saya... saya gak punya uang segitu... saya cuma punya delapan ratus ribu... tapi... tapi ibu saya harus dirawat... kumohon, Dok..."

Suaraku gemetar. Air mata mulai keluar.

Dokter liat aku. Matanya iba. "Nak... maaf. Ini rumah sakit pemerintah. Kami gak bisa gratisin sepenuhnya. Tapi... tapi mungkin bisa pakai BPJS? Ibu kamu punya BPJS?"

Aku geleng. "Gak punya, Dok. Kami... kami gak mampu bayar iurannya..."

Dokter ngehela napas. "Kalau begitu... kamu harus bayar tunai. Atau... atau cari pinjaman. Atau... aku gak tau, Nak. Maaf aku gak bisa bantuin lebih."

Dokter jalan pergi. Ninggalin aku sendirian.

Aku jatuh duduk di bangku. Tangan nutup muka.

"Tuhan... kenapa... kenapa Engkau begitu kejam padaku...? Apa salahku...? Apa dosa ibu...? Kenapa... kenapa harus kami yang menderita terus...?"

Aku nangis. Keras. Gak peduli orang-orang pada liat.

Semua keluar. Semua sakit. Semua putus asa.

"Aku... aku mau nyerah... aku capek... aku gak kuat lagi..."

Bisikku di sela tangisan.

***

Gak tau berapa lama aku nangis.

Tiba-tiba ada suara langkah kaki cepat.

"SATRIA!"

Suara Vanya.

Aku angkat kepala.

Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna. Mereka berempat lari ke arah aku.

Mukanya khawatir semua. Napas ngos-ngosan.

"Sat! Pak Hadi telpon kami! Dia bilang ibu lu kolaps! Gimana keadaannya?!" tanya Adrian sambil pegang pundak aku.

Aku gak bisa jawab. Cuma nangis lagi.

Vanya peluk aku. "Sat... ibu lu bakal baik-baik aja... percaya deh... dia pasti sembuh..."

Aku geleng di pelukan Vanya. "Gak bakal sembuh... biayanya lima belas juta... aku cuma punya delapan ratus ribu... ibu gak bakal bisa dirawat... ibu... ibu bakal mati..."

Mereka semua diem. Shock.

Arjuna duduk di sebelah aku. "Sat... aku... aku ada uang. Tabungan dari uang jajan. Sekitar tiga juta. Aku kasih ke lu."

Aku liat Arjuna. "Jun... tapi... tapi itu uang lu..."

"Gue gak peduli. Lu temen gue. Keluarga gue. Ambil aja."

Vanya buka tasnya. Dia keluarin kotak kecil. Dia buka. Di dalamnya ada gelang emas. "Ini gelang terakhir yang aku punya. Pemberian nenek yang udah meninggal. Aku jual ini. Paling laku dua juta. Buat ibu lu."

Nareswari juga buka tasnya. Dia keluarin laptop. Laptop pinjeman dari Bu Ratna yang dia bilang dia urus sendiri. "Ini laptop yang aku beli dari hasil nulis artikel freelance selama dua tahun. Harganya empat juta. Aku jual. Buat ibu lu."

Adrian keluarin hapenya. Hape yang lumayan bagus. Pemberian ayahnya pas ultah tahun lalu. "Ini hape gue. Bokap gue kasih pas gue ultah. Gue jual. Paling laku tiga juta. Buat ibu lu."

Aku liat mereka semua.

Mereka... mereka rela jual barang-barang paling berharga mereka. Barang-barang yang punya nilai sentimental. Barang-barang yang gak bisa dibeli lagi.

Buat ibu aku.

Buat keluarga aku.

Aku nangis makin keras. Aku peluk mereka berempat.

"Kalian... kalian keluargaku... kalian keluarga yang sesungguhnya... terima kasih... terima kasih..."

Mereka semua nangis bareng. Kami berlima pelukan di bangku puskesmas. Gak peduli orang-orang pada ngeliatin.

***

Jam sebelas malam.

Mereka semua pergi jual barang-barang mereka ke toko-toko yang masih buka.

Satu jam kemudian mereka balik.

Vanya bawa uang dua juta dari gelang. Nareswari empat juta dari laptop. Adrian tiga juta dari hape. Arjuna tiga juta dari tabungan.

Total dua belas juta.

Ditambah uang aku delapan ratus ribu.

Total dua belas juta delapan ratus ribu.

Masih kurang dua juta dua ratus ribu.

"Gimana ini... kita masih kurang..." kata Adrian sambil gelisah.

Aku mikir. "Aku... aku pinjam ke Pak Hadi. Dia baik. Mungkin dia mau pinjamin."

Aku mau telpon Pak Hadi.

Tapi tiba-tiba...

"Satria."

Suara perempuan. Lembut. Familiar.

Aku toleh.

Bu Ratna berdiri di belakang kami. Mukanya khawatir. Tangannya pegang tas.

"Bu Ratna...? Ibu... ibu kenapa ada di sini?"

Bu Ratna jalan ke arah kami. "Pak Hadi telpon ibu. Ibu langsung datang. Gimana keadaan ibumu?"

Aku ceritain semuanya. Tentang ibu yang kolaps. Tentang biaya yang lima belas juta. Tentang kami yang masih kurang dua juta dua ratus ribu.

Bu Ratna diem. Terus dia buka tasnya. Dia keluarin amplop cokelat.

Dia kasih ke aku.

"Ini. Tiga juta rupiah. Tabungan ibu selama setahun. Buat ibumu."

Aku melotot. "Bu... tapi... tapi ini uang ibu... ibu pasti butuh..."

Bu Ratna geleng. Matanya berkaca-kaca. "Ibu gak butuh uang ini sekarang. Yang butuh adalah ibumu. Ambil, Satria. Jangan ditolak."

Aku terima amplop itu dengan tangan gemetar.

"Bu... kenapa... kenapa ibu sebaik ini sama kami...?"

Bu Ratna senyum sambil ngelap air matanya. "Karena kalian anak-anak yang hebat, Satria. Kalian berjuang untuk keadilan. Kalian gak takut meski diancam. Kalian... kalian pahlawan sesungguhnya. Dan ibu... ibu akan bantu kalian sampai akhir."

Aku peluk Bu Ratna. Nangis di pundaknya. "Terima kasih, Bu... terima kasih..."

Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna juga ikut nangis. Mereka peluk Bu Ratna bareng-bareng.

Kami semua nangis di tengah puskesmas yang dingin.

Tapi tangisan kali ini... tangisan kali ini bukan tangisan putus asa.

Tapi tangisan lega. Tangisan terima kasih. Tangisan karena kami tau...

Kami gak sendirian.

***

Aku bayar biaya perawatan ibu di kasir.

Lima belas juta pas.

Kasir kasih kwitansi. "Ibu Siti Aminah sudah terdaftar untuk perawatan tiga hari. Silakan tunggu di ruang tunggu."

Aku duduk di ruang tunggu bareng Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna, sama Bu Ratna.

Jam dua belas malam.

Kami semua capek. Mata pada berat. Tapi gak ada yang tidur.

"Besok pagi... kita tetep jadi kirim laporan kan?" tanya Nareswari pelan.

Aku ngangguk. "Tetep. Ini... ini gak akan menghentikan kita. Malah... malah ini bikin aku makin yakin. Mereka harus dibongkar. Mereka harus dihukum. Mereka... mereka harus tau... bahwa kami gak akan pernah menyerah."

Arjuna senyum. "Besok pagi jam enam. Kita kirim bareng-bareng. Dari warnet yang sama."

Adrian angkat kepalan tangannya. "Buat keadilan."

Kami semua angkat kepalan tangan.

"Buat keadilan."

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!